IMIP perluas PLTS di kawasan nikel Morowali, dari atas kanal hingga pembangkit 200 MWp
Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Para tenan di Indonesia Morowali Industrial Park kini mengoperasikan sekitar 11 MWp PLTS, dengan sistem atap 66 MWp dan pembangkit 200 MWp yang sedang dikembangkan. Langkah ini memberi pusat pengolahan nikel terbesar di Indonesia pijakan awal yang nyata pada pilar listrik rendah karbon dalam peta jalan dekarbonisasi industri nikel nasional.
Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Sulawesi Tengah memaparkan perkembangan pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di antara para tenannya. IMIP adalah kompleks pengolahan nikel terintegrasi terbesar di Indonesia. Pembaruan ini diberitakan pada 28 dan 29 September 2026 oleh ANTARA, detikFinance, Industry.co.id, dan sejumlah media daerah. Isinya mencakup empat perusahaan yang sudah membangkitkan listrik surya sendiri, satu yang hampir rampung, dan dua proyek yang jauh lebih besar dan sedang dikembangkan.
Angkanya masih kecil dibandingkan total kebutuhan energi kawasan, dan perusahaan tidak mengklaim sebaliknya. Meski begitu, arahnya jelas. Yang dimulai dari panel kecil di atas kanal air kini berkembang menjadi sistem atap berskala puluhan megawatt dan sebuah pembangkit surya khusus berkapasitas 200 MWp. Bagi sektor yang emisinya sangat ditentukan oleh cara listriknya dihasilkan, pergeseran ini berarti.
Apa yang dilaporkan IMIP
Sistem yang sudah beroperasi tersebar di empat tenan. PT BTR memiliki yang terbesar, yakni 9,5 MWp. PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS) memiliki 0,957 MWp, PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry (GCNS) 0,304 MWp, dan PT Ocean Sky Metal Industry (OSMI) 0,188 MWp. Jika dijumlahkan, sekitar 10,95 MWp sudah beroperasi.
Tambahan 0,57 MWp di PT PMMI hampir rampung. PT QMB sedang memetakan titik-titik di mana tenaga surya dapat menggantikan sebagian penggunaan bahan bakar fosilnya.
Dua proyek besar menentukan skala tahap berikutnya. PT Dexin Steel Indonesia (DSI) memasang sistem PLTS atap 66 MWp berisi sekitar 119.800 panel di atas 396.700 meter persegi atap industri. PT Sumber Energi Surya Morowali (Sesmo) mengembangkan pembangkit 200 MWp yang membutuhkan lahan sekitar 200 hektare.
Yulius Susanto, Deputy Operational Director PT IMIP, menempatkan program ini sebagai bagian dari komitmen yang lebih luas.
"Kami sudah berkomitmen untuk menuju green industry. Salah satunya pengurangan penggunaan bahan bakar fosil." Yulius Susanto, Deputy Operational Director, PT IMIP
Ia mengaitkan upaya ini dengan pengurangan emisi dari kegiatan operasional perusahaan serta dukungan terhadap program transisi energi pemerintah dan target Net Zero Emission 2060.
Satu kawasan, dua cara memasang panel
Hal yang menonjol dari pembaruan ini adalah IMIP tidak menerapkan satu desain untuk semua lokasi. Teknologi disesuaikan dengan karakter setiap fasilitas.
GCNS dan ITSS menggunakan canal top solar, yaitu panel yang dipasang di atas saluran air yang melintasi kawasan. Cara ini memanfaatkan ruang yang sebelumnya tidak terpakai dan tidak memerlukan lahan baru. OSMI, BTR, PMMI, QMB, dan DSI memasang panel di atap bangunan industri mereka. Smelter dan pabrik baja memiliki atap yang sangat luas dan datar, sehingga PLTS atap dapat mencapai skala besar tanpa bersaing memperebutkan lahan. Sistem DSI, dengan atap hampir 40 hektare, menunjukkan seberapa jauh pendekatan ini dapat dikembangkan.
