Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Energi & Iklim

Limbah cair sawit dari Sumatera Selatan akan mengalir sebagai biometana ke pabrik di Jawa melalui pipa PGN

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Unit pemurnian biogas dan kolam limbah tertutup di samping pabrik kelapa sawit di Sumatera Selatan, dengan jaringan pipa gas menuju stasiun meter

PGN memastikan akan membeli dan menyalurkan biometana dari fasilitas baru di Sumatera Selatan yang dikembangkan perusahaan patungan KIS Biofuels dan Toyota Tsusho. Peletakan batu pertama dilakukan pada 5 Oktober, dengan target sekitar 150.000 MMBtu per tahun untuk Toyota Motor Manufacturing Indonesia dan industri lain mulai 2027.

Sekilas data
150.000 MMBtu
Target penjualan biometana tahunan dari fasilitas di Sumatera Selatan
2027
Target tahun operasi komersial
51 / 49
Komposisi kepemilikan perusahaan patungan KTBI, KIS Biofuels dan Toyota Tsusho Indonesia
3,6 miliar m3
Perkiraan potensi biogas nasional dari limbah cair pabrik sawit per tahun

Sebuah pabrik kelapa sawit di Sumatera Selatan akan segera menjadi pemasok gas bagi pabrik manufaktur di Jawa Barat. Pada Senin, 5 Oktober 2026, upacara peletakan batu pertama menandai dimulainya pembangunan fasilitas biometana yang dikembangkan oleh Toyota Tsusho Indonesia (TTI) dan PT KIS Biofuels Indonesia (KIS). Keesokan harinya, perusahaan gas negara PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) memastikan akan berperan sebagai pembeli utama sekaligus pengangkut gas tersebut, menyalurkannya melalui jaringan pipa yang sudah ada kepada Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) dan pelanggan industri lainnya.

Fasilitas ini akan memurnikan biogas yang ditangkap dari limbah cair pabrik kelapa sawit (palm oil mill effluent atau POME) menjadi biometana dengan kemurnian tinggi. Targetnya sekitar 150.000 MMBtu biometana per tahun. Pemberitaan pada 6 Oktober dari detikFinance, CNBC Indonesia, Kumparan, dan Bloomberg Technoz menyebut proyek ini sebagai upaya pertama sejenis di Sumatera, pulau dengan konsentrasi pabrik kelapa sawit terbesar di Indonesia.

Siapa mengerjakan apa dalam rantai pasok baru ini

Produsennya adalah PT KIS Toyota Tsusho Biomethane Indonesia (KTBI), perusahaan patungan yang dibentuk pada September 2026. Bloomberg Technoz, mengutip Argus Media, melaporkan bahwa KIS Biofuels Indonesia memegang 51 persen saham dan Toyota Tsusho Indonesia memegang 49 persen. KIS Group membawa kedalaman teknis: menurut Toyota Tsusho dan Bioenergy Business, grup ini telah menyelesaikan lebih dari 90 proyek biogas di lebih dari 20 negara, dan anak usahanya di Indonesia sebelumnya meluncurkan operasi produksi biometana komersial pertama di tanah air.

Peran PGN ada dua. Sebagai offtaker, PGN membeli biometana. Sebagai transporter, PGN menyalurkan gas melalui pipa yang sudah melayani industri. TMMIN menjadi pengguna akhir pertama yang disebutkan, dan pabrik lain dapat dipasok melalui jaringan yang sama.

Sekretaris Perusahaan PGN Fajriyah Usman menyampaikan kesiapan perusahaan secara praktis. Dalam pernyataan yang dikutip Kumparan dan CNBC Indonesia, ia mengatakan PGN siap mendukung proyek ini melalui infrastruktur dan kapabilitas niaga yang dimilikinya agar biometana dapat dimanfaatkan oleh sektor industri. Ia juga menyebut proyek ini sebagai langkah penting untuk menghadirkan gas terbarukan dari sumber domestik ke dalam rantai pasok energi nasional.

Menurut siaran pers Toyota Tsusho tanggal 6 Oktober, operasi komersial ditargetkan pada 2027, dan KTBI berencana mengajukan sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) untuk produknya.

Angka di balik proyek

Angka utamanya adalah 150.000 MMBtu biometana per tahun. Bioenergy Business mencatat konversi yang digunakan perusahaan, yaitu sekitar 52 MMBtu setara dengan satu ton gas alam cair (LNG). Dengan dasar itu, produksi tahunan fasilitas ini setara dengan kurang lebih 2.900 ton LNG, yang berasal dari sumber domestik dan terbarukan, bukan dari lapangan gas fosil.

Volume ini masih kecil dibandingkan skala pasar gas Indonesia, dan para mitra memang menempatkannya sebagai proyek pertama. Nilainya tidak terletak pada ukuran satu fasilitas, melainkan pada model yang dibuktikannya: limbah dari satu pulau, dimurnikan di lokasi pabrik sawit, dialirkan melalui pipa yang sudah ada, dan dipakai dalam peralatan industri yang sudah terpasang di pulau lain.

Sumber daya di balik model ini sangat besar. Pada Agustus 2026, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memublikasikan data bahwa 16,8 juta hektare kebun sawit Indonesia menghasilkan sekitar 250 juta ton tandan buah segar per tahun. Setiap ton tandan buah segar menghasilkan sekitar 0,5 ton POME, sehingga total limbah cair mencapai sekitar 125 juta ton per tahun. Dengan sekitar 28,8 meter kubik biogas per ton POME, potensi biogas nasional diperkirakan sekitar 3,6 miliar meter kubik per tahun. Laporan yang sama memperkirakan baru sekitar 15 persen dari potensi tersebut yang saat ini dimanfaatkan.

Baru sekitar 15 persen dari perkiraan potensi biogas limbah sawit Indonesia sebesar 3,6 miliar meter kubik per tahun yang dimanfaatkan saat ini. Setiap proyek yang menghubungkan sumber daya ini dengan kebutuhan industri ikut mempersempit kesenjangan itu.

Mengapa biometana cocok untuk dekarbonisasi industri

Pabrik yang menggunakan gas alam menghadapi tantangan dekarbonisasi yang khas. Boiler, tungku, dan pengering mahal untuk diganti, dan elektrifikasi panas bersuhu tinggi tidak selalu praktis dalam waktu dekat. Biometana menawarkan jalur langsung. Setelah dimurnikan, komposisi kimianya hampir identik dengan gas alam pipa, sehingga dapat mengalir di jaringan yang sama dan digunakan pada peralatan yang sama.

Toyota Tsusho menegaskan hal ini dalam pengumumannya. Perusahaan menyatakan bahwa pengguna dapat memajukan upaya dekarbonisasi sambil menekan belanja modal, karena biometana dapat digunakan dengan peralatan berbahan bakar gas dan jaringan pipa yang sudah ada. Bagi produsen otomotif seperti TMMIN, yang pelanggan global dan induk usahanya semakin memperketat ekspektasi emisi rantai pasok, akses terhadap gas terbarukan bersertifikat dapat mendukung target keberlanjutan sekaligus daya saing ekspor. Fajriyah Usman menyampaikan pandangan serupa, bahwa ketika produksi dimulai, industri seperti TMMIN akan memperoleh akses energi rendah karbon yang mendukung daya saing di tengah tuntutan rantai pasok global yang semakin hijau.

Ada pula alasan kuat terkait metana. POME yang dibiarkan di kolam terbuka melepaskan metana, gas rumah kaca yang jauh lebih kuat daripada karbon dioksida dalam jangka pendek. Menangkap biogas tersebut dan memanfaatkannya secara produktif menurunkan emisi di pabrik sawit sekaligus di pabrik yang menggantikan gas fosil. Laporan GAPKI mengutip perkiraan bahwa satu fasilitas biogas dapat menurunkan emisi sekitar 1.131 ton CO2 ekuivalen per bulan.

Berangkat dari fondasi sebelumnya

Proyek ini tidak muncul tiba tiba. Pemberitaan PGN menyebutnya sebagai realisasi nota kesepahaman antara PGN dan Toyota Tsusho Indonesia tentang pengembangan biometana yang ditandatangani pada 2022. Bioenergy Business merujuk pada nota kesepahaman tahun 2023 yang ditandatangani dalam Asia Zero Emission Community (AZEC) Leaders Meeting. Kedua rujukan ini mungkin menggambarkan tahapan berurutan dari kemitraan yang sama, dan dalam kedua kasus, peletakan batu pertama menunjukkan kolaborasi bertahun tahun yang kini memasuki tahap konstruksi.

Proyek ini juga sejalan dengan pola yang lebih luas. Sebelumnya pada 2026, sebuah perjanjian offtake terpisah di Sumatera Utara menghubungkan biometana dari pabrik sawit dengan jaringan gas nasional melalui stasiun injeksi khusus. Dengan bergabungnya Sumatera Selatan, Indonesia sedang membangun portofolio proyek yang masih kecil namun terus bertambah, yang memperlakukan limbah cair sawit sebagai bahan baku energi, bukan sekadar limbah yang harus dikelola.

PGN, CNBC Indonesia, dan Kumparan sama sama mengaitkan proyek ini dengan Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia dan target Net Zero Emission 2060, serta dengan ketahanan energi nasional. Gas terbarukan domestik, yang dihasilkan dari sumber daya yang terbarukan setiap musim panen, menambah keragaman bauran pasokan tanpa menambah ketergantungan impor.

Pandangan Sirkularium

Proyek ini merupakan contoh jelas penerapan ekonomi sirkular pada energi industri. Residu pertanian yang semula melepaskan metana berubah menjadi bahan bakar bersertifikat untuk manufaktur, disalurkan melalui infrastruktur yang sudah dibangun negara. Para mitra layak diapresiasi karena menyusun skema di mana setiap pihak mengerjakan keahliannya masing masing: pengembang biogas spesialis di lokasi pabrik sawit, perusahaan dagang yang menghubungkan pasokan dengan pembeli, dan perusahaan gas nasional yang menyediakan pipa serta kerangka komersialnya.

Bagi pemerintah dan lembaga publik, ada empat hal yang menonjol. Pertama, standar teknis yang jelas untuk injeksi biometana ke jaringan pipa, mencakup kualitas gas, pengukuran, dan tarif akses, akan membuat setiap proyek berikutnya lebih cepat dan lebih murah untuk direplikasi. Kedua, sistem jaminan asal atau sertifikat gas terbarukan yang diakui akan memungkinkan pengguna industri mencatat pembelian biometana dalam pelaporan emisinya, sehingga memperkuat permintaan dan mendukung manufaktur berorientasi ekspor. Ketiga, pemetaan potensi POME per pabrik sawit terhadap jaringan pipa yang ada akan menunjukkan lokasi klaster berikutnya dengan biaya terendah, dimulai dari pabrik yang dekat dengan jalur transmisi. Keempat, selisih antara pemanfaatan saat ini sekitar 15 persen dan potensi penuhnya merupakan peluang yang dapat dibantu ditutup oleh pemerintah daerah di provinsi penghasil sawit, melalui dukungan perizinan dan dengan menghubungkan pabrik sawit dengan kawasan industri terdekat.

Hal yang perlu dicermati berikutnya: kemajuan konstruksi menuju target operasi komersial 2027, hasil sertifikasi ISCC, ketentuan komersial yang ditetapkan PGN untuk gas terbarukan yang disalurkan melalui jaringannya, serta apakah pabrik sawit lain di Sumatera Selatan dan provinsi lain akan bergabung dalam skema ini. Sirkularium memandang biometana dari limbah cair sawit sebagai salah satu jalur jangka pendek paling praktis menuju panas industri rendah karbon di Indonesia, dan siap mendukung lembaga publik dalam merancang standar, insentif, dan perencanaan tata ruang yang memungkinkan pengembangannya dalam skala lebih luas.

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di energi dan iklim, Sirkularium mendukung penyusunan data dasar emisi, perencanaan energi terbarukan dan penyimpanan, serta kerangka karbon dan kebijakan yang kuat di lapangan.

Artikel terkait

Panel surya atap di sebuah pabrik pulp dan kertas besar di Indonesia, dengan bangunan pengolahan pabrik di latar belakang
Energi & Iklim

Grup pulp dan kertas ini berkomitmen menggunakan 100 persen listrik terbarukan di seluruh operasinya paling lambat pada 2050, berangkat dari bauran energi 2025 di mana sumber terbarukan, terutama black liquor dari pabriknya sendiri, sudah memasok 57,3 persen total penggunaan energi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Reaktor dan jaringan pipa pabrik amonia di kompleks Pupuk Kaltim, Bontang, Kalimantan Timur, pada siang hari
Energi & Iklim

Deklarasi bersama dengan pemegang lisensi teknologi asal Swiss, Casale, pada 6 Oktober menegaskan bahwa Ammonia Pabrik-2 di Bontang hasil revamping menurunkan konsumsi energi dari 39,28 menjadi 35,25 MMBTU per ton sekaligus menaikkan produksi 4,18 persen, menghemat sekitar Rp228 miliar dan 110.000 ton CO2 per tahun.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Deretan panel surya terapung di permukaan waduk yang tenang di Indonesia dengan dinding bendungan dan perbukitan hijau di latar belakang
Energi & Iklim

Pada 5 Oktober, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) menemui Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno dengan 22 rekomendasi untuk RUU EBET dan usulan memanfaatkan 263 bendungan milik negara, dengan potensi PLTS terapung dan PLTA sekitar 23,9 GW, untuk mempercepat program PLTS 100 GWp.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Panel surya atap di atas bangunan pabrik di sebuah kawasan industri Indonesia, dengan gardu induk tegangan tinggi dan menara transmisi di latar belakang
Energi & Iklim

Himpunan Kawasan Industri Indonesia mendukung program PLTS 100 GWp dan mengusulkan agar kawasan industri menjadi pusat permintaan utama, sehingga pembangkit, jaringan, penyimpanan, dan permintaan direncanakan bersama dan listrik bersih sampai ke pabrik yang membutuhkannya.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Uap mengepul dari pembangkit listrik tenaga panas bumi di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, dengan perbukitan hijau di latar belakang
Energi & Iklim

Dalam media gathering Kementerian Keuangan di Bogor pada 2 Oktober, BPDLH memaparkan cara memadukan dana domestik dan global untuk target iklim Indonesia, sementara pengembang panas bumi Geo Dipa memastikan tetap berada di bawah kementerian sebagai instrumen fiskal bagi ekonomi hijau.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Para menteri mengucapkan sumpah jabatan di Istana Negara Jakarta dengan latar bendera Merah Putih
Energi & Iklim

Presiden Prabowo Subianto melantik Bahlil Lahadalia sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang pertama, sebuah jabatan baru yang menyatukan peningkatan nilai tambah industri dan pembangunan energi bersih di bawah satu payung koordinasi, sementara Bahlil tetap memimpin Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca