Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Sumber Daya Berkelanjutan

Musim air asin Banjarmasin menunjukkan nilai cadangan air baku

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Intake air PT Air Minum Bandarmasih di Sungai Martapura, Banjarmasin, saat kemarau, dengan muka air rendah dan truk tangki di dekatnya

Kemarau dan intrusi air laut memangkas pasokan air baku Banjarmasin sekitar 30 persen pada September. Seiring air tawar kembali ke jaringan, kota ini mengajukan embung berkapasitas 1,1 juta meter kubik, dan angka-angkanya menunjukkan mengapa tampungan air baku layak diperlakukan sebagai aset.

Sekilas data
30%
Penurunan air baku yang tersedia untuk diolah di Banjarmasin
8.000 mg/L
Kadar garam tercatat di intake Sungai Bilu
1.900 m³/jam
Selisih antara kebutuhan normal dan pasokan tersedia
1,1 juta m³
Usulan kapasitas embung sebagai cadangan air strategis

Banjarmasin tengah melewati bulan yang sulit bagi pasokan airnya, dan keluar darinya dengan gambaran yang lebih jelas tentang apa yang dibutuhkan kota ini selanjutnya. Kemarau panjang menurunkan debit sungai, air laut terdorong masuk ke Sungai Martapura, dan kadar garamnya mencapai intake yang memasok salah satu dari dua instalasi pengolahan utama kota. Pada akhir September, air baku yang tersedia untuk diolah turun sekitar 30 persen.

Penanganannya kini bergeser dari tanggap darurat ke perencanaan. Pada 27 September, perusahaan air minum daerah PT Air Minum (PAM) Bandarmasih melaporkan kondisi air baku sudah cukup membaik untuk menghentikan distribusi air asin. Pada 29 September, Wali Kota H. Muhammad Yamin HR meninjau instalasi pengolahan bersama Kapolresta Banjarmasin Kombes Pol Riza Muttaqin dan Direktur PAM Bandarmasih Zulbadi, lalu mengajukan embung berkapasitas sekitar 1,1 juta meter kubik sebagai cadangan jangka panjang. Peristiwa ini menjadi contoh yang berguna tentang bagaimana sebuah kota dapat memberi nilai pada tampungan air baku.

Bagaimana garam sampai ke keran

Banjarmasin mengambil air baku dari dua sumber utama. Instalasi Pengolahan Air (IPA) 1 di kawasan Sungai Bilu mengambil air dari Sungai Martapura dengan kapasitas 600 liter per detik. IPA 2 di kawasan Pramuka mengambil air dari Sungai Tabuk, sekitar 11 kilometer jauhnya, dengan kapasitas 1.750 liter per detik. Saluran irigasi biasanya menjadi sumber ketiga, tetapi pada September tidak berfungsi karena kemarau.

Saat debit sungai turun, air laut pasang bergerak lebih jauh ke hulu. Berita Borneo melaporkan kadar garam di intake Sungai Bilu mencapai 8.000 miligram per liter pada 10 September, jauh melampaui kemampuan proses pengolahan. Pengawas PAM Bandarmasih Murjani saat itu menjelaskan bahwa air dengan kadar garam setinggi itu tidak dapat diolah. Perusahaan melaporkan kapasitas produksi air bersihnya turun lebih dari separuh, dan lebih dari 150.000 pelanggan di seluruh kota terdampak.

Mulai 22 September, perusahaan beralih ke skema distribusi darurat. Di seluruh Kecamatan Banjarmasin Barat serta sebagian Banjarmasin Tengah dan Banjarmasin Utara, air perpipaan disalurkan hanya untuk mandi, cuci, dan kakus (MCK), bukan untuk minum atau memasak. Jejakrekam melaporkan sekitar 70 persen warga yang disurvei di tiga kecamatan menyetujui skema tersebut, yang menjaga aliran air untuk sanitasi rumah tangga sementara air minum diperoleh dari sumber lain.

Neraca air dalam angka

Angka tunggal yang paling berguna adalah neraca per jam. PAM Bandarmasih kepada Kalimantan Post menyampaikan bahwa operasi normal membutuhkan 7.500 meter kubik air per jam, sementara yang tersedia 5.600 meter kubik per jam, sehingga terdapat kekurangan 1.900 meter kubik per jam.

Persoalannya bukan kapasitas instalasi pengolahan, melainkan air baku yang tersedia. Wali Kota Banjarmasin H. Muhammad Yamin HR

Angka instalasi mendukung pernyataan wali kota. Jika dikonversi ke satuan per jam, IPA 1 berkapasitas 600 liter per detik dapat mengolah sekitar 2.160 meter kubik per jam, dan IPA 2 berkapasitas 1.750 liter per detik sekitar 6.300 meter kubik per jam. Totalnya sekitar 8.460 meter kubik per jam, di atas kebutuhan 7.500 meter kubik. Kendalanya berada di hulu instalasi, yaitu pada kuantitas dan kualitas air baku.

Perbedaan ini penting bagi investasi. Kota yang menghadapi hambatan pengolahan membutuhkan instalasi yang lebih besar. Kota yang menghadapi hambatan air baku membutuhkan tampungan, perlindungan daerah tangkapan air, dan intake alternatif. Angka Banjarmasin jelas menunjuk ke pilihan kedua.

Dari pasokan darurat ke cadangan strategis

Selama air baku kurang, pemerintah kota dan perusahaan air minum menjaga pasokan melalui sejumlah langkah. Truk tangki melayani permukiman di ujung jaringan. Jadwal distribusi disesuaikan agar air yang tersedia dimanfaatkan optimal pada jam tertentu. Titik pengambilan air tambahan disiapkan di kantor kelurahan dan puskesmas. Air tawar dari IPA 2 dimaksimalkan ke seluruh wilayah layanan, dengan sebagian zona menerima debit dan tekanan lebih rendah. Anggota DPRD Banjarmasin, di antaranya Hj. Neli Listriani dan Tugiatno, meminta perusahaan mempertimbangkan keringanan tagihan bagi pelanggan terdampak dan mengantarkan air tangki secara proaktif, sebagaimana diberitakan Kalselpos.

Jawaban jangka panjang yang diajukan wali kota adalah embung berkapasitas sekitar 1,1 juta meter kubik, yang dibahas bersama Gubernur Kalimantan Selatan. Pemerintah kota mencatat bahwa rencana ini masih dalam tahap pembahasan dan belum masuk tahap pelaksanaan, dan belum ada angka biaya yang dipublikasikan.

Perhitungan sederhana menunjukkan arti tampungan tersebut. Dengan kekurangan September sebesar 1.900 meter kubik per jam, 1,1 juta meter kubik dapat menutup selisih itu selama sekitar 580 jam, atau kurang lebih 24 hari. Jika dibandingkan dengan seluruh kebutuhan normal 7.500 meter kubik per jam, jumlah itu setara kira-kira enam hari seluruh pasokan air olahan kota. Ini adalah ilustrasi skala, bukan angka desain, tetapi menunjukkan bahwa embung sebesar itu akan menjadi penyangga berarti bila kondisi September terulang.

Memberi nilai pada air baku

Air baku jarang tercatat dalam neraca, dan nilainya baru terlihat ketika jumlahnya kurang. Peristiwa September menimbulkan biaya nyata yang dapat ditangkap melalui valuasi: operasi truk tangki, upaya distribusi tambahan, produksi IPA 1 yang hilang, biaya rumah tangga untuk membeli air minum, dan implikasi pendapatan dari keringanan tagihan bila diberikan. Di sisi lain terdapat manfaat cadangan: belanja darurat yang terhindarkan, kelangsungan layanan bagi lebih dari 150.000 pelanggan, dan perlindungan kesehatan masyarakat.

Lapisan nilai kedua berada di hulu. Debit Sungai Martapura dan Sungai Tabuk pada musim kemarau bergantung pada kondisi daerah tangkapannya, termasuk tutupan hutan, gambut, dan tampungan lahan basah. Memetakan daerah tangkapan tersebut dengan penginderaan jauh, memadukannya dengan pemantauan debit dan salinitas di intake, serta memvaluasi jasa pengaturan tata air yang diberikannya akan memberi kota dan provinsi dasar yang lebih jelas untuk menentukan porsi investasi bagi tampungan dan bagi perlindungan daerah tangkapan.

Pandangan Sirkularium

Penanganan di Banjarmasin menunjukkan kota yang belajar dengan cepat. Perusahaan air minum berkomunikasi dengan jelas, warga sebagian besar menerima skema khusus MCK pada masa puncak, distribusi air asin dihentikan segera setelah kondisi memungkinkan, dan wali kota telah mengarahkan pembahasan ke cadangan permanen. Pembingkaian yang lugas bahwa persoalannya ada pada air baku, bukan kapasitas instalasi, merupakan titik awal yang tepat bagi investasi yang baik.

Bagi pemerintah kota, provinsi, dan PAM Bandarmasih, tiga langkah dapat mengubah pengalaman September ini menjadi ketahanan jangka panjang. Pertama, catat biaya peristiwa ini di satu tempat, termasuk truk tangki, produksi yang hilang, dan keringanan yang diberikan, agar kajian kelayakan embung bertumpu pada angka yang teramati, bukan perkiraan. Kedua, pasang pemantauan salinitas dan debit secara berkelanjutan di kedua intake, yang memberi peringatan dini intrusi dan rangkaian data untuk menentukan ukuran embung dengan tepat. Ketiga, padukan embung dengan valuasi daerah tangkapan di hulu, karena melindungi sumber sering kali merupakan cara paling hemat untuk menjaga ketersediaan air baku pada musim kemarau berikutnya.

Sirkularium memandang cadangan air baku sebagai infrastruktur dengan imbal hasil ekonomi yang terukur, dan merekomendasikan agar kota di tepi sungai pasang surut di Kalimantan dan Sumatra menilainya dengan cara itu. Hal yang perlu dicermati selanjutnya: apakah embung bergerak dari pembahasan ke studi kelayakan bersama pemerintah provinsi, seberapa cepat IPA 1 kembali beroperasi penuh saat hujan tiba, dan apakah kota tepi sungai pasang surut lainnya menerapkan perencanaan cadangan serupa sebelum kemarau berikutnya.

Neraca air per jam PAM Bandarmasih selama intrusi

Values in meter kubik per jam

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di sumber daya berkelanjutan, Sirkularium mendampingi tata kelola air, tailing, dan ESG agar proyek sumber daya tetap kredibel dan layak diinvestasikan.

Artikel terkait

Alat berat yang dioperasikan kontraktor tambang daerah di konsesi nikel atau batu bara Indonesia, dengan kru lokal berperlengkapan keselamatan
Sumber Daya Berkelanjutan

Keputusan Menteri ESDM 365.K/MB.01/MEM.B/2026 mewajibkan pemegang IUP dan IUPK mengutamakan perusahaan jasa pertambangan dari kabupaten/kota di sekitar wilayah izinnya serta memperoleh persetujuan Menteri sebelum melibatkan anak perusahaan atau afiliasi. Aturan ini menjadikan nilai ekonomi yang tertahan di daerah sesuatu yang kini dapat diamati dan diukur.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Foto udara operasi nikel PT Vale Indonesia di Sorowako, Luwu Timur, dengan bukit hasil reklamasi dan Danau Matano di latar belakang
Sumber Daya Berkelanjutan

DPRD Sulawesi Selatan membahas rancangan perda yang mengatur cara penghitungan, pelaporan, dan pembayaran bagian daerah sebesar 6 persen dari keuntungan bersih pemegang IUPK. PT Vale Indonesia menyatakan siap membayar, dan fraksi-fraksi meminta penerimaan ini diukur, diverifikasi, dan diinvestasikan untuk jangka panjang.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Gulungan baja nirkarat atau produk nikel jadi yang ditumpuk di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah, dengan perbukitan tambang di latar belakang
Sumber Daya Berkelanjutan

Pada 27 September 2026 Wakil Gubernur Reny A. Lamadjido menyatakan nikel dan mineral lain dari Sulawesi Tengah tidak lagi boleh keluar dari provinsi dalam bentuk setengah jadi. Neraca ekonomi provinsi sudah menunjukkan pola di balik arahan itu: industri pengolahan menyumbang 44,37 persen perekonomian daerah, pertambangan dan penggalian 13,79 persen.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Emas batangan cetak 1 kilogram berstempel 999.9 tersusun di meja timbang di dalam ruang penyimpanan fasilitas pemurnian, dengan petugas uji kadar mencatat berat
Sumber Daya Berkelanjutan

PT Aneka Tambang membeli 9 ton emas berkadar 99,99 persen dari fasilitas pemurnian logam mulia PT Freeport Indonesia di Gresik sepanjang Januari hingga Agustus 2026, angka realisasi pertama terhadap perjanjian yang memungkinkan pembelian hingga 30 ton per tahun. Pembeli domestik kedua, Hartadinata, menerima 50 kilogram pertamanya pada September.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Unit instalasi pengolahan air bergerak dan tangki hidran umum melayani warga yang membawa jeriken di sebuah desa kering di Jawa Barat
Sumber Daya Berkelanjutan

Kementerian Pekerjaan Umum melaporkan pada 26 September 2026 bahwa pihaknya telah menangani 3.288 lokasi kekeringan sejak Juli, menyalurkan 48,9 juta liter air bersih kepada sekitar 1,75 juta jiwa dan menyelamatkan 141.440 hektare sawah. Menteri Dody Hanggodo menyatakan kementerian akan menambah unit instalasi pengolahan air bergerak seiring El Niño memperpanjang musim kemarau.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pohon lokal muda tumbuh di tanah berbutir gelap pada lereng berteras bekas tambang nikel yang direklamasi di Pulau Obi, dengan cerobong smelter di kejauhan
Sumber Daya Berkelanjutan

Harita Nickel memanfaatkan terak dari smelternya di Pulau Obi sebagai pembenah tanah pada 272 hektare lahan bekas tambang yang direklamasi, praktik yang kini tertuang dalam standar nasional SNI 9420:2025. Pendekatan ini mengubah residu pengolahan berskala besar menjadi bahan reklamasi, dengan penghematan yang dilaporkan hingga 32 persen dibandingkan pupuk organik.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca