Agrinas Palma petakan satu juta hektare untuk bahan baku bioetanol saat Indonesia bersiap menuju E20
Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

BUMN perkebunan Agrinas Palma Nusantara menyampaikan pada 8 Oktober bahwa pihaknya telah memetakan satu juta hektare lahan khusus untuk jagung, sorgum, dan singkong sebagai bahan baku bioetanol, dengan potensi produksi sekitar 5 juta kiloliter per tahun untuk mendukung campuran 20 persen etanol dalam bensin. Rencana ini menggeser pembahasan E20 dari target pencampuran ke kebun, pabrik, dan perizinan yang akan memasoknya.
Rencana Indonesia mencampurkan 20 persen bioetanol ke dalam bensin kini memiliki jawaban baru atas pertanyaan terbesarnya, yaitu dari mana bahan bakunya akan berasal. Pada Kamis, 8 Oktober 2026, di Menara Agrinas Palma, Jakarta Selatan, Direktur Utama BUMN perkebunan PT Agrinas Palma Nusantara (Persero), Mohammad Abdul Ghani, menyampaikan bahwa perusahaan telah memetakan satu juta hektare lahan yang dikhususkan untuk tanaman bioetanol. Menurut detikFinance, ia memperkirakan potensi produksinya sekitar 5 juta kiloliter per tahun, dibandingkan kebutuhan nasional untuk program E20 yang ia perkirakan sebesar 7,5 juta kiloliter.
Pengumuman ini menyusul rangkaian kegiatan sepanjang pekan. Pada 3 Oktober, Agrinas Palma dan Fakultas Pertanian IPB University menggelar diskusi kelompok terpumpun di Bogor yang menghasilkan peta jalan multifeedstock dan delapan arah bersama bagi industri ini. Pada 6 Oktober, dalam Indonesia International Sustainability Forum di Jakarta, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyampaikan bahwa Indonesia menargetkan perluasan penggunaan bahan bakar nabati, termasuk bensin E20, dalam lima tahun ke depan. Bersama-sama, langkah ini menunjukkan agenda E20 bergerak dari target pencampuran menuju kebun, pabrik, dan perizinan yang akan memasoknya.
Apa yang diumumkan Agrinas di Jakarta
Agrinas Palma saat ini mengelola lebih dari 4 juta hektare lahan perkebunan yang diserahkan pengelolaannya setelah kerja Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH). Dari portofolio tersebut, satu juta hektare telah dipetakan untuk bioetanol. Tiga tanaman sedang dipertimbangkan, yaitu jagung, sorgum, dan singkong. Pemetaan awal mencakup sebagian wilayah Sumatra dan Kalimantan, dan perusahaan menyatakan masih diperlukan uji tanah dan iklim sebelum menentukan tanaman yang cocok untuk setiap lokasi.
Ghani lugas soal sisi komersialnya. Ia mengatakan analisis bisnis dan investasi perusahaan menunjukkan ketiga komoditas tersebut layak, dengan tingkat pengembalian internal di atas 15 persen. Ia juga menyebut program ini mungkin tidak memerlukan dana APBN, selama perizinan disederhanakan, dan dapat menciptakan hingga satu juta lapangan kerja.
"Dari analisis kami secara bisnis, analisa investasi, tiga commodity itu sangat layak dengan IRR di atas 15." Mohammad Abdul Ghani, Direktur Utama Agrinas Palma Nusantara, 8 Oktober 2026
Perusahaan telah menandatangani nota kesepahaman dengan PT Pertamina (Persero) yang mencakup industri bioetanol dari hulu hingga hilir, dan Ghani menyebut perusahaan swasta dalam dan luar negeri juga telah menyatakan minat. Uji coba penanaman direncanakan di Kalimantan Timur bersama IPB University dan Universitas Mulawarman.
Satu langkah administratif masih perlu dituntaskan. Sebagian besar lahan masih berstatus kawasan hutan, dan Agrinas telah mengajukan izin KHKP, yaitu penetapan Kawasan Hutan untuk Ketahanan Pangan. Kejelasan status ini menjadi tonggak berikutnya yang wajar bagi program tersebut.
Peta jalan yang dirancang bersama ahli agronomi
Forum di Bogor pada 3 Oktober memberi rencana ini kerangkanya. Laporan RMOL, Kompas Lestari, dan IDXChannel menggambarkan peta jalan yang menargetkan hingga satu juta hektare singkong, sorgum, dan jagung pada 2029, dengan kapasitas produksi bioetanol sedikitnya 5 juta kiloliter per tahun. Dalam keterangan tertulis, Ghani menyatakan target tersebut harus dibangun di atas kepastian bahan baku, kesesuaian lahan, produktivitas, teknologi, keekonomian, dan partisipasi masyarakat, sehingga pendekatan multifeedstock dan integrasi hulu ke hilir menjadi penting.
Forum ini dihadiri Wakil Rektor I IPB University Deni Noviana, Dekan Fakultas Pertanian Suryo Wiyono, serta Dwi Susanto, Managing Director Teknologi Advancement Danantara. Delapan arah yang disepakati terbaca seperti rancangan dasar bagi sebuah agroindustri baru:
- Bioetanol merupakan agenda strategis nasional untuk mengurangi impor energi dan mendukung Net Zero Emission 2060.
- Keberlanjutan pasokan, yang mencakup kuantitas, kualitas, kontinuitas, varietas, dan waktu panen, menjadi variabel kunci.
- Produksi bioetanol perlu dipisahkan dari pasokan pangan untuk menghindari persaingan harga.
- Kesesuaian tanaman dan lokasi harus divalidasi melalui uji lapangan.
- Desain industri perlu memperlakukan kegiatan on farm dan off farm sebagai satu rantai nilai.
- Kawasan industri perlu membangun teknologi pendukung secara mandiri, termasuk enzim.
- Bioetanol harus mampu bersaing tanpa bergantung pada subsidi.
- IPB siap menindaklanjuti dengan studi kelayakan terpadu dan pendampingan lapangan.
Skema kemitraan dengan masyarakat, dengan porsi sekitar 10 hingga 20 persen dari produksi melibatkan masyarakat sekitar, juga dibahas sebagai salah satu opsi. Dekan Fakultas Pertanian merangkum suasana forum dalam satu kalimat singkat yang dikutip RMOL: keberhasilannya terletak pada detail.
Mengukur kesenjangan pasokan E20
Estimasi kebutuhan bioetanol untuk E20 beragam, dan perbedaannya patut disampaikan secara terbuka. Pada Juni 2026, The Jakarta Post melaporkan kebutuhan sekitar 4 juta kiloliter per tahun untuk mandatori 2028. Pada April, Pertamina New and Renewable Energy menyebut angka 3 juta hingga 5 juta kiloliter. Forum Bogor menggunakan angka sekitar 7 juta kiloliter, dan Ghani menyebut 7,5 juta kiloliter pada 8 Oktober. Rentang ini kemungkinan besar mencerminkan asumsi yang berbeda tentang seberapa besar pasar bensin nasional yang akan dicakup campuran tersebut dan dalam kurun waktu berapa lama. The Jakarta Post mencatat kebutuhan bensin nasional sekitar 40 juta kiloliter per tahun, dengan sekitar 14,3 juta kiloliter dipasok kilang dalam negeri.
Estimasi mana pun yang dipakai, kontribusi 5 juta kiloliter dari satu program akan sangat berarti. Dengan estimasi terendah, angka itu menutup seluruh kebutuhan. Dengan estimasi yang lebih tinggi, angka itu menutup sekitar dua pertiga, sehingga masih ada ruang bagi proyek lain yang sudah berjalan. Saat ini, bahan bakar bioetanol yang paling terlihat di pasar adalah Pertamax Green 95, campuran E5 yang menurut Kompas baru dijual di Jakarta dan Surabaya.
Setiap estimasi kebutuhan E20 mencapai jutaan kiloliter per tahun. Target sebesar itu dipenuhi oleh kebun, logistik, dan pabrik pengolahan yang bekerja sebagai satu sistem, bukan oleh satu fasilitas saja.
Membangun rantai nilai di sekitar kebun
Agrinas tidak memulai dari nol. Pada 29 Juli 2026, detikFinance melaporkan bahwa Agrinas Palma dan Pertamina Power Indonesia, yang dipimpin Direktur Utama John Anis, sepakat memperkuat kerja sama bahan bakar nabati berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2026. Kerja sama itu mengidentifikasi sekitar 33.000 hektare lahan singkong di Kembang Janggut, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, untuk memasok pabrik bioetanol berkapasitas hingga 300 kiloliter per hari. Lokasinya berjarak sekitar 6,5 kilometer dari dermaga dengan akses sungai untuk tongkang hingga 5.000 ton. Kesepakatan yang sama juga mencakup pengaktifan kembali fasilitas biodiesel PT Bayas Biofuels.
