Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Energi & Iklim

Kawasan industri menawarkan permintaan siap pakai bagi program PLTS 100 gigawatt

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Panel surya atap di atas bangunan pabrik di sebuah kawasan industri Indonesia, dengan gardu induk tegangan tinggi dan menara transmisi di latar belakang

Himpunan Kawasan Industri Indonesia mendukung program PLTS 100 GWp dan mengusulkan agar kawasan industri menjadi pusat permintaan utama, sehingga pembangkit, jaringan, penyimpanan, dan permintaan direncanakan bersama dan listrik bersih sampai ke pabrik yang membutuhkannya.

Sekilas data
100 GWp
Target program PLTS nasional
47.758 kms
Sirkuit transmisi yang direncanakan dalam RUPTL 2025-2034
10,3 GW
Penyimpanan energi yang direncanakan hingga 2034
85-101 TWh
Potensi listrik bersih dari Kawasan Energi Terbarukan secara nasional

Program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 gigawatt peak (GWp) Indonesia mendapat dukungan penting dari sektor industri. Dalam pernyataan yang dimuat ANTARA pada 2 Oktober 2026 dan detikFinance pada 3 Oktober, Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) menyambut baik program yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto itu dan mengajukan usulan yang praktis: jadikan kawasan industri sebagai pusat permintaan utama bagi kapasitas surya yang baru.

Ketua Umum HKI, A Ma'ruf Maulana, menyebut target tersebut sebagai upaya nasional yang layak didukung bersama. Pokok pikirannya menyangkut apa yang terjadi setelah pemasangan. Menurutnya, ukuran keberhasilan adalah seberapa besar energi yang dihasilkan benar-benar dapat disalurkan dan dimanfaatkan secara produktif, bukan sekadar berapa banyak panel yang terpasang.

Apa yang diusulkan kawasan industri

Pesan HKI berpijak pada gagasan yang sederhana. Pembangkit, jaringan, penyimpanan, dan permintaan perlu tumbuh sebagai satu sistem yang terintegrasi. Keempat unsur ini bergerak dengan kecepatan masing-masing, dan ketika salah satunya melaju lebih cepat dari yang lain, muncullah hambatan. Merencanakan keempatnya bersama sejak awal adalah cara menjaga agar semuanya tetap seiring.

Pasokan dan permintaan harus bertemu sejak tahap perencanaan.

Kalimat yang dikutip ANTARA dari Ketua Umum HKI itu merangkum usulan tersebut dalam satu kalimat. Ini merupakan kontribusi yang konstruktif bagi program yang kini bergerak dari tahap peluncuran menuju tahap pelaksanaan.

Asosiasi tersebut menilai kawasan industri sebagai titik awal yang wajar. Sebuah kawasan memusatkan kebutuhan listrik yang besar di area yang jelas batasnya. Profil tenan, pola konsumsi, rencana ekspansi, dan kebutuhan energi bersihnya relatif mudah dipetakan dan diagregasi. Bagi perencana jaringan, informasi ini sangat berharga. Beban yang sudah diketahui, terus tumbuh, dan terkonsentrasi adalah hal yang dibutuhkan pembangunan surya skala besar agar listriknya dapat diserap secara efisien.

HKI juga menyarankan agar perencanaan energi terbarukan diselaraskan dengan pemetaan pertumbuhan industri. Hal itu mencakup lokasi pusat-pusat industri, proyeksi kebutuhan listrik, kesiapan jaringan, dan kebutuhan energi bersih, yang dikoordinasikan antara pemerintah pusat, PLN, pemerintah daerah, pengelola kawasan, dan pelaku usaha.

Mengapa intermitensi membentuk rencana

Keluaran listrik surya berubah mengikuti waktu dan cuaca. Ketua Umum HKI mencatat bahwa hal ini menuntut sistem kelistrikan yang fleksibel, yang dibangun di atas jaringan transmisi dan distribusi yang lebih kuat, sistem penyimpanan energi baterai, digitalisasi jaringan, serta manajemen beban yang aktif.

Kawasan industri dapat membantu di beberapa sisi sekaligus. Banyak pabrik menjalankan giliran kerja siang hari yang dapat diprediksi dan selaras dengan produksi listrik surya. Pengelola kawasan sudah mengoperasikan jaringan distribusi internal dan gardu, sehingga mereka adalah mitra berpengalaman untuk manajemen beban. Selain itu, karena kawasan bernegosiasi pasokan atas nama banyak tenan, mereka dapat mengagregasi permintaan dengan cara yang tidak bisa dilakukan perusahaan secara sendiri-sendiri.

Di sinilah efisiensi energi ikut berperan. Setiap kilowatt jam yang dihemat pabrik melalui motor yang lebih baik, pemanfaatan panas buang, atau sistem kendali yang lebih cerdas adalah kilowatt jam yang tidak memerlukan pembangkit, transmisi, atau penyimpanan baru. Kawasan yang memadukan pasokan bersih dengan program efisiensi bagi tenannya membuat seluruh sistem lebih ringan dan program surya lebih mudah diintegrasikan.

Infrastruktur yang sudah ada dalam rencana

Usulan ini dibangun di atas komitmen yang sudah menjadi bagian dari perencanaan nasional. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025 sampai 2034 menambah 69,5 GW kapasitas pembangkit baru, menurut liputan Dunia Energi atas peluncurannya. Dari porsi energi terbarukan, surya menyumbang 17,1 GW, air 11,7 GW, angin 7,2 GW, panas bumi 5,2 GW, dan bioenergi 0,9 GW. Rencana itu juga memuat dua unit nuklir masing-masing 250 MW di Sumatra dan Kalimantan.

Di sisi jaringan, PLN merencanakan 47.758 kilometer sirkuit transmisi dan 107.950 MVA kapasitas gardu induk, sebagaimana dilaporkan Energika. Jawa, Madura, dan Bali mencakup 13.900 kilometer di antaranya, Sumatra 11.200, Kalimantan 9.800, Sulawesi 9.000, serta Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara 3.900. Empat interkoneksi antarpulau direncanakan, termasuk Jawa ke Bali, Sumatra ke Batam dan Bintan, Sumatra ke Jawa, dan Kalimantan ke Tarakan.

Penyimpanan energi juga menjadi bagian dari rencana yang sama, dengan kapasitas 10,3 GW yang menggabungkan PLTA pumped storage dan sistem baterai. Laporan yang ada berbeda mengenai pembagian pasti antara kedua teknologi tersebut, sehingga Sirkularium mengutip angka gabungannya.

Program 100 GWp berdiri di atas fondasi ini. Program tersebut resmi diluncurkan pada Agustus 2026 dengan 14 PLTS berkapasitas total 5,3 GWp sebagai tahap pembuka, menurut Kementerian Sekretariat Negara. Kawasan industri menawarkan tujuan yang siap untuk menyerap listrik tersebut begitu mulai beroperasi.

Daya tarik investasi dari listrik yang terbukti bersih

HKI mengaitkan usulannya dengan investasi. Rantai pasok global semakin menuntut produsen untuk menurunkan emisi dan menunjukkan bahwa mereka menggunakan energi terbarukan. Bagi perusahaan yang sedang memilih lokasi pabrik, akses ke listrik bersih menjadi bagian dari keputusan lokasi. Menurut detikFinance, Ketua Umum HKI merangkum apa yang dicari investor: energi yang andal, kompetitif, dan terbukti bersih.

Energi bersih yang andal, kompetitif, dan dapat diverifikasi menjadi bagian dari daya tarik sebuah lokasi industri.

Kata dapat diverifikasi sangat penting. Pembeli di pasar ekspor menginginkan bukti bahwa listrik di balik sebuah produk berasal dari sumber terbarukan. Kawasan yang dapat menawarkan pasokan bersih yang terukur dan terdokumentasi memberi tenannya keunggulan yang jelas dalam pembicaraan tersebut, dan memperkuat posisi Indonesia sebagai tujuan investasi berkualitas.

Riset independen menunjukkan arah yang sama. Laporan Mei 2026 dari Systemiq dan Green Transition Initiative milik Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menggambarkan Kawasan Energi Terbarukan (Renewable Energy Zones) sebagai penghubung antara pasokan energi terbarukan dan permintaan industri. Di delapan Kawasan Ekonomi Khusus, laporan itu memperkirakan belanja modal sebesar USD 13 hingga 18 miliar dan pembangkitan energi terbarukan 24 hingga 32 TWh. Jika diperluas secara nasional, potensinya mencapai 85 hingga 101 TWh listrik bersih dan hingga 100.000 lapangan kerja baru di seluruh basis industri. Laporan itu juga mencatat bahwa proyek energi terbarukan saat ini memerlukan lebih dari 48 bulan sejak penyiapan hingga penutupan pembiayaan, jangka waktu yang dapat dipersingkat melalui perencanaan kawasan yang terkoordinasi.

Pandangan Sirkularium

Usulan HKI konstruktif dan tepat waktu. Program 100 GWp telah menetapkan arah nasional yang jelas, dan RUPTL sudah menyediakan tulang punggung jaringan serta penyimpanan. Yang ditambahkan kawasan industri adalah permintaan yang terdefinisi dengan baik, teragregasi, dan terus tumbuh, yang dapat direncanakan seiring dengan pasokan baru. Kombinasi ini mendukung transisi energi sekaligus agenda pertumbuhan industri.

Bagi pemerintah dan lembaga publik, Sirkularium melihat empat langkah praktis.

Pertama, pemetaan permintaan. Satu set data bersama tentang beban kawasan industri, rencana ekspansi, dan kebutuhan energi bersih, yang disusun bersama pengelola kawasan dan PLN, akan membantu menentukan lokasi PLTS dan peningkatan jaringan mana yang lebih dulu melayani industri.

Kedua, efisiensi sebelum pasokan baru. Audit energi dan program efisiensi di dalam kawasan, mulai dari udara bertekanan dan motor listrik hingga pemanfaatan panas buang, mengurangi beban yang harus dipenuhi oleh PLTS dan penyimpanan baru. Langkah ini biasanya merupakan upaya dekarbonisasi berbiaya paling rendah dan mempermudah integrasi.

Ketiga, pasokan bersih yang dapat diverifikasi. Mekanisme yang memungkinkan tenan kawasan mendokumentasikan asal terbarukan dari listrik yang mereka gunakan, seperti sertifikat energi terbarukan dan skema pasokan hijau, langsung menjawab kebutuhan pembeli ekspor dan investor.

Keempat, koordinasi lintas tingkat pemerintahan. Menyelaraskan rencana tata ruang daerah, pengembangan kawasan, dan perencanaan jaringan PLN akan membantu keempat unsur yang disoroti HKI bergerak dengan kecepatan yang sepadan.

Yang perlu dicermati selanjutnya: bagaimana tahap-tahap berikutnya dari program 100 GWp ditempatkan relatif terhadap pusat permintaan industri, apakah akan muncul kemitraan percontohan antara PLN dan kawasan industri, serta bagaimana konsep Kawasan Energi Terbarukan diadopsi dalam perencanaan daerah. Sirkularium menyambut baik dukungan sektor industri terhadap program ini dan siap bekerja sama dengan lembaga publik, pengelola kawasan, dan pelaku industri dalam pemetaan permintaan, efisiensi, dan perencanaan pasokan bersih yang membantu ambisi 100 GWp memberikan nilai nyata bagi perekonomian.

Tambahan kapasitas energi terbarukan dalam RUPTL 2025-2034

Values in GW

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di energi dan iklim, Sirkularium mendukung penyusunan data dasar emisi, perencanaan energi terbarukan dan penyimpanan, serta kerangka karbon dan kebijakan yang kuat di lapangan.

Artikel terkait

Panel surya atap di sebuah pabrik pulp dan kertas besar di Indonesia, dengan bangunan pengolahan pabrik di latar belakang
Energi & Iklim

Grup pulp dan kertas ini berkomitmen menggunakan 100 persen listrik terbarukan di seluruh operasinya paling lambat pada 2050, berangkat dari bauran energi 2025 di mana sumber terbarukan, terutama black liquor dari pabriknya sendiri, sudah memasok 57,3 persen total penggunaan energi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Reaktor dan jaringan pipa pabrik amonia di kompleks Pupuk Kaltim, Bontang, Kalimantan Timur, pada siang hari
Energi & Iklim

Deklarasi bersama dengan pemegang lisensi teknologi asal Swiss, Casale, pada 6 Oktober menegaskan bahwa Ammonia Pabrik-2 di Bontang hasil revamping menurunkan konsumsi energi dari 39,28 menjadi 35,25 MMBTU per ton sekaligus menaikkan produksi 4,18 persen, menghemat sekitar Rp228 miliar dan 110.000 ton CO2 per tahun.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Unit pemurnian biogas dan kolam limbah tertutup di samping pabrik kelapa sawit di Sumatera Selatan, dengan jaringan pipa gas menuju stasiun meter
Energi & Iklim

PGN memastikan akan membeli dan menyalurkan biometana dari fasilitas baru di Sumatera Selatan yang dikembangkan perusahaan patungan KIS Biofuels dan Toyota Tsusho. Peletakan batu pertama dilakukan pada 5 Oktober, dengan target sekitar 150.000 MMBtu per tahun untuk Toyota Motor Manufacturing Indonesia dan industri lain mulai 2027.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Deretan panel surya terapung di permukaan waduk yang tenang di Indonesia dengan dinding bendungan dan perbukitan hijau di latar belakang
Energi & Iklim

Pada 5 Oktober, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) menemui Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno dengan 22 rekomendasi untuk RUU EBET dan usulan memanfaatkan 263 bendungan milik negara, dengan potensi PLTS terapung dan PLTA sekitar 23,9 GW, untuk mempercepat program PLTS 100 GWp.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Uap mengepul dari pembangkit listrik tenaga panas bumi di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, dengan perbukitan hijau di latar belakang
Energi & Iklim

Dalam media gathering Kementerian Keuangan di Bogor pada 2 Oktober, BPDLH memaparkan cara memadukan dana domestik dan global untuk target iklim Indonesia, sementara pengembang panas bumi Geo Dipa memastikan tetap berada di bawah kementerian sebagai instrumen fiskal bagi ekonomi hijau.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Para menteri mengucapkan sumpah jabatan di Istana Negara Jakarta dengan latar bendera Merah Putih
Energi & Iklim

Presiden Prabowo Subianto melantik Bahlil Lahadalia sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang pertama, sebuah jabatan baru yang menyatukan peningkatan nilai tambah industri dan pembangunan energi bersih di bawah satu payung koordinasi, sementara Bahlil tetap memimpin Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca