Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Sumber Daya Berkelanjutan

PT Timah telah memulihkan 3.575,8 hektare di Bangka Belitung, dan pertanyaan yang terbuka adalah berapa nilai lahan pulih itu sekarang

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Lahan bekas tambang timah di Bangka Belitung yang telah direvegetasi dengan pohon muda dan badan air yang dipulihkan, berdampingan dengan bentang yang belum tersentuh

Angka yang diterbitkan pada 13 September 2026 memaparkan satu dekade reklamasi timah: 3.575,8 hektare dipulihkan antara 2015 dan 2025, 354,05 hektare sepanjang 2025 saja, dan 411,16 hektare direncanakan untuk 2026 di enam kabupaten. Indonesia menghitung hektare reklamasi dengan cermat. Yang belum dihitung adalah apa yang dihasilkan hektare tersebut.

Sekilas data
3.575,8 hektare
Lahan bekas tambang yang direklamasi di Bangka Belitung antara 2015 dan 2025
354,05 hektare
Direklamasi sepanjang 2025
411,16 hektare
Reklamasi yang direncanakan untuk 2026 di enam kabupaten dan wilayah lintas kabupaten
78,21 hektare
Direklamasi pada semester pertama 2026

PT Timah memaparkan rekam reklamasinya untuk Bangka Belitung dalam angka yang diterbitkan pada 13 September 2026. Antara 2015 dan 2025 perusahaan memulihkan 3.575,8 hektare lahan bekas tambang timah. Sebarannya di provinsi itu cukup rinci: 916,35 hektare di Kabupaten Bangka, 823,80 hektare pada wilayah lintas kabupaten, 659,01 hektare di Belitung Timur, 514,23 hektare di Bangka Barat, 269,33 hektare di Belitung, 224,31 hektare di Bangka Tengah, dan 168,75 hektare di Bangka Selatan.

Laju terakhirnya stabil, bukan dramatis. Perusahaan mereklamasi 354,05 hektare sepanjang 2025, dan 78,21 hektare pada semester pertama 2026. Untuk 2026 secara keseluruhan perusahaan telah mengajukan rencana mencakup 411,16 hektare di enam kabupaten dan wilayah lintas kabupaten.

Pekerjaannya sendiri digambarkan dengan istilah yang sudah dikenal: penataan lahan, pengelolaan tanah pucuk, revegetasi memakai tanaman cepat tumbuh dan produktif berdampingan dengan jenis lokal, pemulihan sungai, penanaman mangrove, dan program konservasi keanekaragaman hayati. Pekerjaan di laut berjalan seiring, termasuk penempatan terumbu buatan.

Sebuah angka yang terpelihara baik

Sirkularium berulang kali menyampaikan sepanjang tahun ini bahwa Indonesia mengukur sisi penerimaan dari pertambangan secara rinci dan sisi lingkungannya nyaris tidak sama sekali. Inilah kasus ketika generalisasi tersebut perlu diberi catatan.

Hektare reklamasi dihitung. Dihitung menurut perusahaan, menurut kabupaten, menurut tahun, dan terhadap rencana tahunan yang diajukan di muka. Reklamasi adalah syarat izin, dana jaminan reklamasi berdiri di belakangnya, dan angkanya dilaporkan cukup terbuka sehingga rekam satu dekade dapat disusun dalam satu tabel. Pada aspek luasan, pencatatannya bekerja.

Yang belum ada adalah kolom berikutnya. Hitungan hektare memberi tahu berapa banyak lahan yang telah ditangani. Hitungan itu tidak memberi tahu apa yang kini dikerjakan lahan tersebut.

Dua hektare lahan pulih dapat mencatatkan entri yang sama dalam pembukuan namun menghasilkan hal yang sama sekali berbeda. Yang satu mungkin menopang daerah tangkapan air yang berfungsi dan lahan garapan yang produktif. Yang lain mungkin lereng berisi pohon cepat tumbuh di atas timbunan padat tanpa profil tanah yang pantas disebut demikian.

Anggi Siahaan, Department Head Corporate Communication PT Timah, menunjuk pada pembedaan yang tepat. Reklamasi, katanya, bukan semata kewajiban regulasi. Perusahaan berupaya memulihkan lahan bekas tambang agar berfungsi sebagai ruang hijau atau kawasan produktif yang bermanfaat bagi masyarakat, dan mendorong agar lahan hasil reklamasi memberikan manfaat ekologis sekaligus nilai ekonomi bagi penduduk sekitar.

Manfaat ekologis sekaligus nilai ekonomi adalah pernyataan valuasi. Pernyataan itu juga, untuk saat ini, masih berupa cita-cita tanpa pengukuran yang melekat padanya.

Berapa sebenarnya nilai satu hektare bisa ditunjukkan

Metodologi untuk menutup celah itu sudah ada dalam regulasi Indonesia dan telah dibuktikan dalam praktik tahun ini.

Permen LH No. 15 Tahun 2012 mengatur cara menilai ekosistem hutan, mencakup manfaat langsung, jasa tidak langsung, nilai keberadaan, serta nilai pilihan dan warisan. Diterapkan di Morowali dengan tumpang susun spasial GIS serta metode pasar dan benefit transfer, pedoman itu menghasilkan nilai ekonomi total hutan kabupaten tersebut sebesar Rp2,81 triliun per tahun, angka yang melampaui pendapatan tahunan kabupaten itu sendiri. Pedoman yang sama dapat diterapkan pada lahan yang dipulihkan. Permen LH No. 7 Tahun 2014 mengurus arah sebaliknya, yaitu menilai kerusakan ekologis dan biaya pemulihan, dan pengadilan telah menggunakannya untuk sampai pada putusan yang konkret.

Reklamasi timah di Bangka Belitung sangat cocok untuk perlakuan semacam ini. Bentang lahan tertambang di provinsi itu didominasi pasir tailing dan bekas kolong, tempat pertanyaan yang relevan bersifat terukur dan berdampak lokal: apakah bahan organik tanah telah pulih, apakah badan air menopang perikanan, apakah salinitas atau keasaman bergeser, apakah vegetasinya mampu bertahan sendiri tanpa penanaman ulang, dan apakah lahan itu menghasilkan pendapatan bagi seseorang. Penginderaan jauh memberi tutupan tajuk dan luas badan air pada jadwal berulang. Pengambilan sampel lapangan memberi kimia tanah dan air. Keduanya tidak mahal pada skala ini.

Perusahaan yang telah menangani 3.575,8 hektare selama satu dekade, pada dasarnya, memiliki uji lapangan sepuluh tahun. Data untuk menyatakan pendekatan reklamasi mana yang menghasilkan nilai bertahan dan mana yang tidak sebagian besar sudah ada di dalam tanah.

Mengapa ini penting melampaui satu perusahaan

Indonesia sedang berada di tengah upaya luas untuk menilai ekonomi sumber dayanya secara akurat. Formula harga patokan disusun ulang tahun ini. Kuota produksi dikaitkan dengan kontribusi royalti. Sistem satu pintu ekspor kini merekonsiliasi nilai yang dilaporkan terhadap data kepabeanan dan mitra dagang. Bursa komoditas nasional dijadwalkan dibuka pada Januari untuk membentuk harga referensi dalam negeri. Penerimaan negara bukan pajak dari nikel berlipat dua sementara produksi bijih turun mendekati separuh, dan itulah bukti paling jelas sejauh ini bahwa mengukur nilai secara benar mengubah hasil.

Lahan pasca tambang adalah aset yang belum dijangkau program tersebut. Aset itu ditopang dana jaminan reklamasi yang dihitung atas dasar biaya, bukan atas dasar nilai lahan yang dihasilkan, dan Indonesia sedang menyusun standar biaya reklamasi nasional untuk memperbaiki perhitungan itu. Biaya adalah dasar yang tepat bagi sebuah jaminan. Biaya adalah dasar yang keliru untuk mengetahui apakah pekerjaannya berhasil.

Pandangan Sirkularium

Rekam PT Timah di sini nyata dan pengungkapannya lebih rinci dibanding kebanyakan. Satu dekade hektare yang dirinci menurut kabupaten, disertai rencana ke depan, adalah fondasi yang kokoh. Tiga catatan bagi pemerintah dan institusi publik.

Pertama, standar pelaporan sebaiknya meluas dari luasan ke kondisi. Mensyaratkan seperangkat kecil indikator kondisi yang tetap berdampingan dengan hitungan hektare, seperti tutupan tajuk, karbon organik tanah, kualitas air, dan apakah lahan berada dalam pemanfaatan produktif, akan berbiaya kecil dan akan mengubah laporan kepatuhan menjadi bukti. Perusahaan toh sudah mendatangi lokasi tersebut.

Kedua, kecukupan jaminan reklamasi sebaiknya diuji terhadap hasil terukur setiap tahun, bukan dinilai pada saat penutupan tambang. Jika hektare yang dipulihkan dapat ditunjukkan mencapai kondisi tertentu yang terdefinisi, jaminan itu telah menunaikan tugasnya. Jika tidak, itu informasi yang dibutuhkan regulator jauh sebelum sebuah tambang ditutup.

Ketiga, Bangka Belitung adalah tempat paling alamiah untuk menegakkan metodenya. Provinsi ini memiliki sejarah timah yang panjang, stok besar lahan yang telah direklamasi di tujuh kabupaten, upaya formalisasi tambang rakyat yang sedang berjalan, dan perusahaan negara yang melaporkan angkanya secara terbuka. Valuasi lahan reklamasi tingkat kabupaten di sana, dikerjakan dengan Permen LH No. 15 Tahun 2012 memakai GIS dan data lapangan, akan memberi Indonesia jawaban pertama yang dapat dipertahankan tentang berapa nilai lahan pasca tambang setelah dipulihkan.

Bagi operator, argumennya lugas dan menguntungkan mereka. Perusahaan yang dapat menunjukkan hektare reklamasinya mencapai kondisi terukur telah mengubah sebuah beban biaya menjadi aset yang dapat ditunjukkan, dan memegang bukti yang dapat diterima Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan apa adanya. Hektare saja membuktikan usaha. Kondisi membuktikan hasil, dan hanya salah satu dari keduanya yang merupakan pembelaan.

Yang perlu diamati berikutnya adalah apakah rencana 411,16 hektare untuk 2026 terpenuhi, apakah indikator kondisi mulai muncul berdampingan dengan angka luasan dalam pelaporan perusahaan, dan apakah standar biaya reklamasi nasional bergerak ke arah menilai hasil alih-alih menghitung masukan.

Reklamasi PT Timah menurut kabupaten, 2015 sampai 2025

Values in hektare

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di sumber daya berkelanjutan, Sirkularium mendampingi tata kelola air, tailing, dan ESG agar proyek sumber daya tetap kredibel dan layak diinvestasikan.

Artikel terkait

Foto udara teras bekas tambang yang telah direvegetasi di Indonesia, deretan pohon muda di samping pit aktif, dengan sudut pandang tegak lurus seperti citra satelit
Sumber Daya Berkelanjutan

Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara menyebut jaminan reklamasi yang ditempatkan perusahaan tambang naik dari sekitar Rp17 sampai 18 triliun menjadi sekitar Rp40 triliun, dengan citra satelit dipakai untuk menyesuaikan setiap jaminan dengan luas lahan yang benar-benar dibuka. Kementerian Lingkungan Hidup menambahkan bahwa keberhasilan akan dinilai di lapangan, bukan di atas kertas.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Foto udara kawasan pengolahan nikel di Sulawesi dengan timbunan bijih dan blok pemurnian, atau karung produk nikel matte dan MHP di pelabuhan
Sumber Daya Berkelanjutan

Menko Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia membuka opsi moratorium smelter nikel baru yang menghasilkan produk antara seperti NPI, feronikel, nikel matte, dan MHP, dengan merujuk kelebihan pasokan global sekitar 2,5 juta ton. Langkah ini membingkai ulang fase hilirisasi berikutnya pada seberapa besar nilai yang tertahan di Indonesia dari setiap ton bijih.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Lereng berhutan Gunung Tompotika di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, dengan lahan pertanian dan desa di latar depan
Sumber Daya Berkelanjutan

Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Tengah memutuskan bahwa persetujuan lingkungan dan dokumen AMDAL PT Anugerah Bangun Mamur dan PT Anugerah Sumber Bumi di Kabupaten Banggai merupakan informasi publik yang harus diserahkan kepada Aliansi Konservasi Tompotika dalam 14 hari kerja. Putusan ini menjadikan AMDAL sebagai acuan bersama untuk menilai hutan, air, dan satwa endemik bentang alam Tompotika.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Bendung Amandit di Desa Malutu, Hulu Sungai Selatan, dengan air jernih mengalir di atas pelimpah dan kaki Pegunungan Meratus yang berhutan di belakangnya
Sumber Daya Berkelanjutan

Bupati Hulu Sungai Selatan mengusulkan penyaluran air baku jernih dari Bendung Amandit ke intake Muara Banta yang melayani Kandangan. Instalasi pengolahan air yang dibangun dengan Rp16,8 miliar dan beroperasi 50 dari 300 liter per detik menunjukkan seberapa besar nilai yang dapat dibawa oleh sumber air yang lebih baik.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Delegasi Indonesia dan Chile dalam pertemuan bilateral di Santiago, atau sebagai alternatif foto katoda tembaga maupun fasilitas tailing modern
Sumber Daya Berkelanjutan

Di Santiago pada 1 Oktober 2026, Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno mengusulkan MoU Kemitraan Mineral Hijau Indonesia-Chile yang mencakup proyek industri bersama, koalisi negara produsen, teknologi pertambangan hijau, platform investasi, serta pengelolaan dan pemanfaatan tailing. Menteri Luar Negeri Chile menyambut baik usulan tersebut dan berjanji segera menindaklanjutinya.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Petugas kepolisian memeriksa muatan bus penumpang di Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni, Lampung Selatan, dengan botol-botol barang bukti tersegel di atas meja
Sumber Daya Berkelanjutan

Pemeriksaan rutin di Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni menghentikan 61 kilogram merkuri tanpa dokumen yang berlabel untuk pengolahan emas, dan penyidik menelusuri kiriman itu hingga ke penerimanya di Bogor. Kasus ini menunjukkan bagaimana pemutusan pasokan merkuri melengkapi komitmen Minamata Indonesia, dan mengapa kerugian lingkungan yang berhasil dicegah layak divaluasi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca