Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Energi & Iklim

VDNI operasikan 69 ekskavator, loader, dan dump truck listrik di smelter Morosi

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Ekskavator listrik memuat bijih ke dump truck listrik di area stockpile di samping bangunan smelter, dengan stasiun pengisian daya di latar depan

PT Virtue Dragon Nickel Industry telah berinvestasi sekitar Rp45 miliar untuk alat berat dan kendaraan material handling bertenaga listrik di Morosi, Sulawesi Tenggara, dan menargetkan pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 43.411 ton hingga akhir 2027. Langkah ini menjadi contoh nyata pilar efisiensi energi dalam peta jalan dekarbonisasi industri nikel Indonesia.

Sekilas data
69 unit
Alat berat dan kendaraan material handling listrik yang beroperasi
Rp45 miliar
Perkiraan nilai investasi armada listrik
43.411 ton
Target pengurangan emisi gas rumah kaca hingga akhir 2027
81%
Target pengurangan emisi industri nikel pada 2045

PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) telah mengoperasikan 69 unit alat berat dan kendaraan material handling bertenaga listrik di kompleks smelternya di Morosi, Konawe, Sulawesi Tenggara. Perusahaan memaparkan program ini pada 28 September 2026, dan ANTARA, Dunia Energi, serta Koran Jakarta memberitakannya. Nilai investasi armada ini sekitar Rp45 miliar. VDNI menargetkan program tersebut menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 43.411 ton hingga akhir 2027.

Armada ini memang kecil dibandingkan skala sebuah kompleks peleburan nikel. Meski begitu, program ini menyasar bagian emisi industri yang sering kurang mendapat perhatian dibandingkan tungku dan pembangkit listrik, yaitu pergerakan bijih, batu bara, dan material yang terus berlangsung di dalam kawasan. Pekerjaan ini selama ini umumnya dilakukan oleh mesin bermesin diesel. Menggantinya dengan unit listrik adalah salah satu langkah dekarbonisasi paling lugas yang dapat diambil sebuah kawasan industri berat, sekaligus meningkatkan efisiensi energi.

Apa yang telah dioperasikan VDNI

Menurut ANTARA dan Dunia Energi, 69 unit tersebut terdiri atas 16 ekskavator listrik, 13 loader listrik, dan 40 dump truck listrik. Dump truck tersebut dioperasikan oleh mitra eksternal. Koran Jakarta menggambarkan program yang sama, dengan ekskavator dan loader sebagai inti armada milik VDNI dan dump truck yang dioperasikan mitra untuk mendukung pengangkutan bijih dan batu bara.

Kendaraan-kendaraan ini menangani berbagai pekerjaan rutin di dalam kompleks. Mereka mengangkut bijih, menyiapkan bahan baku untuk produksi feronikel, dan menangani pencampuran batu bara untuk fasilitas pembangkit listrik di kawasan. Pekerjaan ini berjam-jam, berulang, dan berjalan sepanjang hari. Pada jenis pekerjaan seperti inilah peralihan dari diesel biasanya memberi hasil paling cepat.

Adam Rumanda, Corporate Affairs Manager VDNI, menempatkan program ini dalam strategi dekarbonisasi perusahaan yang lebih luas.

"VDNI melihat pengendalian emisi karbon dan efisiensi energi sebagai faktor kunci dalam strategi dekarbonisasi." Adam Rumanda, Corporate Affairs Manager, VDNI

Ia juga menyebut alat berat listrik sebagai investasi jangka panjang untuk mengurangi emisi gas buang dan tingkat kebisingan. Menurutnya, perusahaan memiliki visi yang sama dengan tujuan jangka panjang Pemerintah Indonesia dalam pengendalian emisi karbon industri.

Keuntungan efisiensi, bukan hanya pengurangan emisi

Elektrifikasi kendaraan di kawasan industri sering dibahas sebagai langkah iklim. Namun, langkah ini juga merupakan langkah efisiensi energi. Penggerak listrik mengubah porsi energi masukan yang jauh lebih besar menjadi kerja yang berguna dibandingkan mesin diesel. Penggerak listrik juga nyaris tidak membuang energi saat diam, dan ini penting bagi loader dan ekskavator yang banyak menghabiskan waktu kerjanya menunggu di antara siklus. Kebutuhan perawatan rutinnya pun lebih rendah karena komponen bergeraknya jauh lebih sedikit.

Manfaat yang dilaporkan juga lebih luas dari sekadar angka emisi. Unit listrik tidak menghasilkan gas buang di titik pemakaian. Hal ini memperbaiki kualitas udara di area stockpile dan pemuatan, tempat para pekerja menghabiskan waktu lama di dekat mesin. Tingkat kebisingan juga lebih rendah, yang bermanfaat bagi kondisi kerja maupun masyarakat sekitar. Pemberitaan Dunia Energi sebelumnya tentang prioritas VDNI pada 2026, yang terbit pada 7 September 2026, menempatkan transformasi logistik hijau ini sejajar dengan stabilitas produksi, program kemasyarakatan, dan keselamatan kerja sebagai fokus utama perusahaan tahun ini.

Langkah VDNI berikutnya mengarah pada sebuah sistem yang utuh, bukan pembelian satu kali. Perusahaan berencana menambah alat berat dan kendaraan material handling listrik serta membangun fasilitas pengisian daya dan penukaran baterai. Perusahaan juga berencana menjadwalkan penggunaan kendaraan secara lebih terstruktur agar pengisian daya selaras dengan siklus produksi. Penjadwalan yang terstruktur itu sendiri merupakan alat efisiensi. Dengan cara ini, kawasan dapat mengoperasikan lebih sedikit kendaraan dengan tingkat pemanfaatan lebih tinggi dan mengatur waktu pengisian daya pada periode beban rendah.

Bagi industri berat, kilowatt-jam yang paling bersih sering kali adalah yang tidak terbuang oleh mesin diesel yang menyala saat diam. Elektrifikasi logistik kawasan menangkap penghematan itu lebih dulu, dan nilainya bertambah seiring pasokan listrik di belakangnya menjadi lebih bersih.

Posisinya dalam peta jalan nikel nasional

Pada Juni 2025, Kementerian PPN/Bappenas bersama WRI Indonesia meluncurkan Peta Jalan Dekarbonisasi Industri Nikel Nasional. Peta jalan ini disusun bersama lebih dari 30 perusahaan tambang dan smelter dari Sulawesi dan Maluku Utara, serta 15 instansi pemerintah dan mitra akademik. Targetnya adalah pengurangan emisi industri nikel sebesar 81 persen pada 2045. Peta jalan ini juga mencatat bahwa tanpa intervensi, emisi justru dapat naik 86 persen. Indonesia memasok sekitar 60 persen nikel dunia, sehingga arah emisi sektor ini penting secara global.

Peta jalan tersebut bertumpu pada empat strategi: efisiensi energi dan material, substitusi bahan bakar, substitusi material, dan pemanfaatan listrik rendah karbon. Program VDNI berada pada dua strategi pertama. Program ini mengganti diesel dengan listrik untuk angkutan internal sekaligus meningkatkan efisiensi energi angkutan tersebut.

Peta jalan itu juga menegaskan bahwa pasokan listrik merupakan sumber emisi terbesar dalam pengolahan nikel. Seperti dilaporkan Media Nikel Indonesia, intensitas emisi nikel Indonesia sekitar 7 hingga 10 kali lebih tinggi per ton logam dibandingkan acuan internasional, terutama karena pengolahannya bergantung pada listrik berbasis batu bara. Peta jalan tersebut memperkirakan kebutuhan 47,3 GW kapasitas energi terbarukan baru pada 2045.

Hal ini berkaitan langsung dengan armada listrik. Kendaraan listrik di smelter mengambil daya dari sistem kelistrikan kawasan itu sendiri, yang di Morosi saat ini sebagian besar masih bersumber dari pembangkit berbahan bakar batu bara. Manfaat efisiensi dan kualitas udara sudah terasa sejak hari pertama. Manfaat karbon sepenuhnya akan bertambah secara bertahap seiring masuknya energi terbarukan ke pasokan listrik. Dengan demikian, elektrifikasi armada dan listrik kawasan yang lebih bersih saling memperkuat, dan peta jalan mengantisipasi keduanya.

Yang perlu dicermati selanjutnya

Ada tiga indikator yang akan menunjukkan perkembangan program ini.

Pertama, pertumbuhan armada. VDNI menyatakan akan menambah unit listrik. Porsi kendaraan listrik terhadap total armada kawasan, serta apakah truk yang dioperasikan mitra ikut bertambah, akan menunjukkan seberapa cepat pemakaian diesel turun.

Kedua, infrastruktur pengisian daya dan penukaran baterai. Penukaran baterai dapat menjaga mesin dengan tingkat pemakaian tinggi tetap bekerja saat pergantian sif, dan sering menjadi faktor yang membuat angkutan listrik layak dalam skala besar. Desain yang dipilih VDNI dapat menjadi rujukan bagi smelter lain di Sulawesi dan Maluku Utara.

Ketiga, pengukuran. Angka 43.411 ton adalah target hingga akhir 2027. Pelaporan rutin atas diesel yang tergantikan, listrik yang dikonsumsi, dan emisi yang dihindari akan membantu perusahaan menunjukkan kemajuan terhadap target tersebut, sekaligus memberi pembeli produknya data yang dapat diverifikasi.

Pandangan Sirkularium

Bagi pemerintah dan lembaga publik, program VDNI adalah contoh yang berguna tentang dekarbonisasi industri yang dapat bergerak sekarang, berdampingan dengan pekerjaan jangka panjang pada sisi pasokan listrik. Teknologinya sudah tersedia, manfaat operasionalnya langsung terasa, dan investasinya relatif kecil dibandingkan skala operasi peleburan.

Sirkularium melihat tiga cara kebijakan publik dapat membantu menjadikan contoh seperti ini praktik standar di pusat-pusat pengolahan Indonesia. Pertama, mengakui elektrifikasi logistik di dalam kawasan sebagai langkah yang eksplisit dan dapat dilaporkan dalam pelaksanaan peta jalan dekarbonisasi nikel, disertai metode sederhana untuk menghitung diesel yang tergantikan dan emisi yang dihindari. Kedua, mengaitkan elektrifikasi armada dengan kewajiban manajemen energi yang sudah berlaku bagi pengguna energi besar, sehingga angkutan listrik dan jadwal pengisian daya menjadi bagian dari rencana energi setiap kawasan. Ketiga, memadukan elektrifikasi armada dengan pasokan energi terbarukan di lokasi yang sama. PLTS di atap smelter dan penyimpanan energi untuk pengisian daya akan membuat manfaat karbon armada listrik terus bertambah dari tahun ke tahun.

Enam puluh sembilan mesin listrik memang tidak akan mendekarbonisasi sebuah smelter sendirian. Namun, langkah ini menunjukkan bahwa salah satu produsen nikel besar sedang mengubah cara kerja di dalam kawasannya, dengan cara yang terukur, dapat direplikasi, dan selaras dengan target nasional. Jika kemajuannya dilaporkan secara terbuka, Morosi dapat menjadi rujukan praktis bagi industri yang lebih luas.

Armada listrik VDNI di Morosi menurut jenis kendaraan

Values in unit

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di energi dan iklim, Sirkularium mendukung penyusunan data dasar emisi, perencanaan energi terbarukan dan penyimpanan, serta kerangka karbon dan kebijakan yang kuat di lapangan.

Artikel terkait

Foto udara panel surya yang menutupi atap pabrik besar dan sebuah kanal di dalam kawasan industri Morowali, dengan bangunan smelter dan perbukitan di latar belakang
Energi & Iklim

Para tenan di Indonesia Morowali Industrial Park kini mengoperasikan sekitar 11 MWp PLTS, dengan sistem atap 66 MWp dan pembangkit 200 MWp yang sedang dikembangkan. Langkah ini memberi pusat pengolahan nikel terbesar di Indonesia pijakan awal yang nyata pada pilar listrik rendah karbon dalam peta jalan dekarbonisasi industri nikel nasional.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Tumpukan serbuk gergaji dan serpih kayu di hub pengumpulan biomassa di samping truk, dengan pekerja memeriksa mutu bahan bakar
Energi & Iklim

Di Electricity Connect 2026, PLN Energi Primer Indonesia memaparkan strategi bioenergi yang berangkat dari residu yang sudah tersedia di lahan pertanian, perkebunan, hutan, pabrik dan kota, lalu bergerak dari cofiring menuju biochar, syngas, biohidrogen dan compressed biogas. Perusahaan memperkirakan 10 juta ton biomassa saja dapat menopang sekitar 150.000 lapangan kerja hijau.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Deretan panel surya di atas tanah di samping kontainer baterai pada pembangkit listrik pulau kecil, dengan rumah genset diesel lama di latar belakang
Energi & Iklim

PLN Indonesia Power dan PT ACE Energy Service sepakat di Electricity Connect 2026 untuk membangun PLTS 60 MWp yang dipadukan dengan baterai 200 MWh di sepuluh lokasi terisolasi di Sulawesi Tengah. Proyek senilai Rp3,3 triliun ini memakai panel buatan dalam negeri dan berpotensi menurunkan biaya penyediaan listrik sekitar Rp1.000 per kWh.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Kolom amine penghilang CO2 dan unit pengolahan gas di Stasiun Pengumpul Akasia Bagus, Lapangan Jatibarang, Indramayu, Jawa Barat
Energi & Iklim

Stasiun Pengumpul Akasia Bagus milik Pertamina EP di Indramayu kini menurunkan kadar karbon dioksida dari 65 persen menjadi 5 persen, mengubah gas yang dulu dibakar menjadi bahan bakar pembangkit listrik industri di Cikarang, dan operator memandang desainnya sebagai proyek percontohan bagi lapangan ber-CO2 tinggi seperti Natuna.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Aula konferensi luas pada pameran energi besar di Indonesia, dengan delegasi duduk menghadap panggung dan stan pameran utilitas serta teknologi terlihat di latar belakang
Energi & Iklim

Membuka Electricity Connect 2026 di Tangerang pada 22 September 2026, Menteri Bahlil Lahadalia menyatakan rencana usaha penyediaan tenaga listrik akan disesuaikan untuk memuat program PLTS 100 GWp. Revisi ini penting karena memindahkan target presiden ke dalam dokumen yang benar-benar dijadikan acuan perencanaan oleh utilitas, pemberi pinjaman, dan produsen.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Rig pengeboran panas bumi di punggung bukit berhutan di Sumatra Selatan menjelang senja, dengan pipa uap dan wellpad terlihat di latar depan
Energi & Iklim

Pertamina Geothermal Energy memulai pengeboran sumur LMB-19.4 di Sumatra Selatan pada 17 September 2026, sumur kedua yang menopang PLTP Lumut Balai Unit 3 berkapasitas 55 megawatt. Proyek ini berada di dalam lapangan yang sudah berproduksi sejak 2019, sehingga profil biaya dan risikonya berbeda dari pengembangan lapangan baru.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca