Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Sumber Daya Berkelanjutan

Jendela revisi kuota produksi ditutup, dan rencana tambang 2026 menjadi soal nilai, bukan volume

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Tongkang batu bara sedang dimuat di terminal sungai di Kalimantan saat fajar, dengan tumpukan stok dan sistem konveyor terlihat di tepian

Jendela revisi rencana kerja dan anggaran biaya tambang 2026 berlangsung hingga akhir Juli, dengan batu bara memenuhi syarat dan nikel masih menunggu arahan. Batu bara dibatasi mendekati 600 juta ton dibandingkan 817,48 juta ton yang diproduksi pada 2025, namun negara tetap menargetkan Rp134 triliun penerimaan negara bukan pajak dari sektor ini.

Sekilas data
817,48 juta ton
Batu bara yang diproduksi Indonesia pada 2025
600 juta ton
Batas atas batu bara dalam rencana kerja 2026
320 juta ton
Bijih nikel yang diproduksi pada 2025
Rp134 triliun
Target penerimaan negara bukan pajak dari minerba pada 2026

Indonesia baru saja menutup jendela bagi perusahaan tambang untuk mengajukan revisi rencana kerja dan anggaran biaya tahun 2026, dokumen yang dikenal sebagai RKAB dan menetapkan berapa banyak yang boleh diproduksi setiap pelaku usaha secara sah dalam satu tahun. Jendela itu dibuka pada 1 Juli dan berjalan hingga akhir bulan, dengan sebagian pemberitaan menyebut 31 Juli dan sebagian lagi 1 Agustus sebagai hari terakhir. Yang berlangsung sekarang adalah proses evaluasi di dalam Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, dan hasilnya akan menentukan apakah Indonesia mempertahankan pemangkasan produksi terdalam yang dialami sektor ini dalam beberapa tahun terakhir.

Angka yang terlibat cukup besar untuk disampaikan secara lugas. Produksi batu bara dalam rencana kerja 2026 ditetapkan sekitar 600 juta ton, dibandingkan sekitar 790 juta ton yang diizinkan dalam rencana 2025 dan 817,48 juta ton yang benar benar diproduksi tahun lalu. Bijih nikel dibatasi pada 260 juta sampai 270 juta ton, dibandingkan sekitar 379 juta ton yang diizinkan pada 2025 dan 320 juta ton yang diproduksi. Di atas kertas, negara memilih meninggalkan sejumlah besar material yang dapat dijual tetap berada di dalam tanah.

Pemangkasan produksi yang dibingkai sebagai pengelolaan harga

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral konsisten mengenai alasannya. Pengendalian produksi disajikan sebagai instrumen untuk menjaga stabilitas industri, menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan agar harga dua kategori ekspor mineral terbesar Indonesia tidak turun lebih jauh. Logikanya lugas bagi produsen sebesar Indonesia. Ketika satu negara memasok pangsa yang menentukan dalam perdagangan nikel laut global, disiplin produksi bukan sekadar pengaturan kebijakan dalam negeri. Ia adalah variabel harga.

Cecep Mochammad Yasin, Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral pada Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, menegaskan saat jendela dibuka bahwa jalur revisi tersedia untuk batu bara, dan bahwa belum ada arahan untuk nikel. Tri Winarno, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, menarik pembedaan cermat yang layak dipertahankan dalam setiap analisis mengenai langkah berikutnya. Kementerian menyebut yang dilakukannya sebagai revisi, yaitu kalibrasi kuota terhadap kebutuhan dan realisasi yang terbukti, bukan relaksasi, yaitu pelonggaran batas atas secara umum. Dwi Anggia, juru bicara kementerian, mencatat selama proses berjalan bahwa angka angka yang beredar di luar kanal resmi tidak seharusnya dianggap final.

Memilih memproduksi lebih sedikit dan memperoleh lebih banyak adalah keputusan valuasi sebelum menjadi keputusan produksi. Itu hanya berhasil jika negara mampu mengukur nilai yang sedang dilindunginya.

Pembedaan itu penting bagi siapa pun yang memodelkan tahun ini. Kerangka revisi mengevaluasi masing masing pelaku usaha terhadap kinerjanya sendiri. Kerangka relaksasi menggeser agregatnya. Yang pertama adalah instrumen tata kelola. Yang kedua adalah sinyal pasar. Kementerian telah menyatakan dengan jelas bahwa yang dijalankan adalah yang pertama.

Aritmetika penerimaan sejauh ini bertahan

Pertanyaan yang jelas adalah apa dampak pemangkasan sebesar ini terhadap penerimaan negara. Jawabannya, pada titik tengah tahun, lebih ringan daripada yang mungkin diperkirakan.

Kementerian menetapkan target penerimaan negara bukan pajak untuk mineral dan batu bara sebesar Rp134 triliun untuk 2026, naik dari Rp124,7 triliun yang ditargetkan pada 2025. Menteri Bahlil Lahadalia melaporkan bahwa pengumpulan pada semester pertama telah melampaui 60 persen dari target tersebut, dan mengaitkan hasil itu dengan kinerja ekspor batu bara serta pengelolaan pasokan dan permintaan. Sebagai konteks, 2025 ditutup dengan realisasi Rp138,37 triliun terhadap target APBN sebesar Rp127,44 triliun, atau melampaui sekitar 8,6 persen.

Ada satu angka yang perlu diperlakukan dengan hati hati di sini. Sebagian pemberitaan sektor menyebut angka penerimaan minerba 2026 sebesar Rp113,4 triliun, bukan Rp134 triliun. Kedua angka itu tampaknya menggambarkan hal yang berbeda, kemungkinan besar pos anggaran dibandingkan target kerja kementerian, dan sumber sumber yang ada tidak merekonsiliasinya secara eksplisit. Setiap institusi yang menggunakan angka ini untuk perencanaan sebaiknya memastikan dasar mana yang dipakai sebelum menarik kesimpulan.

Pandangan mengenai apakah target itu tercapai berbeda beda. Ketua Dewan Penasihat PERHAPI menyampaikan bahwa kinerja yang lemah pada awal tahun dapat membuat pengumpulan berada di sekitar 90 persen dari angka Rp134 triliun. Pandangan itu memiliki dukungan dalam data makro: sektor pertambangan dan penggalian terkontraksi 2,14 persen secara tahunan pada kuartal pertama 2026, sementara ekonomi secara keseluruhan tumbuh 5,61 persen. Harga batu bara dan nikel berada di bawah tekanan sepanjang periode itu, sementara emas, perak, dan tembaga justru menguat.

Volume turun, nilai per ton naik

Yang ditunjukkan angka semester pertama adalah bahwa strategi ini bekerja sebagaimana dirancang. Batu bara yang diizinkan berkurang sekitar seperempat, namun pengumpulan penerimaan berjalan di atas garis tengah pada target yang justru dinaikkan. Kombinasi itu hanya terjadi apabila nilai yang ditangkap per unit produksi naik cukup besar untuk mengimbangi volume yang dilepaskan.

Beberapa faktor turut berkontribusi. Tarif royalti progresif yang diperkenalkan untuk sektor ini menaikkan bagian negara atas setiap ton yang terjual, dengan bijih nikel, tembaga, emas, dan batu bara sama sama memiliki pita tarif yang terkait harga acuan. Pengolahan hilir menahan bagian yang lebih besar dari nilai produk akhir untuk tetap berada di dalam negeri. Dan dukungan harga dari disiplin produksi, apabila bertahan, menaikkan basis perhitungan royalti.

Inilah bagian yang layak diperhatikan dari sudut pandang valuasi. Indonesia sedang menjalankan percobaan yang banyak dibicarakan negara berbasis sumber daya alam namun jarang dilakukan: membatasi keluaran fisik secara sengaja untuk menaikkan nilai ekonomi yang terealisasi dari setiap unit yang ditambang. Ini kebalikan dari logika maksimalisasi volume yang mengatur sektor ini selama beberapa dekade. Keberhasilannya sama sekali tidak dapat dinilai dari statistik tonase. Ia hanya dapat dinilai dengan mengukur nilai, dan pengukuran itu harus mencakup lebih dari sekadar royalti.

Pandangan Sirkularium

Bagi pemerintah dan institusi publik, penutupan jendela revisi adalah momen yang baik untuk mempertimbangkan seperti apa akuntansi lengkap atas kebijakan ini.

Sisi penerimaan sudah terinstrumentasi dengan baik. Penerimaan negara bukan pajak, royalti, dan angka ekspor dikumpulkan, dipublikasikan, dan dilacak setiap bulan. Kesenjangannya berada di sisi lain neraca. Pemangkasan produksi sebesar yang diambil Indonesia juga mengubah laju gangguan lahan, volume pengambilan dan pembuangan air, pemindahan tanah penutup, serta kecepatan akumulasi kewajiban reklamasi. Semua itu adalah besaran ekonomi yang nyata. Berdasarkan standar yang diakui negara sendiri dalam Permen LH No. 7 Tahun 2014, semuanya dapat dinilai dalam satuan uang. Saat ini hal itu jarang dinilai berdampingan dengan angka penerimaan, yang berarti kebijakan ini sedang dievaluasi berdasarkan satu kolom dari neraca berkolom dua.

Gambaran yang lebih lengkap akan praktis untuk disusun dan berguna untuk dipegang. Memadukan pelaporan penerimaan negara bukan pajak triwulanan dengan pengukuran GIS dan penginderaan jauh atas tapak tambang aktif, serta dengan kemajuan reklamasi terhadap standar biaya per hektare yang kini diterbitkan untuk setiap provinsi, akan memungkinkan kementerian menyampaikan sesuatu yang lebih kuat daripada angka penerimaan. Hal itu akan memungkinkan kementerian menunjukkan bahwa produksi yang berkurang menghasilkan nilai per ton yang lebih tinggi sekaligus biaya lingkungan per ton yang lebih rendah. Itu adalah argumen yang jauh lebih meyakinkan untuk disampaikan secara internasional, dan dapat dipertahankan karena bertumpu pada pengukuran, bukan klaim.

Bagi pelaku usaha yang menunggu keputusan revisi, logika yang sama berlaku pada skala perusahaan. Permohonan yang didukung bukti disiplin produksi, kemajuan reklamasi yang terverifikasi, dan posisi lingkungan yang terdokumentasi adalah permohonan yang lebih kuat daripada yang hanya didukung kebutuhan finansial. Membangun basis bukti itu sebagai praktik berkelanjutan, alih alih menyusunnya ketika keputusan sedang menggantung, adalah yang mengubah kinerja lingkungan dari biaya kepatuhan menjadi aset dalam perundingan.

Yang perlu diperhatikan berikutnya adalah substansi keputusan revisi itu sendiri: apakah volume yang disetujui bergerak signifikan di atas angka batu bara sekitar 600 juta ton, apakah arahan untuk nikel menyusul, dan apakah penerimaan semester kedua mampu mengimbangi setelah kekuatan ekspor batu bara awal tahun disetahunkan. Tiga titik data itu akan menunjukkan apakah nilai per ton benar benar menopang tahun ini, atau apakah volume diam diam sedang kembali.

Penerimaan negara bukan pajak dari mineral dan batu bara

Values in Rp triliun

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di sumber daya berkelanjutan, Sirkularium mendampingi tata kelola air, tailing, dan ESG agar proyek sumber daya tetap kredibel dan layak diinvestasikan.

Artikel terkait

Intake air PT Air Minum Bandarmasih di Sungai Martapura, Banjarmasin, saat kemarau, dengan muka air rendah dan truk tangki di dekatnya
Sumber Daya Berkelanjutan

Kemarau dan intrusi air laut memangkas pasokan air baku Banjarmasin sekitar 30 persen pada September. Seiring air tawar kembali ke jaringan, kota ini mengajukan embung berkapasitas 1,1 juta meter kubik, dan angka-angkanya menunjukkan mengapa tampungan air baku layak diperlakukan sebagai aset.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Alat berat yang dioperasikan kontraktor tambang daerah di konsesi nikel atau batu bara Indonesia, dengan kru lokal berperlengkapan keselamatan
Sumber Daya Berkelanjutan

Keputusan Menteri ESDM 365.K/MB.01/MEM.B/2026 mewajibkan pemegang IUP dan IUPK mengutamakan perusahaan jasa pertambangan dari kabupaten/kota di sekitar wilayah izinnya serta memperoleh persetujuan Menteri sebelum melibatkan anak perusahaan atau afiliasi. Aturan ini menjadikan nilai ekonomi yang tertahan di daerah sesuatu yang kini dapat diamati dan diukur.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Foto udara operasi nikel PT Vale Indonesia di Sorowako, Luwu Timur, dengan bukit hasil reklamasi dan Danau Matano di latar belakang
Sumber Daya Berkelanjutan

DPRD Sulawesi Selatan membahas rancangan perda yang mengatur cara penghitungan, pelaporan, dan pembayaran bagian daerah sebesar 6 persen dari keuntungan bersih pemegang IUPK. PT Vale Indonesia menyatakan siap membayar, dan fraksi-fraksi meminta penerimaan ini diukur, diverifikasi, dan diinvestasikan untuk jangka panjang.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Gulungan baja nirkarat atau produk nikel jadi yang ditumpuk di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah, dengan perbukitan tambang di latar belakang
Sumber Daya Berkelanjutan

Pada 27 September 2026 Wakil Gubernur Reny A. Lamadjido menyatakan nikel dan mineral lain dari Sulawesi Tengah tidak lagi boleh keluar dari provinsi dalam bentuk setengah jadi. Neraca ekonomi provinsi sudah menunjukkan pola di balik arahan itu: industri pengolahan menyumbang 44,37 persen perekonomian daerah, pertambangan dan penggalian 13,79 persen.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Emas batangan cetak 1 kilogram berstempel 999.9 tersusun di meja timbang di dalam ruang penyimpanan fasilitas pemurnian, dengan petugas uji kadar mencatat berat
Sumber Daya Berkelanjutan

PT Aneka Tambang membeli 9 ton emas berkadar 99,99 persen dari fasilitas pemurnian logam mulia PT Freeport Indonesia di Gresik sepanjang Januari hingga Agustus 2026, angka realisasi pertama terhadap perjanjian yang memungkinkan pembelian hingga 30 ton per tahun. Pembeli domestik kedua, Hartadinata, menerima 50 kilogram pertamanya pada September.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Unit instalasi pengolahan air bergerak dan tangki hidran umum melayani warga yang membawa jeriken di sebuah desa kering di Jawa Barat
Sumber Daya Berkelanjutan

Kementerian Pekerjaan Umum melaporkan pada 26 September 2026 bahwa pihaknya telah menangani 3.288 lokasi kekeringan sejak Juli, menyalurkan 48,9 juta liter air bersih kepada sekitar 1,75 juta jiwa dan menyelamatkan 141.440 hektare sawah. Menteri Dody Hanggodo menyatakan kementerian akan menambah unit instalasi pengolahan air bergerak seiring El Niño memperpanjang musim kemarau.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca