Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Sumber Daya Berkelanjutan

Indonesia sedang membangun pasar bagi hasil konservasi yang terukur, dan konsesi tambang termasuk lokasi yang dibidik

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Tajuk hutan yang telah dipulihkan berbatasan dengan konsesi tambang di Indonesia, dengan tim survei melakukan pengukuran lapangan di antara vegetasi hasil penanaman

Pada forum kebijakan internasional di Jakarta, 15 September 2026, Kementerian Lingkungan Hidup menetapkan prinsip yang akan mengatur kredit biodiversitas Indonesia, sementara Kementerian Kehutanan menyebut 13 taman nasional dan dua lanskap spesies sebagai lokasi rintisan. Instrumen ini hanya berjalan bila kondisi ekosistem dapat diukur dan diverifikasi, sehingga ini adalah persoalan valuasi sebelum menjadi persoalan pembiayaan.

Sekilas data
13
Taman nasional yang ditetapkan sebagai lokasi rintisan kredit biodiversitas
US$200 miliar
Pembiayaan keanekaragaman hayati per tahun yang harus dimobilisasi pada 2030 di bawah Target 19
US$69 miliar
Proyeksi permintaan kredit biodiversitas per tahun pada 2050 pada jalur tata kelola yang efektif
Ke-2
Peringkat Indonesia di antara negara mega-biodiversitas dunia

Sebuah instrumen pembiayaan mulai terbentuk di Jakarta

Pada 15 September 2026 Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup menyelenggarakan International Workshop on Biodiversity Credit Implementation di Jakarta. Forum itu mempertemukan pembuat kebijakan Indonesia dengan International Advisory Panel on Biodiversity Credit, yang Ketua Bersamanya, Dame Amelia Fawcett, turut hadir, untuk membahas bagaimana pasar kredit biodiversitas sesungguhnya dapat dibangun dan ditata.

Menteri Lingkungan Hidup Moh. Jumhur Hidayat memanfaatkan kesempatan itu untuk menyatakan posisi Indonesia dengan tingkat kejelasan yang jarang terjadi pada instrumen di tahap perkembangan seperti ini. Kredit biodiversitas Indonesia, katanya, akan berpijak pada tiga prinsip: integritas ilmiah, inklusi sosial, dan tata kelola yang transparan.

Indonesia memiliki peran penting dalam membentuk pasar kredit keanekaragaman hayati berintegritas tinggi.

Kalimat itu layak dibaca dengan cermat. Penekanannya pada integritas tinggi, bukan sekadar besar atau likuid. Indonesia tidak memposisikan diri sebagai pemasok volume bagi pasar sukarela. Indonesia memposisikan diri sebagai yurisdiksi yang hendak menetapkan standar yang dipakai untuk menilai pasar itu, sebuah ambisi yang berbeda dan lebih menuntut.

Instrumennya sendiri sederhana dalam konsep. Konservasi dan restorasi menghasilkan capaian. Capaian itu diukur. Capaian terukur menjadi kredit. Kredit menarik modal swasta yang tanpa itu tidak akan mengalir ke konservasi. Kementerian konsisten menegaskan bahwa manfaatnya harus sampai kepada masyarakat lokal dan masyarakat adat, bukan hanya terkumpul pada pengembang proyek. Kementerian juga mengembangkan mekanisme Access and Benefit Sharing untuk sumber daya genetik berdampingan dengan kerja kredit ini, sejalan dengan Konvensi Keanekaragaman Hayati, Protokol Nagoya, dan Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework.

Seperti apa proyek rintisannya

Kementerian Kehutanan menjalankan sisi operasionalnya. Pada rapat satuan tugas inovasi pembiayaan dan pengelolaan taman nasional, yang juga digelar di Jakarta pada 15 September, Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki memastikan bahwa 13 taman nasional telah ditetapkan sebagai lokasi rintisan, bersama dua lanskap konservasi yang dibangun di sekitar spesies ikonik.

Cara ia menjelaskan mekanismenya lugas: melalui kredit biodiversitas, hasil konservasi dapat diukur, dan hasil terukur itu menjadi dasar untuk membuka sumber pembiayaan.

Kementerian juga tengah menyusun kerangka pengaturannya: aturan pemanfaatan keanekaragaman hayati, prosedur perizinan, kriteria pemilihan lokasi, serta cara penerimaan negara dari instrumen ini dipungut. Para pejabat menggambarkan kredit biodiversitas sebagai satu komponen dari portofolio pembiayaan yang lebih luas, yang juga mencakup anggaran publik, pembiayaan karbon, filantropi, investasi berkelanjutan, ekowisata, dan usaha berbasis alam.

Proses ini terbangun sepanjang 2026. Pada Februari Kementerian Lingkungan Hidup menggelar lokakarya di Jakarta bersama Department for Environment, Food and Rural Affairs Inggris mengenai pembiayaan keanekaragaman hayati melalui valuasi dan pembagian manfaat multilateral. Menteri saat itu, Hanif Faisol Nurofiq, menyebut perlindungan keanekaragaman hayati sebagai urgensi nasional yang tidak dapat ditunda, dan mencatat bahwa Indonesia, sebagai negara mega-biodiversitas terbesar kedua di dunia, memikul tanggung jawab global atas keberlanjutan sumber daya alamnya. Rangkaian kerja sejak itu mencakup penyusunan rancangan kebijakan nature positive, pembentukan tim teknis kredit biodiversitas Indonesia, dan pembentukan chapter Indonesia dari panel penasihat internasional pada Juni 2026.

Jalur diplomasinya berjalan beriringan. Indonesia tengah bersiap menghadapi COP17 Konvensi Keanekaragaman Hayati di Armenia dan mempertimbangkan pencalonan diri sebagai tuan rumah COP18 pada 2028.

Pasar yang menjadi sandarannya

Logika pembiayaannya ditetapkan oleh Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework, yang diadopsi 196 pihak pada Desember 2022. Goal D kerangka itu menyebut kesenjangan pembiayaan keanekaragaman hayati sebesar US$700 miliar per tahun. Target 19 mewajibkan para pihak memobilisasi sekurangnya US$200 miliar per tahun dari sumber publik dan swasta pada 2030, dan secara eksplisit menyebut kredit biodiversitas di antara instrumen inovatif yang diharapkan membantu menutup kesenjangan itu, berdampingan dengan obligasi hijau dan pembayaran jasa ekosistem.

Hasil mobilisasi itu masih belum pasti, dan proyeksi yang terbit menyatakannya terus terang. Kajian World Economic Forum bersama McKinsey memodelkan tiga jalur permintaan global. Pada jalur pengembangan terbatas, permintaan tahunan hanya mencapai sekitar US$6 miliar pada 2050. Bila tata kelolanya berkembang efektif, angkanya mencapai sekitar US$69 miliar. Pada skenario transformasional dengan dukungan kebijakan yang kuat dan adopsi target alam yang luas di kalangan korporasi, angkanya mencapai sekitar US$180 miliar. Angka 2030 setara sederhananya, berkisar dari sekitar US$760 juta hingga US$7 miliar.

Rentang antara jalur-jalur itu adalah perbedaan ukuran pasar hingga tiga puluh kali lipat, dan variabel yang memisahkannya adalah kualitas tata kelola, bukan potensi ekologis. Tepat di titik itulah penekanan Indonesia pada integritas tinggi diarahkan.

Mengapa pengukuran menjadi kendala penentu

Setiap unsur dari rangkaian ini bergantung pada satu kemampuan. Kredit adalah klaim bahwa suatu capaian ekologis yang terukur benar-benar terjadi. Bila pengukurannya lemah, kreditnya lemah, dan pasar akan mendiskontonya atau bahkan tidak terbentuk sama sekali.

Persyaratan itu lebih menuntut daripada kedengarannya. Kredit biodiversitas memerlukan garis dasar kondisi ekosistem yang ditetapkan sebelum intervensi, metode yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mengukur perubahan terhadap garis dasar itu, atribusi perubahan pada intervensi dan bukan pada variasi alamiah, serta verifikasi independen atas seluruh rantai tersebut. Ia memerlukan indikator spesies dan habitat, kualitas air, kondisi tanah, tutupan tajuk dan perubahan penggunaan lahan, yang dilacak selama bertahun-tahun, bukan diambil sekali sampel.

Indonesia sudah memiliki sebagian besar perangkatnya. Permen LH No. 7 Tahun 2014 mengatur cara menghitung kerusakan ekologis, kerugian ekonomi lingkungan, dan biaya pemulihan, yang merupakan disiplin pengukuran yang sama dan diterapkan ke arah sebaliknya. Proses AMDAL menghasilkan data garis dasar lingkungan di seluruh kegiatan berizin. Penginderaan jauh satelit dan drone kini membuat perubahan tutupan lahan terukur pada skala bidang dengan biaya yang wajar, dan ekologi lapangan menyediakan data lapangan yang tidak dapat dihasilkan penginderaan jauh.

Yang selama ini belum ada adalah rutinitasnya: pengukuran berkala, hasil yang dipublikasikan, pembandingan terhadap kondisi yang teramati, dan penyesuaian. Instrumen kredit menciptakan alasan finansial untuk membangun rutinitas itu, dan justru di situlah sumbangan yang lebih bertahan lama.

Di mana konsesi tambang berada

Pemberitaan atas forum September mencatat bahwa perusahaan tambang merupakan peserta potensial, melalui kegiatan pengelolaan dan restorasi lingkungan di lokasi operasionalnya, dengan manfaat yang dibagikan kepada masyarakat sekitar. Mekanisme operasionalnya menunggu kerangka kebijakan, sehingga hal ini masih berupa arah, belum menjadi aturan.

Meski demikian logikanya kokoh. Konsesi tambang mencakup wilayah yang luas dan berbatas tegas, dengan kewajiban hukum reklamasi yang sudah berlaku. Dana jaminan reklamasi sudah menempatkan uang untuk pemulihan lahan. Perusahaan sudah melaporkan hektare yang dikembalikan. Yang umumnya belum mereka laporkan adalah kondisi ekologis hektare tersebut, sebab hektare yang direklamasi adalah ukuran luas sedangkan kredit biodiversitas menuntut ukuran kondisi.

Pelaku usaha yang mampu menunjukkan perbaikan ekologis yang terukur memegang sesuatu yang tidak dapat disampaikan oleh hitungan hektare: bukti kinerja lingkungan dalam bentuk yang dapat dibaca oleh regulator, pemberi dana, dan pasar sekaligus.

Perbedaan itu penting melampaui pendapatan dari kredit. Data kondisi terukur yang sama menopang pelaporan kepatuhan kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menopang pembelaan atas rekam jejak lingkungan pelaku usaha, dan menopang proses pelepasan dana jaminan reklamasi. Pendapatan kredit, bila kelak terwujud, adalah imbal hasil tambahan atas kerja pengukuran yang sudah memiliki beberapa pembenaran lain.

Pandangan Sirkularium

Bagi pemerintah, urutan langkah yang terlihat di sini sudah tepat. Indonesia menetapkan prinsip, lokasi rintisan, dan kerangka pengaturan sebelum menerbitkan kredit, bukan menerbitkan lebih dulu lalu membangun integritas belakangan. Proyeksinya memperkuat alasan bagi kesabaran itu: pembeda antara pasar senilai US$6 miliar dan US$180 miliar adalah tata kelola, dan tata kelola tidak dapat dipasang belakangan pada pasar yang telanjur kehilangan kredibilitas. Dua hal layak diamati. Pertama, apakah standar pengukuran yang diterbitkan untuk 13 taman nasional rintisan cukup spesifik untuk diaudit. Kedua, apakah aturan penerimaan negara yang sedang disusun Kementerian Kehutanan memungkinkan pembagian manfaat kepada masyarakat berjalan sebagaimana dirancang.

Bagi pelaku usaha, implikasi praktisnya menyangkut kesiapan, bukan keikutsertaan. Ketika kerangkanya dibuka, perusahaan yang dapat masuk adalah yang sudah memegang garis dasar terverifikasi atas tutupan lahan, kualitas air, kondisi tanah, dan keanekaragaman hayati di seluruh konsesinya, beserta deret waktu yang konsisten terhadap garis dasar itu. Garis dasar tidak dapat ditetapkan secara surut. Perusahaan yang baru mulai mengukur ketika aturannya terbit telah kehilangan tahun-tahun pembanding yang memberi nilai pada sebuah kredit.

Rekomendasi Sirkularium kepada klien pertambangan tidak berubah dan menjadi lebih konkret oleh perkembangan ini. Lakukan valuasi ekonomi atas kondisi konsesi secara ketat dan terverifikasi independen sebagai praktik berkelanjutan, dengan memadukan penginderaan jauh dan data lapangan serta menerapkan metodologi yang telah dikodifikasi Indonesia. Jalankan dalam siklus berkala, bukan sebagai respons atas temuan. Kerja itu sudah dibenarkan oleh kewajiban kepatuhan dan oleh kebutuhan mempertahankan rekam jejak lingkungan di atas bukti. Kredit biodiversitas menambahkan potensi lini pendapatan pada program pengukuran yang memang layak dibangun tanpa itu sekalipun.

Yang perlu diamati berikutnya: terbitnya kerangka pengaturan kredit biodiversitas Indonesia beserta standar pengukurannya, hasil pertama dari 13 taman nasional rintisan, apakah kerangkanya secara formal diperluas ke lahan konsesi, serta hasil pencalonan Indonesia sebagai tuan rumah COP18 pada 2028.

Proyeksi permintaan global kredit biodiversitas per tahun pada 2050, menurut skenario

Values in US$ miliar per tahun

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di sumber daya berkelanjutan, Sirkularium mendampingi tata kelola air, tailing, dan ESG agar proyek sumber daya tetap kredibel dan layak diinvestasikan.

Artikel terkait

Tumpukan bijih nikel laterit di lokasi tambang Indonesia dengan truk angkut dan jembatan timbang, serta fasilitas pengolahan di kejauhan
Sumber Daya Berkelanjutan

Keputusan menteri yang ditetapkan pada 11 September 2026 dan berlaku sejak 15 September menurunkan faktor korektif bijih nikel kadar rendah menjadi 14 persen, sehingga harga patokan negara untuk bijih 1,2 persen menjadi US$24,89 per ton basah. Bagian yang menarik bukan angkanya. Indonesia kini mengiterasi sebuah metode valuasi sumber daya secara terbuka.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Lembaran katoda tembaga dan infrastruktur pemurnian di dalam kompleks smelter tembaga besar di Indonesia, dengan fasilitas pelabuhan industri di kejauhan
Sumber Daya Berkelanjutan

PT Freeport Indonesia kembali memproduksi katoda tembaga di Smelter Manyar, Gresik, senilai US$3,7 miliar pada September 2026, dengan target 5 juta pon bulan ini dan naik menjadi 57 juta pon pada Desember. Sisi produksi dari neraca ini sudah terukur dengan baik. Sisi ekosistem yang menopangnya adalah tempat pekerjaan valuasi Indonesia berikutnya berada.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pemandangan udara fasilitas pengolahan nikel atau bauksit di Indonesia dengan lahan hijau hasil reklamasi di bagian depan
Sumber Daya Berkelanjutan

Dalam acara sosialisasi jurnalistik di Universitas Indonesia pada 13 September, holding tambang negara MIND ID melaporkan pendapatan grup Rp159,46 triliun dan kontribusi ke negara Rp92,56 triliun untuk 2025, disertai penanaman 7,48 juta pohon dan reklamasi lebih dari 7.800 hektare lahan.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Lahan bekas tambang timah di Bangka Belitung yang telah direvegetasi dengan pohon muda dan badan air yang dipulihkan, berdampingan dengan bentang yang belum tersentuh
Sumber Daya Berkelanjutan

Angka yang diterbitkan pada 13 September 2026 memaparkan satu dekade reklamasi timah: 3.575,8 hektare dipulihkan antara 2015 dan 2025, 354,05 hektare sepanjang 2025 saja, dan 411,16 hektare direncanakan untuk 2026 di enam kabupaten. Indonesia menghitung hektare reklamasi dengan cermat. Yang belum dihitung adalah apa yang dihasilkan hektare tersebut.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Lahan bekas tambang batubara di Kalimantan Selatan yang telah direvegetasi dengan tegakan pohon muda dan kolam pengendap, ditinjau pejabat yang berkunjung
Sumber Daya Berkelanjutan

Komisi III DPRD Kalimantan Selatan meninjau dua operasi batubara di Tanah Laut pada 11 September 2026. PT Jorong Barutama Greston melaporkan 1.216,84 hektare telah direklamasi dari 1.416,89 hektare lahan terganggu, rehabilitasi daerah aliran sungai 2.642,96 hektare rampung seluruhnya, dan limbah B3 dicatat sampai lima angka desimal. Angka yang dilaporkan dan angka yang diverifikasi bukanlah hal yang sama, dan beginilah celah itu ditutup.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Kilang alumina dalam tahap konstruksi di samping kawasan tambang bauksit di Kalimantan, dengan tanah bauksit kemerahan dan infrastruktur pengolahan terlihat
Sumber Daya Berkelanjutan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan pada 11 September 2026 bahwa perizinan pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina milik UC Rusal di Kalimantan hampir final, menyusul pertemuan Presiden Prabowo di Eastern Economic Forum di Vladivostok. Indonesia telah membangun rantai pemurnian bauksit yang layak diukur. Alumina adalah anak tangga pertamanya, bukan yang terakhir.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca