Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Limbah & Polusi

Kebakaran TPA di Depok berhasil dikendalikan dalam hitungan jam, kota bergerak cepat soal pencegahan

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Petugas pemadam kebakaran dan mobil damkar berupaya mengendalikan api di tepi tempat pemrosesan akhir sampah kota pada malam hari

Kebakaran terjadi di TPA Cipayung, Depok, yang telah melebihi kapasitas, pada malam 16 Juli 2026 dan berhasil dikendalikan dalam hitungan jam tanpa korban luka, mendorong pemerintah kota menggelar patroli 24 jam dan penyiraman preventif harian menjelang sisa musim kemarau.

Sekilas data
2,9 juta ton
Sampah yang sudah menumpuk di TPA Cipayung, lokasi yang sudah lama melampaui kapasitas yang dirancang
900 hingga 1.000 ton
Tambahan sampah yang diterima TPA ini setiap hari, dari sekitar 1.265 ton yang dihasilkan seluruh kota
Sekitar 1.000 warga
Dievakuasi sebagai langkah pencegahan dari rumah dekat lokasi selama petugas bekerja
2029
Tenggat yang diberikan kepada kota untuk menghadirkan pengolahan modern dan mengakhiri ketergantungan pada TPA terbuka

Kebakaran, dan respons cepat yang terkoordinasi

Kebakaran terjadi di TPA Cipayung, tempat pemrosesan akhir utama Kota Depok di Jawa Barat, pada Kamis malam, 16 Juli 2026, sekitar pukul 19.30 WIB. Dinas pemadam kebakaran dan penyelamatan kota mengerahkan unit dari empat pos, yakni UPT Cipayung, UPT Bojongsari, UPT Cinere, dan Mako Kembang, mengirimkan tujuh hingga delapan unit mobil pemadam serta 20 hingga 32 personel ke lokasi, angka yang sedikit berbeda antar pemberitaan awal media lokal. Syuhada, komandan UPT Cipayung, menyatakan dibutuhkan sekitar dua jam lima belas menit kerja berkelanjutan sebelum lokasi dinyatakan sepenuhnya aman, sementara sejumlah laporan awal menyebutkan api utama berhasil dijinakkan dalam 30 hingga 45 menit sejak petugas tiba. Dua truk sampah yang sedang antre di dekat titik api hangus terbakar, dan satu kendaraan milik dinas lingkungan hidup kota mengalami kerusakan akibat panas namun tetap dapat beroperasi dan dilindungi asuransi. Tidak ada korban luka maupun jiwa yang dilaporkan.

Sebagai langkah pencegahan selama api dikendalikan, sekitar 1.000 warga yang tinggal di dekat TPA dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Rahman Pujiarto, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Depok, merangkum hasil akhir setelah petugas menyelesaikan tugasnya.

"Alhamdulillah, semua sudah terkondisi dengan baik," kata Pujiarto.

Di balik kobaran api: lokasi yang sudah melampaui kapasitas

TPA Cipayung bukan fasilitas kecil yang kebetulan mendekati batas kapasitasnya. Dibuka pada 1985 di lahan seluas 11,2 hektare yang awalnya dirancang melayani 11 kecamatan dan 63 kelurahan di Depok dengan kapasitas 900 hingga 1.000 ton per hari, TPA ini telah beroperasi dalam kondisi overload sejak sekitar 2014 menurut sejumlah catatan lokal. TPA ini sudah menumpuk sekitar 2,9 juta ton sampah dan terus menerima hampir seluruh kapasitas harian yang dirancang, dari sekitar 1.265 ton yang dihasilkan seluruh kota setiap harinya, ruang toleransi yang tipis terhadap kondisi musim kemarau seperti suhu panas, sampah organik yang membusuk dan menghasilkan metana, serta material permukaan yang kering, faktor-faktor yang secara umum meningkatkan risiko kebakaran di lokasi pembuangan terbuka di seluruh Indonesia. Penyebab pasti kebakaran Kamis lalu masih dalam penyelidikan, menurut Reni Siti Nuraeni, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Depok, yang mengatakan hasil penyelidikan akan langsung menjadi dasar bagi langkah pencegahan berikutnya oleh kota.

Yang dilakukan Depok secara berbeda sekarang

Alih-alih menunggu penyelidikan selesai sebelum bertindak, kota ini mengumumkan serangkaian langkah pencegahan yang akan berjalan sepanjang sisa musim kemarau. DLHK meminta dinas pemadam kebakaran melakukan penyiraman rutin terhadap tumpukan sampah setidaknya dua kali sehari, respons langsung terhadap kondisi cuaca panas yang disebut Nuraeni sebagai salah satu faktor penyebab. Kota ini juga memberlakukan patroli 24 jam di lokasi, melarang merokok di area TPA, dan melarang membawa benda apa pun yang berpotensi memicu percikan api.

"Kami juga telah menyiapkan sejumlah upaya preventif guna mencegah kejadian serupa terulang kembali," kata Nuraeni.

Langkah-langkah tersebut sengaja dirancang bersifat operasional, bukan sekadar aspirasi: penyiraman rutin dan patroli adalah hal yang bisa langsung diterapkan dinas kebersihan kota dalam hitungan hari, tanpa perlu menunggu investasi modal untuk infrastruktur TPA baru atau perubahan regulasi nasional.

Solusi yang lebih besar sudah bergerak

Langkah pencegahan kebakaran yang diumumkan pekan ini berada di atas transisi struktural yang sesungguhnya sudah berjalan sebelum kebakaran Kamis lalu. Kementerian Lingkungan Hidup secara administratif telah memerintahkan penutupan TPA Cipayung, tetapi memberi Depok waktu hingga 2029 untuk menghadirkan kapasitas pengolahan modern alih-alih menutup gerbangnya seketika, dengan mempertimbangkan bahwa kota berpenduduk sekitar 2,1 juta jiwa tidak bisa kehilangan lokasi pembuangan utamanya dalam semalam. Sebagai respons, pemerintah kota mempercepat pembangunan fasilitas refuse-derived-fuel di lokasi TPA Cipayung sendiri, dirancang mengolah 500 hingga 1.000 ton sampah per hari, mengubah material yang seharusnya ditimbun menjadi produk bahan bakar alih-alih dibiarkan membusuk dan menghasilkan metana. Rencana ini kini tengah dibahas di DPRD Kota Depok untuk mendapat persetujuan. Secara terpisah, kota telah menjadwalkan capping permukaan TPA yang ada dengan lapisan membran pada 2027, disertai revitalisasi empat unit pengolahan sampah, yakni UPS Cicalak Pasar, UPS Sukatani, UPS Pondok Petir, dan UPS Harjamukti, yang selama ini beroperasi di bawah kapasitas.

Dilihat bersama, fasilitas RDF, jadwal capping, dan langkah patroli serta penyiraman pekan ini menggambarkan sebuah kota yang memperlakukan kebakaran ini sebagai dorongan untuk mempercepat transisi yang sudah dikomitmenkan sebelumnya, bukan sebagai keadaan darurat terisolasi yang ditangani lalu dilupakan.

Membaca kebakaran yang terkendali dengan tepat

Kebakaran TPA yang berlangsung beberapa jam, tidak melukai siapa pun, dan diikuti dalam hitungan hari oleh serangkaian langkah pencegahan yang terdokumentasi, adalah cerita yang berbeda dari kebakaran yang berlangsung sepekan dan memaksa penetapan status darurat bencana secara resmi. Keduanya menunjuk pada kondisi dasar yang sama, yaitu TPA terbuka yang menua dan menanggung beban sampah melebihi rancangannya di tengah musim paling kering, tetapi responsnyalah yang menentukan apakah kondisi itu berubah menjadi peristiwa kesehatan masyarakat yang berkepanjangan atau insiden terkendali yang cepat dipulihkan sebuah kota. Kombinasi respons pemadaman cepat dan lintas pos milik Depok, keterbukaan informasi publik tentang apa yang terjadi, serta tindakan pencegahan yang diumumkan pada pekan yang sama, mendekati jenis disiplin operasional yang mengurangi risiko di puluhan TPA menua lain yang masih melayani kota-kota Indonesia sepanjang musim kemarau ini.

Pandangan Sirkularium

Bagi pemerintah daerah yang mengelola TPA yang, seperti Cipayung, sudah beroperasi jauh melampaui kapasitas yang dirancang, pelajaran yang berguna dari respons Depok bukan pada kebakarannya sendiri, melainkan pada rangkaian langkah yang mengikutinya: bergerak cepat, mengevakuasi secara preventif alih-alih reaktif, menyelidiki penyebab alih-alih berasumsi, dan mengubah apa pun yang ditemukan penyelidikan menjadi rutinitas pencegahan yang spesifik dan terjadwal, seperti frekuensi penyiraman, cakupan patroli, pembatasan sumber api, bukan sekadar janji umum untuk berbenah. Kota-kota yang masih mengandalkan TPA terbuka yang menua tanpa jadwal penyiraman dan patroli yang setara sebaiknya segera menetapkannya sekarang, sebelum gelombang panas berikutnya tiba, bukan setelah kebakaran mereka sendiri terjadi. Pengalaman Depok juga menegaskan poin yang berlaku secara nasional: solusi yang lebih mendasar tetaplah mengurangi jumlah sampah yang sampai ke lokasi seperti Cipayung sejak awal, melalui pemilahan di sumber, pengolahan sampah organik, serta kapasitas waste to energy dan daur ulang yang kini sedang dibangun di berbagai wilayah lain di Indonesia, karena TPA yang menerima lebih sedikit sampah setiap hari juga berarti memiliki lebih sedikit bahan bakar yang tersedia ketika kondisi kering kembali datang, dan itulah investasi jangka panjang yang benar-benar mengurangi frekuensi kejadian seperti yang dialami Depok pekan ini.

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di limbah dan polusi, Sirkularium membantu merancang sistem pengumpulan, pemilahan, dan pemulihan, menyusun kebijakan dan peta jalan, serta mengubah sampah menjadi sumber daya yang terkelola.

Artikel terkait

Para bankir dan pejabat pembiayaan proyek di sekitar meja meninjau tata letak fasilitas pengolahan sampah menjadi energi, dengan fasilitas PSEL modern yang sedang dibangun tampak di layar di belakang mereka
Limbah & Polusi

Pada 16 Oktober 2026, Danantara Investment Management dan anak usahanya di bidang pengolahan sampah menjadi energi, Denera, menetapkan 34 institusi keuangan sebagai anggota lenders panel program PSEL Indonesia, dengan minat pembiayaan indikatif lebih dari tiga kali estimasi kebutuhan utang program.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Nelayan di sebuah pelabuhan perikanan Indonesia memilah dan mengikat jaring insang nilon serta tali yang sudah usang di dermaga untuk dikumpulkan dan didaur ulang, dengan kapal ikan bersandar di belakangnya
Limbah & Polusi

Kementerian Kelautan dan Perikanan menerbitkan Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Nomor 23 Tahun 2026, pedoman nasional pengelolaan alat penangkapan ikan yang ditinggalkan, hilang, dibuang, maupun yang sudah habis masa pakainya dengan prinsip 3R. Uji coba dimulai di tiga pelabuhan perikanan, didukung mitra lapangan di Merauke, Muncar, Pengambengan dan Gresik.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Foto udara kawasan TPST Bantargebang dengan lahan yang telah dibersihkan dan diratakan untuk fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik di samping zona timbunan sampah yang ada
Limbah & Polusi

Gubernur Pramono Anung menyampaikan pada 7 Oktober bahwa persoalan penyediaan lahan yang selama ini menahan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik Jakarta di Bantargebang telah menemukan jalan keluar, dan kota berharap masuk batch ketiga program nasional agar pembangunan dapat dimulai sebelum akhir 2026.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Mahasiswa berjaket almamater membantu warga memilah sampah rumah tangga organik dan anorganik ke dalam tempat sampah berlabel di sebuah permukiman di Bandung
Limbah & Polusi

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menerjunkan 25.000 mahasiswa ke 52 kecamatan di Bandung Raya selama tiga bulan, dengan pengakuan setara 10 SKS, untuk membantu rumah tangga memilah dan mengurangi sampah dari sumber. Targetnya pengurangan 20 persen yang memperpanjang usia TPA Sarimukti hingga fasilitas Legok Nangka beroperasi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pejabat Pemerintah Kota Kendari di TPAS Puuwatu, Sulawesi Tenggara, di samping lahan yang direncanakan untuk fasilitas pengolahan sampah terpadu, dengan alat berat memadatkan sampah di sel yang ada
Limbah & Polusi

Kendari menjadi satu dari empat penerima di Sulawesi dalam Local Service Delivery Improvement Project yang didukung Bank Dunia, pada penyerahan di Makassar tanggal 6 Oktober. Kota ini berencana mengarahkan program senilai Rp107 miliar tersebut untuk fasilitas pengolahan sampah di TPAS Puuwatu dan sistem layanan yang berjalan dari pemilahan di rumah tangga hingga pemrosesan akhir.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Petugas dan ekskavator mengangkat kayu, bambu, dan sampah plastik yang hanyut dari saringan sampah di Sungai Ciliwung, Jakarta Selatan, dengan tumpukan material organik hasil pilahan di tepi sungai
Limbah & Polusi

Gubernur Pramono Anung menyampaikan pada 5 Oktober bahwa Jakarta akan mereplikasi saringan sampah terpadu TB Simatupang, yang menangkap hampir 30 persen sampah yang terbawa Sungai Ciliwung dan mengolah sebagian besarnya menjadi kompos dan woodchip, di 11 sungai lain di ibu kota.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca