BUMN tambang MIND ID tekan limbah 11 persen seiring praktik sirkular meluas
Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca
.jpg&w=3840&q=75)
Holding BUMN pertambangan Indonesia memanfaatkan kembali, mendaur ulang, atau memulihkan lebih dari satu juta ton material sisa pada 2025, mengubah slag nikel dan tailing emas menjadi bahan konstruksi, sementara total timbulan limbah turun 11,3 persen.
MIND ID, holding badan usaha milik negara yang menaungi perusahaan pertambangan terbesar Indonesia, melaporkan bahwa grup perusahaannya memanfaatkan kembali, mendaur ulang, atau memulihkan lebih dari satu juta ton material sisa sepanjang 2025, bagian dari dorongan yang lebih luas untuk menanamkan praktik ekonomi sirkular dalam operasi pertambangan. Total timbulan limbah padat di seluruh grup turun 11,3 persen secara tahunan, dari 1.306.835,91 ton pada 2024 menjadi 1.159.049,16 ton pada 2025, melanjutkan tren penurunan tiga tahun dari 1.396.034,05 ton pada 2023.
Angka tersebut, yang berasal dari Laporan Keberlanjutan MIND ID 2025, mencakup aliran limbah berbahaya maupun tidak berbahaya di seluruh anak perusahaan termasuk PT Aneka Tambang (ANTAM), PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), dan PT Timah. Pemberitaan atas hasil ini oleh ANTARA News, Republika, Tribunnews, dan RRI.co.id pada pekan pertama Juli menyoroti pergeseran cara grup ini memandang limbah, bukan lagi sebagai biaya tak terhindarkan dari kegiatan ekstraksi, melainkan sebagai aliran bahan baku yang dapat dilacak, diolah, dan dikembalikan ke dalam pemanfaatan.
Apa yang ditunjukkan angka-angka ini
Dari material yang dialihkan dari pembuangan akhir pada 2025, sebanyak 82.876 ton merupakan limbah padat bahan berbahaya dan beracun (B3) dan 946.733 ton merupakan limbah padat non-B3, yang bersama-sama melampaui satu juta ton. Limbah cair berbahaya, termasuk oli bekas, sludge, dan bahan kimia kedaluwarsa, menambah 4.764,52 ton lagi pada inventaris limbah grup untuk tahun tersebut.
Jika dirinci per kategori, limbah padat B3 turun dari 270.478,08 ton pada 2024 menjadi 208.441,10 ton pada 2025, sementara limbah padat non-B3 turun dari 1.036.357,83 ton menjadi 950.608,06 ton pada periode yang sama. Kedua penurunan ini berkontribusi pada penurunan keseluruhan 11,3 persen yang dilaporkan grup untuk tahun tersebut. Tidak satu pun media yang memberitakan mengungkap titik awal data di tingkat grup lebih jauh dari 2023, sehingga belum dapat dipastikan apakah ini menandai awal dari tren berkelanjutan atau sekadar satu tahun yang kuat, sebuah perbedaan yang baru akan terlihat jelas dengan rangkaian data yang lebih panjang.
Mengubah residu menjadi bahan konstruksi
Ilustrasi paling jelas dari pendekatan ini ada pada ANTAM. Perusahaan ini mengubah slag nikel yang dihasilkan selama proses pyrometallurgy menjadi produk bernama Pomalaa Beton, atau POTON, yang digunakan sebagai road base, yard base, dan bahan konstruksi internal di lokasi operasinya sendiri. Secara terpisah, ANTAM mengolah tailing dari penambangan emas menjadi apa yang disebutnya Green Fine Aggregate, serta memadukan fly ash dan bottom ash dari pembangkit listriknya dengan slag nikel sebagai bahan baku produksi beton.
INALUM, produsen aluminium grup ini, memulihkan scrap internal yang dihasilkan selama proses peleburan dan pencetakan lalu mengintegrasikannya kembali ke dalam produksi, sehingga mengurangi volume alumina primer yang perlu dipasok perusahaan dari luar. PT Timah menerapkan metode pemisahan fisik, gravitasi, magnetik, dan konduktivitas listrik, untuk mengolah ulang apa yang disebutnya Sisa Hasil Pengolahan (SHP), memulihkan 1.506,06 ton bijih timah pada 2025 dengan potensi pemulihan lebih lanjut yang menurut perusahaan masih belum tergarap sepenuhnya.
Secara keseluruhan, ini bukan proyek percontohan atau inisiatif sekali jalan. Angka-angka ini menggambarkan aliran limbah yang telah dialihkan menjadi lini produk tetap, bahan road base di lokasi tambang, agregat untuk beton, logam yang dipulihkan dan dikembalikan ke proses peleburan, dengan volume yang cukup besar untuk terlihat jelas dalam akuntansi keberlanjutan tingkat grup.
Mengapa hal ini penting bagi tata kelola pertambangan
Eko Adhi Setiawan, pakar energi dari Departemen Teknik Sistem Energi, Fakultas Teknik Universitas Indonesia, menilai hasil ini sebagai bukti dari sesuatu yang lebih mendasar ketimbang sekadar citra publik yang baik. Ia berpendapat bahwa sistem pengelolaan limbah yang terstruktur merupakan fondasi dari apa yang sering disebut sebagai praktik pertambangan yang baik (good mining practice), karena risiko terbesar dalam operasi tambang bukan sekadar volume limbah yang dihasilkan, melainkan putusnya rantai pengelolaan yang melacaknya.
"Limbah memerlukan pelacakan yang jelas mencakup asal, penyimpanan, pengangkutan, pengolahan, dan dokumentasi pembuangan akhir," kata Setiawan, menggambarkan disiplin yang diperlukan agar aliran limbah tetap dapat diaudit sejak titik dihasilkan hingga titik akhirnya dibuang secara aman atau dikembalikan ke pemanfaatan produktif.
Kerangka berpikir tersebut penting bagi sektor yang kredibilitas klaim lingkungannya semakin sering diuji oleh regulator, pemberi pinjaman, dan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi tambang. Angka tonase saja tidak banyak bercerita kepada pembaca. Yang membuat pengungkapan MIND ID ini bermakna adalah kehadirannya bersama rincian kategori, tren multitahun, dan penggunaan akhir yang disebutkan dengan jelas untuk material yang dipulihkan, jenis kedetailan yang memungkinkan pihak luar memeriksa klaim tersebut alih-alih sekadar mempercayainya.
Apa yang masih belum terlihat dalam gambaran ini
Pengungkapan ini, sekomprehensif apa pun untuk limbah padat di tingkat grup, masih menyisakan celah yang penting bagi penilaian keberlanjutan yang lebih menyeluruh. Tidak satu pun pemberitaan yang mengukur konsumsi atau pembuangan air yang terkait dengan proses-proses ini, sebuah area yang terus dipantau ketat oleh Sirkularium mengingat betapa sentralnya pengelolaan air bagi pengawasan pertambangan yang kredibel di Indonesia. Pemberitaan juga tidak menjelaskan apakah bendungan tailing dan fasilitas penyimpanan residu milik MIND ID, bukan aliran limbah yang secara aktif dimanfaatkan kembali, diaudit secara independen dengan jadwal yang sama. Capaian ekonomi sirkular pada tingkat aliran produk tertentu tidak dengan sendirinya menjawab pertanyaan soal keamanan fasilitas penyimpanan lama.
Belum ada pula indikasi verifikasi pihak ketiga atas angka daur ulang dan pemulihan ini, selain pencantumannya dalam laporan keberlanjutan perusahaan sendiri. Asurans independen, jenis yang semakin diharapkan berdasarkan taksonomi keuangan berkelanjutan Indonesia dan sistem peringkat lingkungan PROPER, akan memperkuat kredibilitas angka yang untuk saat ini masih bersifat pelaporan mandiri.
Pandangan Sirkularium
Bagi instansi pemerintah dan institusi publik yang mengawasi sektor pertambangan Indonesia, pengungkapan MIND ID ini menawarkan sebuah acuan yang layak didorong secara lebih luas: angka limbah yang dilaporkan per kategori, dilacak selama beberapa tahun, dan dikaitkan dengan penggunaan akhir yang spesifik dan dapat diverifikasi, bukan digabungkan menjadi satu klaim keberlanjutan yang samar. Regulator yang tengah menyusun atau menyempurnakan standar pelaporan, termasuk kerangka ESG nasional untuk sektor mineral yang sedang dikembangkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, sebaiknya mempertimbangkan untuk menjadikan tingkat kedetailan ini sebagai standar minimum, bukan aspirasi yang hanya dicadangkan bagi BUMN dengan sumber daya untuk menyusun laporan keberlanjutan yang rinci.
Pertanyaan yang belum terjawab seputar air, keutuhan fasilitas penyimpanan, dan verifikasi independen bukan alasan untuk mengabaikan kemajuan ini. Justru itulah hal-hal berikutnya yang perlu ditanyakan oleh pejabat pengadaan, pemberi pinjaman, dan badan pengawas ketika berhubungan dengan MIND ID dan perusahaan sejenisnya. Sektor pertambangan yang mampu menunjukkan penurunan volume limbah, peningkatan tingkat pemanfaatan kembali, dan penggunaan yang jelas untuk material yang dipulihkan adalah sektor yang memberi institusi publik sesuatu yang konkret untuk dipegang, bukan sekadar janji yang harus dipercaya begitu saja. Sirkularium akan terus mengamati apakah perbaikan tahun ini akan menjadi pola multitahun, dan apakah praktik ini akan menyebar dari BUMN dengan insentif pelaporan yang kuat ke kelompok operator swasta yang lebih luas, yang menyumbang sebagian besar produksi pertambangan Indonesia.
Timbulan limbah padat Grup MIND ID, 2023 hingga 2025
Values in ton
Sumber
- ANTARA News, MIND ID daur ulang lebih dari 1 juta ton material sisa
- Republika Online, Terapkan Sirkular Ekonomi, MIND ID Daur Ulang Lebih dari 1 Juta Ton Material Sisa
- Republika Online, MIND ID Genjot Ekonomi Sirkular, Limbah Tambang Terus Menurun
- Tribunnews.com, Terapkan Ekonomi Sirkular, MIND ID Manfaatkan 1 Juta Ton Material Sisa untuk Tekan Limbah Tambang
- RRI.co.id, Ekonomi Sirkular MIND ID Berhasil Tekan Timbulan Limbah Padat hingga 11,3 Persen

.jpeg&w=3840&q=75)
.jpg&w=3840&q=75)
.jpg&w=3840&q=75)
.jpg&w=3840&q=75)
.jpg&w=3840&q=75)
.jpg&w=3840&q=75)