Pembangkit Sesmo menggunakan model yang berbeda lagi, yaitu pembangkit darat di atas lahan khusus. Pemberitaan Radar Palu pada Mei 2026 menggambarkan proyek Sesmo berkapasitas 200 MWp dengan penyimpanan baterai 80 MW di atas lahan sekitar 224 hektare. Listriknya terutama untuk operasional Sesmo sendiri, dan kelebihannya berpotensi disalurkan ke jaringan IMIP yang lebih luas. Pembaruan September menyebut kebutuhan lahan sekitar 200 hektare. Angka untuk Dexin juga sedikit berbeda antarlaporan, yakni 66 MWp pada September dan 65,89 MWp pada Mei. Sirkularium mencatat keduanya dan menggunakan angka terbaru sebagai acuan kerja.
Jika seluruh proyek yang tercantum beroperasi, kapasitas PLTS terpasang di IMIP akan naik dari sekitar 11 MWp menjadi sekitar 277 MWp. Itu kira-kira 25 kali lipat.
Mengapa PLTS di kawasan nikel penting
Indonesia memasok sekitar 60 persen nikel dunia, dan Morowali adalah salah satu pusat produksinya. Cara nikel ini diolah kini berpengaruh pada target iklim Indonesia dan pada posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai dan baja tahan karat global.
Pada Juni 2025, Kementerian PPN/Bappenas bersama WRI Indonesia meluncurkan Peta Jalan Dekarbonisasi Industri Nikel Nasional. Peta jalan ini disusun bersama lebih dari 30 perusahaan tambang dan smelter dari Sulawesi dan Maluku Utara, 15 instansi pemerintah, serta mitra akademik. Targetnya adalah pengurangan emisi industri nikel sebesar 81 persen pada 2045. Tanpa intervensi, emisi justru dapat naik 86 persen dalam periode yang sama. Leonardo A. A. T. Sambodo, salah satu deputi di Bappenas, menyebut target tersebut selaras dengan komitmen net zero Indonesia sebelum 2060.
Peta jalan ini bertumpu pada empat strategi: efisiensi energi dan material, substitusi bahan bakar, substitusi material, dan pemanfaatan listrik rendah karbon. Listrik rendah karbon menjadi prioritas, karena pasokan listrik adalah sumber emisi terbesar dalam pengolahan nikel. Menurut pembahasan peta jalan yang dilaporkan Media Nikel Indonesia, intensitas emisi nikel Indonesia saat ini sekitar 7 hingga 10 kali lebih tinggi per ton logam dibandingkan acuan internasional, terutama karena listrik berbasis batu bara. Peta jalan tersebut memperkirakan kebutuhan 47,3 GW kapasitas energi terbarukan baru pada 2045, termasuk 5,1 GW pembangkit berbasis hidrogen di Maluku Utara.
Dilihat dari kerangka itu, program PLTS IMIP adalah langkah awal yang konkret pada pilar prioritas peta jalan. Sistem atap dan canal top juga dekat dengan efisiensi energi. Keduanya mengurangi pembelian bahan bakar dan listrik langsung di titik pemakaian, pada aset yang sudah ada.
Pasar ekspor semakin menanyakan bagaimana satu ton nikel diproduksi, bukan hanya dari mana asalnya. Listrik terbarukan di lokasi adalah salah satu dari sedikit tuas yang bisa digerakkan smelter tanpa merombak proses intinya.
Ada juga logika komersialnya. Pembeli dalam rantai pasok baterai dan otomotif makin memperhatikan jejak karbon logam yang mereka beli. Setiap megawatt-jam listrik surya yang dihasilkan tenan menurunkan jejak karbon produknya dan dapat didokumentasikan. Catatan seperti ini akan makin penting seiring makin ketatnya aturan pengungkapan rantai pasok di pasar-pasar utama.
Yang perlu dicermati selanjutnya
Ada tiga hal yang akan menunjukkan seberapa cepat program ini berubah menjadi penurunan emisi.
Pertama, penyelesaian dua proyek besar. PLTS atap Dexin 66 MWp dan pembangkit Sesmo 200 MWp mencakup lebih dari 95 persen portofolio yang direncanakan. Tanggal operasi keduanya, serta apakah penyimpanan baterai Sesmo dibangun sesuai rencana, akan menentukan apakah porsi tenaga surya di kawasan menjadi berarti dibandingkan skala operasinya.
Kedua, cara berbagi kelebihan listrik surya. Laporan Radar Palu menunjukkan keluaran Sesmo dapat mengalir ke jaringan IMIP yang lebih luas. Pengaturan internal yang jelas untuk menyalurkan listrik surya antartenan akan memungkinkan kawasan memanfaatkan lokasi terbaiknya secara penuh, alih-alih membatasi setiap sistem hanya pada beban satu bangunan.
Ketiga, cara mengukur hasilnya. Pembaruan ini menyebut kapasitas dalam MWp, tetapi belum menyebut produksi listrik atau emisi yang dihindari. Publikasi produksi tahunan dalam MWh dan ton CO2 yang dihindari akan membantu IMIP mengukur kemajuan terhadap target 81 persen dalam peta jalan dan memberi pembeli data yang dapat diverifikasi.
Pandangan Sirkularium
Bagi pemerintah dan lembaga publik, langkah IMIP adalah contoh yang berguna tentang dekarbonisasi industri yang dimulai dari titik yang paling praktis: di atap, di atas kanal, dan di lahan yang sudah dikuasai kawasan. Langkah ini tidak memerlukan transmisi baru maupun perubahan teknologi peleburan. Ia juga dapat berjalan sementara opsi jangka panjang seperti hidrogen dan interkoneksi jaringan masih direncanakan.
Sirkularium melihat tiga langkah yang dapat membantu menjadikan contoh seperti ini pola yang lebih luas di kawasan industri Indonesia. Pertama, mengakui PLTS dan penyimpanan energi di lokasi smelter dalam pelaksanaan peta jalan dekarbonisasi nikel, disertai templat pelaporan sederhana untuk produksi listrik dan emisi yang dihindari. Kedua, mengaitkan PLTS kawasan industri dengan kewajiban manajemen energi yang sudah berlaku bagi pengguna energi besar, sehingga sistem atap dan canal top turut dihitung dalam rencana tersebut. Ketiga, membangun pembiayaan yang sesuai dengan aset ini, yaitu pinjaman hijau dan fasilitas sustainability-linked yang dirancang untuk PLTS atap industri berukuran 10 hingga 70 MWp. Proyek sebesar itu berada di antara proyek komersial kecil dan pembangkit skala utilitas.
Kapasitas 11 MWp yang sudah beroperasi di IMIP adalah awal, dan portofolio 277 MWp adalah pernyataan niat. Jika proyek-proyek besar terealisasi dan hasilnya dilaporkan secara terbuka, Morowali dapat menjadi model praktis bagi pusat-pusat pengolahan lain yang akan menentukan seberapa cepat industri nikel Indonesia melakukan dekarbonisasi.
Kapasitas PLTS per tenan IMIP, beroperasi dan dalam pengembangan
Values in MWp
Sumber
- ANTARA, IMIP terus kembangkan PLTS kawasan
- ANTARA, IMIP mempercepat pembangunan PLTS dukung target NZE 2060
- detikFinance, IMIP terus kembangkan PLTS untuk dukung transisi energi
- Industry.co.id, Kawasan Industri Morowali kebut proyek PLTS
- Teraskabar, IMIP perbanyak operasional PLTS untuk industri hijau
- Kaidah.ID, IMIP percepat pengembangan PLTS menuju green industry
- Radar Palu (Jawa Pos), PT Sesmo bangun PLTS 200 MWp di Morowali
- ANTARA, RI komitmen kurangi emisi industri nikel hingga 81 persen pada 2045
- Media Nikel Indonesia, Bappenas dan WRI Indonesia tentang dekarbonisasi industri nikel






