Industri semen memberi Indonesia ukuran nyata dekarbonisasi industri saat substitusi termal mencapai 9,77 persen
Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

SIG melaporkan pada 13 Agustus bahwa pemanfaatan bahan bakar alternatif naik 24 persen menjadi 681 ribu ton pada 2025, menggantikan 467 ribu ton batu bara dan mengangkat thermal substitution rate ke 9,77 persen. Intensitas emisi Scope 1 kini 21 persen di bawah baseline 2010, terhadap target perusahaan sebesar 27 persen pada 2030.
Dekarbonisasi industri di Indonesia kerap dibicarakan dalam bahasa target dan peta jalan. Pekan ini pembicaraan itu hadir dalam bahasa data pabrik. Pada 13 Agustus, pemberitaan sejumlah media nasional memaparkan angka operasional 2025 milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk atau SIG, dan angka tersebut menggambarkan sesuatu yang spesifik: sebuah industri berat yang mengganti sebagian input bahan bakarnya, tahun demi tahun, sekaligus mengukur hasilnya.
Angka utamanya adalah thermal substitution rate. Pada 2025 rasio itu mencapai 9,77 persen, naik dari 7,56 persen pada 2024 dan 7,27 persen pada 2023. Di balik rasio tersebut terdapat 681 ribu ton bahan bakar alternatif yang digunakan di seluruh operasi SIG, meningkat 24 persen dibanding tahun sebelumnya, setara dengan 467 ribu ton batu bara yang tidak jadi dibakar. Intensitas emisi gas rumah kaca Scope 1 kini 21 persen di bawah baseline 2010. Intensitas Scope 2 berada 15 persen di bawah baseline 2019.
Mengapa thermal substitution rate menjadi angka yang penting
Semen sulit didekarbonisasi karena alasan yang tidak dapat diubah oleh keputusan pengadaan mana pun. Sekitar dua pertiga emisi sektor ini berasal dari kalsinasi, yakni pelepasan kimiawi karbon dioksida ketika batu kapur diubah menjadi klinker. Porsi tersebut merespons faktor klinker dan bahan baku alternatif, bukan pilihan bahan bakar. Sisanya berasal dari energi termal yang dibutuhkan untuk menjaga kiln pada suhu sekitar 1.450 derajat Celsius, dan di titik itulah substitusi bahan bakar bekerja.
Thermal substitution rate adalah proporsi energi termal yang dipasok oleh sesuatu selain bahan bakar fosil: biomassa, limbah industri terolah, dan refuse derived fuel yang dihasilkan dari sampah perkotaan. Ia berupa rasio tunggal, dapat diaudit, terpetakan langsung ke jumlah ton batu bara yang dihindari, serta dapat dibandingkan antarpabrik dan antarnegara. Bagi pemerintah yang ingin memahami apakah kebijakan dekarbonisasi industri benar benar berjalan, sedikit indikator yang sejelas ini.
Deret tiga tahun itu lebih bermakna daripada capaian satu tahun mana pun. Pergerakan dari 7,27 ke 7,56 persen bersifat inkremental. Pergerakan dari 7,56 ke 9,77 persen dalam satu tahun adalah lompatan, dan lompatan pada indikator ini umumnya mencerminkan pekerjaan modal, bukan penyesuaian operasional: sistem penanganan umpan, lini preparasi bahan bakar, modifikasi burner kiln, serta kontrak pasokan yang mengamankan aliran limbahnya sendiri.
Bahan bakar alternatif tidak menurunkan emisi semen melalui niat. Ia menurunkannya melalui tonase, dan tonase baru bergerak ketika rantai pasok limbah, peralatan pabrik, dan perizinan tiba pada waktu yang sama.
Kaitan ekonomi sirkular yang menjadikan ini juga cerita persampahan
Bahan bakar yang dimaksud bukan kelas komoditas tersendiri. Ia adalah sampah Indonesia. Residu biomassa, limbah industri non biomassa, dan refuse derived fuel dari sampah perkotaan semuanya masuk ke kiln yang sama. Dalam praktiknya, pabrik semen adalah salah satu dari sedikit infrastruktur di negeri ini yang mampu menyerap sampah terolah pada skala industri dengan penghancuran penuh fraksi organik dan penangkapan mineral pada abunya.
Pada titik inilah sektor energi dan sektor persampahan berhenti menjadi dua berkas kebijakan yang terpisah. Kabupaten yang memperbaiki kapasitas pemilahan dan pengolahannya menghasilkan bahan bakar yang bersedia dibeli oleh kiln. Kiln yang menaikkan target substitusinya menciptakan kepastian serapan yang membuat fasilitas refuse derived fuel layak dibiayai. Tidak ada satu pun sisi yang dapat melangkah jauh tanpa sisi lainnya, dan 467 ribu ton batu bara yang tergantikan adalah hasil aritmetika dari keduanya bergerak bersama.
Rincian 2024 yang dilaporkan saat validasi Science Based Targets initiative memberi gambaran komposisinya: dari 550 ribu ton bahan bakar alternatif tahun itu, 314 ribu ton berupa biomassa, 206 ribu ton limbah non biomassa, dan 30 ribu ton refuse derived fuel. Porsi refuse derived fuel adalah yang terkecil sekaligus yang paling terkait langsung dengan sistem persampahan kota. Porsi itu pula yang paling terbuka untuk tumbuh.
Produk, target, dan validasi pihak ketiga
Selain substitusi bahan bakar, SIG melaporkan lini produk semen hijau dengan jejak karbon hingga 38 persen lebih rendah dibanding semen konvensional pada standar mutu yang setara. Perusahaan juga menyatakan target 2030 berupa penurunan 27 persen karbon dioksida per ton semen ekuivalen dibandingkan 2010. Dibaca terhadap capaian 21 persen yang sudah diraih, tersisa enam poin persentase yang harus dikerjakan sepanjang sisa dekade ini.
Pada Januari 2025 SIG menjadi perusahaan bahan bangunan pertama di Indonesia yang target penurunan emisinya divalidasi Science Based Targets initiative pada jalur yang selaras dengan pembatasan pemanasan 1,5 derajat Celsius. Validasi tidak menghasilkan penurunan dengan sendirinya. Yang dilakukannya adalah mengunci batas akuntansi dan lintasannya, sehingga pengungkapan tahunan dapat diuji terhadap sesuatu di luar ambisi perusahaan itu sendiri.
Rekam jejak operasional tersebut mendapat pengakuan pada 6 Agustus di Soehanna Hall, Jakarta, ketika SIG menerima ESG Award 2026 dari Yayasan KEHATI untuk kategori pasar modal perusahaan tercatat. Penghargaan diserahkan oleh Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat, dan diterima oleh Muhammad Taqiyuddin, Pgs Group Head of Strategic Growth and ESG SIG. Perusahaan juga melaporkan 628 hektare lahan pascatambang yang telah direklamasi hingga 2025 serta enam penilaian PROPER Hijau.
Penerapan prinsip ESG bukan sekadar pemenuhan kewajiban regulasi, melainkan keunggulan bersaing untuk masa depan, ujar Vita Mahreyni, Corporate Secretary SIG.
Kerangka itu layak ditanggapi serius, bukan dibaca sebagai bahasa korporat semata. Substitusi bahan bakar alternatif menurunkan biaya energi per ton klinker. Waste heat recovery power generation mengubah gas buang kiln menjadi listrik yang sebelumnya harus dibeli. Panel surya atap menurunkan tarikan daya dari jaringan di lokasi dengan iradiasi kuat. Masing masing adalah langkah efisiensi energi dengan periode pengembalian, dan masing masing kebetulan juga menurunkan emisi.
Titik temu dengan kalender kebijakan
Waktunya tepat. Kementerian Perindustrian telah merampungkan peta jalan dekarbonisasi industri yang mencakup sembilan subsektor intensif energi, dengan semen di dalamnya, bersama besi dan baja, pupuk, kimia, pulp dan kertas, tekstil, kaca dan keramik, otomotif, serta makanan dan minuman. Peraturan menteri untuk masing masing subsektor dijadwalkan mulai terbit sejak September 2026. Peta jalan tersebut memproyeksikan penurunan emisi pada kisaran 66,5 hingga 68 juta ton karbon dioksida ekuivalen pada 2035 dan sekitar 290 juta ton pada 2050.
Regulasi yang disusun pada periode yang sama ketika produsen domestik terkemuka menerbitkan deret substitusi tiga tahun yang terverifikasi memiliki keuntungan tersendiri. Baseline dapat diamati. Laju perbaikan yang bisa dicapai dengan teknologi dan pasokan limbah saat ini juga dapat diamati. Keduanya merupakan masukan yang lebih baik bagi target subsektor dibanding estimasi model.
Ada pula jadwal eksternal. Carbon Border Adjustment Mechanism Uni Eropa memasuki fase definitifnya pada 2026, dan semen termasuk barang yang tercakup. Kandungan karbon per ton mulai menjadi variabel komersial di pasar ekspor, persis pada subsektor intensif energi yang menjadi sasaran peta jalan.
Pandangan Sirkularium
Bagi pemerintah dan institusi publik, ada tiga poin praktis yang mengikuti.
Pertama, thermal substitution rate layak mendapat tempat dalam regulasi subsektor sebagai indikator terlapor dengan metode yang terdefinisi. Angka ini sudah diukur oleh industri, dapat diaudit, dan menyambungkan berkas industri dengan berkas pengelolaan sampah tanpa memerlukan sistem pengumpulan data baru.
Kedua, kendala yang mengikat pada jalur ini semakin berada di hulu. Kapasitas kiln untuk menerima bahan bakar alternatif tumbuh lebih cepat daripada pasokan refuse derived fuel yang spesifikasinya konsisten dan siap dikontrakkan. Pemerintah daerah yang mampu menyediakan umpan terpilah dengan nilai kalor dan kadar air yang stabil memegang sesuatu yang kini punya alasan komersial untuk dibeli industri. Penyeragaman spesifikasi tersebut secara nasional akan menurunkan biaya transaksi di kedua sisi.
Ketiga, kelayakan pembiayaan tidak bergantung pada harga karbon semata. Penghematan biaya bahan bakar, pembangkitan dari panas buang, dan pengurangan pembelian listrik jaringan sudah menopang proyek proyek ini pada ekonomi konvensional. Instrumen pembiayaan publik paling efektif bila menutup infrastruktur preparasi dan penanganan bahan bakar di sisi hulu, karena di situlah kebutuhan modal menumpuk.
Yang perlu dicermati berikutnya: urutan penerbitan peraturan subsektor oleh Kementerian Perindustrian mulai September, apakah semen berada di urutan awal, serta apakah siklus pengungkapan 2026 menunjukkan tingkat substitusi bertahan pada lintasan barunya atau kembali ke perbaikan yang inkremental.
Thermal substitution rate, operasi domestik SIG
Values in %
Sumber
- Tribunnews, Emisi karbon turun 21 persen, industri semen tingkatkan penggunaan energi alternatif
- Viva Bisnis, Tekan emisi hingga 21 persen, SIG akselerasi target bisnis berkelanjutan
- Harian Bhirawa, SIG raih ESG Award 2026 dari Yayasan KEHATI
- Stabilitas, Semen hijau dan bahan bakar alternatif sebagai competitive advantage berbasis ESG
- EmitenNews, Perkuat ESG, SMGR pacu energi bersih hingga reklamasi
- Kontan Press Release, SIG jadi perusahaan bahan bangunan pertama di Indonesia dengan target dekarbonisasi tervalidasi SBTi
- SIG, Halaman keterbukaan Iklim dan Energi






