Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Sumber Daya Berkelanjutan

Smelter Manyar Freeport kembali memproduksi katoda tembaga, dan jadwal ramp-up-nya memberi angka pada tangga nilai tembaga Indonesia

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Lembaran katoda tembaga dan infrastruktur pemurnian di dalam kompleks smelter tembaga besar di Indonesia, dengan fasilitas pelabuhan industri di kejauhan

PT Freeport Indonesia kembali memproduksi katoda tembaga di Smelter Manyar, Gresik, senilai US$3,7 miliar pada September 2026, dengan target 5 juta pon bulan ini dan naik menjadi 57 juta pon pada Desember. Sisi produksi dari neraca ini sudah terukur dengan baik. Sisi ekosistem yang menopangnya adalah tempat pekerjaan valuasi Indonesia berikutnya berada.

Sekilas data
US$3,7 miliar
Investasi Smelter Manyar, sekitar Rp58 triliun
1,7 juta ton
Konsentrat tembaga yang dapat diolah Smelter Manyar setiap tahun pada kapasitas penuh
800 juta pon
Target katoda tembaga Freeport Indonesia 2026 dari kedua smelter
Rp108 triliun
PNBP mineral dan batubara yang terkumpul hingga 31 Agustus 2026

PT Freeport Indonesia memastikan pada 15 September 2026 bahwa smelter katoda tembaga yang dioperasikannya di Java Integrated Industrial and Port Estate di Manyar, Gresik, Jawa Timur, telah kembali berproduksi. Perusahaan menargetkan 5 juta pon katoda tembaga dari fasilitas tersebut bulan ini. Diukur terhadap kapasitas desain pabrik, angka itu kecil. Diukur terhadap dua belas bulan terakhir, inilah saat investasi hilirisasi mineral swasta terbesar di Indonesia kembali mengubah modal menjadi keluaran yang dapat dihitung, dinilai, dan dipajaki.

Pengaktifan kembali ini penting karena apa yang mendahuluinya. Pasokan konsentrat ke Manyar terbatas setelah longsor di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave di Papua pada 8 September 2025. Sepanjang semester pertama 2026, Grasberg Block Cave beroperasi pada sekitar 50 persen kapasitas, dan konsentrat yang tersedia dialokasikan ke PT Smelting, fasilitas lama di kawasan industri yang sama. Manyar memiliki tanur dan fasilitas pemurnian, tetapi tidak memiliki umpan. Pengiriman konsentrat dimulai kembali pada Agustus 2026, dan produksi menyusul pada September.

Pengaktifan kembali yang diukur dalam pon, bukan dalam pengumuman

Tony Wenas, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, telah menyampaikan jadwal ini pada Juni, dengan menyebut bahwa pengolahan konsentrat akan dimulai lagi pada Agustus dan produksi menyusul sekitar September. Jadwal itu terpenuhi. Yang baru tersedia sekarang adalah rinciannya: ramp-up bulan demi bulan, bukan sekadar target tahunan.

Ada satu angka yang perlu dicatat dengan hati-hati. ANTARA melaporkan target September sebesar 5 juta pon katoda tembaga. CNBC Indonesia, yang memberitakan pengaktifan kembali yang sama pada hari yang sama, menyebut keluaran sekitar 5.000 ton. Kedua angka itu bukan kuantitas yang sama, karena 5 juta pon setara dengan kurang lebih 2.270 ton. Sirkularium mencatat perbedaan ini alih-alih memilih salah satu sumber. Bagi siapa pun yang menyusun model valuasi atas pengaktifan kembali ini, konvensi satuan lebih penting daripada yang terlihat, dan rekonsiliasinya sebaiknya datang dari pelaporan perusahaan sendiri, bukan dari penyimpulan.

Jadwal ramp-up dan nilainya

Lintasan yang dipublikasikan berjalan sebagai berikut. Lima juta pon pada September. Tiga puluh lima juta pon pada Oktober. Lima puluh lima juta pon pada November. Lima puluh tujuh juta pon pada Desember. Lajunya kemudian naik lagi, dengan indikasi 137 juta pon pada kuartal pertama 2027 dan 145 juta pon pada kuartal kedua.

Di belakang ramp-up itu berdiri pabrik yang dibangun dengan biaya US$3,7 miliar, sekitar Rp58 triliun, yang dirancang untuk mengolah hingga 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun. Kapasitas desain untuk katoda tembaga sedikit berbeda antarsumber, muncul sebagai 600.000 ton dalam sebagian laporan dan 650.000 ton dalam laporan lain, dan Sirkularium sekali lagi mencatat keduanya alih-alih menyelesaikannya secara diam-diam. Fasilitas Precious Metal Refinery yang menyatu dengan smelter memiliki kapasitas 6.000 ton per tahun, tempat emas, perak, dan produk sampingan lain dipulihkan, dengan keluaran emas pada kisaran 50 ton per tahun pada operasi penuh. Tahap konstruksi menyerap hingga 11.000 pekerja.

Jalur kapasitas perusahaan sendiri menempatkan Grasberg Block Cave pada sekitar 65 persen pada semester kedua 2026, 75 persen pada semester pertama 2027, dan pemulihan penuh pada 2028. Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) Freeport yang disetujui untuk 2026 menetapkan produksi tembaga 478.000 ton dan emas 26 ton, keduanya direvisi turun dari proyeksi sebelumnya akibat longsor tersebut.

Smelter yang menganggur menanggung biaya modal yang sama dengan smelter yang beroperasi. Hanya salah satunya yang menghasilkan nilai yang dapat dibagi bersama negara.

Untuk neraca publik, angkanya sudah tersusun. Freeport Indonesia memproyeksikan setoran negara sebesar US$2,6 miliar pada 2026, sekitar Rp46,8 triliun, yang terdiri dari US$1,1 miliar dividen kepada MIND ID, sekitar US$1 miliar pajak, dan US$500 juta royalti. Angka itu mengasumsikan 800 juta pon katoda tembaga dari kedua smelter, 700.000 ons emas, harga tembaga US$6 per pon, dan harga emas US$4.500 per ons. Perusahaan memperkirakan US$4,7 miliar pada 2027 dan di atas US$7 miliar per tahun setelah operasi mencapai kapasitas penuh pada 2028.

Semua itu berada dalam gambaran penerimaan sumber daya yang sedang naik. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melaporkan pada 10 September 2026 bahwa PNBP dari mineral dan batubara mencapai Rp108 triliun hingga 31 Agustus 2026, naik Rp21 triliun dari Rp87 triliun pada periode yang sama 2025, dengan batubara Rp66 triliun dan nikel Rp21 triliun. Tri Winarno, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, menggambarkan sikap kementerian sebagai optimum production, yaitu produksi yang diseimbangkan dengan kondisi pasar, kewajiban domestik, harga, logistik, dan umur cadangan.

Di mana tangga nilai benar-benar menambah nilai

Argumen untuk peleburan di dalam negeri selalu merupakan argumen valuasi, bukan argumen volume. Konsentrat yang diekspor dinilai sebagai produk antara dan menanggung biaya pengolahan serta pemurnian yang terakumulasi di luar negeri. Katoda adalah logam jadi yang dijual pada harga logam. Fasilitas pemurnian logam mulia menangkap emas dan perak yang jika tidak akan meninggalkan negeri ini di dalam aliran konsentrat. Manyar dibangun untuk menaikkan tembaga Indonesia pada tangga itu, dan jadwal ramp-up ini adalah pengukuran jelas pertama tentang seberapa cepat negeri ini menaikinya dalam praktik.

Inilah bagian dari ekonomi sumber daya yang kini diukur Indonesia dengan baik. Investasi tercatat. Produksi tercatat. Royalti, pajak, dan dividen tercatat, diproyeksikan, dan dibahas dalam rapat dengar pendapat parlemen. Neraca di sisi penerimaan bersifat rinci dan terbuka.

Separuh neraca yang belum dinilai

Separuh lainnya lebih tipis. Rantai nilai tembaga yang dimulai di Grasberg dan berakhir di Gresik melewati daerah tangkapan air, sistem pengelolaan tailing, lahan hutan dan pesisir, serta tapak pelabuhan dan kawasan industri. Masing-masing membawa posisi ekosistem yang dikaji pada tahap perizinan melalui AMDAL, dipantau melalui PROPER dan persyaratan persetujuan lingkungan, serta sebagian dijamin melalui dana jaminan reklamasi. Yang jarang tersedia adalah satu angka moneter berjalan untuk kondisi modal alam tersebut, yang diperbarui pada siklus yang sama dengan angka produksi dan penerimaan.

Metodologinya sudah ada. Permen LH No. 7 Tahun 2014 telah mengatur cara Indonesia menilai kerusakan ekologis, kerugian ekonomi lingkungan, dan biaya pemulihan, dan pengadilan Indonesia telah menerapkannya untuk menghasilkan angka rupiah yang konkret. Penginderaan jauh dan GIS kini membuat perubahan tutupan lahan, luas reklamasi, dan tapak gangguan dapat diukur dengan biaya rendah dan pada jadwal yang dapat diulang. Valuasi jasa ekosistem dapat melekatkan angka pada pengaturan air, perikanan, keanekaragaman hayati, serta stok tanah dan karbon. Kesenjangannya bukan soal teknis. Kesenjangannya adalah bahwa instrumen ini biasanya baru digunakan setelah ada sengketa, bukan dijalankan sebagai pembukuan rutin berdampingan dengan neraca produksi.

Pandangan Sirkularium

Pengaktifan kembali Manyar adalah perkembangan yang konstruktif bagi kebijakan hilirisasi Indonesia, dan keterbukaan seputar jadwal ramp-up-nya sendiri patut dicatat. Pemerintah memiliki jalur produksi bulanan, proyeksi setoran negara, dan angka RKAB sebagai pembanding. Itu adalah kebijakan industri yang terinstrumentasi dengan baik, dan mencerminkan kerja yang konsisten dari Kementerian ESDM dalam tata kelola mineral dan batubara.

Bagi pemerintah dan institusi publik, pembacaan Sirkularium adalah bahwa neraca lingkungan layak mendapat instrumentasi yang setara. Tiga langkah praktis mengikuti. Pertama, sandingkan setiap tonggak hilirisasi besar dengan valuasi berkala dan terverifikasi secara independen atas kondisi ekosistem yang menopang rantai pemasoknya, disusun dari GIS dan penginderaan jauh ditambah data lapangan, serta dihitung dengan metodologi nasional yang baku. Kedua, perlakukan dana jaminan reklamasi sebagai rekening modal alam yang hidup, bukan sebagai simpanan yang diperiksa saat penutupan tambang, sehingga kecukupannya diuji terhadap kondisi terukur setiap tahun. Ketiga, publikasikan angka lingkungan pada kadensi yang sama dengan angka produksi, karena angka yang hanya muncul saat sengketa berbobot lebih ringan dibanding angka yang memiliki rekam jejak.

Bagi operator, logika yang sama berlaku sebagai argumen kepatuhan, bukan argumen reputasi. Perusahaan yang dapat menyampaikan kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebuah seri valuasi yang cermat dan terverifikasi independen atas posisi lahan, air, dan ekosistemnya berada pada posisi yang jauh lebih kuat dibanding perusahaan yang baru menyusun bukti setelah ada temuan. Valuasi yang dijalankan sebagai praktik tetap lebih murah, lebih dapat dipertahankan, dan lebih berguna bagi perencanaan dibanding valuasi yang dijalankan sebagai respons krisis.

Apa yang perlu diamati berikutnya cukup jelas. Apakah angka Oktober sebesar 35 juta pon tercapai, apakah Grasberg Block Cave mencapai target 65 persen pada semester kedua, dan apakah pelaporan lingkungan yang melekat pada rantai tembaga mulai memuat angka sespesifik pelaporan produksi saat ini.

Ramp-up produksi katoda tembaga Smelter Manyar, 2026

Values in juta pon

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di sumber daya berkelanjutan, Sirkularium mendampingi tata kelola air, tailing, dan ESG agar proyek sumber daya tetap kredibel dan layak diinvestasikan.

Artikel terkait

Tumpukan bijih nikel laterit di lokasi tambang Indonesia dengan truk angkut dan jembatan timbang, serta fasilitas pengolahan di kejauhan
Sumber Daya Berkelanjutan

Keputusan menteri yang ditetapkan pada 11 September 2026 dan berlaku sejak 15 September menurunkan faktor korektif bijih nikel kadar rendah menjadi 14 persen, sehingga harga patokan negara untuk bijih 1,2 persen menjadi US$24,89 per ton basah. Bagian yang menarik bukan angkanya. Indonesia kini mengiterasi sebuah metode valuasi sumber daya secara terbuka.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pemandangan udara fasilitas pengolahan nikel atau bauksit di Indonesia dengan lahan hijau hasil reklamasi di bagian depan
Sumber Daya Berkelanjutan

Dalam acara sosialisasi jurnalistik di Universitas Indonesia pada 13 September, holding tambang negara MIND ID melaporkan pendapatan grup Rp159,46 triliun dan kontribusi ke negara Rp92,56 triliun untuk 2025, disertai penanaman 7,48 juta pohon dan reklamasi lebih dari 7.800 hektare lahan.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Lahan bekas tambang timah di Bangka Belitung yang telah direvegetasi dengan pohon muda dan badan air yang dipulihkan, berdampingan dengan bentang yang belum tersentuh
Sumber Daya Berkelanjutan

Angka yang diterbitkan pada 13 September 2026 memaparkan satu dekade reklamasi timah: 3.575,8 hektare dipulihkan antara 2015 dan 2025, 354,05 hektare sepanjang 2025 saja, dan 411,16 hektare direncanakan untuk 2026 di enam kabupaten. Indonesia menghitung hektare reklamasi dengan cermat. Yang belum dihitung adalah apa yang dihasilkan hektare tersebut.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Lahan bekas tambang batubara di Kalimantan Selatan yang telah direvegetasi dengan tegakan pohon muda dan kolam pengendap, ditinjau pejabat yang berkunjung
Sumber Daya Berkelanjutan

Komisi III DPRD Kalimantan Selatan meninjau dua operasi batubara di Tanah Laut pada 11 September 2026. PT Jorong Barutama Greston melaporkan 1.216,84 hektare telah direklamasi dari 1.416,89 hektare lahan terganggu, rehabilitasi daerah aliran sungai 2.642,96 hektare rampung seluruhnya, dan limbah B3 dicatat sampai lima angka desimal. Angka yang dilaporkan dan angka yang diverifikasi bukanlah hal yang sama, dan beginilah celah itu ditutup.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Kilang alumina dalam tahap konstruksi di samping kawasan tambang bauksit di Kalimantan, dengan tanah bauksit kemerahan dan infrastruktur pengolahan terlihat
Sumber Daya Berkelanjutan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan pada 11 September 2026 bahwa perizinan pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina milik UC Rusal di Kalimantan hampir final, menyusul pertemuan Presiden Prabowo di Eastern Economic Forum di Vladivostok. Indonesia telah membangun rantai pemurnian bauksit yang layak diukur. Alumina adalah anak tangga pertamanya, bukan yang terakhir.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Tumpukan bijih nikel di samping fasilitas pengolahan di Sulawesi, dengan jalan angkut dan lereng yang telah direklamasi di latar belakang
Sumber Daya Berkelanjutan

Kementerian ESDM melaporkan pada 10 September 2026 bahwa penerimaan negara bukan pajak dari nikel mencapai Rp21 triliun hingga 31 Agustus, berbanding Rp10 triliun setahun sebelumnya. Pada rentang yang sama produksi bijih nikel turun dari 320,37 juta ton menjadi 173,79 juta ton. Lebih sedikit material keluar dari perut bumi dan lebih banyak nilai kembali darinya.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca