Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Energi & Iklim

Indonesia Sustainable Energy Week mengubah target surya 100 gigawatt menjadi agenda kesiapan proyek

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Insinyur dan pejabat menelaah rencana proyek surya di atas meja bersama laptop dalam ruang rapat terang di Jakarta, dengan susunan panel surya atap terlihat dari jendela

Dalam media briefing di Jakarta pada 11 Agustus, Bappenas, GIZ, dan Asosiasi Energi Surya Indonesia memaparkan bagaimana ISEW 2026 akan mempertemukan proyek yang sudah siap dengan investor. Penekanannya bergeser dari angka kapasitas ke bankability, kesiapan jaringan, dan urutan pembangunan bertahap.

Sekilas data
100 GW
Target kapasitas surya nasional
25 GW
Kapasitas yang diusulkan untuk tahap pertama hingga 2029
1,3 GW
PLTS atap nasional terpasang per April 2026
170
Perusahaan anggota dalam rantai pasok surya AESI

Program surya 100 gigawatt Indonesia sepanjang 2026 lebih sering dibicarakan lewat angka utamanya. Pada Selasa 11 Agustus, dalam media briefing di kantor GIZ Jakarta, percakapan bergeser ke pertanyaan yang lebih praktis: berapa banyak dari gigawatt itu yang melekat pada proyek yang benar benar dapat dibiayai investor hari ini.

Briefing tersebut menjadi pengantar Indonesia Sustainable Energy Week 2026, yang digelar pada 19 dan 20 Agustus di Fairmont Hotel Jakarta dengan tema "Accelerating Indonesia's Energy Transition: Aligning Policies, Private Sector Action, and Empowering People". Acara ini diselenggarakan oleh Indonesian German Energy Programme di GIZ bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta Bappenas, dan dilaksanakan bersama IndoSolar 2026 oleh Asosiasi Energi Surya Indonesia atau AESI. Susunan acaranya dibagi dengan sengaja. Hari pertama diisi implementasi kebijakan, bergerak dari target menuju pelaksanaan. Hari kedua diisi mobilisasi investasi dan matchmaking antara proyek dan modal.

Bankability menjadi gagasan yang menata seluruh agenda

Yusuf Suryanto, Direktur Transportasi, Ketenagalistrikan, Kedirgantaraan, dan Antariksa Bappenas, menempatkan kesiapan proyek di urutan pertama ketika ditanya apa yang paling dibutuhkan pemerintah pada periode ini. Kerangkanya lugas. Agenda pembangunan hanya dapat dijalankan bila proyek yang dirancang memang siap, layak, dan dapat dibiayai.

Yang pertama tentu kesiapan proyek, bagaimana kita bisa membuat proyek proyek yang kita rancang ini siap, layak, termasuk bankability-nya.

Pergeseran penekanan itu berguna bagi institusi publik. Target kapasitas adalah pernyataan niat. Sebuah pipeline proyek yang telah disiapkan, masing masing dengan lahan yang aman, skema offtake yang jelas, sambungan jaringan yang telah dikaji, dan perizinan yang terpetakan, adalah instrumen yang dapat direspons pasar modal. Jarak antara keduanya adalah tempat sebagian besar program energi nasional dipercepat atau tertahan, dan penempatan kesiapan di urutan pertama oleh Bappenas menandakan kementerian perencanaan berniat menggarap jarak itu secara langsung.

Lisa Tinschert, Direktur Program Energi Indonesia dan ASEAN di GIZ, menggambarkan sisi kerja sama Jerman dengan istilah serupa. Ia mencatat bahwa diskusi di ISEW tidak terbatas pada rancangan kebijakan atau agenda just transition, melainkan meluas ke apa yang dapat dibawa perusahaan dan pelaku usaha berupa solusi yang siap diterapkan. Mengenai teknologinya sendiri ia menyampaikan penilaian yang tegas, bahwa dari perspektif GIZ surya sudah menjadi pilihan paling cerdas, tidak hanya dari sisi lingkungan tetapi juga secara ekonomi. Kontribusi GIZ yang disebutkan bersifat praktis dan bukan sekadar pernyataan: menghubungkan proyek dengan mitra, menyediakan keahlian teknis, dan mendanai studi pra kelayakan yang mengubah gagasan menjadi sesuatu yang dapat dinilai pemberi pinjaman.

Isi sebenarnya dari 100 gigawatt itu

Program ini lebih mudah dipahami setelah diurai. Perencanaan internal PLN Group untuk periode 2025 hingga 2034 membagi target menjadi lima komponen. Sistem surya hibrida menjadi blok terbesar dengan 35 gigawatt. Surya skala utilitas menyumbang 22 gigawatt. Konversi pembangkit diesel dan gas yang sudah ada menambah 20 gigawatt. Instalasi atap dan permintaan industri menyumbang 14 gigawatt. Wilayah di luar wilayah usaha PLN menyumbang 8,2 gigawatt lagi.

Dibaca demikian, program ini bukan satu mega proyek tunggal melainkan sebuah portofolio dengan profil risiko yang sangat berbeda di dalamnya. Konversi diesel di Indonesia timur adalah persoalan biaya bahan bakar dengan jawaban yang sudah dipahami. Surya atap di pabrik dan gudang adalah langkah efisiensi sisi permintaan yang sudah dibeli pelaku industri atas logika komersial mereka sendiri. Kapasitas skala utilitas dan hibrida adalah bagian yang paling bergantung pada investasi transmisi dan pada keekonomian penyimpanan.

Segmen atap memberi bukti tentang apa yang terjadi ketika kasus komersialnya jelas. Kapasitas PLTS atap nasional mencapai 1,3 gigawatt per April 2026, hampir sepuluh kali lipat dari sekitar 146 megawatt yang tercatat pada 2024. Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, menempatkan ambisi surya nasional pada 80 hingga 100 gigawatt dan memperkirakan setidaknya 760.000 lapangan kerja baru dapat tercipta di sekitarnya.

Urutan yang dimulai dari yang sudah mendekati siap

Zulfikar Manggau, akademisi Institut Teknologi PLN dan sebelumnya Executive Vice President Energi Baru dan Terbarukan di PLN, mengusulkan urutan tiga tahap untuk mencapai target. Tahap pertama, 2025 hingga 2029, akan menghadirkan sekitar 25 gigawatt yang terpusat pada sistem atap di kawasan industri dan gedung perkantoran, surya terapung di waduk yang sudah ada, serta lahan kritis atau bernilai rendah di Indonesia timur. Tahap kedua, 2030 hingga 2034, menambah 25 gigawatt lagi, kali ini condong ke pasokan skala besar untuk industri, sistem penyimpanan energi, dan transmisi antarwilayah. Sisa 50 gigawatt menyusul mulai 2035, dengan asumsi harga baterai terus turun dan aliran pembiayaan hijau terus mendalam.

100 GW itu perlu dan bukan mustahil. Tapi kuncinya jangan buru buru, mulai dari yang pasti, yang fondasinya kuat.

Ia mengidentifikasi tiga kondisi yang menentukan laju. Kebutuhan pembiayaan berpotensi mencapai ratusan miliar dolar Amerika Serikat. Lahan terbatas dan mahal di Jawa, sementara pulau pulau luar memiliki ruang lebih luas namun sambungan jaringan yang lebih tipis. Dan keluaran surya bergantung cuaca, yang membuat penyimpanan menjadi kebutuhan struktural dan bukan tambahan opsional.

Penyimpanan, fleksibilitas, dan pertanyaan manufaktur

Kontribusi analitis dari sisi Jerman maupun Indonesia bertemu pada titik teknis yang sama. Tinschert menyebut fleksibilitas jaringan, kapasitas penyimpanan, regulasi yang mendukung, pendekatan pemanfaatan lahan seperti agrivoltaik dan pemasangan atap, serta pengembangan tenaga kerja melalui kemitraan dengan PLN, sekolah vokasi, dan politeknik. Institute for Essential Services Reform mengajukan versi industrial dari argumen yang sama. Direktur Eksekutifnya, Fabby Tumiwa, menyatakan manufaktur sistem penyimpanan energi baterai sebaiknya dibangun di dalam negeri dan tidak diimpor seluruhnya, dengan impor bahan baku tetap diizinkan sementara pabrik domestik dibangun, mengikuti pendekatan yang sudah dipakai untuk kendaraan listrik.

Itu struktur yang lazim dan dapat dijalankan dalam kebijakan industri Indonesia. Ia juga menautkan program surya kembali ke basis manufaktur domestik, dan di situlah AESI melihat kontribusinya sendiri. Mada Ayu Habsari, yang memimpin asosiasi tersebut, menyatakan Indonesia sudah memiliki kemampuan untuk mengerjakan skala itu, dan bahwa penempatan IndoSolar berdampingan dengan ISEW bertujuan memberi kemampuan domestik tersebut paparan langsung kepada investor global. AESI mencatat sekitar 170 anggota dari seluruh ekosistem surya, mencakup produsen lokal, pengembang, utilitas, distributor, perusahaan rekayasa dan konstruksi, lembaga inspeksi teknis, serta lembaga keuangan.

Pandangan Sirkularium bagi pemerintah dan institusi publik

Hal paling berguna dari briefing ini bukan targetnya, yang sudah menjadi kebijakan yang ditetapkan. Melainkan penegasan bersama, dari kementerian perencanaan, dari mitra bilateral, dan dari industri, bahwa kendala yang mengikat adalah penyiapan proyek dan bukan tingkat ambisi.

Bagi institusi publik, hal ini menyarankan tiga prioritas praktis. Pertama, berinvestasi pada kapasitas penyiapan. Kajian pra kelayakan, penyelesaian status lahan, studi dampak jaringan, dan dokumen offtake yang terstandardisasi relatif murah, dan itulah yang mengubah proyek dalam daftar menjadi proyek yang dapat dibiayai. Kedua, urutkan portofolio sesuai profil risikonya. Aset atap dan konversi diesel dapat bergerak sekarang atas logika komersial yang sudah mapan, sementara tranche yang bergantung pada transmisi dan penyimpanan dijadwalkan di belakang investasi jaringan yang memungkinkannya. Ketiga, perlakukan manufaktur penyimpanan dan pengembangan tenaga kerja sebagai bagian dari program energi dan bukan sesuatu yang bersebelahan dengannya, karena keduanya menentukan apakah tahap tahap berikutnya tiba pada biaya yang dapat diserap sistem.

Yang perlu dicermati berikutnya adalah hari matchmaking pada 20 Agustus. Proyek proyek spesifik yang muncul di sana, dan syarat yang ditawarkan investor terhadapnya, akan menjadi indikator paling jelas yang tersedia mengenai seberapa besar bagian dari pipeline 100 gigawatt yang benar benar siap bergerak.

Cara PLN Group menyusun pembangunan surya 100 GW, 2025 hingga 2034

Values in GW

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di energi dan iklim, Sirkularium mendukung penyusunan data dasar emisi, perencanaan energi terbarukan dan penyimpanan, serta kerangka karbon dan kebijakan yang kuat di lapangan.

Artikel terkait

Para menteri mengucapkan sumpah jabatan di Istana Negara Jakarta dengan latar bendera Merah Putih
Energi & Iklim

Presiden Prabowo Subianto melantik Bahlil Lahadalia sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang pertama, sebuah jabatan baru yang menyatukan peningkatan nilai tambah industri dan pembangunan energi bersih di bawah satu payung koordinasi, sementara Bahlil tetap memimpin Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Foto lebar pabrik semen atau pupuk modern di Indonesia dengan tanur yang efisien dan panel surya atap di bawah langit biru cerah
Energi & Iklim

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza memaparkan bagaimana industri semen, pupuk, logam, dan enam subsektor lain akan memimpin dekarbonisasi industri, dengan efisiensi energi dan material sebagai pilar pertama dari enam pilar serta pelaporan emisi berkala melalui SIINas.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Foto udara panel surya yang menutupi atap pabrik besar dan sebuah kanal di dalam kawasan industri Morowali, dengan bangunan smelter dan perbukitan di latar belakang
Energi & Iklim

Para tenan di Indonesia Morowali Industrial Park kini mengoperasikan sekitar 11 MWp PLTS, dengan sistem atap 66 MWp dan pembangkit 200 MWp yang sedang dikembangkan. Langkah ini memberi pusat pengolahan nikel terbesar di Indonesia pijakan awal yang nyata pada pilar listrik rendah karbon dalam peta jalan dekarbonisasi industri nikel nasional.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Ekskavator listrik memuat bijih ke dump truck listrik di area stockpile di samping bangunan smelter, dengan stasiun pengisian daya di latar depan
Energi & Iklim

PT Virtue Dragon Nickel Industry telah berinvestasi sekitar Rp45 miliar untuk alat berat dan kendaraan material handling bertenaga listrik di Morosi, Sulawesi Tenggara, dan menargetkan pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 43.411 ton hingga akhir 2027. Langkah ini menjadi contoh nyata pilar efisiensi energi dalam peta jalan dekarbonisasi industri nikel Indonesia.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Tumpukan serbuk gergaji dan serpih kayu di hub pengumpulan biomassa di samping truk, dengan pekerja memeriksa mutu bahan bakar
Energi & Iklim

Di Electricity Connect 2026, PLN Energi Primer Indonesia memaparkan strategi bioenergi yang berangkat dari residu yang sudah tersedia di lahan pertanian, perkebunan, hutan, pabrik dan kota, lalu bergerak dari cofiring menuju biochar, syngas, biohidrogen dan compressed biogas. Perusahaan memperkirakan 10 juta ton biomassa saja dapat menopang sekitar 150.000 lapangan kerja hijau.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Deretan panel surya di atas tanah di samping kontainer baterai pada pembangkit listrik pulau kecil, dengan rumah genset diesel lama di latar belakang
Energi & Iklim

PLN Indonesia Power dan PT ACE Energy Service sepakat di Electricity Connect 2026 untuk membangun PLTS 60 MWp yang dipadukan dengan baterai 200 MWh di sepuluh lokasi terisolasi di Sulawesi Tengah. Proyek senilai Rp3,3 triliun ini memakai panel buatan dalam negeri dan berpotensi menurunkan biaya penyediaan listrik sekitar Rp1.000 per kWh.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca