Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Energi & Iklim

Dorongan biodiesel B50 menguji batas bahan bakar berbasis sawit

Oleh Sirkularium Editorial Team, 10 menit baca

Fasilitas penyimpanan dan pengolahan biofuel

Indonesia menjadi negara pertama yang mewajibkan campuran solar dengan 50 persen minyak sawit, mempertaruhkan ketahanan energi dan pendapatan pedesaan, sementara petani kecil, industri pangan, dan pasar ekspor menanggung pertukarannya.

Sekilas data
50%
Porsi minyak sawit dalam campuran solar di bawah B50, naik dari 40% di B40
US$8,8 hingga 9,4 miliar
Proyeksi penghematan devisa 2026 dari penghentian impor solar, angka berbeda antar sumber
2,1 juta
Pekerja yang menurut pemerintah ditopang rantai nilai biodiesel
1,7 hingga 5,3 juta ton
Tambahan CPO yang dibutuhkan untuk B50 dibanding B40, estimasi berbeda jauh antar sumber

Mandat pertama di dunia mulai berlaku

Pada 1 Juli 2026, Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang mewajibkan campuran solar dengan kandungan biofuel berbasis sawit sebesar 50 persen. Presiden Prabowo Subianto meresmikan kebijakan ini pada 9 Juli dalam sebuah acara di Karawang, Jawa Barat, dan mengatakan kepada hadirin bahwa dengan B50 "kita tidak akan lagi impor solar dari luar negeri." Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia membingkai langkah ini dalam istilah yang lebih luas, menyebut B50 bukan sekadar sumber energi baru, melainkan bagian dari transformasi energi yang mengoptimalkan apa yang sudah dimiliki Indonesia.

Mandat ini diberlakukan bertahap selama masa transisi tiga bulan, dengan target pemerintah agar seluruh SPBU di seluruh negeri sudah menjual B50 pada 1 Oktober 2026. Muhammad Qodari, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, mengatakan peluncuran ini mengikuti pengujian teknis menyeluruh di berbagai sektor mesin diesel, termasuk kendaraan bermotor, alat berat pertambangan, mesin pertanian, kereta api, kapal laut, dan pembangkit listrik. Uji coba lapangan dilakukan di Kutai Timur, Semarang, dan Stasiun Lempuyangan di Yogyakarta, selain pengujian di kapal riset Geomarin milik Kementerian ESDM di Cirebon dan fasilitas Pertamina di Surabaya. Harga B50 bersubsidi untuk kendaraan penumpang tetap Rp 6.800 per liter, sama dengan harga BioSolar yang digantikannya.

Delapan belas tahun perjalanan

B50 adalah langkah terbaru dari mandat yang terus naik sejak program biodiesel Indonesia dimulai pada 2008 dengan campuran sederhana 2,5 persen. Kewajiban itu naik menjadi B10 pada 2013, B15 pada 2015, B20 pada September 2018, B30 pada 2020, B35 pada Februari 2023, dan B40 pada awal 2025, sebelum mencapai B50 pada Juli tahun ini. Setiap kenaikan mengikuti logika yang sama, yaitu memakai sumber daya dalam negeri yang terbarukan untuk menggantikan solar impor, sekaligus memberi sektor sawit Indonesia lantai permintaan yang tidak rentan terhadap gejolak harga minyak nabati internasional.

Eskalasi bertahap yang terlihat pada grafik di atas juga menjadi alasan mengapa kalangan industri memperlakukan B50 berbeda dari sekadar pengumuman kebijakan sesaat. Ini adalah langkah kesembilan dalam program dengan arah yang konsisten, salah satu alasan mengapa produsen sawit, pembuat mesin, dan penyalur bahan bakar telah punya waktu bertahun-tahun untuk bersiap, bukan hanya berbulan-bulan.

Ekonominya: penghematan, lapangan kerja, dan klaim yang lebih besar atas sawit

Angka utama pemerintah cukup besar, meski bervariasi tergantung sumber. Antara News dan media dagang biofuel sama-sama menyebut penghematan devisa sekitar Rp170 triliun untuk 2026, setara sekitar US$9,4 miliar, naik dari perkiraan US$7,4 miliar yang dihemat di bawah B40. ChemAnalyst menyebut penghematan 2026 yang sama sedikit lebih rendah, yaitu Rp157,28 triliun, atau sekitar US$8,89 miliar. Bagaimanapun, penghentian total impor solar tetap menjadi argumen fiskal terbesar bagi kebijakan ini. Selain itu, pemerintah memproyeksikan nilai tambah Rp23 hingga 25 triliun bagi industri kelapa sawit mentah dalam negeri, mengubah sekitar US$1,16 miliar nilai tambah di bawah B40 menjadi US$1,3 miliar di bawah B50, dan menyebut rantai nilai biodiesel menopang lapangan kerja sekitar 2,1 juta pekerja. Dari sisi emisi, pemerintah memproyeksikan B50 akan menghindarkan 44,46 juta ton setara CO2 tahun ini, naik dari 39,66 juta ton di bawah B40.

Sisi lain dari neraca ini adalah bahan baku. B50 mengharuskan pasokan solar menyerap 15,2 hingga 17 juta ton minyak sawit mentah setiap tahun, dan estimasi permintaan tambahan yang tercipta dibanding B40 sangat bervariasi antar sumber, mulai dari 1,74 juta ton menurut Ketua Umum GAPKI Eddy Martono, 3 hingga 3,5 juta ton menurut ChemAnalyst, hingga sebanyak 5,3 juta ton menurut pemberitaan lain. Sirkularium tidak dapat merekonsiliasi selisih ini dari pemberitaan publik, tetapi rentang itu sendiri informatif, karena bahkan estimasi paling konservatif pun mengasumsikan produksi CPO tahunan Indonesia yang sekitar 46 hingga 53 juta ton mampu menyerap permintaan baru ini tahun ini tanpa tekanan berarti. Eddy Martono menegaskan hal itu secara langsung.

"Tahun ini seharusnya aman, karena tambahan 1,74 juta ton yang dibutuhkan untuk B50 masih dapat dipenuhi dari kapasitas produksi saat ini," kata Eddy Martono, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).

Ia lebih berhati-hati soal tahun-tahun setelah 2026, mencatat bahwa mempertahankan mandat ini dalam jangka panjang akan membutuhkan produksi nasional naik ke 55 hingga 60 juta ton per tahun, tingkat yang tidak terjamin dapat dicapai dengan hasil panen saat ini bila pola cuaca seperti El Nino memengaruhi panen.

Pertukaran yang tak akan hilang

Campuran yang lebih tinggi menaikkan permintaan minyak sawit, dan permintaan itu bersaing langsung dengan penggunaan untuk pangan. Analisis Palm Oil Magazine atas periode Januari hingga April 2026 menemukan konsumsi biodiesel sebesar 4,4 juta ton metrik yang hampir sejajar dengan 4,2 juta ton metrik untuk pangan dan oleokimia, selisih yang menurut analisis yang sama diperkirakan melebar seiring B50 berlaku penuh secara nasional, dengan potensi kenaikan harga minyak goreng dalam negeri sekitar 9 persen. Analisis yang sama memperkirakan B50 dapat menurunkan nilai ekspor minyak sawit Indonesia sekitar Rp190 triliun, bahkan ketika kebijakan ini menghemat perkiraan Rp172 triliun dari impor solar, sebuah pertukaran antara dua bagian berbeda dari neraca negara, bukan keuntungan bersih yang sederhana.

Petani kecil, yang mengelola sekitar 42 persen dari sekitar 16 juta hektare lahan sawit Indonesia, mencermati tuas yang berbeda namun terkait, yaitu pungutan ekspor yang membiayai subsidi biodiesel. Mansuetus Darto, Ketua Perkumpulan Petani Sawit Swadaya Indonesia (POPSI), tidak menentang program itu sendiri, tetapi meminta agar petani tidak menanggung biayanya lewat pungutan yang lebih tinggi.

"Kami tidak menentang program biodiesel. Yang tidak kami inginkan adalah petani sawit yang harus menanggung akibatnya saat harga tandan buah segar turun," kata Mansuetus Darto, Ketua POPSI.

Mekanisme yang ia gambarkan bersifat langsung. Pemodelan Palm Oil Magazine menemukan bahwa setiap kenaikan 1 poin persentase pungutan ekspor, yang saat ini berada di angka 12,5 persen dari harga referensi bulanan dan berpotensi naik ke 15,17 persen, menurunkan harga yang dibayar pabrik kepada petani kecil untuk tandan buah segar sekitar Rp333 per kilogram, pergeseran yang pada titik tertinggi dapat memangkas harga di tingkat petani sekitar Rp1.725 per kilogram. Alternatif yang diusulkan POPSI adalah mandat dinamis, yang bergerak antara sekitar B30 dan B50 tergantung kapasitas produksi, harga global, ruang fiskal, dan permintaan energi, bukan target tetap yang ditentukan di muka.

Yang menjaga kredibilitas kebijakan ini

Tata guna lahan adalah pertukaran yang paling dicermati pembeli internasional. Permintaan biodiesel yang tumbuh dapat mendorong ekspansi perkebunan ke hutan dan lahan gambut bila tidak dikelola dengan baik, risiko yang menempatkan minyak sawit Indonesia tepat di jalur regulasi deforestasi Uni Eropa dan aturan serupa yang diadopsi mitra dagang lain. Jawaban Indonesia sendiri adalah skema sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil, atau ISPO, dan bukti sejauh ini menunjukkan skema ini dapat membiayai dirinya sendiri, karena petani kecil bersertifikat telah meraih premi pendapatan sekitar 15 hingga 20 persen dibanding petani tanpa sertifikat, menurut riset keberlanjutan yang dikutip analis Palm Oil Magazine. Bagian yang belum tuntas adalah pengakuan internasional. Tanpa penerimaan global yang lebih luas terhadap ISPO sebagai standar yang kredibel setara skema yang sudah dipercaya pembeli, minyak sawit Indonesia, termasuk biodieselnya, akan terus menghadapi kecurigaan yang tidak bisa sepenuhnya dijawab oleh sertifikasi semata.

Pandangan Sirkularium

Bagi pemerintah dan lembaga publik, B50 paling tepat dibaca sebagai kebijakan yang rasio campurannya mudah diumumkan, sementara infrastruktur pendukungnya adalah substansi sesungguhnya. Argumen fiskalnya, puluhan triliun rupiah dari impor yang terhindarkan dan nilai tambah domestik, nyata dan langsung terasa. Begitu pula eksposurnya, yaitu pasar bahan baku yang sama-sama diperebutkan industri pangan, pencampur biodiesel, dan pembeli ekspor, dengan petani kecil berada di posisi paling awal merasakan dampak kenaikan pungutan.

Tiga prioritas jangka pendek akan memperkuat daya tahan kebijakan ini. Pertama, publikasikan satu estimasi permintaan CPO tambahan yang telah direkonsiliasi, alih-alih membiarkan analis memilih di antara angka yang berbeda hingga tiga kali lipat, karena angka itu menjadi dasar bagi setiap proyeksi lain yang dibangun di atasnya. Kedua, perlakukan usulan mandat dinamis dari POPSI sebagai masukan yang sungguh-sungguh, bukan sekadar keberatan retoris, mengingat rasio campuran yang terkait dengan kapasitas produksi dan kondisi harga akan mengurangi risiko pungutan ekspor menjadi penyerap guncangan secara default. Ketiga, terus mendorong pengakuan internasional atas sertifikasi ISPO, karena premi pendapatan 15 hingga 20 persen yang sudah terdokumentasi bagi petani kecil bersertifikat menunjukkan bahwa investasi kredibilitas ini terbayar begitu pembeli menerimanya. Dengan cara ini, B50 dapat memperluas capaian ketahanan energi Indonesia tanpa diam-diam memindahkan biayanya kepada petani yang tandan buahnya menjadi penopang seluruh program.

Mandat biodiesel Indonesia terus naik sejak 2018

Values in % campuran biodiesel

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di energi dan iklim, Sirkularium mendukung penyusunan data dasar emisi, perencanaan energi terbarukan dan penyimpanan, serta kerangka karbon dan kebijakan yang kuat di lapangan.

Artikel terkait

Hamparan tanaman singkong dan sorgum di perkebunan luas di Kalimantan, dengan ahli agronomi mengambil sampel tanah di latar depan dan pabrik pengolahan di kejauhan
Energi & Iklim

BUMN perkebunan Agrinas Palma Nusantara menyampaikan pada 8 Oktober bahwa pihaknya telah memetakan satu juta hektare lahan khusus untuk jagung, sorgum, dan singkong sebagai bahan baku bioetanol, dengan potensi produksi sekitar 5 juta kiloliter per tahun untuk mendukung campuran 20 persen etanol dalam bensin. Rencana ini menggeser pembahasan E20 dari target pencampuran ke kebun, pabrik, dan perizinan yang akan memasoknya.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Kontainer berisi sel baterai litium ion dimuat ke kapal kargo di pelabuhan kawasan industri Weda Bay, Halmahera Tengah, dengan bangunan industri dan perbukitan hijau di latar belakang
Energi & Iklim

Presiden Prabowo Subianto meluncurkan ekspor perdana baterai kendaraan listrik Indonesia dan 11 proyek hilirisasi senilai US$10,2 miliar di Indonesia Weda Bay Industrial Park. Babak berikutnya bagi kawasan ini adalah memenuhi kebutuhan listrik 7,1 GW dengan lebih banyak tenaga surya dan angin.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Panel surya atap di sebuah pabrik pulp dan kertas besar di Indonesia, dengan bangunan pengolahan pabrik di latar belakang
Energi & Iklim

Grup pulp dan kertas ini berkomitmen menggunakan 100 persen listrik terbarukan di seluruh operasinya paling lambat pada 2050, berangkat dari bauran energi 2025 di mana sumber terbarukan, terutama black liquor dari pabriknya sendiri, sudah memasok 57,3 persen total penggunaan energi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Reaktor dan jaringan pipa pabrik amonia di kompleks Pupuk Kaltim, Bontang, Kalimantan Timur, pada siang hari
Energi & Iklim

Deklarasi bersama dengan pemegang lisensi teknologi asal Swiss, Casale, pada 6 Oktober menegaskan bahwa Ammonia Pabrik-2 di Bontang hasil revamping menurunkan konsumsi energi dari 39,28 menjadi 35,25 MMBTU per ton sekaligus menaikkan produksi 4,18 persen, menghemat sekitar Rp228 miliar dan 110.000 ton CO2 per tahun.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Unit pemurnian biogas dan kolam limbah tertutup di samping pabrik kelapa sawit di Sumatera Selatan, dengan jaringan pipa gas menuju stasiun meter
Energi & Iklim

PGN memastikan akan membeli dan menyalurkan biometana dari fasilitas baru di Sumatera Selatan yang dikembangkan perusahaan patungan KIS Biofuels dan Toyota Tsusho. Peletakan batu pertama dilakukan pada 5 Oktober, dengan target sekitar 150.000 MMBtu per tahun untuk Toyota Motor Manufacturing Indonesia dan industri lain mulai 2027.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Deretan panel surya terapung di permukaan waduk yang tenang di Indonesia dengan dinding bendungan dan perbukitan hijau di latar belakang
Energi & Iklim

Pada 5 Oktober, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) menemui Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno dengan 22 rekomendasi untuk RUU EBET dan usulan memanfaatkan 263 bendungan milik negara, dengan potensi PLTS terapung dan PLTA sekitar 23,9 GW, untuk mempercepat program PLTS 100 GWp.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca