Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Sumber Daya Berkelanjutan

Hulu Sungai Selatan ingin Kandangan mendapat air pegunungan dari Bendung Amandit, dan penghematannya dimulai dari sumber

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Bendung Amandit di Desa Malutu, Hulu Sungai Selatan, dengan air jernih mengalir di atas pelimpah dan kaki Pegunungan Meratus yang berhutan di belakangnya

Bupati Hulu Sungai Selatan mengusulkan penyaluran air baku jernih dari Bendung Amandit ke intake Muara Banta yang melayani Kandangan. Instalasi pengolahan air yang dibangun dengan Rp16,8 miliar dan beroperasi 50 dari 300 liter per detik menunjukkan seberapa besar nilai yang dapat dibawa oleh sumber air yang lebih baik.

Sekilas data
300 L/detik
Kapasitas desain IPA Sungai Raya yang dipasok dari Bendung Amandit
50 L/detik
Kapasitas awal saat IPA mulai beroperasi pada 2020
Rp16,8 miliar
Total biaya reservoir, unit pengolahan, dan intake IPA
Rp250 miliar
Dana pusat untuk normalisasi Sungai Amandit Lama pada 2027

Sebagian investasi air yang paling bermanfaat di Indonesia tidak berupa pembangunan instalasi pengolahan yang lebih besar. Investasi itu berupa pemilihan sumber air yang lebih baik. Pada Selasa, 6 Oktober 2026, Bupati Hulu Sungai Selatan (HSS) di Kalimantan Selatan, H. Syafrudin Noor, meninjau Bendung Amandit di Desa Malutu, Kecamatan Padang Batung, dan memaparkan rencana untuk melakukan hal tersebut bagi Kandangan, ibu kota kabupaten.

Rencananya adalah memasang sambungan pipa dari bendung menuju intake Muara Banta, yang memasok Kandangan dan sekitarnya. Bupati menyampaikan bahwa kabupaten ingin mulai memasang sambungan tersebut tahun ini. Tujuan yang disampaikan bersifat praktis: menambah air baku ke dalam sistem, mengurangi kebutuhan kaporit dalam pengolahan, menekan biaya pengolahan dalam jangka panjang, dan meningkatkan kualitas air yang diminum rumah tangga. Dalam kunjungan yang sama, bupati juga mengumumkan bahwa HSS telah memperoleh dana pemerintah pusat sebesar Rp250 miliar untuk normalisasi Sungai Amandit Lama, yang dijadwalkan pada 2027.

Kedua pengumuman ini menggambarkan sebuah kabupaten yang mengelola satu sistem sungai untuk beberapa tujuan sekaligus: air minum, irigasi, dan pengendalian banjir.

Sumber yang sudah terbukti

Bendung Amandit bukan sumber air minum yang baru atau belum teruji. Sejak Juli 2020, bendung ini memasok instalasi pengolahan air (IPA) unit Sungai Raya milik perusahaan air minum daerah, yang berlokasi di Desa Paharuangan, Kecamatan Sungai Raya. IPA tersebut mengambil air baku dari Sungai Amandit di bendung dengan izin dari balai wilayah sungai, dan pipa dari sumber ke instalasi dipasang dengan dukungan langsung dari balai wilayah sungai Kementerian Pekerjaan Umum.

Bupati menggambarkan hasilnya dengan sederhana.

"Air ledeng di Kecamatan Sungai Raya yang dari bendung tersebut sangat jernih, karena berasal dari pegunungan langsung." H. Syafrudin Noor, Bupati Hulu Sungai Selatan

Pengamatan ini bukan hal baru di HSS. Ketika IPA Sungai Raya mulai beroperasi pada 2020, Bupati saat itu, Achmad Fikry, menyampaikan hal serupa dalam istilah ekonomi. Ia mengatakan sumber air yang digunakan IPA tersebut sudah cukup bersih sehingga biaya produksinya berkurang, dan membandingkannya dengan unit Muara Banta yang mengolah air lebih keruh dari Sungai Amandit di bagian hilir. Rencana 2026 dengan demikian memperluas pengaturan yang sudah terbukti ke intake yang melayani ibu kota kabupaten.

Angka di balik IPA Sungai Raya

Pemberitaan saat IPA mulai beroperasi pada Juli 2020 memberikan gambaran jelas tentang investasi yang sudah ada.

IPA dibangun dalam tiga tahap. Reservoir air dibangun pada 2016 dengan biaya Rp5,1 miliar. Instalasi pengolahan menyusul pada 2018 senilai Rp9,9 miliar. Intake air baku rampung pada 2019 senilai Rp1,8 miliar. Totalnya Rp16,8 miliar, didanai melalui APBD, Dana Alokasi Khusus (DAK), dan dukungan balai wilayah sungai untuk perpipaan.

IPA memiliki kapasitas desain 300 liter per detik dan mulai beroperasi pada 50 liter per detik. Pada tingkat awal tersebut, sumber-sumber menggambarkan layanan dengan dua cara yang sedikit berbeda. Kalselpos melaporkan sekitar 2.000 sambungan pelanggan dapat terlayani, sementara Kalimantan Post melaporkan bahwa IPA berkapasitas 50 liter per detik dapat melayani sekitar 4.000 sambungan. Kedua angka ini lebih tepat dibaca sebagai tingkat layanan awal dan batas kapasitas tahap pertama, bukan sebagai pertentangan. Saat mulai beroperasi, IPA memasok Sungai Raya, Simpur, dan sebagian Kandangan, dan para pejabat sudah menyebut rencana distribusi ke lebih banyak wilayah Kandangan serta kemungkinan ke daerah perbatasan Kabupaten Tapin.

Skala ruang yang masih tersedia patut disampaikan dengan jelas. Lima puluh liter per detik setara dengan sekitar 4.320 meter kubik per hari. Tiga ratus liter per detik setara dengan sekitar 25.920 meter kubik per hari. Sistem ini sejak awal dirancang untuk enam kali output awalnya, dan air baku yang memasoknya, dalam kata-kata bupati, sangat jernih.

Mengapa kualitas sumber adalah variabel ekonomi

Kualitas air baku sering dianggap sebagai detail teknis. Dalam praktiknya, kualitas ini membentuk struktur biaya perusahaan air minum setiap hari. Air sungai yang keruh membutuhkan lebih banyak koagulan, waktu pengendapan yang lebih lama, pencucian balik filter yang lebih sering, dan lebih banyak disinfektan untuk mencapai standar air minum. Air yang lebih jernih dari sumber di hulu membutuhkan lebih sedikit dari semua itu. Perbedaannya terlihat pada pembelian bahan kimia, listrik untuk pemompaan dan pencucian balik, penanganan lumpur, dan keausan peralatan.

Itulah logika di balik rencana kabupaten. Muara Banta mengambil air dari bagian Sungai Amandit yang membawa lebih banyak sedimen. Mencampurkan, atau mengganti, air tersebut dengan air dari bendung akan menurunkan beban pengolahan di intake itu. Kabupaten menyebut kaporit sebagai penghematan spesifik yang diharapkan, dan mengaitkan rencana ini dengan kesehatan masyarakat. Bupati mengatakan tujuannya adalah agar anak-anak mendapatkan air bersih yang sehat, tumbuh sehat, dan terhindar dari stunting.

Ada pula argumen efisiensi modal. Menggunakan bendung sebagai sumber untuk Kandangan dibangun di atas koridor sumber yang sudah dibentuk oleh investasi Rp16,8 miliar yang ada. Sebagai ilustrasi saja, biaya pembangunan tersebut setara dengan sekitar Rp56 juta per liter per detik kapasitas desain, atau sekitar Rp4,2 juta per sambungan pada kapasitas 4.000 sambungan yang dilaporkan untuk tahap pertama. Setiap tambahan liter per detik yang dialirkan melalui infrastruktur yang sudah ada akan menurunkan biaya satuan tersebut lebih jauh.

Satu sungai, tiga layanan

Bendung ini berada di hulu sebuah sistem air yang lebih luas. Daerah Irigasi Amandit yang dilayani dari Malutu mencakup 5.472 hektare, dikelola oleh Balai Wilayah Sungai Kalimantan III (BWS Kalimantan III). Pada Maret 2025, kabupaten mengusulkan peninggian bendung agar petani dapat mengairi sawah sepanjang tahun alih-alih bergantung pada hujan, dan menyusun rencana agar balai wilayah sungai mengeruk alur Sungai Amandit, dengan kabupaten menambah saluran drainase, untuk meningkatkan produksi pangan di Kecamatan Kalumpang dan Simpur.

Dana Rp250 miliar untuk Sungai Amandit Lama yang baru diumumkan menjawab layanan ketiga. Sungai ini mengalami pendangkalan yang menyebabkan banjir musiman di wilayah antara lain Simpur, Kalumpang, dan Kandangan. Normalisasi pada 2027 dimaksudkan untuk memulihkan kapasitas sungai dalam mengalirkan air selama musim hujan.

Jika dilihat bersama, air minum, irigasi, dan pengendalian banjir adalah tiga layanan yang bersumber dari daerah tangkapan air yang sama. Keputusan tentang berapa banyak air yang dikirim ke intake Muara Banta, dalam skala kecil, juga merupakan keputusan tentang aliran irigasi dan pengelolaan sungai. Itu alasan yang baik untuk merencanakan ketiganya bersama dan mengukurnya dalam satuan yang sebanding.

Pandangan Sirkularium

Hulu Sungai Selatan mengambil pendekatan yang tepat dan sadar biaya. Alih-alih memperluas pengolahan untuk menghadapi air baku yang lebih buruk, kabupaten beralih ke sumber yang lebih bersih yang sudah dikenalnya, melalui infrastruktur yang sudah dibangunnya, dengan tujuan kesehatan masyarakat yang jelas. Dana pusat untuk Sungai Amandit Lama menunjukkan bahwa kabupaten juga mampu menghadirkan sumber daya nasional bagi sistem airnya.

Tiga langkah dapat membantu rencana ini memberikan nilai penuh dan lebih mudah dibiayai. Pertama, perusahaan air minum daerah dapat menerbitkan data dasar sederhana untuk unit Muara Banta dan Sungai Raya: kekeruhan air baku, dosis bahan kimia, dan biaya produksi per meter kubik. Dengan data dasar tersebut, penghematan kaporit dan biaya pengolahan yang diharapkan kabupaten dapat diukur, bukan diasumsikan, dan pipa dapat dibenarkan berdasarkan imbal hasil yang teramati. Kedua, pembagian air di bendung antara irigasi dan penyediaan air minum dapat disepakati secara resmi dengan BWS Kalimantan III, termasuk skenario musim kemarau, sehingga kedua layanan terlindungi seiring meningkatnya kebutuhan. Ketiga, daerah tangkapan air di hulu yang menjaga Sungai Amandit tetap jernih layak diakui sebagai aset. Memetakan tutupan hutannya dengan penginderaan jauh dan menilai kualitas air yang dihasilkannya akan menunjukkan berapa biaya pengolahan yang dihindari oleh daerah tangkapan tersebut setiap tahun, dan memberi kabupaten dasar untuk melindunginya.

Sirkularium memandang kualitas air baku sebagai salah satu jasa ekosistem yang paling langsung dan terukur yang dapat dikelola sebuah kabupaten, dan kasus Amandit menunjukkan bagaimana nilainya dapat dihitung dalam rupiah per meter kubik. Yang perlu dicermati selanjutnya: apakah sambungan pipa ke Muara Banta mulai dipasang sebelum akhir 2026 sebagaimana dikehendaki bupati, seberapa jauh IPA Sungai Raya bergerak menuju kapasitas desain 300 liter per detik, dan bagaimana normalisasi sungai pada 2027 dikoordinasikan dengan rencana irigasi dan penyediaan air untuk sungai yang sama.

Pembangunan sistem air Sungai Raya, biaya per tahap

Values in Rp miliar

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di sumber daya berkelanjutan, Sirkularium mendampingi tata kelola air, tailing, dan ESG agar proyek sumber daya tetap kredibel dan layak diinvestasikan.

Artikel terkait

Foto udara kawasan pengolahan nikel di Sulawesi dengan timbunan bijih dan blok pemurnian, atau karung produk nikel matte dan MHP di pelabuhan
Sumber Daya Berkelanjutan

Menko Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia membuka opsi moratorium smelter nikel baru yang menghasilkan produk antara seperti NPI, feronikel, nikel matte, dan MHP, dengan merujuk kelebihan pasokan global sekitar 2,5 juta ton. Langkah ini membingkai ulang fase hilirisasi berikutnya pada seberapa besar nilai yang tertahan di Indonesia dari setiap ton bijih.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Lereng berhutan Gunung Tompotika di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, dengan lahan pertanian dan desa di latar depan
Sumber Daya Berkelanjutan

Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Tengah memutuskan bahwa persetujuan lingkungan dan dokumen AMDAL PT Anugerah Bangun Mamur dan PT Anugerah Sumber Bumi di Kabupaten Banggai merupakan informasi publik yang harus diserahkan kepada Aliansi Konservasi Tompotika dalam 14 hari kerja. Putusan ini menjadikan AMDAL sebagai acuan bersama untuk menilai hutan, air, dan satwa endemik bentang alam Tompotika.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Delegasi Indonesia dan Chile dalam pertemuan bilateral di Santiago, atau sebagai alternatif foto katoda tembaga maupun fasilitas tailing modern
Sumber Daya Berkelanjutan

Di Santiago pada 1 Oktober 2026, Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno mengusulkan MoU Kemitraan Mineral Hijau Indonesia-Chile yang mencakup proyek industri bersama, koalisi negara produsen, teknologi pertambangan hijau, platform investasi, serta pengelolaan dan pemanfaatan tailing. Menteri Luar Negeri Chile menyambut baik usulan tersebut dan berjanji segera menindaklanjutinya.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Petugas kepolisian memeriksa muatan bus penumpang di Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni, Lampung Selatan, dengan botol-botol barang bukti tersegel di atas meja
Sumber Daya Berkelanjutan

Pemeriksaan rutin di Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni menghentikan 61 kilogram merkuri tanpa dokumen yang berlabel untuk pengolahan emas, dan penyidik menelusuri kiriman itu hingga ke penerimanya di Bogor. Kasus ini menunjukkan bagaimana pemutusan pasokan merkuri melengkapi komitmen Minamata Indonesia, dan mengapa kerugian lingkungan yang berhasil dicegah layak divaluasi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pemandangan luas Waduk Jatiluhur di Purwakarta dengan perbukitan hijau di sekeliling air dan lokasi konstruksi dengan crane di tepian
Sumber Daya Berkelanjutan

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menghentikan sementara pembangunan pusat data AI senilai Rp3,5 triliun di Jatiluhur hingga AMDAL dan persetujuan bangunannya lengkap. Keputusan ini tetap membuka jalan bagi investasi, sementara kajian memberi nilai pada jasa air dan jasa ekosistem yang disediakan waduk.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Upacara pelantikan di Istana Negara Jakarta, atau smelter pengolahan nikel di Sulawesi saat senja
Sumber Daya Berkelanjutan

Presiden Prabowo Subianto membentuk Kementerian Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi dan melantik Bahlil Lahadalia untuk memimpinnya sambil tetap menjabat Menteri ESDM. Dengan investasi hilirisasi Rp300,1 triliun pada semester I 2026, jabatan baru ini menjadi rumah yang tepat bagi cara bersama untuk mengukur nilai yang ditambahkan oleh pengolahan.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca