Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Energi & Iklim

PLN EPI memetakan 60,6 juta ton biomassa yang belum dimanfaatkan dan jalur di luar cofiring

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Tumpukan serbuk gergaji dan serpih kayu di hub pengumpulan biomassa di samping truk, dengan pekerja memeriksa mutu bahan bakar

Di Electricity Connect 2026, PLN Energi Primer Indonesia memaparkan strategi bioenergi yang berangkat dari residu yang sudah tersedia di lahan pertanian, perkebunan, hutan, pabrik dan kota, lalu bergerak dari cofiring menuju biochar, syngas, biohidrogen dan compressed biogas. Perusahaan memperkirakan 10 juta ton biomassa saja dapat menopang sekitar 150.000 lapangan kerja hijau.

Sekilas data
60,6 juta t
Potensi biomassa belum dimanfaatkan yang dipetakan PLN EPI
30,7 juta t
Biomassa yang sudah dimanfaatkan saat ini
52 PLTU
Pembangkit batu bara dalam program cofiring
150.000
Perkiraan lapangan kerja hijau dari 10 juta t biomassa

Indonesia menghasilkan residu organik dalam jumlah sangat besar setiap tahun. Serbuk gergaji dari penggergajian kayu, sekam dari penggilingan padi, cangkang sawit, hasil pangkasan, sisa potongan kehutanan dan fraksi organik sampah kota terus menumpuk, terlepas dari ada atau tidaknya pihak yang memberinya kegunaan. Pekan ini, PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), anak usaha PLN yang menangani pasokan energi primer, menyebutkan angka untuk bagian yang masih menunggu pemanfaatan: sekitar 60,6 juta ton.

Angka tersebut dipaparkan di Electricity Connect 2026, yang berlangsung pada 22 hingga 24 September di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, dan diberitakan pada 24 hingga 26 September oleh detikFinance, Investor Trust, Listrik Indonesia, Okezone, Warta Ekonomi, Indoposco dan OG Indonesia. Yang membuat pengumuman ini penting bukan semata tonasenya, melainkan arah yang ditunjukkannya. PLN EPI memosisikan diri untuk bergerak dari memasok satu produk, yaitu biomassa untuk cofiring di PLTU batu bara, menuju rangkaian produk bioenergi yang lebih luas di atas basis bahan baku yang sama.

Dari pemasok bahan bakar menjadi platform bioenergi

Berbicara di sesi Knowledge Hub pada 23 September, Anita Puspita Sari, Vice President Strategi dan Pengembangan Bisnis Biomassa PLN EPI, menggambarkan bioenergi sebagai jalur strategis bagi perusahaan.

"PLN EPI sedang mengembangkan bioenergi sebagai jalur strategis untuk mengubah potensi feedstock domestik Indonesia yang melimpah menjadi solusi energi berkelanjutan." Anita Puspita Sari, PLN EPI, di Electricity Connect 2026.

Jalur yang kini dipetakan PLN EPI jauh melampaui pelet dan serpih kayu. Jalur tersebut mencakup biochar melalui torefaksi dan pirolisis, syngas melalui gasifikasi, biohidrogen, compressed biogas (CBG), biofuel dan bioetanol, serta pengelolaan sampah. Pasar yang dituju sama luasnya: cofiring di pembangkit yang sudah ada, pengguna industri yang membutuhkan panas atau masukan rendah karbon, serta pembeli ekspor. Laporan Okezone mencatat bahwa pengolahan yang lebih lanjut dapat memasok hidrogen hijau bagi industri pupuk dan bahan bakar berkelanjutan untuk ekspor.

OG Indonesia menggambarkan pergeseran ini sebagai langkah PLN EPI dari penyedia energi primer menjadi penyedia solusi terintegrasi. Ini merupakan perubahan peran yang berarti bagi perusahaan yang tugas utamanya selama ini adalah menjamin pasokan batu bara, gas dan biomassa untuk armada pembangkit PLN.

Angka di balik sumber daya ini

Berdasarkan pemetaan PLN EPI, Indonesia saat ini telah memanfaatkan sekitar 30,7 juta ton biomassa, dan diperkirakan masih ada 60,6 juta ton yang belum dimanfaatkan. Sumbernya meliputi limbah pertanian, residu perkebunan, kehutanan, produk samping industri dan sampah perkotaan. Listrik Indonesia dan Okezone sama sama melaporkan bahwa perusahaan memperlakukan angka ini sebagai indikatif, dan setiap aliran bahan baku masih memerlukan kajian teknis dan ekonomi, termasuk akses bahan baku serta kesiapan logistik dan rantai pasok.

Kehati hatian ini penting untuk dicatat, karena estimasi biomassa nasional berbeda beda tergantung metodenya. Komunikasi PLN EPI sebelumnya pada tahun ini menyebut potensi sekitar 80 juta ton per tahun dengan sekitar 22 juta ton yang sudah dimanfaatkan. Pembagian terbaru, yaitu 30,7 juta ton termanfaatkan dan 60,6 juta ton belum termanfaatkan, merupakan paparan paling mutakhir dan paling rinci, dan menjadi dasar artikel ini.

Dari sisi realisasi, PLN EPI memasok 2,35 juta ton biomassa pada 2025, yang berkontribusi pada penurunan emisi sekitar 2,72 juta ton CO2e, menurut Liputan6. Target perusahaan adalah 3,65 juta ton pada 2026, naik menjadi 4,07 juta ton pada 2027. Pasokan kumulatif dari 2023 hingga 2026 mencapai 4,77 juta ton. Sebuah wawancara pada September yang dilaporkan Fortune Indonesia menyebut angka akhir tahun yang lebih dekat ke 3,4 juta ton, sehingga capaian 2026 untuk saat ini sebaiknya dibaca sebagai sebuah rentang.

Cofiring berjalan di 52 lokasi PLTU batu bara. Investor Trust dan Listrik Indonesia menyebut total kapasitasnya 18,9 GW, sementara Indoposco melaporkan sekitar 18.154 MW dengan potensi kebutuhan biomassa sekitar 9 juta ton per tahun. Selisih antara pasokan saat ini dan kebutuhan tersebut adalah titik di mana basis bahan baku yang lebih besar menjadi bermanfaat.

Bahan berbasis kayu saat ini menyumbang lebih dari 77 persen pasokan cofiring. Liputan6 merincinya lebih lanjut menjadi 54,6 persen serbuk gergaji dan 22,4 persen serpih kayu. Sisanya berasal dari residu pertanian, sekam padi dan sumber lain.

Lapangan kerja dan emisi dari 10 juta ton pertama

Perkiraan yang paling menonjol datang dari Hokkop Situngkir, Direktur Biomassa PLN EPI. Ia menyampaikan bahwa ekosistem bioenergi yang dibangun di atas 10 juta ton biomassa saja dapat menciptakan sekitar 150.000 lapangan kerja hijau baru. Lapangan kerja tersebut tersebar di sepanjang rantai: penyediaan bahan baku, pengumpulan, pengolahan, pengangkutan hingga pemanfaatan di pembangkit. Okezone menyebut pihak yang kemungkinan terlibat adalah petani, koperasi, badan usaha milik desa (BUMDes), pelaku usaha, agregator dan penyedia logistik.

Skenario 10 juta ton yang sama diproyeksikan menurunkan emisi sekitar 12 juta ton CO2e. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025 hingga 2034 juga menargetkan tambahan kapasitas bioenergi 0,61 GW pada 2025 hingga 2029, sebagai bagian dari jalur menuju bauran energi terbarukan 19,7 persen di sektor ketenagalistrikan pada 2029.

Sebagian besar manfaat ini mengalir ke wilayah perdesaan. Di sanalah penggilingan padi, penggergajian dan perkebunan menghasilkan residu, dan di sanalah hadirnya pembeli tetap dapat mengubah pendapatan rumah tangga dan desa. Hal ini juga menjelaskan mengapa PLN EPI membangun model rantai pasok spoke dan hub, dengan titik pengumpulan yang memasok pusat pengolahan, didukung oleh marketplace biomassa yang menghubungkan pemasok langsung dengan kebutuhan pembangkit.

Mengapa ini penting bagi ekonomi sirkular

Dari sudut pandang ekonomi sirkular, cerita ini adalah tentang pemulihan nilai. Satu ton serbuk gergaji atau sekam yang dibiarkan membusuk atau dibakar di ruang terbuka menghasilkan emisi tanpa imbal hasil ekonomi. Satu ton yang sama, setelah dikeringkan, dipilah dan dijual ke rantai energi, menggantikan bahan bakar fosil dan memberi pendapatan bagi pelaku di sepanjang rantainya.

Langkah melampaui cofiring memperkuat logika tersebut dengan dua cara. Pertama, langkah ini memperluas pasar bagi residu yang kurang cocok untuk cofiring, seperti sampah organik basah, yang lebih sesuai untuk biogas dan CBG ketimbang pembakaran. Kedua, produk bernilai lebih tinggi seperti biochar, syngas dan biohidrogen dapat menjangkau pengguna industri yang juga sedang menjalankan dekarbonisasi, termasuk produsen pupuk, sehingga ekosistem ini memiliki lebih dari satu pembeli.

Langkah ini juga menawarkan jembatan praktis bagi armada pembangkit yang ada. Cofiring memungkinkan PLN menurunkan intensitas karbon pembangkit yang sudah terbangun dan terbiayai, sementara rantai pasok, standar dan pelaku usaha lokal yang dibutuhkan untuk sektor bioenergi yang lebih besar tumbuh secara paralel.

Pandangan Sirkularium: langkah berikutnya bagi pemerintah dan lembaga publik

Sirkularium memandang pengumuman PLN EPI sebagai langkah konstruktif yang mengubah estimasi sumber daya nasional menjadi rencana bisnis yang dapat dijalankan. Bagi pemerintah dan lembaga publik, terdapat beberapa prioritas praktis.

Memperkuat data sumber daya. PLN EPI sendiri menyebut angka 60,6 juta ton sebagai indikatif. Inventarisasi biomassa nasional yang dibagi bersama dan diperbarui secara berkala, per provinsi dan per jenis residu, yang dikelola bersama oleh kementerian, pemerintah daerah dan PLN EPI, akan memberi investor dan perencana daerah rujukan yang sama.

Membangun kapasitas pengumpulan di daerah. Perkiraan 150.000 lapangan kerja bergantung pada kemampuan koperasi, BUMDes dan agregator kecil untuk mengumpulkan, mengeringkan dan mengirimkan bahan dengan mutu yang konsisten. Pemerintah daerah dan dana desa dapat mendukung lantai jemur, gudang penyimpanan dan uji mutu sederhana di dekat sumber bahan baku.

Menyelaraskan standar dengan produk baru. Spesifikasi bahan bakar yang disusun untuk cofiring tidak otomatis sesuai untuk biochar, syngas atau CBG. Penyusunan awal standar produk, kriteria keberlanjutan dan kajian daur hidup akan membantu pasar ini tumbuh dengan keyakinan.

Menghubungkan agenda sampah dan energi. Sampah organik perkotaan masuk dalam daftar bahan baku PLN EPI. Kota yang sedang menyusun rencana pengelolaan sampah dapat menjadikan penyerapan untuk bioenergi sebagai salah satu pilihan, sehingga layanan publik perkotaan terhubung dengan sasaran energi nasional.

Yang perlu dicermati berikutnya. Tonggak utamanya adalah angka pasokan akhir 2026 dibandingkan target 3,65 juta ton, proyek percontohan pertama untuk biochar, syngas atau CBG, serta kesepakatan dengan pembeli industri seperti produsen pupuk. Bersama sama, ketiganya akan menunjukkan seberapa cepat residu Indonesia yang belum termanfaatkan dapat menjadi sumber energi yang lebih bersih dan pendapatan perdesaan yang stabil.

Pasokan biomassa PLN EPI untuk cofiring

Values in juta ton

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di energi dan iklim, Sirkularium mendukung penyusunan data dasar emisi, perencanaan energi terbarukan dan penyimpanan, serta kerangka karbon dan kebijakan yang kuat di lapangan.

Artikel terkait

Deretan panel surya di atas tanah di samping kontainer baterai pada pembangkit listrik pulau kecil, dengan rumah genset diesel lama di latar belakang
Energi & Iklim

PLN Indonesia Power dan PT ACE Energy Service sepakat di Electricity Connect 2026 untuk membangun PLTS 60 MWp yang dipadukan dengan baterai 200 MWh di sepuluh lokasi terisolasi di Sulawesi Tengah. Proyek senilai Rp3,3 triliun ini memakai panel buatan dalam negeri dan berpotensi menurunkan biaya penyediaan listrik sekitar Rp1.000 per kWh.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Kolom amine penghilang CO2 dan unit pengolahan gas di Stasiun Pengumpul Akasia Bagus, Lapangan Jatibarang, Indramayu, Jawa Barat
Energi & Iklim

Stasiun Pengumpul Akasia Bagus milik Pertamina EP di Indramayu kini menurunkan kadar karbon dioksida dari 65 persen menjadi 5 persen, mengubah gas yang dulu dibakar menjadi bahan bakar pembangkit listrik industri di Cikarang, dan operator memandang desainnya sebagai proyek percontohan bagi lapangan ber-CO2 tinggi seperti Natuna.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Aula konferensi luas pada pameran energi besar di Indonesia, dengan delegasi duduk menghadap panggung dan stan pameran utilitas serta teknologi terlihat di latar belakang
Energi & Iklim

Membuka Electricity Connect 2026 di Tangerang pada 22 September 2026, Menteri Bahlil Lahadalia menyatakan rencana usaha penyediaan tenaga listrik akan disesuaikan untuk memuat program PLTS 100 GWp. Revisi ini penting karena memindahkan target presiden ke dalam dokumen yang benar-benar dijadikan acuan perencanaan oleh utilitas, pemberi pinjaman, dan produsen.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Rig pengeboran panas bumi di punggung bukit berhutan di Sumatra Selatan menjelang senja, dengan pipa uap dan wellpad terlihat di latar depan
Energi & Iklim

Pertamina Geothermal Energy memulai pengeboran sumur LMB-19.4 di Sumatra Selatan pada 17 September 2026, sumur kedua yang menopang PLTP Lumut Balai Unit 3 berkapasitas 55 megawatt. Proyek ini berada di dalam lapangan yang sudah berproduksi sejak 2019, sehingga profil biaya dan risikonya berbeda dari pengembangan lapangan baru.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Menara produksi amonia dan urea di kompleks pabrik pupuk besar di Indonesia, dengan jaringan pipa dan tangki penyimpanan di latar depan pada siang hari
Energi & Iklim

Pada forum Katadata SAFE 2026 di Jakarta, PT Pupuk Indonesia memaparkan peta jalan dekarbonisasi yang menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca hingga 96 persen pada 2050, setara sekitar 24,9 juta ton karbon dioksida ekuivalen. Bagian yang paling instruktif adalah urutannya: efisiensi energi pada pabrik yang sudah ada lebih dulu, lalu karbon dioksida diubah menjadi produk industri yang bisa dijual.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Panel surya atap menutupi atap pabrik manufaktur besar di sebuah kawasan industri Indonesia, dengan gudang dan bangunan pabrik memanjang ke kejauhan
Energi & Iklim

Pertamina dan Jababeka Infrastruktur memperkuat kolaborasi net zero industrial estate dalam seminar di Cikarang pada 18 September 2026. Angka yang memberi bobot pada pengumuman itu adalah jumlah penyewa yang sudah bergerak: 23 perusahaan dengan 14,5 MWp PLTS atap, naik dari delapan penyewa dan sekitar 3,2 MWp ketika program ini diluncurkan pada Januari 2023.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca