Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Limbah & Polusi

Data sampah nasional bertemu model ekonomi sirkular yang terbukti, di satu forum Jakarta

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Sebuah gang sempit di Jakarta yang diubah menjadi area pengolahan sampah komunitas dengan tong kompos, kolam ikan kecil, dan kandang ayam di samping mural, dengan warga merawat instalasi tersebut

Dalam forum kebersihan sekolah di Jakarta pada 19 Agustus 2026, seorang peneliti BRIN memaparkan angka timbunan sampah nasional, 144.869 ton per hari, dan menyebut landfill mining sebagai solusi yang terbukti bagi Bantargebang, sementara penggerak komunitas Taufik Supriadi menunjukkan bagaimana RT-nya sendiri di Jakarta Timur sudah mengolah sampah organik menjadi kompos, pakan maggot, pakan ikan, dan pakan unggas di skala lingkungan.

Sekilas data
144.869 ton/hari
Timbulan sampah nasional Indonesia, angka 2025 yang dipaparkan BRIN
75%
Bagian dari arus sampah nasional itu yang berasal dari rumah tangga
1.000 ton/hari
Kapasitas olah yang telah dicapai teknologi landfill mining BRIN di Bantargebang
700 ton/hari
Gabungan penyerapan bahan bakar dari sampah (RDF) oleh Indocement dan Solusi Bangun Indonesia

Forum kebersihan sekolah menjadi ajang paparan data sampah nasional

Pada 19 Agustus 2026, Guru Literasi Jakarta (Gliter Jak) bersama Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta menggelar forum bertajuk "Jaga Sekolah Bersih: Pilih, Pilah, Pulihkan" di Aula Ki Hajar Dewantara, bertepatan dengan HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia dan dibangun di sekitar program baru Dinas Pendidikan, JOSS atau Jaga dan Olah Sampah Sekolah, sebuah sistem pelaporan untuk memantau pemilahan dan pengolahan sampah di seluruh sekolah di kota. Kepala Dinas Pendidikan Nahdiana memanfaatkan acara ini untuk menegaskan kembali model operasional di balik Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026: "Pilah, yaitu sampah dari sumbernya. Angkut, sampah sesuai jenisnya. Olah, sampah sesuai kategorinya."

Momen yang lebih substansial dari forum ini datang dari dua pembicara yang membingkai skala persoalan tempat program JOSS berada di dalamnya, satu dengan data nasional, satu lagi dengan jawaban yang sudah berjalan di satu lingkungan Jakarta.

Skala persoalan: 144.869 ton per hari, dan apa yang diusulkan BRIN untuk timbunan yang ada

Prihartanto, peneliti ahli utama dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), memaparkan kepada forum bahwa Indonesia menghasilkan sekitar 144.869 ton sampah setiap hari pada 2025, dengan 75 persen berasal dari rumah tangga, dan bahwa timbunan sampah di Bantargebang saja kini setara dengan gedung 16 lantai. "Indonesia darurat sampah," katanya, menyatakan secara lugas skala timbunan nasional tanpa melemparkan kesalahan atas kondisi tersebut.

Solusi teknis yang ia usulkan, landfill mining, bukanlah hal yang bersifat spekulatif. Pusat Riset Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN telah menjalankan teknologi ini di Bantargebang sejak 2019, menggali dan mengolah kembali sampah lama yang jika dibiarkan hanya akan mengendap. Yang semula mengolah sekitar 150 ton sampah per hari, menghasilkan sekitar 30 ton bahan bakar dari sampah (RDF) dan 41,5 ton material menyerupai tanah, kini telah berkembang menjadi kapasitas olah 1.000 ton per hari. Dua produsen semen kini langsung menyerap RDF yang dihasilkan: PT Indocement menyerap 550 ton per hari dan PT Solusi Bangun Indonesia (Holcim) 150 ton per hari lainnya, dengan Indocement berencana menaikkan kapasitas penyerapannya hingga 3.000 ton per hari. Kendala teknis utama yang tersisa, menurut Prihartanto, adalah tingginya kadar air pada sampah lama hasil galian, yang masih perlu diturunkan agar memenuhi spesifikasi bahan bakar industri.

Pada sisi rumah tangga, Prihartanto menjelaskan secara spesifik seperti apa pengomposan yang baik dalam praktiknya: "Kalau oksigen cukup tidak akan menimbulkan bau. Kalau bau berarti akan timbul belatung, itu composting yang tidak sehat," oksigen yang cukup mencegah bau, dan bau menandakan pengomposan yang tidak sehat sehingga memunculkan belatung sebagai masalah, bukan sebagai sumber daya. Ia menambahkan bahwa ketika sebuah model pengolahan menghasilkan keuntungan, margin itu sendiri menjadi insentif yang membuat skema pengomposan atau pemilahan terus berjalan tanpa subsidi terus-menerus.

Contoh nyata: satu RT yang sudah menjalankan ekonomi sirkular sampah

Penggerak komunitas Taufik Supriadi melanjutkan dengan sebuah studi kasus, bukan proyeksi: RT 08/RW 04 miliknya sendiri di Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur, tempat ia menjabat sebagai ketua RT sekaligus membangun apa yang ia sebut Survival Architecture Indonesia, sebuah sistem tingkat rumah tangga yang mengubah sampah organik menjadi kompos, pakan maggot, pakan ayam petelur, dan pakan ikan lele dalam gang permukiman yang sama sempitnya. Model ini juga mencakup rumah pangan keluarga, pemanenan air hujan, instalasi surya berkapasitas 10 kilowatt peak, dan bank sampah lingkungan, dijalankan sebagai satu sistem terpadu yang dikelola warga, bukan sekadar proyek percontohan yang bergantung pada donor tunggal.

Hasilnya menarik perhatian jauh melampaui RT itu sendiri: ribuan ulasan bintang lima di Google Maps, kunjungan delegasi dari sekitar sepuluh negara, penghargaan yang diakui di Amerika Serikat, dan ketertarikan dari Korea Selatan, di samping kunjungan domestik dari kementerian, universitas, badan usaha milik negara, dan sekolah. Pesan Taufik kepada hadirin forum yang mayoritas pendidik ini disampaikan secara langsung: "Karena ini suasana kemerdekaan, bukan hanya pameran-pameran dengan mengibarkan bendera, tetapi bagaimana menjaga lingkungan untuk tetap merdeka." Pada pertanyaan spesifik tentang apa yang bisa segera dilakukan rumah tangga, ia juga tegas: sampah campuran masih bisa dipilah setelah diangkut, tetapi memilah dari rumah sebelum diangkut adalah yang benar-benar mengurangi apa yang sampai ke TPA seperti Bantargebang sejak awal.

Mengapa Jakarta memasangkan data dari atas dengan model dari bawah

Struktur forum ini, data skala nasional dari lembaga riset yang langsung disusul model satu lingkungan yang sudah berjalan, adalah pemasangan yang disengaja, bukan kebetulan jadwal. Angka 144.869 ton dari BRIN dan timbunan setara 16 lantai di Bantargebang dapat dengan mudah dibaca sebagai persoalan infrastruktur semata yang tak tertangani, yang paling baik diserahkan pada landfill mining dan kontrak pengolahan berskala besar. RT milik Taufik memberikan bagian yang hilang: bukti bahwa pemilahan di tingkat rumah tangga yang menjadi tumpuan program JOSS dan Instruksi Gubernur Nomor 5 bukanlah perubahan perilaku yang bersifat hipotetis, melainkan sistem yang sudah berjalan, berkembang, dan menarik pengakuan dari luar selama bertahun-tahun di sebuah gang biasa di Jakarta.

Tidak satu pun dari keduanya berjalan tanpa yang lain. Landfill mining dan penyerapan RDF oleh produsen semen menangani timbunan lama yang sudah menumpuk; keduanya tidak memperlambat sekitar 75 persen sampah baru yang terus datang dari rumah tangga setiap hari. Model Malaka Jaya yang direplikasi menangani arus masuk dari sumbernya, tetapi tidak memberi jawaban atas timbunan setara 16 lantai yang sudah ada di Bantargebang. Menyajikan keduanya dalam forum yang sama, kepada hadirin pendidik yang akan membawa pesan pemilahan ke sekolah-sekolah di seluruh kota, memperlakukan keduanya sebagai jalur yang saling melengkapi pada garis waktu yang sama, bukan klaim yang saling bersaing tentang intervensi mana yang lebih penting.

Pandangan Sirkularium

Bagi pemerintah dan lembaga publik, pelajaran yang berguna dari forum ini bukanlah angka timbunan sampah itu sendiri, yang sebagian besar hanya menegaskan kembali persoalan skala yang sudah lama dipahami, melainkan pemasangan eksplisit antara solusi teknis nasional dan model komunitas yang terdokumentasi serta dapat direplikasi, dalam satu sesi yang sama. Program seperti JOSS berhasil atau gagal tergantung pada apakah kebiasaan pemilahan di rumah tangga dan institusi benar-benar berubah, dan RT milik Taufik adalah bukti bahwa versi perubahan kebiasaan itu, yang dipimpin warga dan mampu membiayai dirinya sendiri secara ekonomi, dapat dicapai tanpa harus menunggu infrastruktur kota terlebih dahulu mengejar ketertinggalan.

Metrik yang layak dipantau selanjutnya bukan soal tonase, melainkan soal penyebaran: apakah sistem pelaporan baru JOSS benar-benar menampilkan sekolah dan lingkungan mana yang memilah secara efektif, dan apakah model seperti Survival Architecture Indonesia direplikasi secara terstruktur, melalui kemitraan kampus dan pesantren yang sudah mulai dirintis Taufik, alih-alih diperlakukan sebagai satu pengecualian yang dirayakan namun tetap terkurung di satu gang di Duren Sawit.

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di limbah dan polusi, Sirkularium membantu merancang sistem pengumpulan, pemilahan, dan pemulihan, menyusun kebijakan dan peta jalan, serta mengubah sampah menjadi sumber daya yang terkelola.

Artikel terkait

Para bankir dan pejabat pembiayaan proyek di sekitar meja meninjau tata letak fasilitas pengolahan sampah menjadi energi, dengan fasilitas PSEL modern yang sedang dibangun tampak di layar di belakang mereka
Limbah & Polusi

Pada 16 Oktober 2026, Danantara Investment Management dan anak usahanya di bidang pengolahan sampah menjadi energi, Denera, menetapkan 34 institusi keuangan sebagai anggota lenders panel program PSEL Indonesia, dengan minat pembiayaan indikatif lebih dari tiga kali estimasi kebutuhan utang program.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Nelayan di sebuah pelabuhan perikanan Indonesia memilah dan mengikat jaring insang nilon serta tali yang sudah usang di dermaga untuk dikumpulkan dan didaur ulang, dengan kapal ikan bersandar di belakangnya
Limbah & Polusi

Kementerian Kelautan dan Perikanan menerbitkan Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Nomor 23 Tahun 2026, pedoman nasional pengelolaan alat penangkapan ikan yang ditinggalkan, hilang, dibuang, maupun yang sudah habis masa pakainya dengan prinsip 3R. Uji coba dimulai di tiga pelabuhan perikanan, didukung mitra lapangan di Merauke, Muncar, Pengambengan dan Gresik.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Foto udara kawasan TPST Bantargebang dengan lahan yang telah dibersihkan dan diratakan untuk fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik di samping zona timbunan sampah yang ada
Limbah & Polusi

Gubernur Pramono Anung menyampaikan pada 7 Oktober bahwa persoalan penyediaan lahan yang selama ini menahan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik Jakarta di Bantargebang telah menemukan jalan keluar, dan kota berharap masuk batch ketiga program nasional agar pembangunan dapat dimulai sebelum akhir 2026.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Mahasiswa berjaket almamater membantu warga memilah sampah rumah tangga organik dan anorganik ke dalam tempat sampah berlabel di sebuah permukiman di Bandung
Limbah & Polusi

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menerjunkan 25.000 mahasiswa ke 52 kecamatan di Bandung Raya selama tiga bulan, dengan pengakuan setara 10 SKS, untuk membantu rumah tangga memilah dan mengurangi sampah dari sumber. Targetnya pengurangan 20 persen yang memperpanjang usia TPA Sarimukti hingga fasilitas Legok Nangka beroperasi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pejabat Pemerintah Kota Kendari di TPAS Puuwatu, Sulawesi Tenggara, di samping lahan yang direncanakan untuk fasilitas pengolahan sampah terpadu, dengan alat berat memadatkan sampah di sel yang ada
Limbah & Polusi

Kendari menjadi satu dari empat penerima di Sulawesi dalam Local Service Delivery Improvement Project yang didukung Bank Dunia, pada penyerahan di Makassar tanggal 6 Oktober. Kota ini berencana mengarahkan program senilai Rp107 miliar tersebut untuk fasilitas pengolahan sampah di TPAS Puuwatu dan sistem layanan yang berjalan dari pemilahan di rumah tangga hingga pemrosesan akhir.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Petugas dan ekskavator mengangkat kayu, bambu, dan sampah plastik yang hanyut dari saringan sampah di Sungai Ciliwung, Jakarta Selatan, dengan tumpukan material organik hasil pilahan di tepi sungai
Limbah & Polusi

Gubernur Pramono Anung menyampaikan pada 5 Oktober bahwa Jakarta akan mereplikasi saringan sampah terpadu TB Simatupang, yang menangkap hampir 30 persen sampah yang terbawa Sungai Ciliwung dan mengolah sebagian besarnya menjadi kompos dan woodchip, di 11 sungai lain di ibu kota.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca