Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Sumber Daya Berkelanjutan

Indonesia menggali bijih nikel kurang lebih separuhnya dan memungut penerimaan dua kali lipat, dan rasio itulah seluruh argumen bagi valuasi

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Tumpukan bijih nikel di samping fasilitas pengolahan di Sulawesi, dengan jalan angkut dan lereng yang telah direklamasi di latar belakang

Kementerian ESDM melaporkan pada 10 September 2026 bahwa penerimaan negara bukan pajak dari nikel mencapai Rp21 triliun hingga 31 Agustus, berbanding Rp10 triliun setahun sebelumnya. Pada rentang yang sama produksi bijih nikel turun dari 320,37 juta ton menjadi 173,79 juta ton. Lebih sedikit material keluar dari perut bumi dan lebih banyak nilai kembali darinya.

Sekilas data
Rp21 triliun
PNBP nikel hingga 31 Agustus 2026, berbanding Rp10 triliun setahun sebelumnya
173,79 juta ton
Bijih nikel yang diproduksi hingga 1 September 2026, berbanding 320,37 juta ton pada 2025
Rp108 triliun
Total PNBP mineral dan batubara hingga 31 Agustus 2026
Rp66 triliun
PNBP batubara hingga 31 Agustus 2026, naik dari Rp59 triliun

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menerbitkan posisi penerimaan mineral dan batubara pada 10 September 2026, dan baris nikel di dalamnya adalah angka paling instruktif yang dihasilkan kebijakan sumber daya Indonesia tahun ini.

Penerimaan negara bukan pajak dari nikel mencapai Rp21 triliun dalam delapan bulan hingga 31 Agustus 2026. Pada periode yang sama tahun 2025 angkanya Rp10 triliun. Itu kenaikan sekitar 110 persen.

Pada rentang yang sama, produksi bijih nikel justru turun. Keluarannya tercatat 173,79 juta ton hingga 1 September 2026, berbanding 320,37 juta ton sepanjang 2025, turun kurang lebih 46 persen.

Indonesia memindahkan jauh lebih sedikit batuan dan memungut jauh lebih banyak uang darinya.

Apa yang ditunjukkan sisa neraca

Angka nikel itu berada di dalam gambaran yang lebih luas yang bergerak ke arah sama. Total PNBP dari mineral dan batubara mencapai Rp108 triliun hingga 31 Agustus 2026, berbanding Rp87 triliun pada periode yang sama 2025, naik Rp21 triliun. Batubara menyumbang Rp66 triliun, naik dari Rp59 triliun.

Tri Winarno, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, menarik kesimpulannya secara lugas. Dengan pengelolaan yang baik, dan tanpa menggenjot produksi berlebihan, hasilnya justru berdampak positif bagi negara dan bagi kita semua.

Itu cara yang tenang untuk menggambarkan pergeseran sikap yang cukup besar. Selama sebagian besar dekade terakhir, asumsi kerja dalam kebijakan sumber daya Indonesia, sebagaimana di kebanyakan ekonomi sumber daya, adalah bahwa penerimaan mengikuti volume. Angka-angka ini berkata sebaliknya, setidaknya untuk tahun ini dan untuk komoditas ini.

Dari mana tambahan nilainya datang

Ada tiga hal yang bekerja di sini, dan ketiganya layak dipisahkan karena daya tahannya berbeda.

Yang pertama adalah harga. Harga nikel pulih sepanjang periode tersebut, dan sebagian dari kenaikan penerimaan sekadar persentase royalti yang sama dikenakan pada angka acuan yang lebih tinggi. Harga adalah penyumbang paling rapuh di antara ketiganya, karena ia dapat berbalik.

Yang kedua adalah struktur royalti itu sendiri. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2025 menata ulang tarif iuran produksi pada mineral dan batubara, dan target penerimaan 2026 disusun di atas penataan itu. Perubahan tarif semacam itu menaikkan bagian negara per ton terlepas dari berapa banyak ton yang berpindah.

Yang ketiga, dan paling tahan lama, adalah menjadi apa bijih itu diolah. Larangan ekspor bijih nikel mentah berlaku sejak 2020, yang berarti produksi dalam negeri kini mengalir ke pengolahan dalam negeri alih-alih ke kapal. Kapasitas high pressure acid leach di Obi mengubah limonit menjadi bahan baku baterai. Pembuatan sel baterai telah berdiri di Karawang. Pengembangan ekosistem baterai terintegrasi berjalan di antara mitra negara dan swasta. Setiap langkah memperpanjang rantai tempat nilai Indonesia ditangkap, dan setiap langkah berarti satu ton bijih menopang lebih banyak aktivitas yang dapat dipajaki di dalam negeri dibanding ketika ia diekspor sebagai bijih.

Ekonomi sumber daya yang menaikkan penerimaan sambil menurunkan ekstraksi telah menemukan sesuatu yang lebih berharga dibanding satu ton bijih tambahan. Ia telah menemukan taksiran yang lebih baik tentang berapa sebenarnya nilai ton itu sejak awal.

Pengukuran yang dibangun Indonesia tahun ini

Hasil ini tidak datang secara kebetulan, dan ia berdiri berdampingan dengan seluruh yang telah dirakit pemerintah sepanjang 2026.

Formula harga patokan nikel dan bauksit ditulis ulang agar memperhitungkan mineral ikutan seperti besi, kobalt, dan kromium, bukan kadar nikel semata, dengan satuan hitung berpindah dari dry ke wet metric ton. Kuota produksi diperketat melalui proses RKAB dan dialokasikan dengan rujukan eksplisit pada kontribusi royalti. Pengawasan ekspor dipusatkan melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia, yang menyatukan SIMBARA, national single window, dan data kepabeanan, dengan under invoicing dan transfer pricing disebut sebagai sasaran. Bursa mineral dan komoditas strategis nasional dijadwalkan mulai beroperasi pada 1 Januari 2027 untuk membentuk Indonesia Reference Price. Penegakan hukum telah menunjukkan kemampuannya menghitung dan memulihkan kerugian secara presisi, sebagaimana ditunjukkan pengembalian Rp401,65 miliar dalam perkara dokumen kadar PT CNI.

Setiap instrumen itu memperbaiki akurasi sebuah angka. Jika disatukan, semuanya adalah program nasional untuk mengukur nilai sumber daya secara benar, dan angka penerimaan nikel adalah bukti jelas pertama bahwa program itu membuahkan hasil.

Pandangan Sirkularium

Ini capaian kebijakan yang nyata dan layak disebut demikian. Menahan produksi sementara penerimaan naik adalah jalan yang lebih sulit, hal itu menuntut penolakan terhadap refleks volume, dan Kementerian telah bertahan pada garis itu sepanjang tahun yang penuh tekanan untuk melonggarkan kuota. Bagi pemerintah dan institusi publik, tiga catatan menyusul.

Pertama, rasio itu sendiri layak dijadikan indikator yang diterbitkan. Penerimaan per ton bijih, ditelusuri menurut komoditas dan dilaporkan setiap kuartal berdampingan dengan angka produksi dan PNBP yang sudah ada, akan mengubah hasil menggembirakan tahun ini menjadi variabel yang dikelola. Hal itu juga akan memperjelas berapa besar dari perbaikan mendatang yang berasal dari harga, dari tarif, dan dari nilai tambah dalam negeri, dan itu penting karena hanya yang ketiga yang sepenuhnya berada dalam kendali Indonesia.

Kedua, penalaran yang sama meluas secara alamiah ke penyusutan sumber daya. Jika satu ton bijih kini mengembalikan lebih banyak kepada negara, maka biaya lahan, air, dan ekosistem untuk menghasilkan ton tersebut menjadi pertanyaan yang lebih besar, bukan lebih kecil, karena negeri ini memilih mengekstraksi lebih sedikit dan seharusnya ingin tahu persis berapa biaya setiap ton yang tersisa. Indonesia sudah memiliki metodologinya. Permen LH No. 7 Tahun 2014 menilai kerusakan ekologis, kerugian ekonomi lingkungan, dan biaya pemulihan. Permen LH No. 15 Tahun 2012 menilai ekosistem hutan, dan kerja Morowali menunjukkan pedoman itu menghasilkan angka yang dapat diaudit bila diterapkan dengan GIS. Yang belum ada adalah kadensinya.

Ketiga, pasangannya sudah jelas dan murah. Terbitkan penerimaan per ton dan kondisi lingkungan per ton secara bersamaan. Indonesia kemudian akan menjadi ekonomi sumber daya pertama di kawasan ini yang mampu menyatakan, dalam satu tabel, berapa yang dihasilkan satu ton bijihnya dan berapa biayanya bagi bentang alam yang menyimpannya.

Bagi operator, implikasi praktisnya adalah bahwa syarat persaingan telah bergeser. Ketika negara memungut lebih banyak per ton dan mengalokasikan kuota berdasarkan kontribusi, perusahaan yang paling berhasil adalah yang mampu menunjukkan nilai per ton pada setiap dimensi yang diukur negara. Posisi lingkungan adalah dimensi tempat pengukurannya paling tipis, dan perusahaan yang sudah memegang valuasi cermat dan terverifikasi independen atas kondisi lahan, air, dan ekosistemnya akan berada paling jauh di depan persyaratan itu.

Yang perlu diamati berikutnya adalah apakah penerimaan per ton diterbitkan sebagai sebuah seri, apakah angka setahun penuh 2026 mempertahankan pola ini setelah faktor harga dikeluarkan, dan apakah kolom lingkungan mulai dilaporkan dengan keteraturan yang sama seperti kolom penerimaan saat ini.

Penerimaan negara bukan pajak menurut komoditas, hingga 31 Agustus

Values in Rp triliun

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di sumber daya berkelanjutan, Sirkularium mendampingi tata kelola air, tailing, dan ESG agar proyek sumber daya tetap kredibel dan layak diinvestasikan.

Artikel terkait

Tumpukan bijih nikel laterit di lokasi tambang Indonesia dengan truk angkut dan jembatan timbang, serta fasilitas pengolahan di kejauhan
Sumber Daya Berkelanjutan

Keputusan menteri yang ditetapkan pada 11 September 2026 dan berlaku sejak 15 September menurunkan faktor korektif bijih nikel kadar rendah menjadi 14 persen, sehingga harga patokan negara untuk bijih 1,2 persen menjadi US$24,89 per ton basah. Bagian yang menarik bukan angkanya. Indonesia kini mengiterasi sebuah metode valuasi sumber daya secara terbuka.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Lembaran katoda tembaga dan infrastruktur pemurnian di dalam kompleks smelter tembaga besar di Indonesia, dengan fasilitas pelabuhan industri di kejauhan
Sumber Daya Berkelanjutan

PT Freeport Indonesia kembali memproduksi katoda tembaga di Smelter Manyar, Gresik, senilai US$3,7 miliar pada September 2026, dengan target 5 juta pon bulan ini dan naik menjadi 57 juta pon pada Desember. Sisi produksi dari neraca ini sudah terukur dengan baik. Sisi ekosistem yang menopangnya adalah tempat pekerjaan valuasi Indonesia berikutnya berada.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pemandangan udara fasilitas pengolahan nikel atau bauksit di Indonesia dengan lahan hijau hasil reklamasi di bagian depan
Sumber Daya Berkelanjutan

Dalam acara sosialisasi jurnalistik di Universitas Indonesia pada 13 September, holding tambang negara MIND ID melaporkan pendapatan grup Rp159,46 triliun dan kontribusi ke negara Rp92,56 triliun untuk 2025, disertai penanaman 7,48 juta pohon dan reklamasi lebih dari 7.800 hektare lahan.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Lahan bekas tambang timah di Bangka Belitung yang telah direvegetasi dengan pohon muda dan badan air yang dipulihkan, berdampingan dengan bentang yang belum tersentuh
Sumber Daya Berkelanjutan

Angka yang diterbitkan pada 13 September 2026 memaparkan satu dekade reklamasi timah: 3.575,8 hektare dipulihkan antara 2015 dan 2025, 354,05 hektare sepanjang 2025 saja, dan 411,16 hektare direncanakan untuk 2026 di enam kabupaten. Indonesia menghitung hektare reklamasi dengan cermat. Yang belum dihitung adalah apa yang dihasilkan hektare tersebut.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Lahan bekas tambang batubara di Kalimantan Selatan yang telah direvegetasi dengan tegakan pohon muda dan kolam pengendap, ditinjau pejabat yang berkunjung
Sumber Daya Berkelanjutan

Komisi III DPRD Kalimantan Selatan meninjau dua operasi batubara di Tanah Laut pada 11 September 2026. PT Jorong Barutama Greston melaporkan 1.216,84 hektare telah direklamasi dari 1.416,89 hektare lahan terganggu, rehabilitasi daerah aliran sungai 2.642,96 hektare rampung seluruhnya, dan limbah B3 dicatat sampai lima angka desimal. Angka yang dilaporkan dan angka yang diverifikasi bukanlah hal yang sama, dan beginilah celah itu ditutup.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Kilang alumina dalam tahap konstruksi di samping kawasan tambang bauksit di Kalimantan, dengan tanah bauksit kemerahan dan infrastruktur pengolahan terlihat
Sumber Daya Berkelanjutan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan pada 11 September 2026 bahwa perizinan pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina milik UC Rusal di Kalimantan hampir final, menyusul pertemuan Presiden Prabowo di Eastern Economic Forum di Vladivostok. Indonesia telah membangun rantai pemurnian bauksit yang layak diukur. Alumina adalah anak tangga pertamanya, bukan yang terakhir.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca