Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Limbah & Polusi

World Cleanup Day 2026 dibuka di Banjarmasin dengan target ULM jadi kampus bebas sampah pertama Indonesia

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Mahasiswa mengenakan kaus relawan seragam memilah sampah dan membersihkan saluran air kampus di Banjarmasin, dengan spanduk upacara peluncuran dan para pejabat di latar belakang

Pada 17 hingga 18 Agustus 2026, kampanye nasional World Cleanup Day Indonesia diluncurkan di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, dengan Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menantang kampus tersebut menjadi kampus pertama di Indonesia yang mengelola 100 persen sampahnya secara mandiri, didukung tujuh regulasi baru kota dan mobilisasi pemuda selama dua bulan.

Sekilas data
100%
Target bagian sampah ULM yang ingin dikelola pemerintah secara mandiri di kampus
7
Regulasi baru pengelolaan sampah yang tengah disiapkan Pemkot Banjarmasin
211
Negara yang berpartisipasi dalam World Cleanup Day 2026
13 juta
Anak muda Indonesia yang ingin digerakkan kampanye #kami13juta secara nasional

Kampanye nasional memilih Banjarmasin sebagai titik awal

Pada 17 Agustus 2026, bertepatan dengan HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia, World Cleanup Day Indonesia bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan meluncurkan kampanye pemuda nasional bertajuk "Aksi Bebersih Pemuda-Pemudi Merdeka dari Sampah" di Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq membuka acara tersebut secara langsung, didampingi Rektor ULM Ahmad Alim Bachri, Sekretaris Daerah Kota Banjarmasin Ichrom Muftezar, Dinas Lingkungan Hidup kota, dan pemimpin nasional World Cleanup Day Indonesia Andy Bahari, menurut pemberitaan yang terbit 18 Agustus.

Kampanye ini berlangsung dari 17 Agustus hingga 28 Oktober 2026, sekitar sepuluh pekan, dengan tagar #kami13juta, seruan yang ditujukan untuk menggerakkan 13 juta anak muda Indonesia dalam aksi bersih-bersih, edukasi pemilahan sampah, dan pengorganisasian komunitas dari kampus hingga wilayah pesisir dan pedesaan. Kampanye ini berada dalam gerakan global World Cleanup Day, yang tahun ini diikuti oleh 211 negara. Mahasiswa menandai peluncuran di Banjarmasin dengan aplikasi eco enzyme secara simbolis ke saluran air kampus bersamaan dengan upacara pembukaan.

Tantangan bagi ULM: menjadi kampus bebas sampah pertama Indonesia

Permintaan utama Hanif kepada ULM melampaui aksi bersih-bersih satu hari. Ia menantang universitas tersebut menjadi kampus pertama di Indonesia yang mengelola 100 persen sampahnya sendiri secara mandiri, mengatakan kepada hadirin bahwa ia berharap unit kegiatan mahasiswa (UKM) baru serta program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik yang berfokus pada kepedulian sampah dapat mewujudkan hal ini dalam waktu dekat. Rektor Ahmad Alim Bachri menanggapi dengan berkomitmen membentuk UKM peduli sampah tersebut, menyebut peluncuran ini sebagai harapan awal bagi tata kelola sampah yang lebih terstruktur di universitas ke depannya.

Model yang diusulkan menjadikan mahasiswa sendiri sebagai mesin pelaksana: alih-alih mengontrakkan kebersihan kampus ke pihak luar, mahasiswa ULM akan diorganisasi untuk memilah, mengolah, dan mengelola arus sampah kampus mereka sendiri, dengan UKM tersebut pada akhirnya mewakili kampus dalam koordinasi bersama pemerintah provinsi Kalimantan Selatan untuk upaya penanganan sampah yang lebih luas. Jika berhasil, gagasannya adalah bahwa sebuah universitas negeri dengan populasi mahasiswa yang besar, terorganisasi, dan termotivasi dapat mencapai target pengurangan dari sumber lebih cepat dibandingkan pemerintah kota yang mengelola populasi rumah tangga dan pelaku usaha yang jauh lebih menyebar.

Tujuh regulasi, dan "tiga masalah" yang menurut wakil menteri harus diselesaikan bersama

Pemerintah Kota Banjarmasin memasangkan komitmen ULM dengan sebuah janji kebijakan: tujuh regulasi baru pengelolaan sampah, mencakup seluruh rantai dari hulu hingga hilir, meliputi sampah skala kampus, sektor horeka (hotel, restoran, dan katering), stasiun pengisian bahan bakar, agen 3R (pengolah reduce, reuse, recycle yang berada di antara rumah tangga dan TPA), serta bank sampah. Sekretaris Daerah Ichrom Muftezar membingkai upaya ini sebagai sesuatu yang harus bersifat kolaboratif, mengatakan kepada hadirin peluncuran bahwa pemerintah kota tidak mungkin mengelola transisi ini sendirian dan membutuhkan dukungan lintas sektor.

Hanif, pada bagiannya, menyebut tiga hambatan yang ia anggap sebagai persoalan substansial nasional dalam pengelolaan sampah: tata kelola, sistem pengolahan, dan komunikasi serta edukasi publik. Pernyataannya soal poin terakhir sekaligus menjadi seruan untuk model pentahelix, kolaborasi lima arah antara pemerintah, akademisi, masyarakat, dunia usaha, dan media, yang memang menjadi dasar kampanye ini. Tanpa komunikasi publik yang terkoordinasi, menurutnya, baik reformasi tata kelola maupun kapasitas pengolahan baru tidak akan memberikan hasil yang diharapkan, karena keduanya pada akhirnya bergantung pada perubahan cara rumah tangga dan institusi menghasilkan serta memilah sampah sejak awal.

Mengapa uji coba skala kampus penting bagi target nasional

Universitas menjadi lokasi uji coba yang berguna justru karena menggabungkan populasi yang besar, batas fisik yang jelas, serta konsentrasi kelompok usia, mahasiswa di usia belasan akhir hingga dua puluhan, yang menjadi sasaran utama kampanye nasional seperti #kami13juta. Hasil terverifikasi berupa pengelolaan sampah 100 persen mandiri di ULM akan memberi Kalimantan Selatan, dan kementerian nasional di balik kampanye ini, sebuah studi kasus yang terdokumentasi dan dapat direplikasi, bukan sekadar aspirasi, sesuatu yang dapat diadaptasi universitas provinsi lain bahkan pemerintah kota dengan struktur UKM dan KKN Tematik yang sama.

Itulah pula sebabnya waktu pelaksanaannya penting. Rentang dua bulan kampanye ini membawanya melewati Hari World Cleanup Day global pada 20 September itu sendiri dan menuju acara penutupan nasional yang direncanakan pada 20 Oktober di Universitas Atma Jaya, Jakarta, memberi penyelenggara serangkaian titik pemeriksaan untuk melaporkan kemajuan sementara, alih-alih hanya satu hari peluncuran yang memudar dari perhatian publik. Apakah target ULM sendiri benar-benar tercapai pada akhir kampanye akan menjadi ujian paling jelas atas apakah model pentahelix yang digambarkan Hanif benar-benar membuahkan hasil terukur di satu kampus, sebelum diminta untuk diperluas secara nasional.

Memilih Banjarmasin sebagai titik awal juga membawa sinyal yang melampaui Kalimantan Selatan. Kampanye nasional semacam ini biasanya diluncurkan di Jakarta atau kota metropolitan besar lain, tempat liputan media paling mudah diperoleh. Membuka kampanye di ibu kota provinsi, dengan acara penutupan justru disiapkan untuk Jakarta pada Oktober, menunjukkan bahwa penyelenggara ingin substansi kampanye ini, sebuah sistem pengelolaan sampah berbasis mahasiswa yang benar-benar berjalan, diuji dan didokumentasikan terlebih dahulu di luar ibu kota, alih-alih memperlakukan daerah sebagai renungan setelah program unggulan di kota besar sudah lebih dulu ditetapkan.

Pandangan Sirkularium

Bagi pemerintah dan lembaga publik, peluncuran di Banjarmasin menawarkan contoh yang layak diamati, bukan langsung ditiru: memasangkan mobilisasi kampanye nasional dengan satu target lokal yang konkret, terbatas, dan terukur, dalam hal ini arus sampah satu universitas, alih-alih menyebarkan upaya ke seluruh kota sejak hari pertama. Urutan seperti ini memungkinkan sebuah provinsi menunjukkan kolaborasi pentahelix secara utuh, kebijakan pemerintah, dukungan akademik, aturan sektor usaha untuk horeka dan SPBU, serta komunikasi publik, pada skala yang cukup kecil untuk benar-benar dikelola dari awal hingga akhir.

Metrik yang layak dipantau selama sepuluh pekan ke depan bukanlah jumlah kehadiran di acara bersih-bersih, yang mudah dihasilkan namun sulit dipertahankan, melainkan apakah tujuh regulasi Banjarmasin resmi diterbitkan, apakah UKM peduli sampah ULM benar-benar berjalan dengan angka pengalihan sampah yang nyata di baliknya, dan apakah salah satu dari keduanya menjadi rujukan yang dikutip pemerintah provinsi lain saat kampanye ini mencapai penutupan nasionalnya di Jakarta pada Oktober. Kampanye mobilisasi pemuda dapat dengan cepat membangkitkan semangat, tetapi hasil yang lebih sulit dan lebih berharga adalah apakah semangat itu bertahan ketika berhadapan dengan tugas rutin yang tidak glamor seperti memilah dan mengangkut sampah setiap minggu setelah upacara peluncuran berakhir.

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di limbah dan polusi, Sirkularium membantu merancang sistem pengumpulan, pemilahan, dan pemulihan, menyusun kebijakan dan peta jalan, serta mengubah sampah menjadi sumber daya yang terkelola.

Artikel terkait

Sel terekayasa di sebuah tempat pemrosesan akhir sampah di Indonesia, memperlihatkan lapisan sampah terpadatkan di bawah tutupan tanah baru, kolam lindi berlapis, dan pipa ventilasi metana tegak, dengan ekskavator bekerja di muka aktif
Limbah & Polusi

Pada 14 September 2026 Wakil Menteri Lingkungan Hidup meninjau TPA Sambutan di Samarinda, enam pekan setelah kota itu menghentikan open dumping di Zona 1 dan mengoperasikan sel terekayasa sebagai penggantinya. Kunjungan tersebut menempatkan satu contoh nyata pemenuhan tenggat nasional 2026 berdampingan dengan rencana pembangkit listrik tenaga sampah yang disiapkan Kalimantan Timur.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Petugas kota dan alat berat memadatkan serta menguruk timbunan sampah dengan tanah di sebuah TPA di Indonesia pada kondisi kering dan cerah, dengan pos pemantauan 24 jam terlihat di dekatnya
Limbah & Polusi

Antara 11 dan 13 September 2026 Pemerintah Kota Tangerang Selatan menguruk sekitar 70 persen timbunan sampah di TPA Cipeucang dengan tanah dan menempatkan penjagaan 24 jam, langkah pencegahan terhadap risiko kebakaran dan longsor di musim kemarau yang sekaligus menjadi uji nyata bagi target nasional penghentian open dumping pada 2026.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Sebuah gang sempit di Jakarta yang diubah menjadi area pengolahan sampah komunitas dengan tong kompos, kolam ikan kecil, dan kandang ayam di samping mural, dengan warga merawat instalasi tersebut
Limbah & Polusi

Dalam forum kebersihan sekolah di Jakarta pada 19 Agustus 2026, seorang peneliti BRIN memaparkan angka timbunan sampah nasional, 144.869 ton per hari, dan menyebut landfill mining sebagai solusi yang terbukti bagi Bantargebang, sementara penggerak komunitas Taufik Supriadi menunjukkan bagaimana RT-nya sendiri di Jakarta Timur sudah mengolah sampah organik menjadi kompos, pakan maggot, pakan ikan, dan pakan unggas di skala lingkungan.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Relawan dan pejabat menanam bibit mangrove di garis pantai selatan Indonesia di samping tambak garam
Limbah & Polusi

Sepanjang tiga hari menjelang HUT ke-81 RI, Kementerian Kelautan dan Perikanan menanam 5.000 bibit mangrove, mendeklarasikan komitmen Laut Sehat Bebas Sampah (Laut SEBASAH) di Pantai Papela, dan memanfaatkan upacara bendera untuk melaporkan bahwa ekonomi Rote Ndao tumbuh 7,96 persen pada 2025, capaian tertinggi sepanjang sejarahnya, bersamaan dengan masuknya proyek garam nasional di kabupaten ini ke tahap konstruksi kedua.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pemandangan udara lokasi pembangunan PLTSa Jakarta di samping tumpukan sampah terpilah, dengan pejabat kota dan titik pengumpulan bank sampah di bagian depan
Limbah & Polusi

Dalam serangkaian pengumuman sejak 10 hingga 16 Agustus 2026, pemerintah provinsi DKI Jakarta kembali menegaskan target Gubernur Pramono Anung Wibowo untuk mengelola 100 persen sampah ibu kota pada 2028, sementara seorang anggota DPD mendesak kota membentuk badan usaha khusus pengolah sampah bernilai ekonomi dan pemerintah membuka akses pers ke lokasi pembuangan sampah bermasalah di Cilincing.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Truk pengangkut sampah mengantre di jalan akses sempit di samping fasilitas pengolahan refuse derived fuel berskala besar di Jakarta Utara
Limbah & Polusi

Dalam dua rapat kerja beruntun pada 13 dan 14 Agustus 2026, Komisi D DPRD DKI Jakarta mendesak pelebaran jalan akses menuju fasilitas RDF Rorotan sekaligus mendorong Instruksi Gubernur Nomor 5 melampaui sekadar pemilahan menuju pengurangan sampah yang sesungguhnya, di tengah timbulan sampah Ibu Kota yang masih sekitar 9.000 ton per hari.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca