Tangerang Selatan menjadikan manajemen risiko TPA Cipeucang sebagai praktik rutin
Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Antara 11 dan 13 September 2026 Pemerintah Kota Tangerang Selatan menguruk sekitar 70 persen timbunan sampah di TPA Cipeucang dengan tanah dan menempatkan penjagaan 24 jam, langkah pencegahan terhadap risiko kebakaran dan longsor di musim kemarau yang sekaligus menjadi uji nyata bagi target nasional penghentian open dumping pada 2026.
Apa yang terjadi di Cipeucang
Antara 11 dan 13 September 2026, Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) mengintensifkan program pengurukan tanah dan penjagaan 24 jam di TPA Cipeucang, tempat pembuangan akhir utama kota di Serpong. Wakil Wali Kota Pilar Saga Ichsan mengatakan kepada wartawan bahwa sekitar 70 persen timbunan sampah yang terbuka sudah tertutup tanah padat, langkah yang menyasar dua risiko musim kemarau yang saling terkait: kebakaran yang tidak disengaja dan longsor pada tumpukan sampah yang belum padat.
Pilar menginstruksikan agar tidak ada aktivitas masyarakat di sekitar lokasi, terutama pembakaran sampah. Petugas telah ditempatkan di TPA selama 24 jam, dan tim kota membersihkan vegetasi serta jalur akses di sekeliling area, baik untuk mencegah api dari luar menjalar ke timbunan sampah maupun untuk menutup peluang munculnya kebakaran yang disengaja.
Waktu pelaksanaan langkah ini mencerminkan pola musiman yang lebih luas. Cuaca kering telah mengubah sampah organik yang terbuka di berbagai TPA di Jawa menjadi bahan bakar yang mudah terbakar tahun ini, dan jajaran pimpinan Tangsel memperlakukan pengurukan dan pemantauan sebagai garis pertahanan pertama, bukan sebagai respons atas insiden yang sudah terjadi. Pejabat kota menyebut program ini sebagai rutinitas operasional yang berkelanjutan, bukan pembersihan sekali jalan, dengan pengurukan dan pemeriksaan yang terus berjalan hingga seluruh permukaan TPA stabil.
Angka-angka di balik tekanan terhadap Cipeucang
TPA Cipeucang dirancang untuk mengolah sekitar 400 ton sampah per hari. Pada awal September 2026, Tangerang Selatan menghasilkan sekitar 1.022,65 ton sampah setiap hari, dengan sampah rumah tangga menyumbang sekitar 77,4 persen, menurut data kota yang dilaporkan bulan ini. Volume sampah tahunan pada 2024 saja diperkirakan mencapai 373.267 ton, menegaskan seberapa jauh timbulan sampah aktual telah melampaui rancangan awal TPA.
Kesenjangan antara kapasitas dan beban ini bukan hal baru, dan sudah menarik perhatian nasional sebelumnya. Pada Desember 2025, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono dan Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum Dewi Chomistriana meninjau lokasi tersebut ketika lembaga nasional bekerja sama dengan pemerintah kota untuk menjaga TPA Cipeucang tetap beroperasi sembari kapasitas jangka panjang dibangun di tempat lain. Dewi saat itu menyebutkan bahwa ketiga zona TPA tersebut sudah menampung volume diperkirakan lebih dari 1.000.000 meter kubik di Zona 1 dan sekitar 500.000 meter kubik masing-masing di Zona 2 dan Zona 3, skala yang menyisakan sedikit ruang untuk perluasan tanpa kendali.
"Kapasitas tampungnya (TPA Cipeucang) hanya maksimal 400 ton per hari," kata Dewi Chomistriana, menegaskan mengapa pengelolaan aktif atas timbunan sampah yang sudah ada, bukan sekadar menambah volumenya, menjadi prioritas jangka pendek kota.
Sembilan hari sebelum pembaruan pengurukan ini, pada 7 September, kebakaran terjadi di TPA Galuga, Kabupaten Bogor, yang berawal dari kebakaran lahan pertanian di sebelahnya dan merambat ke area TPA lama yang sudah tidak digunakan. Api berkobar selama lebih dari satu setengah hari dan meluas hingga diperkirakan 42 hektare sebelum Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama tim gabungan TNI Polri, dibantu pemadaman udara helikopter TNI Angkatan Udara, berhasil mengendalikannya, tanpa korban jiwa. Kejadian ini menjadi pengingat, bukan penilaian atas pengelolaan satu kota tertentu, bahwa kebakaran TPA di musim kemarau merupakan risiko operasional nyata di Jawa tahun ini, dan bahwa pencegahan dini jauh lebih murah dibandingkan penanganan darurat setelah api membesar.
Mengapa momen ini penting bagi target 2026
Program pengurukan Tangsel berada dalam kerangka tenggat nasional yang lebih besar. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan kembali bahwa pemerintah bertekad menghentikan praktik open dumping di seluruh TPA Indonesia dalam tahun 2026, dengan target pengelolaan sampah nasional sebesar 63,4 persen sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) melalui Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025. Dari 485 TPA terdaftar di Indonesia, sekitar 145 TPA, atau kurang lebih 30 persen, telah menghentikan open dumping hingga akhir 2025, menyisakan sekitar 369 TPA yang masih dalam masa transisi.
Menteri Hanif juga mengaitkan target tersebut langsung dengan perilaku rumah tangga, tidak hanya rekayasa TPA.
"Lebih dari 60 persen masyarakat telah melakukan pemilahan sampah. Ini merupakan capaian yang sangat baik," katanya, merujuk pada Denpasar dan Badung di Bali, tempat tingkat pemilahan sampah telah melampaui 60 persen, sebagai bukti bahwa target nasional dapat dicapai ketika pemerintah daerah dan warga bergerak bersama.
Dilihat dari konteks itu, kerja Tangsel di Cipeucang dapat dibaca sebagai langkah antara yang menurunkan risiko, sembari perbaikan struktural, perluasan fasilitas TPS3R (tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle), dan penambahan kapasitas dibangun secara bertahap. Langkah ini bukan pengganti investasi tersebut, tetapi memberi waktu dan mengurangi peluang kebakaran atau longsor yang sebenarnya bisa dicegah mengganggu jadwal transisi yang lebih luas.
Apa yang sedang dibangun Tangerang Selatan di luar pengurukan
Pejabat kota memadukan kerja fisik di Cipeucang dengan koordinasi lintas instansi antara unit lingkungan hidup, penanggulangan bencana, dan ketertiban umum, untuk menjaga konsistensi rezim penutupan dan pemantauan dari hari ke hari. Model koordinasi ini, bila diterapkan secara konsisten, merupakan aset yang bisa dipindahkan ke tempat lain. Kota-kota lain yang mengelola TPA dengan tekanan serupa, dari Kabupaten Bogor hingga sebagian wilayah Bekasi Raya, menghadapi kombinasi yang sama antara kapasitas yang menua, risiko kebakaran musim kemarau, dan tenggat nasional yang ketat, dan dapat langsung mengambil pelajaran dari urutan langkah Tangsel: membersihkan, menguruk, menjaga, dan melapor.
Tangerang Selatan juga terus mengandalkan fasilitas TPS3R berbasis masyarakat untuk mengalihkan sampah sebelum sampai ke Cipeucang sama sekali, bagian dari strategi yang lebih luas yang juga digunakan Jakarta dan kota-kota lain di kawasan Jabodetabek untuk mengurangi ketergantungan pada TPA, memperluas pemilahan di tingkat rumah tangga, dan memulihkan nilai material melalui pengomposan dan daur ulang alih-alih pembuangan begitu saja. Tidak satu pun langkah ini sendirian menutup kesenjangan antara 400 dan 1.022,65 ton per hari, tetapi bila digabungkan, langkah-langkah ini menggambarkan sebuah kota yang berupaya mengelola kekurangan struktural yang sudah diketahui secara bertanggung jawab, sembari menunggu investasi kapasitas nasional menyusul.
Pandangan Sirkularium
Bagi pemerintah dan lembaga publik, kasus Cipeucang adalah contoh yang berguna dan tidak dramatis tentang seperti apa kemajuan jangka pendek menuju target 2026 dalam praktiknya. Kemajuan itu jarang berupa satu pengumuman besar. Lebih sering, kemajuan berarti disiplin operasional yang berkelanjutan, pengurukan, penjagaan, dan pembersihan jalur akses, yang diterapkan secara konsisten pada fasilitas yang sudah berada dalam tekanan, sembari investasi jangka panjang pada kapasitas olah dan pengurangan dari sumber menyusul.
Ada dua hal yang layak diperhatikan ke depan. Pertama, apakah model pengurukan dan pemantauan 24 jam Tangsel akan menjadi praktik standar di TPA lain yang tertekan menjelang puncak musim kemarau, mengingat preseden yang baru saja terjadi di Galuga. Kedua, apakah jumlah nasional TPA yang telah menghentikan open dumping bergerak melewati angka 30 persen saat ini secara berarti sebelum tenggat 2026, karena angka itu, lebih daripada kisah satu kota mana pun, yang akan menentukan apakah target RPJMN tercapai. Pembiayaan dan dukungan teknis bagi sekitar 369 TPA yang masih dalam transisi, bersama dengan perluasan jaringan TPS3R dan pemilahan rumah tangga yang berkelanjutan, seharusnya menjadi metrik yang paling dicermati oleh pemerintah daerah dan mitra nasional mereka dalam beberapa bulan ke depan.
Volume sampah TPA Cipeucang per zona
Values in meter kubik
Sumber
- ANTARA News, Pemkot Tangsel uruk timbunan sampah TPA Cipeucang guna cegah kebakaran
- ANTARA News Banten, Guna cegah kebakaran, Pemkot Tangsel uruk timbunan sampah TPA Cipeucang
- Radar Banten, Cegah Kebakaran, Pemkot Tangsel Uruk 70 Persen Timbunan Sampah TPA Cipeucang
- Radar Banten, TPA Cipeucang Tangsel Dijaga 24 Jam, Cegah Kebakaran Saat Kemarau
- TangselXpress, Cegah Kebakaran di Cipeucang, Pemkot Tangsel Tutup 70 Persen Timbunan Sampah
- Koran Jakarta, Cegah Kebakaran dan Longsor, Pemkot Tangsel Lakukan Pengurukan Timbunan Sampah TPA Cipeucang
- Tangerang News, TPA Cipeucang Tangsel Dipaksa Tampung 1.022 Ton Sampah Per Hari
- Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH, Target Nasional 2026: Pemerintah Tegaskan Penghentian Open Dumping dan Percepatan Pemilahan Sampah
- ANTARA News, BNPB: Kebakaran TPA Galuga Bogor capai 42 hektare






