Kementerian koordinator hilirisasi memberi Indonesia satu tempat untuk mengukur nilai tambah
Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Presiden Prabowo Subianto membentuk Kementerian Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi dan melantik Bahlil Lahadalia untuk memimpinnya sambil tetap menjabat Menteri ESDM. Dengan investasi hilirisasi Rp300,1 triliun pada semester I 2026, jabatan baru ini menjadi rumah yang tepat bagi cara bersama untuk mengukur nilai yang ditambahkan oleh pengolahan.
Kursi baru di meja kabinet
Pada Kamis, 1 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto melantik Bahlil Lahadalia sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi di Istana Negara, Jakarta. Jabatan ini baru. Kementerian koordinator tersebut dibentuk melalui Keputusan Presiden Nomor 104/P Tahun 2026 yang ditandatangani pada 30 September, dan berada dalam Kabinet Merah Putih bersama kementerian koordinator yang sudah ada. Bahlil tetap menjabat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, dan untuk sementara kementerian koordinator ini akan berkantor di gedung Kementerian ESDM.
Pelantikan ini merupakan bagian dari rangkaian pelantikan yang lebih luas pada hari itu, mencakup 18 pejabat. Namun bagi sektor sumber daya, pelantikan inilah yang paling penting. Untuk pertama kalinya, hilirisasi dan transisi energi memiliki satu menteri koordinator yang tugasnya secara tegas adalah membuat keduanya bergerak bersama.
Bahlil membingkai mandat tersebut dalam kerangka prioritas Asta Cita Presiden. Kepada wartawan ia menyampaikan bahwa pekerjaan ini tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus komprehensif, terukur, dan benar-benar mencapai targetnya. Ia juga menyatakan akan mempelajari peraturan presiden yang akan mengatur struktur kementerian sebelum membahas rincian lebih jauh, urutan yang wajar bagi sebuah lembaga baru.
"Fokus kami adalah hilirisasi, dengan 90 persen dari total investasi terkonsentrasi di sektor energi dan sumber daya mineral." Bahlil Lahadalia, 1 Oktober 2026
Angka yang diwarisi kementerian baru
Kementerian ini tidak memulai dari nol. Menurut Kementerian Investasi dan Hilirisasi, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun pada semester I 2026. Angka itu setara 29,7 persen dari seluruh realisasi investasi nasional pada periode yang sama, yang totalnya Rp1.010,6 triliun, dan tumbuh 6,9 persen secara tahunan. Menteri Investasi Rosan Roeslani menyebut porsi hilirisasi hampir mencapai 30 persen.
Mineral mendominasi. Hilirisasi mineral menyumbang Rp206,5 triliun, atau sekitar 69 persen dari total hilirisasi. Di dalamnya, nikel memimpin dengan Rp71 triliun, disusul bauksit Rp53,8 triliun, tembaga Rp37,4 triliun, besi dan baja Rp30,2 triliun, pasir silika Rp5,9 triliun, dan mineral lainnya Rp8,2 triliun. Perkebunan dan kehutanan menambah Rp54,4 triliun, dengan kelapa sawit Rp29,5 triliun dan kayu Rp16,3 triliun. Minyak dan gas menyumbang Rp35,4 triliun, sedangkan perikanan dan kelautan Rp3,8 triliun.
Angka-angka ini berada dalam ambisi yang jauh lebih besar. Peta jalan pemerintah untuk 28 komoditas strategis hingga 2045 memperkirakan investasi sekitar US$618 miliar, dengan tahap pertama berupa 21 proyek senilai sekitar US$40 miliar. Para pengamat kerap menunjuk nikel sebagai bukti konsep: nilai ekspor nikel dan turunannya naik dari sekitar US$3,3 miliar pada 2017 dan 2018 menjadi diperkirakan US$35 miliar hingga US$40 miliar per tahun pada 2023 dan 2024.
Ada satu perbedaan kecil dalam pembingkaian yang patut dicatat. Bahlil menyebut porsi 90 persen untuk sektor ESDM. Jika hilirisasi mineral serta minyak dan gas dalam data semester I kementerian investasi digabungkan, hasilnya Rp241,9 triliun, sekitar 81 persen dari total Rp300,1 triliun. Selisih ini kemungkinan besar mencerminkan cakupan yang berbeda, misalnya apakah pengolahan terkait energi di luar dua kategori tersebut ikut dihitung. Ini bukan kontradiksi. Justru ini ilustrasi yang baik tentang mengapa kementerian koordinator akan diuntungkan oleh satu set definisi yang disepakati.
Mengapa koordinasi adalah soal pengukuran
Hilirisasi menyentuh banyak lembaga sekaligus. Kementerian investasi mencatat modal. Kementerian ESDM menerbitkan izin usaha pertambangan, menyetujui RKAB, dan menetapkan harga patokan. Kementerian perindustrian membina smelter dan manufaktur. Kementerian lingkungan hidup menilai AMDAL dan menegakkan syarat perizinan. Pemerintah daerah menerima bagian pendapatan dan hidup bersama dampak terhadap lahan dan air. Setiap lembaga sudah memegang data yang berharga, sering kali dalam satuan dan kalendernya sendiri.
Kementerian koordinator berada pada posisi yang tepat untuk menyatukan angka-angka ini dalam satu halaman. Pertanyaan yang berguna bagi hilirisasi bukan hanya berapa modal yang masuk, tetapi berapa nilai yang tetap tinggal di Indonesia setelah pengolahan selesai. Artinya, menelusuri satu ton bijih melalui setiap tahapnya: royalti dan PNBP yang dibayar di mulut tambang, nilai tambah di smelter, upah dan pengadaan lokal di sepanjang rantai, serta harga ekspor produk akhir. Sinyal pasar sudah menunjukkan mengapa hal ini penting. Harga patokan nikel awal Oktober bergerak turun, dengan HMA sebesar US$16.322,67 per ton, sehingga nilai yang ditangkap melalui pengolahan menjadi semakin penting bagi stabilitas penerimaan, bukan sebaliknya.
Buku besar yang sama dapat memuat sisi lingkungan. Indonesia sudah memiliki metode regulasi untuk menilai kerugian lingkungan dan biaya pemulihan dalam Permen LH Nomor 7 Tahun 2014. Penginderaan jauh dan GIS dapat memetakan perubahan tutupan lahan di sekitar konsesi dan kawasan industri dengan presisi. Dana jaminan reklamasi sudah memberi nilai moneter pada pemulihan di masa depan. Jika disatukan, semua ini memungkinkan nilai bersih sebuah proyek hilirisasi dinyatakan dalam bentuk yang dapat dibaca dengan cara yang sama oleh investor, kementerian, dan daerah.
Seperti apa baseline bersama itu
Beberapa langkah praktis dapat membantu kementerian baru menerjemahkan mandatnya menjadi hasil yang terukur:
- Definisi bersama tentang investasi hilirisasi dan nilai tambah, yang disepakati oleh kementerian investasi, Kementerian ESDM, dan kementerian perindustrian, sehingga porsi utama seperti 81 atau 90 persen dapat direkonsiliasi.
- Buku besar per komoditas, dimulai dari nikel, bauksit, dan tembaga, yang menautkan produksi hulu, PNBP, keluaran pengolahan, dan nilai ekspor untuk setiap tahun.
- Tabel per daerah yang menunjukkan apa yang diterima setiap provinsi penghasil dalam bentuk dana bagi hasil, lapangan kerja, dan pengadaan, berdampingan dengan biaya lahan dan air yang diukur dengan metode standar.
- Verifikasi independen atas komponen lingkungan, menggunakan GIS dan data lapangan dalam kerangka Permen LH 7/2014, sehingga kemajuan reklamasi dilaporkan sebagai aset yang dibangun kembali, bukan sekadar kewajiban yang ditunaikan.
Semua ini tidak memerlukan aturan baru untuk dimulai. Sebagian besar adalah soal menghubungkan data yang sudah dikumpulkan pemerintah.
Pandangan Sirkularium
Pembentukan Kementerian Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi adalah langkah yang konstruktif. Langkah ini mengakui bahwa mengolah mineral di dalam negeri dan mendekarbonisasi industri yang melakukannya adalah satu agenda, bukan dua. Menempatkannya di bawah menteri yang juga memegang portofolio energi dan sumber daya mineral seharusnya memperpendek jarak antara perancangan kebijakan dan pelaksanaannya.
Bagi pemerintah dan lembaga publik, peluangnya adalah menjadikan pengukuran sebagai alat bersama pertama kementerian ini. Investasi hilirisasi Rp300,1 triliun dalam enam bulan adalah landasan yang kuat. Langkah berikutnya adalah menunjukkan, komoditas demi komoditas dan daerah demi daerah, berapa nilai bersih yang diciptakan modal tersebut setelah biaya lahan, air, dan pemulihan dihitung dengan kecermatan yang sama seperti pendapatan.
Bagi perusahaan pertambangan dan pengolahan, sinyalnya sama jelas. Operator yang mampu menyajikan valuasi ekonomi atas kegiatannya yang diverifikasi secara independen, dibangun di atas GIS dan data lapangan serta metodologi yang sudah digunakan Indonesia, akan lebih mudah menunjukkan kepatuhan kepada kementerian lingkungan hidup dan kontribusinya pada agenda hilirisasi. Valuasi seperti itu paling efektif sebagai praktik rutin yang diperbarui setiap tahun, bukan sebagai respons terhadap sengketa.
Yang perlu dicermati berikutnya: peraturan presiden yang menetapkan struktur kementerian dan lembaga yang dikoordinasikannya, angka investasi setahun penuh 2026, serta apakah peta jalan 28 komoditas diperbarui dengan target nilai tambah di samping target investasi. Sirkularium akan mengikuti setiap perkembangan ini dan siap mendukung baseline valuasi bersama bagi sektor ini.
Investasi hilirisasi mineral per komoditas, semester I 2026
Values in Rp triliun
Sumber
- ANTARA News, Prabowo names Bahlil to new downstreaming, energy transition post
- ANTARA News, Indonesia forms new ministry to speed up downstreaming, Bahlil says
- Tempo English, Why Prabowo creates new downstream, energy transition ministry
- CNBC Indonesia, Bahlil soal jabatan Menko sekaligus Menteri ESDM
- Investortrust, Bahlil sebut 90 persen investasi hilirisasi ada di sektor ESDM
- Bernas, Keppres 104/P Tahun 2026 dan peta jalan investasi hilirisasi
- Infobanknews, Investasi hilirisasi capai Rp300,1 triliun di semester I 2026
- Databoks Katadata, Investasi hilirisasi semester I 2026 per sektor
- Media Indonesia, Hilirisasi 28 komoditas strategis targetkan investasi US$618 miliar
- Shanghai Metals Market, Bahlil appointed coordinating minister, nickel reference prices






