Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Energi & Iklim

Bio Farma alihkan boiler pabrik vaksin ke gas alam, tekan emisi dan biaya

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Boiler industri dan pipa gas di pabrik farmasi, menggambarkan peralihan dari bahan bakar solar ke gas alam terkompresi

Produsen vaksin terbesar di Indonesia mengoperasikan fasilitas gas alam terkompresi pertamanya di Bandung, memproyeksikan penurunan emisi boiler sebesar 24 persen dan efisiensi energi yang dilaporkan berkisar 37 hingga 40 persen, contoh kecil namun instruktif bagi dekarbonisasi industri di sektor manufaktur esensial.

Sekilas data
24%
Proyeksi penurunan emisi CO2 dari peralihan bahan bakar boiler solar ke CNG
300.000 m3
CNG yang dipasok PGN Gagas setiap bulan ke pabrik Bio Farma di Bandung
37 hingga 40%
Efisiensi energi tahunan yang dilaporkan berbagai sumber (angka berbeda antar media)
150+ negara
Jangkauan vaksin Bio Farma, produksi yang terus berjalan berkat peralihan bahan bakar ini

Sebuah langkah pertama bagi produsen vaksin terbesar Indonesia

Pada 15 Juli 2026, PT Bio Farma (Persero) mengoperasikan fasilitas gas alam terkompresi atau CNG pertamanya di kompleks produksi Bandung, Jawa Barat. Perusahaan yang merupakan produsen vaksin terbesar di Asia Tenggara ini, dengan produk yang didistribusikan ke lebih dari 150 negara, kini menjalankan boiler penghasil uap untuk lini produksinya dengan CNG sebagai bahan bakar utama, menggantikan solar yang kini hanya menjadi cadangan bila terjadi gangguan pasokan gas.

Proyek ini terwujud bersama PT Gagas Energi Indonesia, dikenal sebagai PGN Gagas, anak usaha PT Perusahaan Gas Negara. Kolaborasi ini mempertemukan dua badan usaha milik negara dari struktur holding berbeda, Bio Farma di bawah Holding BUMN Farmasi dan PGN Gagas di bawah Subholding Gas Pertamina, yang oleh pihak terkait disebut sebagai sinergi lintas holding BUMN. Bagi perusahaan yang bisnis intinya adalah kesehatan publik, bukan energi, langkah ini menjadi ilustrasi berharga tentang bagaimana dekarbonisasi industri mulai menjangkau sektor di luar daftar biasa seperti semen, baja, dan nikel.

Apa yang dipasok PGN Gagas dan mengapa ini cocok

PGN Gagas akan memasok sekitar 300.000 meter kubik CNG per bulan ke fasilitas Bandung. Gas ini disalurkan melalui rangkaian peralatan yang dibangun khusus untuk proyek ini, yaitu tempat penerimaan CNG, stasiun pengatur tekanan, sistem pengukuran, dan jaringan pipa distribusi yang terhubung langsung ke burner boiler dan panel kontrol pabrik.

CNG cocok untuk situasi Bio Farma karena kompleks Bandung berada di luar jaringan pipa gas utama. PGN Gagas memang dibentuk untuk melayani pelanggan industri dan komersial dalam posisi seperti itu, mengirimkan gas lewat truk dalam bentuk CNG atau LNG, bukan melalui pipa tetap. Menurut perusahaan, layanan Gaslink miliknya telah menjangkau lebih dari 600 pelanggan secara nasional dan menyalurkan hampir 11 miliar British thermal unit gas per hari, memberi gambaran skala bisnis gas luar jaringan pipa yang kini diikuti Bio Farma.

Santiaji Gunawan, Direktur Utama PT Gagas Energi Indonesia, menyebut kerja sama ini sebagai bagian dari upaya lebih luas memperluas manfaat CNG ke sektor-sektor yang dianggap esensial. Ia menekankan bahwa pasokan energi yang andal ke fasilitas seperti milik Bio Farma bukan sekadar urusan industri rutin, melainkan terkait langsung dengan kesinambungan layanan kesehatan publik, karena gangguan pada produksi vaksin akan berdampak pada sistem kesehatan yang bergantung padanya.

Angka efisiensi dan emisi, serta selisihnya

Angka dari Bio Farma sendiri menyebut penurunan emisi karbon dioksida yang diharapkan sekitar 24 persen dibanding pengoperasian boiler berbahan bakar solar sebelumnya, angka yang konsisten disebutkan di seluruh pemberitaan mengenai pengumuman ini. Sisi efisiensinya kurang seragam. Sejumlah media melaporkan penghematan biaya energi tahunan sekitar 37 persen, dengan catatan bahwa angka ini bergantung pada tingkat pemanfaatan fasilitas, kebutuhan produksi, harga energi, dan kondisi operasional. Media lain melaporkan angka tersebut sebagai kenaikan efisiensi operasional sebesar 40 persen dibanding sumber energi sebelumnya. Sirkularium tidak dapat memastikan dari pemberitaan publik apakah keduanya menggambarkan perhitungan yang sama atau dua metrik berbeda, satu untuk biaya dan satu untuk efisiensi, dan baik Bio Farma maupun PGN Gagas belum mempublikasikan metodologi rincinya. Pembaca sebaiknya memperlakukan kisaran 37 hingga 40 persen ini sebagai estimasi publik terkini, bukan angka tunggal yang telah terkonfirmasi.

"Bio Farma berkomitmen untuk menerapkan implementasi prinsip ESG, salah satunya melalui pemanfaatan bahan bakar yang rendah emisi," kata Iin Susanti, Direktur Operasi PT Bio Farma, saat peresmian fasilitas tersebut.

Terlepas dari angka mana yang terbukti akurat setelah diaudit, arahnya jelas sama, yaitu bahan bakar beremisi lebih rendah yang juga lebih murah dioperasikan, kombinasi yang cenderung membuat dekarbonisasi industri bertahan secara komersial alih-alih bergantung pada subsidi.

Bagian dari pola energi industri yang lebih luas

Pengumuman ini muncul pada pekan yang sama dengan Indonesia Energy Week Surabaya 2026, berlangsung 15 hingga 18 Juli di Grand City Convex dan menghadirkan lebih dari 200 peserta pameran dari 17 negara dengan tema membangun hub industri baru di Indonesia timur, dengan efisiensi energi dan teknologi dekarbonisasi sebagai salah satu jalur pamerannya. Pengumuman ini juga mengikuti pembukaan pada 16 Juli, di bawah program Green and Smart Port Initiatives, yang memberikan sertifikasi kepada terminal pupuk, baja, dan tambang atas pemasangan panel surya, konversi lampu LED, dan elektrifikasi peralatan, sebuah tanda terpisah namun terkait bahwa industri berat Indonesia mulai memperlakukan efisiensi energi sebagai isu daya saing, bukan sekadar kepatuhan.

Dilihat dengan latar itu, proyek Bio Farma tergolong kecil dalam skala absolut, hanya satu kompleks produksi yang mengganti satu jenis bahan bakar, namun memperluas logika yang sama ke sektor manufaktur farmasi yang jarang muncul dalam percakapan dekarbonisasi industri Indonesia. Iin Susanti menyebut fasilitas ini sebagai langkah konkret menuju operasi yang semakin efisien, berkelanjutan, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan, bahasa yang serupa dengan yang digunakan industri berat dalam peralihan bahan bakar serupa.

Yang perlu diperhatikan selanjutnya

Belum ada pengumuman dari kedua perusahaan mengenai jadwal replikasi fasilitas CNG ini ke fasilitas Bio Farma lainnya, dan angka efisiensi yang dilaporkan sejauh ini masih berupa proyeksi perusahaan, bukan hasil audit independen. Langkah alami berikutnya, dan yang layak diperhatikan pemerintah serta lembaga publik yang memantau kebijakan energi industri, adalah publikasi hasil pengukuran emisi dan biaya yang terealisasi setelah satu tahun penuh beroperasi, yang akan menuntaskan selisih antara angka 37 dan 40 persen dan memberi produsen sektor esensial lain, pengolahan pangan, alat kesehatan, dan lokasi industri luar jaringan pipa serupa, titik acuan yang terverifikasi alih-alih estimasi awal.

Pertumbuhan PGN Gagas sendiri, lebih dari 600 pelanggan Gaslink dan hampir 11 miliar British thermal unit gas disalurkan setiap hari, menunjukkan adanya minat dari sisi pasokan untuk terus memperluas layanan CNG ke pengguna industri di luar jaringan pipa. Apakah ini akan mempercepat dekarbonisasi industri di tempat lain akan bergantung pada seberapa jelas kinerja proyek pertama di sektor kesehatan ini terlihat.

Pandangan Sirkularium

Bagi para pembuat kebijakan, nilai dari kasus ini bukan terutama pada angka persentase yang masih perlu direkonsiliasi, melainkan pada sektor yang dijangkaunya. Percakapan dekarbonisasi industri Indonesia secara wajar terpusat pada emiten terbesar, semen, baja, dan nikel, karena tonase yang dipertaruhkan paling besar. Proyek Bio Farma menjadi pengingat bahwa substitusi dasar yang sama, mengganti panas boiler berbahan bakar solar dengan gas beremisi lebih rendah, tersedia bagi jajaran manufaktur yang jauh lebih luas, termasuk yang mandat utamanya adalah kesehatan publik, bukan emisi.

Pemerintah dan lembaga publik yang menyusun tahap kebijakan efisiensi energi berikutnya sebaiknya memperlakukan layanan CNG dan LNG luar jaringan pipa, seperti yang sudah disediakan PGN Gagas kepada ratusan pelanggan, sebagai pengungkit jangka pendek bagi fasilitas yang berada di luar jaringan pipa gas namun masih menjalankan panas proses berbahan bakar solar. Mendorong Bio Farma dan PGN Gagas untuk mempublikasikan hasil audit tahun pertama, yang menuntaskan apakah kenaikan efisiensinya 37 persen, 40 persen, atau angka lain, juga akan memperkuat alasan bagi BUMN dan produsen swasta lain untuk mengikuti jalur yang sama dengan keyakinan pada angka, bukan sekadar proyeksi.

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di energi dan iklim, Sirkularium mendukung penyusunan data dasar emisi, perencanaan energi terbarukan dan penyimpanan, serta kerangka karbon dan kebijakan yang kuat di lapangan.

Artikel terkait

Hamparan tanaman singkong dan sorgum di perkebunan luas di Kalimantan, dengan ahli agronomi mengambil sampel tanah di latar depan dan pabrik pengolahan di kejauhan
Energi & Iklim

BUMN perkebunan Agrinas Palma Nusantara menyampaikan pada 8 Oktober bahwa pihaknya telah memetakan satu juta hektare lahan khusus untuk jagung, sorgum, dan singkong sebagai bahan baku bioetanol, dengan potensi produksi sekitar 5 juta kiloliter per tahun untuk mendukung campuran 20 persen etanol dalam bensin. Rencana ini menggeser pembahasan E20 dari target pencampuran ke kebun, pabrik, dan perizinan yang akan memasoknya.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Kontainer berisi sel baterai litium ion dimuat ke kapal kargo di pelabuhan kawasan industri Weda Bay, Halmahera Tengah, dengan bangunan industri dan perbukitan hijau di latar belakang
Energi & Iklim

Presiden Prabowo Subianto meluncurkan ekspor perdana baterai kendaraan listrik Indonesia dan 11 proyek hilirisasi senilai US$10,2 miliar di Indonesia Weda Bay Industrial Park. Babak berikutnya bagi kawasan ini adalah memenuhi kebutuhan listrik 7,1 GW dengan lebih banyak tenaga surya dan angin.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Panel surya atap di sebuah pabrik pulp dan kertas besar di Indonesia, dengan bangunan pengolahan pabrik di latar belakang
Energi & Iklim

Grup pulp dan kertas ini berkomitmen menggunakan 100 persen listrik terbarukan di seluruh operasinya paling lambat pada 2050, berangkat dari bauran energi 2025 di mana sumber terbarukan, terutama black liquor dari pabriknya sendiri, sudah memasok 57,3 persen total penggunaan energi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Reaktor dan jaringan pipa pabrik amonia di kompleks Pupuk Kaltim, Bontang, Kalimantan Timur, pada siang hari
Energi & Iklim

Deklarasi bersama dengan pemegang lisensi teknologi asal Swiss, Casale, pada 6 Oktober menegaskan bahwa Ammonia Pabrik-2 di Bontang hasil revamping menurunkan konsumsi energi dari 39,28 menjadi 35,25 MMBTU per ton sekaligus menaikkan produksi 4,18 persen, menghemat sekitar Rp228 miliar dan 110.000 ton CO2 per tahun.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Unit pemurnian biogas dan kolam limbah tertutup di samping pabrik kelapa sawit di Sumatera Selatan, dengan jaringan pipa gas menuju stasiun meter
Energi & Iklim

PGN memastikan akan membeli dan menyalurkan biometana dari fasilitas baru di Sumatera Selatan yang dikembangkan perusahaan patungan KIS Biofuels dan Toyota Tsusho. Peletakan batu pertama dilakukan pada 5 Oktober, dengan target sekitar 150.000 MMBtu per tahun untuk Toyota Motor Manufacturing Indonesia dan industri lain mulai 2027.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Deretan panel surya terapung di permukaan waduk yang tenang di Indonesia dengan dinding bendungan dan perbukitan hijau di latar belakang
Energi & Iklim

Pada 5 Oktober, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) menemui Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno dengan 22 rekomendasi untuk RUU EBET dan usulan memanfaatkan 263 bendungan milik negara, dengan potensi PLTS terapung dan PLTA sekitar 23,9 GW, untuk mempercepat program PLTS 100 GWp.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca