Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke berita
Sumber Daya Berkelanjutan

Pengelolaan tailing dan air naik dalam agenda ESG

Oleh Sirkularium Editorial Team, 5 menit baca

Infrastruktur pengelolaan tailing dan air di lokasi tambang

Peringkat PROPER dan taksonomi keuangan berkelanjutan Indonesia mendorong penanganan tailing dan air dari renungan belakangan menjadi prioritas.

Dua instrumen diam-diam menaikkan standar bagi proyek sumber daya di Indonesia. Peringkat PROPER, yang dikelola kementerian lingkungan, menilai seberapa baik sebuah perusahaan mengelola dampak lingkungannya dan mempublikasikan hasilnya. Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia menetapkan apa yang dianggap hijau bagi investor. Di antara keduanya, tailing dan air bergerak naik dalam agenda.

Dari kepatuhan menuju kredibilitas

Pengelolaan tailing dan air dulu diperlakukan sebagai ujung yang senyap dari sebuah proyek, dikelola cukup baik untuk lolos inspeksi dan jarang dibahas. Itu berubah. Peringkat PROPER yang buruk kini menjadi sinyal reputasi dan finansial yang dibaca pemberi pinjaman dan pembeli, dan kesesuaian dengan taksonomi kian menentukan siapa yang bisa menggalang dana dan dengan syarat apa.

Bagi produsen, hal ini menautkan kinerja lingkungan dengan biaya dana. Pengelolaan yang baik tak lagi sekadar menghindari sanksi. Ia soal tetap layak diinvestasikan, menjaga premi asuransi terjangkau, dan mempertahankan izin sosial yang bisa terhapus dalam semalam oleh satu kegagalan tailing.

Bergerak lebih dulu

Pekerjaan praktisnya sudah dikenal dan dipahami. Desain tailing yang baik, air yang dipantau, tinjauan independen, dan dokumentasi yang bisa diverifikasi pihak ketiga. Dilakukan lebih awal, ia menurunkan risiko, memperlancar pembiayaan, dan memperkuat posisi di hadapan pemberi pinjaman alih-alih terburu-buru menjawab pertanyaan mereka belakangan.

Sirkularium memandang instrumen ini sebagai tekanan yang berguna, bukan birokrasi. Keduanya memberi imbalan bagi operator yang memang berniat mengelola lokasinya dengan baik, dan membuat pilihan itu lebih mudah dibenarkan kepada dewan direksi yang harus menimbang biaya terhadap risiko sepanjang umur proyek.

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di sumber daya berkelanjutan, Sirkularium mendampingi tata kelola air, tailing, dan ESG agar proyek sumber daya tetap kredibel dan layak diinvestasikan.

Artikel terkait

Inti bor dan lahan mineral yang tergali di lokasi tambang terbuka
Sumber Daya Berkelanjutan

PT Merdeka Copper Gold menaikkan estimasi sumber daya mineral di endapan porfiri tembaga-emas Gua Macan, Jawa Timur, sebesar 25 persen menjadi 276 juta ton, menggunakan pelaporan terstandar JORC dan KCMI. Pembaruan ini menjadi contoh publik yang jarang tentang valuasi berbasis standar dan ketat yang lebih dibutuhkan sektor pertambangan Indonesia.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Lahan tambang yang tergali dengan lapisan tanah yang terbuka
Sumber Daya Berkelanjutan

Peraturan Pemerintah 39/2025 kini memungkinkan koperasi desa memegang konsesi tambang hingga 2.500 hektare, dan pemerintah baru saja memperluas pengelolaan koperasi ke sumur minyak masyarakat. Belum ada penjelasan bagaimana operator yang lebih kecil ini akan memenuhi aturan jaminan reklamasi yang sama, yang saat ini justru sedang diperketat bagi perusahaan tambang besar.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Alat berat pengeruk membuka lahan di lokasi pertambangan
Sumber Daya Berkelanjutan

Indonesia sudah memiliki metode baku untuk memberi angka rupiah pada kerusakan tambang, metode yang sama yang menilai kasus PT Timah senilai Rp271 triliun. Metode itu belum pernah diterapkan pada tambang emas ilegal yang menggerogoti Taman Nasional Kerinci Seblat.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 10 menit baca

Tumpukan material hasil olahan di lokasi pertambangan mineral
Sumber Daya Berkelanjutan

Holding BUMN pertambangan Indonesia memanfaatkan kembali, mendaur ulang, atau memulihkan lebih dari satu juta ton material sisa pada 2025, mengubah slag nikel dan tailing emas menjadi bahan konstruksi, sementara total timbulan limbah turun 11,3 persen.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Saluran air dekat lokasi pengolahan industri
Sumber Daya Berkelanjutan

Hanya sekitar seperempat pemurni nikel di Indonesia memantau pencemaran air, jauh di bawah rata-rata global, menambah tekanan pada sektor ini.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 5 menit baca

Operasi pengolahan mineral
Sumber Daya Berkelanjutan

Saat Indonesia bersandar pada hilirisasi nikel, para analis mendorong pengaman yang lebih kuat agar transisi energi tak menimbulkan kerugian baru.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 5 menit baca