Bagian lain dari rantai pasok nasional juga mulai terbentuk. Pada April, Kontan melaporkan bahwa Pertamina New and Renewable Energy menandatangani kesepakatan dengan PTPN III dan Medco untuk merevitalisasi pabrik bioetanol di Lampung dengan beragam bahan baku termasuk singkong, membangun pabrik baru di Bone, Sulawesi Selatan, dengan bahan baku singkong, jagung, dan tebu, serta mengembangkan produksi berbasis molase yang terintegrasi dengan industri gula nasional melalui PT Sinergi Gula Nusantara. Di Istana Kepresidenan pada 16 September, menurut Katadata, Presiden meminta Menteri Pertanian menyiapkan 2 juta hektare lahan tebu yang ada untuk bioetanol E20 dan menugaskan Danantara menyiapkan industrinya.
Agrinas menambahkan jalur non tebu ke dalam gambaran ini. Jagung, sorgum, dan singkong memiliki siklus tanam dan kesesuaian wilayah yang berbeda, sehingga kombinasi tanaman dapat menyebarkan waktu panen sepanjang tahun. Hal ini mendukung kontinuitas pasokan yang ditempatkan forum Bogor sebagai inti arah kebijakannya.
Pandangan Sirkularium
Pengumuman Agrinas bersifat konstruktif karena menyentuh bagian program E20 yang biasanya paling lama disiapkan, yaitu pengamanan bahan baku yang andal dalam skala besar. Memadukan cadangan lahan dengan keahlian agronomi perguruan tinggi, pembeli nasional, dan komitmen eksplisit untuk uji lapangan sebelum komitmen penuh merupakan urutan yang tepat. Keputusan memisahkan bioetanol dari pasokan pangan juga merupakan prinsip penting yang menjaga dukungan publik terhadap program ini.
Bagi pemerintah dan lembaga publik, ada empat hal yang patut diperhatikan. Pertama, satu estimasi nasional kebutuhan bioetanol E20 yang dipublikasikan beserta asumsinya akan membantu investor menentukan skala pabrik dan membantu daerah merencanakan tata guna lahan dengan yakin. Kedua, penyelesaian izin KHKP secara tepat waktu, disertai kriteria keberlanjutan yang jelas untuk pemanfaatan lahan berstatus kawasan hutan bagi tanaman energi, akan memberi Agrinas dan mitranya kepastian regulasi yang dibutuhkan serta memperkuat kredibilitas program di mata pembeli internasional. Ketiga, efisiensi pabrik pengolahan sama pentingnya dengan luas lahan tanam. Pabrik penyulingan bersifat padat energi, dan residu seperti onggok singkong dan vinasse dapat diolah menjadi biogas dan panas proses, sehingga mengurangi energi yang dibutuhkan per kiloliter dan memperbaiki profil emisi siklus hidup bahan bakar tersebut. Merancang siklus sirkular ini sejak awal jauh lebih murah dibandingkan menambahkannya kemudian. Keempat, usulan skema kemitraan masyarakat sebesar 10 hingga 20 persen dari produksi dapat memperkuat dukungan lokal, dan pemerintah daerah di Sumatra dan Kalimantan berada pada posisi yang baik untuk ikut merancangnya.
Yang perlu dicermati selanjutnya: hasil uji coba penanaman di Kalimantan Timur bersama IPB University dan Universitas Mulawarman, keputusan atas pengajuan KHKP, studi kelayakan yang ditawarkan IPB, serta pembagian peran antara Agrinas, Pertamina, dan Danantara dalam budidaya, pengolahan, dan penyerapan produk. Sirkularium memandang pergeseran dari target pencampuran menuju perencanaan agroindustri terpadu sebagai arah yang tepat, dan siap mendukung lembaga publik dalam merancang standar bahan baku, efisiensi, dan sirkularitas yang memungkinkan industri bioetanol Indonesia tumbuh di atas fondasi yang kokoh.
Volume bioetanol tahunan dalam pembahasan E20
Values in juta kL
Sumber
- detikFinance, Agrinas siapkan 1 juta hektare lahan untuk produksi bioetanol (8 Okt 2026)
- Kompas Lestari, Agrinas Palma dan IPB University kembangkan bioetanol dari singkong, sorgum, dan jagung (5 Okt 2026)
- RMOL, Agrinas Palma gandeng IPB University kembangkan industri bioetanol (4 Okt 2026)
- IDXChannel melalui RCTI+, Dukung program E20, Agrinas Palma dan IPB kembangkan bioetanol multifeedstock (4 Okt 2026)
- Katadata, Menko Pangan targetkan implementasi E20 dalam lima tahun ke depan (6 Okt 2026)
- detikFinance, Agrinas dan Pertamina garap bahan bakar berbasis singkong (29 Jul 2026)
- Kontan, Pertamina gandeng PTPN dan Medco genjot produksi bioetanol E20 pada 2028 (28 Apr 2026)
- The Jakarta Post, Indonesia butuh 4 juta kiloliter etanol untuk program E20 (29 Jun 2026)






