Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke berita
Sumber Daya Berkelanjutan

Celah pemantauan air menempatkan nikel Indonesia dalam sorotan

Oleh Sirkularium Editorial Team, 5 menit baca

Saluran air dekat lokasi pengolahan industri

Hanya sekitar seperempat pemurni nikel di Indonesia memantau pencemaran air, jauh di bawah rata-rata global, menambah tekanan pada sektor ini.

Sekitar seperempat pemurni nikel yang beroperasi di Indonesia memiliki pemantauan pencemaran air, dibanding rata-rata global yang mendekati setengah. Celah ini penting karena pengolahan nikel berada dekat sungai dan pesisir yang menjadi sandaran masyarakat untuk menangkap ikan, bertani, dan air minum, dan apa yang tidak diukur tidak bisa dikelola atau dipertahankan.

Mengapa angkanya rendah

Percepatan produksi nikel Indonesia membuat kapasitas pengolahan melaju mendahului sistem lingkungan. Smelter dan pemurni dibangun cepat untuk menangkap ledakan baterai, dan pemantauan sering tertinggal. Pengolahan laterit juga menghasilkan lebih banyak limbah per ton dibanding jalur nikel lain, sehingga tekanan pada air dan tailing justru lebih tinggi, dan ruang untuk kesalahan lebih sempit.

Pemantauan adalah langkah jujur yang pertama. Tanpa data dasar tentang buangan dan badan air penerima, klaim tentang produksi bersih sulit didukung dan mudah dibantah, dan perselisihan dengan masyarakat sekitar menjadi adu klaim, bukan adu data.

Menutup celah

Perbaikannya tidak rumit. Tetapkan titik buangan, ambil sampel pada jadwal tetap, publikasikan terhadap ambang yang jelas, dan bertindak saat angka bergerak. Produsen yang melakukannya membangun catatan yang tahan di hadapan pembeli, regulator, maupun tetangga, dan menangkap masalah selagi masih murah diperbaiki.

Sirkularium memandang pemantauan air sebagai harga masuk bagi cerita sumber daya yang kredibel, bukan tambahan opsional. Pembeli hilir dan pemberi pinjaman sudah menanyakannya, dan lokasi yang bisa menjawab dengan data nyata akan menjaga akses pasarnya, sementara yang lain menghabiskan waktu membela celah.

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di sumber daya berkelanjutan, Sirkularium mendampingi tata kelola air, tailing, dan ESG agar proyek sumber daya tetap kredibel dan layak diinvestasikan.

Artikel terkait

Inti bor dan lahan mineral yang tergali di lokasi tambang terbuka
Sumber Daya Berkelanjutan

PT Merdeka Copper Gold menaikkan estimasi sumber daya mineral di endapan porfiri tembaga-emas Gua Macan, Jawa Timur, sebesar 25 persen menjadi 276 juta ton, menggunakan pelaporan terstandar JORC dan KCMI. Pembaruan ini menjadi contoh publik yang jarang tentang valuasi berbasis standar dan ketat yang lebih dibutuhkan sektor pertambangan Indonesia.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Lahan tambang yang tergali dengan lapisan tanah yang terbuka
Sumber Daya Berkelanjutan

Peraturan Pemerintah 39/2025 kini memungkinkan koperasi desa memegang konsesi tambang hingga 2.500 hektare, dan pemerintah baru saja memperluas pengelolaan koperasi ke sumur minyak masyarakat. Belum ada penjelasan bagaimana operator yang lebih kecil ini akan memenuhi aturan jaminan reklamasi yang sama, yang saat ini justru sedang diperketat bagi perusahaan tambang besar.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Alat berat pengeruk membuka lahan di lokasi pertambangan
Sumber Daya Berkelanjutan

Indonesia sudah memiliki metode baku untuk memberi angka rupiah pada kerusakan tambang, metode yang sama yang menilai kasus PT Timah senilai Rp271 triliun. Metode itu belum pernah diterapkan pada tambang emas ilegal yang menggerogoti Taman Nasional Kerinci Seblat.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 10 menit baca

Tumpukan material hasil olahan di lokasi pertambangan mineral
Sumber Daya Berkelanjutan

Holding BUMN pertambangan Indonesia memanfaatkan kembali, mendaur ulang, atau memulihkan lebih dari satu juta ton material sisa pada 2025, mengubah slag nikel dan tailing emas menjadi bahan konstruksi, sementara total timbulan limbah turun 11,3 persen.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Operasi pengolahan mineral
Sumber Daya Berkelanjutan

Saat Indonesia bersandar pada hilirisasi nikel, para analis mendorong pengaman yang lebih kuat agar transisi energi tak menimbulkan kerugian baru.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 5 menit baca

Infrastruktur pengelolaan tailing dan air di lokasi tambang
Sumber Daya Berkelanjutan

Peringkat PROPER dan taksonomi keuangan berkelanjutan Indonesia mendorong penanganan tailing dan air dari renungan belakangan menjadi prioritas.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 5 menit baca