Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Energi & Iklim

Indonesia akan merevisi RUPTL agar program surya 100 gigawatt peak memiliki payung hukum

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Aula konferensi luas pada pameran energi besar di Indonesia, dengan delegasi duduk menghadap panggung dan stan pameran utilitas serta teknologi terlihat di latar belakang

Membuka Electricity Connect 2026 di Tangerang pada 22 September 2026, Menteri Bahlil Lahadalia menyatakan rencana usaha penyediaan tenaga listrik akan disesuaikan untuk memuat program PLTS 100 GWp. Revisi ini penting karena memindahkan target presiden ke dalam dokumen yang benar-benar dijadikan acuan perencanaan oleh utilitas, pemberi pinjaman, dan produsen.

Sekilas data
100 GWp
Program surya yang akan dimuat dalam RUPTL revisi
69,5 GW
Kapasitas pembangkit yang sudah ada di RUPTL 2025 sampai 2034
47.758 km
Sirkuit transmisi yang direncanakan dalam dokumen yang sama
836.000
Peluang kerja yang diproyeksikan di manufaktur dan konstruksi

Program surya 100 gigawatt peak milik Indonesia sudah cukup lama terlihat di lapangan. Lokasi telah ditetapkan, koridor telah dipetakan, dan fase pertama telah diluncurkan. Yang belum dimiliki program ini adalah tempat formal di dalam dokumen yang benar-benar dijadikan dasar penyusunan jadwal oleh utilitas, pemberi pinjaman, produsen peralatan, dan perencana daerah. Celah itu kini sedang ditutup.

Membuka Enlit Asia dan MKI Electricity Connect 2026 di Indonesia Convention Exhibition, BSD City, Tangerang, pada 22 September 2026, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah akan merevisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik atau RUPTL agar program PLTS 100 GWp memiliki dasar hukum. Alasannya bersifat praktis, bukan seremonial. Program sebesar itu tidak dapat bergerak melalui proses pengadaan, pembiayaan, dan antrean sambungan jaringan hanya dengan bekal target. Program itu perlu berada di dalam rencana yang secara hukum menjadi acuan kerja PT PLN (Persero) dan para mitranya.

Apa yang disampaikan menteri

Pengumuman itu disampaikan pada pembukaan acara tiga hari yang berlangsung 22 sampai 24 September 2026 dengan tema "Powering Regional Sovereignty, Securing Energy Systems Resilience". Ajang ini menghadirkan lebih dari 11.000 profesional energi, 280 peserta pameran internasional, dan lebih dari 300 pembicara, menurut angka penyelenggara yang dilaporkan Industry.co.id. Hadir pula di panggung Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo, yang juga menjadi penasihat Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia atau MKI, Direktur Distribusi PLN Arsyadany Ghana Akmalaputri, serta portfolio director Enlit Asia Simon Hoare dari Clarion Events.

Bahlil menempatkan revisi ini sebagai mekanisme yang mengubah komitmen menjadi jadwal kerja.

"Indonesia tak akan bergeming dan tetap konsisten untuk memenuhi target net zero emission kita di 2050 sampai tahun 2060. Caranya bukan hanya tema, langsung dibuat program konkret."

Menteri menegaskan Indonesia tidak akan bergeser dan tetap konsisten memenuhi target nol emisi bersih antara 2050 dan 2060, dan bahwa caranya bukan sekadar tema melainkan program konkret. Ia menambahkan, sebagaimana dilaporkan IDN Times, bahwa penyesuaian RUPTL sudah pasti dilakukan karena program tersebut tidak bisa berjalan tanpa dasar hukum.

Angka investasi yang melekat pada program PLTS 100 GWp diperkirakan mencapai US$70 miliar sampai US$73 miliar. Presiden Prabowo Subianto meminta pembangunan surya itu rampung dalam tiga tahun, sebuah tenggat yang pernah dicatat Sirkularium sebagai sangat padat untuk infrastruktur berskala demikian.

Angka di dalam rencana yang berjalan

Revisi ini datang pada rencana yang sudah memuat ambisi besar. RUPTL 2025 sampai 2034 menetapkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW, dengan sekitar 70 persen berasal dari energi terbarukan. Periskop melaporkan rincian teknologinya sebagai 17,1 GW surya, 16,6 GW pembangkit fosil, 11,7 GW air, 10,3 GW penyimpanan baterai, 7,2 GW angin, 5,2 GW panas bumi, 0,9 GW bioenergi, dan 0,5 GW nuklir. Komponen tersebut berjumlah tepat 69,5 GW, sebuah pertanda baik bahwa rencana itu konsisten secara internal dan bukan disusun dari potongan angka yang dibulatkan.

Selain pembangkit, rencana itu memuat 47.758 kilometer sirkuit transmisi, yang dalam sejumlah laporan disebut hampir 48.000 kilometer sirkuit, serta sekitar 108.000 MVA kapasitas gardu induk. Periskop menyebut total kebutuhan investasi RUPTL sebesar Rp2.967,4 triliun, dengan sekitar 73 persen atau kurang lebih Rp1.566,1 triliun diharapkan berasal dari produsen listrik swasta dan pihak swasta lainnya. Pembaca perlu mencatat adanya perbedaan antar media di titik ini. ANTARA dan Fortune Indonesia sama-sama melaporkan kebutuhan investasi RUPTL sebesar Rp2,6 sampai Rp2,7 kuadriliun dalam bentuk ringkas, yang tidak sepenuhnya cocok dengan angka Rp2.967,4 triliun. Angka kapasitas dan transmisi konsisten di seluruh sumber; angka agregat rupiahnya tidak, dan sebaiknya dikonfirmasi pada dokumen resmi, bukan pada pemberitaan.

Fortune Indonesia menambahkan dua angka desain lain yang menjelaskan mengapa program 100 GWp bukan sekadar perbesaran dari pos surya yang sudah ada. Mewujudkannya berarti sekitar 54 GWp kapasitas surya tambahan di luar perencanaan saat ini dan sekitar 160 GWh penyimpanan baterai. Penyimpanan pada skala itu adalah separuh pengumuman yang jarang disorot. Surya tanpa penyimpanan menghasilkan energi; surya dengan penyimpanan menghasilkan kapasitas yang dapat diandalkan, dan itulah yang sebenarnya dibutuhkan beban industri atau beban puncak malam hari.

Di mana industri dan dekarbonisasi masuk

Susunan program konferensinya sendiri menunjukkan ke mana arah percakapan kebijakan bergerak. Berdampingan dengan modernisasi jaringan, pembangkitan bersih dan termal, serta digitalisasi dan kecerdasan buatan, salah satu dari empat jalur utama adalah Powering Industries and Decarbonisation. Forum khusus digelar untuk tenaga listrik nikel, nuklir, investasi energi bersih, dan, baru pada 2026, tenaga listrik pusat data.

Kerangka itu penting bagi basis manufaktur Indonesia. Pembangunan surya dan penyimpanan sebesar ini, dari sudut pandang sebuah fasilitas industri, adalah pasokan listrik rendah karbon yang andal dan dapat dikontrak, bukan sekadar hamparan panel di lahan yang jauh. Ia juga merupakan sinyal permintaan bagi manufaktur dalam negeri. Bahlil menyampaikan urutan prioritasnya secara langsung.

"Kami akan memprioritaskan bahan-bahan produksi dari dalam negeri. Sudah barang tentu kalau dalam negeri tidak cukup, kami akan membuka peluang untuk melakukan impor."

Menteri menyatakan bahan produksi dalam negeri akan diprioritaskan, dan impor baru dibuka bila pasokan domestik tidak mencukupi. Periskop melaporkan RUPTL diproyeksikan membuka lebih dari 836.000 peluang kerja di bidang manufaktur, konstruksi, instalasi, operasi, dan pemeliharaan. Kebijakan komponen dalam negeri yang diterapkan pada program berdurasi panjang seperti ini adalah salah satu dari sedikit instrumen yang mampu membangun rantai pasok modul, inverter, dan sel yang bertahan lebih lama daripada satu putaran pengadaan.

Mengenai integrasi kawasan, Bahlil memastikan Indonesia belum menandatangani komitmen ASEAN Power Grid dari KTT ASEAN ke-48 di Cebu, karena negosiasi harga masih berjalan. Ia menggambarkan ketentuan saat ini belum berimbang, mencatat bahwa keuntungan semestinya adil dan tidak berat sebelah, serta menempatkan kolaborasi sebagai saling membutuhkan dan saling memberi manfaat. Pembicaraan melibatkan Malaysia dan kelompok BIMP-EAGA, dengan Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia terlibat dalam pembiayaan. Penandatanganan akan menyusul setelah ketentuannya setara.

Arti bagi pemerintah dan institusi publik

Pembacaan Sirkularium adalah bahwa revisi RUPTL merupakan bagian paling berdampak dari rangkaian pengumuman pekan ini, sekaligus yang paling tidak dramatis secara visual. Target menarik perhatian. Dokumen perencanaan menarik modal. Memasukkan 100 GWp ke dalam RUPTL mengubah apa yang dapat dijamin pemberi pinjaman, apa yang harus diperhitungkan dalam studi sambungan jaringan, dan apa yang secara sah dapat direncanakan oleh dinas energi provinsi.

Tiga implikasi praktis mengikuti bagi institusi publik. Pertama, kebutuhan penyimpanan 160 GWh berarti desain pengadaan penyimpanan layak mendapat perhatian kebijakan setara dengan lelang pembangkit, karena ekonomi penyimpanan menentukan apakah pembangunan surya menghasilkan kapasitas yang terpakai atau energi berlebih di tengah hari. Kedua, program transmisi 47.758 kilometer adalah kendala pengikat dalam sebagian besar skenario, dan lini masa perizinan serta pengadaan lahan di tingkat provinsi akan lebih menentukan penyelesaian dibanding ketersediaan modul. Ketiga, komitmen komponen dalam negeri hanya sekuat visibilitas yang diterima produsen, sehingga menerbitkan jadwal volume bertahap bersamaan dengan RUPTL revisi akan memperbaiki keputusan investasi pada pasokan domestik secara nyata.

Khusus untuk dekarbonisasi industri, peluangnya terletak pada menghubungkan pembangunan sisi pasokan ini dengan tindakan sisi permintaan. Efisiensi energi tetap menjadi unit dekarbonisasi termurah yang tersedia bagi industri Indonesia, dan fasilitas yang menurunkan bebannya sebelum mengontrak pasokan terbarukan akan membutuhkan lebih sedikit kapasitas, lebih sedikit penyimpanan, dan lebih sedikit penguatan jaringan. Memadukan RUPTL revisi dengan kewajiban konservasi energi yang sudah berlaku akan membuat 100 GWp yang sama melayani lebih banyak keluaran industri.

Yang perlu diamati berikutnya: lini masa penerbitan RUPTL revisi, jadwal volume bertahap untuk pengadaan komponen dalam negeri, mekanisme pengadaan penyimpanan, dan hasil negosiasi harga ASEAN Power Grid. Masing-masing akan lebih banyak bercerita tentang penyelesaian dibanding angka kapasitas di judul.

Tambahan kapasitas RUPTL 2025 sampai 2034 menurut teknologi

Values in GW

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di energi dan iklim, Sirkularium mendukung penyusunan data dasar emisi, perencanaan energi terbarukan dan penyimpanan, serta kerangka karbon dan kebijakan yang kuat di lapangan.

Artikel terkait

Tumpukan serbuk gergaji dan serpih kayu di hub pengumpulan biomassa di samping truk, dengan pekerja memeriksa mutu bahan bakar
Energi & Iklim

Di Electricity Connect 2026, PLN Energi Primer Indonesia memaparkan strategi bioenergi yang berangkat dari residu yang sudah tersedia di lahan pertanian, perkebunan, hutan, pabrik dan kota, lalu bergerak dari cofiring menuju biochar, syngas, biohidrogen dan compressed biogas. Perusahaan memperkirakan 10 juta ton biomassa saja dapat menopang sekitar 150.000 lapangan kerja hijau.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Deretan panel surya di atas tanah di samping kontainer baterai pada pembangkit listrik pulau kecil, dengan rumah genset diesel lama di latar belakang
Energi & Iklim

PLN Indonesia Power dan PT ACE Energy Service sepakat di Electricity Connect 2026 untuk membangun PLTS 60 MWp yang dipadukan dengan baterai 200 MWh di sepuluh lokasi terisolasi di Sulawesi Tengah. Proyek senilai Rp3,3 triliun ini memakai panel buatan dalam negeri dan berpotensi menurunkan biaya penyediaan listrik sekitar Rp1.000 per kWh.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Kolom amine penghilang CO2 dan unit pengolahan gas di Stasiun Pengumpul Akasia Bagus, Lapangan Jatibarang, Indramayu, Jawa Barat
Energi & Iklim

Stasiun Pengumpul Akasia Bagus milik Pertamina EP di Indramayu kini menurunkan kadar karbon dioksida dari 65 persen menjadi 5 persen, mengubah gas yang dulu dibakar menjadi bahan bakar pembangkit listrik industri di Cikarang, dan operator memandang desainnya sebagai proyek percontohan bagi lapangan ber-CO2 tinggi seperti Natuna.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Rig pengeboran panas bumi di punggung bukit berhutan di Sumatra Selatan menjelang senja, dengan pipa uap dan wellpad terlihat di latar depan
Energi & Iklim

Pertamina Geothermal Energy memulai pengeboran sumur LMB-19.4 di Sumatra Selatan pada 17 September 2026, sumur kedua yang menopang PLTP Lumut Balai Unit 3 berkapasitas 55 megawatt. Proyek ini berada di dalam lapangan yang sudah berproduksi sejak 2019, sehingga profil biaya dan risikonya berbeda dari pengembangan lapangan baru.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Menara produksi amonia dan urea di kompleks pabrik pupuk besar di Indonesia, dengan jaringan pipa dan tangki penyimpanan di latar depan pada siang hari
Energi & Iklim

Pada forum Katadata SAFE 2026 di Jakarta, PT Pupuk Indonesia memaparkan peta jalan dekarbonisasi yang menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca hingga 96 persen pada 2050, setara sekitar 24,9 juta ton karbon dioksida ekuivalen. Bagian yang paling instruktif adalah urutannya: efisiensi energi pada pabrik yang sudah ada lebih dulu, lalu karbon dioksida diubah menjadi produk industri yang bisa dijual.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Panel surya atap menutupi atap pabrik manufaktur besar di sebuah kawasan industri Indonesia, dengan gudang dan bangunan pabrik memanjang ke kejauhan
Energi & Iklim

Pertamina dan Jababeka Infrastruktur memperkuat kolaborasi net zero industrial estate dalam seminar di Cikarang pada 18 September 2026. Angka yang memberi bobot pada pengumuman itu adalah jumlah penyewa yang sudah bergerak: 23 perusahaan dengan 14,5 MWp PLTS atap, naik dari delapan penyewa dan sekitar 3,2 MWp ketika program ini diluncurkan pada Januari 2023.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca