Danantara buka lenders panel untuk biayai pipeline nasional sampah jadi listrik
Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pada 22 Juli 2026, anak usaha Danantara, Denera, membuka pendaftaran bagi bank dan lembaga pembiayaan infrastruktur untuk bergabung dalam lenders panel yang mendukung program sampah jadi listrik (PSEL) nasional, dengan PT Indonesia Infrastructure Finance mengoordinasikan proses tersebut dan pendaftaran dibuka hingga 28 Juli 2026.
Pintu pembiayaan terbuka bagi program sampah jadi listrik Indonesia
Pada Rabu, 22 Juli 2026, PT Danantara Investment Management, melalui anak usahanya PT Daya Energi Bersih Nusantara atau Denera, membuka pendaftaran bagi bank dan lembaga pembiayaan infrastruktur lain untuk bergabung dalam lenders panel yang mendukung program pengolahan sampah nasional bertajuk Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik, atau PSEL. Pengumuman yang disebarkan melalui GlobeNewswire dan diliput Antara News, Kompas, Okezone, dan IDN Times ini menandai titik ketika dana kekayaan negara Indonesia beralih dari memilih mitra pembangunan menuju menghimpun modal yang dibutuhkan untuk benar-benar membangun fasilitasnya.
PT Indonesia Infrastructure Finance, lembaga pembiayaan infrastruktur milik negara, ditunjuk sebagai penasihat keuangan untuk mengoordinasikan proses pendaftaran dan pengumpulan informasi lender atas nama Danantara dan Denera. Institusi yang berminat dapat mendaftar melalui kanal surel khusus, dan jendela waktu pengajuan dokumen dibuka hingga 28 Juli 2026, memberi lender yang memenuhi syarat waktu sekitar satu minggu sejak pengumuman untuk menyatakan minat.
"Inisiatif ini akan membuka peluang bagi para lenders untuk terlibat sejak awal," kata M. Ramadhan Harahap, chief financial officer Denera, menjelaskan panel ini sebagai cara bagi lembaga pembiayaan untuk terlibat dalam pengembangan proyek PSEL sejak tahap awal, bukan hanya pada saat penutupan pembiayaan.
Siapa yang bisa mendaftar dan apa yang bisa ditawarkan
Panel ini terbuka bagi beragam jenis institusi, menurut Antara News, Kompas, dan rilis GlobeNewswire: bank umum, bank HIMBARA milik negara, Bank Pembangunan Daerah atau BPD, lembaga pembiayaan pembangunan, lembaga multilateral, dan lembaga kredit ekspor. Institusi yang memenuhi syarat dapat menyatakan minat pada berbagai instrumen pembiayaan, termasuk pinjaman senior, utang subordinasi, instrumen ekuitas, pinjaman jembatan, garansi bank, jaminan pelaksanaan, struktur mezanin, dan pembiayaan berbasis keberlanjutan.
Danantara dan Denera menegaskan bahwa mendaftarkan minat melalui panel ini bukan merupakan komitmen mengikat bagi kedua belah pihak. Sebaliknya, proses ini dirancang agar DIM dan Denera dapat menilai seberapa besar minat pembiayaan yang ada di sektor perbankan dan di antara lembaga pembiayaan pembangunan sebelum proses pembiayaan khusus per proyek dimulai secara resmi, yang pada dasarnya membangun daftar pendek mitra yang mampu dan berminat, alih-alih meluncurkan proses tender langsung untuk satu fasilitas tunggal.
Bagaimana ini sejalan dengan program nasional yang bergerak cepat
Lenders panel ini menyusul tak lama setelah Danantara memilih delapan konsorsium mitra untuk PSEL tahap dua, yang diumumkan pada 14 Juli 2026, mencakup 20 kabupaten dan kota, dengan 68 proposal yang dievaluasi dari penyedia yang telah lolos prakualifikasi, meningkat tajam dari 24 peserta tender pada putaran pertama program. Jika pengumuman 14 Juli menjawab pertanyaan siapa yang akan membangun dan mengoperasikan fasilitas, lenders panel pada 22 Juli mulai menjawab pertanyaan yang lebih sulit, yaitu siapa yang akan mendanainya dan dengan syarat seperti apa.
Skala kebutuhan pendanaan tersebut cukup besar. Chief investment officer Danantara sebelumnya menyebutkan bahwa total kebutuhan pendanaan untuk program PSEL nasional dapat mencapai sekitar US$5 miliar, menurut pemberitaan sebelumnya, dengan sekitar separuh proyek yang direncanakan ditargetkan rampung pada 2027 dan sisanya diperkirakan selesai pada 2028. Danantara juga telah memberi sinyal niatnya untuk mengambil posisi ekuitas langsung di setiap proyek, dengan pemberitaan Jakarta Globe menyebutkan target kepemilikan saham minimum sebesar 30 persen dan berpotensi lebih tinggi, di samping minat dari lender asing di Singapura, Jepang, Tiongkok, dan Eropa. Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir sebelumnya membingkai pendekatan ekuitas ini di sekitar tujuan mendasar program tersebut, bukan sekadar rekayasa keuangan, dengan mengatakan bahwa yang paling penting adalah bagaimana negara dapat mengatasi masalah lingkungannya.
Mengapa struktur pembiayaan sama pentingnya dengan teknologi
Pembangunan sampah jadi listrik Indonesia, hingga saat ini, sebagian besar menghasilkan pemberitaan seputar peletakan batu pertama, mitra teknologi, dan kapasitas pengolahan, termasuk dimulainya pembangunan fasilitas Denpasar Raya di Bali pada 8 Juli 2026, fasilitas PSEL pertama negara ini yang memulai konstruksi di bawah program saat ini. Lenders panel merepresentasikan tonggak yang berbeda, kurang terlihat namun sama pentingnya, karena rangkaian fasilitas hanya dapat dibangun secepat pembiayaannya memungkinkan.
Dengan membuka pencarian modal kepada berbagai kalangan luas, mulai dari bank umum, bank milik negara, bank pembangunan daerah, lender multilateral, hingga lembaga kredit ekspor secara bersamaan, alih-alih menegosiasikan pembiayaan satu per satu dengan satu lender untuk setiap proyek, Danantara dan Denera tampaknya berupaya menciptakan persaingan sehat di antara para pemberi dana sejak awal, sebuah struktur yang dapat membantu menekan biaya pinjaman di seluruh program berskala besar ini. Beragamnya instrumen yang memenuhi syarat, mulai dari utang senior hingga ekuitas dan struktur berbasis keberlanjutan, juga menunjukkan bahwa dana ini bersiap agar setiap proyek dapat dibiayai secara berbeda tergantung profil risiko, lokasi, dan mitra teknologi spesifiknya.
Pandangan Sirkularium bagi pemerintah dan institusi publik
Bagi pemerintah provinsi dan kota yang menjadi tuan rumah atau berharap menjadi tuan rumah fasilitas PSEL, pembukaan lenders panel Denera adalah sinyal yang patut dicermati secara saksama. Ini menunjukkan bahwa program nasional memperlakukan pembiayaan sebagai jalur kerja paralel terhadap konstruksi, bukan sebagai hambatan yang harus diselesaikan proyek demi proyek setelah peletakan batu pertama, yang jika berjalan sebagaimana dirancang, seharusnya mempersempit jarak antara pemilihan lokasi dan dimulainya konstruksi sesungguhnya bagi lokasi tahap dua yang tersisa maupun tahap-tahap berikutnya.
Pemerintah daerah yang sudah mendapat penugasan proyek PSEL memiliki kepentingan jelas untuk memahami lender mana yang akhirnya bergabung dalam panel dan instrumen pembiayaan apa yang mereka sukai, karena pilihan tersebut akan membentuk suku bunga, tenor, dan alokasi risiko yang tertanam dalam perjanjian proyek yang akan dijalani warganya selama puluhan tahun ke depan. Institusi publik yang terlibat dalam perencanaan infrastruktur secara lebih luas juga sebaiknya mencermati model ini sendiri. Lenders panel yang dikoordinasikan secara terpusat, dijalankan melalui penasihat keuangan khusus dengan jendela pendaftaran yang tetap dan singkat, menawarkan contoh yang dapat direplikasi untuk infrastruktur ekonomi sirkular padat modal lainnya di Indonesia, mulai dari fasilitas daur ulang hingga konversi controlled landfill, di manapun tantangan serupa mempertemukan modal yang tersedia dengan proyek yang layak dibiayai pada skala nasional perlu diselesaikan dengan cepat.
Jendela pendaftaran selama satu minggu juga patut dicermati sebagai sinyal praktis. Periode pendaftaran yang singkat dan jelas batasannya menunjukkan bahwa Danantara dan Denera kemungkinan sudah memiliki daftar kerja calon peserta dan menggunakan panel ini terutama untuk meresmikan serta memperluas daftar tersebut, bukan untuk melakukan pencarian yang benar-benar terbuka. Bagi pemerintah daerah dan penasihat mereka, hal ini menunjuk pada titik keputusan dalam waktu dekat, kemungkinan dalam hitungan minggu setelah tenggat 28 Juli, ketika bentuk konsorsium lender akhirnya menjadi lebih jelas dan diskusi pembiayaan tingkat proyek untuk lokasi PSEL tertentu dapat mulai berlangsung secara serius. Pejabat lingkungan hidup dan keuangan provinsi yang menyiapkan pengajuan anggaran terkait fasilitas PSEL di wilayahnya akan diuntungkan dengan mencermati linimasa tersebut secara saksama, karena pilihan lender utama kemungkinan akan menentukan seberapa cepat pembiayaan proyek dapat bergerak dari perjanjian kerangka kerja menuju pencairan dana.
Sumber
- GlobeNewswire, Danantara Opens Lenders Panel for Indonesia Waste-to-Energy Financing
- Antara News, Danantara buka pendaftaran lenders panel untuk pembiayaan proyek PSEL
- Kompas Money, Danantara Buka Pendaftaran Lenders Panel untuk Biayai Proyek Sampah Jadi Listrik
- Okezone Economy, Danantara Buka Pendaftaran Lenders Panel untuk Pembiayaan Proyek PSEL
- IDN Times, Danantara Buka Lenders Panel untuk Biayai Proyek PSEL, Ini Syaratnya
- Jakarta Globe, Danantara Eyes 30% Stake in Waste-to-Energy Project, Foreign Lenders in Queue






