Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Limbah & Polusi

Rumah maggot komunitas di Depok ubah sampah makanan rumah tangga jadi penghasilan

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Warga memilah sisa makanan rumah tangga ke dalam wadah di fasilitas budi daya maggot black soldier fly komunitas di Depok

Garudafood dan Biomagg meresmikan fasilitas budi daya maggot black soldier fly baru di Depok Jaya pada 21 Juli 2026, memperluas program berusia empat tahun yang membantu rumah tangga mengalihkan sampah organik, kategori terbesar dalam timbulan sampah Indonesia, dari tempat pembuangan akhir.

Sekilas data
100 ton
Target pengolahan sampah organik tahunan untuk rumah maggot baru di Depok Jaya
20 kg
Larva black soldier fly yang dipanen pada siklus pertama fasilitas
54,58%
Porsi timbulan sampah nasional Indonesia yang berasal dari rumah tangga
7
Kelurahan di Depok yang kini menjalankan lokasi Kampung Wirausaha Maggot

Lokasi baru bergabung dalam ekonomi maggot Depok

Pada 21 Juli 2026, Garudafood bersama mitra budi dayanya, Biomagg, meresmikan fasilitas budi daya larva black soldier fly baru, yang dikenal warga sebagai rumah maggot, di Kelurahan Depok Jaya, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat. Prosesi pengguntingan pita dihadiri oleh Dian Astriana, Head of Corporate Communication and External Relations PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk, Aminudi, CEO Biomagg, Mustakim, Camat Pancoran Mas, Herliana Maharani, Lurah Depok Jaya, serta Reni Siti Nuraeni, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Depok, menurut laporan Sindonews dan Disway.id.

Fasilitas ini dirancang untuk mengolah hingga 100 ton sampah organik rumah tangga per tahun, mengubah sisa makanan yang sebelumnya berakhir di tempat pembuangan akhir menjadi sumber daya bernilai ekonomi langsung bagi warga. Pada siklus budi daya pertamanya, lokasi ini menghasilkan 20 kilogram larva black soldier fly, jumlah yang sederhana namun konkret dan dianggap para penggerak setempat sebagai bukti bahwa model ini berjalan pada skala lingkungan permukiman.

Hadijah, ketua kelompok budi daya maggot Depok Jaya, mengatakan bagian paling menggembirakan dari peresmian ini adalah menyaksikan warga yang berinisiatif sendiri membawa sampah organik ke fasilitas tersebut, alih-alih mengirimkannya ke titik pengumpulan yang berujung di tempat pembuangan akhir. Dian Astriana menempatkan fasilitas baru ini sebagai perpanjangan pendekatan Garudafood terhadap pemberdayaan masyarakat, menyebutnya sebagai inisiatif Creating Shared Value yang dirancang untuk memberi manfaat sekaligus bagi warga, lingkungan, dan perusahaan.

"Rumah Maggot Garudafood merupakan wujud komitmen Garudafood dalam menjalankan program pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan," kata Dian Astriana, yang menggambarkan fasilitas ini sebagai komitmen pemberdayaan masyarakat berkelanjutan yang dibangun di atas nilai bersama bagi masyarakat, lingkungan, dan perusahaan.

Bagaimana larva black soldier fly mengubah sisa dapur menjadi bernilai

Teknologi di balik model rumah maggot bersifat biologis, bukan mekanis. Larva black soldier fly, spesies yang tumbuh subur dengan mengonsumsi bahan organik yang membusuk, dibudidayakan dalam wadah terkendali tempat mereka mengonsumsi sampah makanan rumah tangga dalam volume besar. Dalam waktu sekitar dua hingga tiga minggu, larva mencapai ukuran siap panen dan dapat dikeringkan atau dijual dalam kondisi hidup sebagai bahan pakan kaya protein untuk unggas, ikan, dan ternak. Bahan sisa dari proses ini berubah menjadi kompos, sehingga rumah tangga dan petani skala kecil memperoleh dua keluaran yang bisa dijual dari bahan organik yang sebelumnya dibuang begitu saja.

Karena larva menggantikan sebagian pakan komersial, model ini berdampak langsung pada biaya input rumah tangga atau usaha tani skala kecil. Garudafood sebelumnya menyebut penghematan biaya pakan hingga 50 persen bagi peserta yang mengganti pakan konvensional dengan protein maggot, angka yang turut menjelaskan mengapa program ini mendapat minat yang bertahan dari warga, bukan sekadar bergantung pada subsidi atau momentum kampanye semata.

Dari satu percontohan menjadi tujuh kelurahan

Fasilitas Depok Jaya bukan proyek yang berdiri sendiri. Ini merupakan lokasi terbaru dari Kampung Wirausaha Maggot, program yang diluncurkan Garudafood dan Biomagg pada 2024, dimulai dengan percontohan di Kelurahan Jatijajar. Menurut Kompas Lestari, lokasi percontohan tersebut mengolah sekitar 35 ton sampah organik rumah tangga pada siklus penuh pertamanya dan menghasilkan sekitar 3 ton maggot, dengan sekitar 30 warga dari enam kelurahan yang ikut serta pada usia satu tahun program tersebut, yaitu Februari 2025. Mujahidin, Lurah Jatijajar saat itu, menyebut hambatan untuk ikut serta tergolong rendah, dengan mengatakan bahwa syarat utamanya hanyalah kemauan warga untuk belajar proses budi daya.

Delapan belas bulan kemudian, program ini telah berkembang mencakup tujuh kelurahan di Depok, yaitu Jatijajar, Sukmajaya, Depok Jaya, Limo, Meruyung, Tanah Baru, dan Jatimulya, menurut JPNN. Setiap lokasi beroperasi sebagai koperasi semi mandiri, dengan Biomagg memberikan pelatihan teknis budi daya larva dan Garudafood mendanai pembangunan fasilitas serta sosialisasi berkelanjutan kepada masyarakat. Perluasan yang stabil ini, yang kurang lebih menggandakan cakupan wilayah program sejak peringatan satu tahunnya, menunjukkan model yang mampu diadopsi dan dipertahankan oleh masing-masing komunitas, bukan sekadar program yang meredup begitu perhatian pendanaan awal beralih ke tempat lain.

Skala persoalan sampah organik Indonesia

Program Depok ini menjawab kategori sampah yang mendominasi timbulan sampah nasional Indonesia. Berdasarkan data 2024 dari kementerian lingkungan hidup yang dikutip Kompas Lestari, sumber rumah tangga menyumbang 54,58 persen dari sampah yang dihasilkan Indonesia, dan bahan organik, terutama sisa makanan, mencapai 39,94 persen dari total produksi sampah nasional. Jika tidak dikelola dan dibiarkan di tempat pembuangan akhir dengan sistem open dumping, sampah organik terurai secara anaerobik dan menghasilkan metana, gas rumah kaca yang secara langsung dikaitkan dengan sejumlah kebakaran tempat pembuangan akhir yang dilaporkan di berbagai wilayah Indonesia pada musim kemarau ini, termasuk di TPA Jatiwaringin, Tangerang, dan TPA Sarimukti, Bandung Barat.

Pengalihan sampah organik pada skala komunitas, seperti yang ditunjukkan di Depok, dengan demikian memberi manfaat lebih dari sekadar penghasilan bagi rumah tangga yang berpartisipasi. Upaya ini mengurangi volume bahan yang membusuk dan menumpuk di tempat pembuangan akhir tepat pada musim ketika risiko kebakaran akibat metana berada pada titik tertinggi, dan hal itu dicapai tanpa memerlukan investasi modal besar pada infrastruktur pengolahan. Pendekatan ini sejalan dengan program kampung iklim atau Proklim milik Indonesia dan dengan dorongan yang lebih luas menuju pemilahan sampah dari sumber yang bersifat wajib, yang terus diperluas oleh Jakarta dan kota-kota lain sepanjang tahun ini menjelang batas waktu nasional untuk mengakhiri open dumping.

Pandangan Sirkularium bagi pemerintah daerah dan institusi publik

Bagi pemerintah daerah dan institusi publik yang bertanggung jawab atas pengelolaan sampah, program rumah maggot di Depok menawarkan pelengkap yang berguna bagi investasi infrastruktur besar yang kini berjalan pada proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik dan transisi menuju controlled landfill secara nasional. Proyek-proyek besar tersebut menangani sampah setelah sampai di fasilitas pengolahan. Pengalihan sampah organik pada skala komunitas, seperti yang dibangun Garudafood dan Biomagg sejak 2024, bekerja lebih ke hulu, mengurangi volume sampah yang perlu dikumpulkan dan diangkut sejak awal.

Jalur pertumbuhan program ini, dari satu kelurahan percontohan menjadi tujuh kelurahan dalam delapan belas bulan, menawarkan contoh yang dapat dipelajari dan berpotensi direplikasi atau didanai bersama oleh pemerintah daerah pada skala kabupaten atau kota, terutama mengingat sampah organik rumah tangga mewakili porsi yang begitu besar dari beban yang menumpuk di tempat pembuangan akhir Indonesia. Seiring pemerintah kota dan kabupaten di seluruh negeri berupaya memenuhi batas waktu nasional untuk mengakhiri open dumping, program pengalihan sampah di tingkat sumber semacam ini mengurangi tekanan pada infrastruktur hilir sekaligus menciptakan aliran pendapatan yang meski sederhana tetap nyata bagi warga yang berpartisipasi. Apa yang telah ditunjukkan Depok selama empat tahun terakhir adalah bahwa model ini dapat tumbuh secara stabil dengan momentumnya sendiri, sebuah hasil yang layak terus diamati seiring semakin banyak kota mencari alat yang praktis dan berbiaya lebih rendah untuk melengkapi investasi mereka dalam pengolahan sampah menjadi energi dan controlled landfill.

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di limbah dan polusi, Sirkularium membantu merancang sistem pengumpulan, pemilahan, dan pemulihan, menyusun kebijakan dan peta jalan, serta mengubah sampah menjadi sumber daya yang terkelola.

Artikel terkait

Petugas Jawa Barat dan warga memilah sampah rumah tangga ke dalam tempat sampah organik dan anorganik, dengan latar belakang kota Bandung
Limbah & Polusi

Di Bandung pada 24 Juli 2026, Menteri Koordinator Zulkifli Hasan menetapkan target dua tahun untuk mengakhiri open dumping secara nasional, sambil mendorong teknologi pengomposan dari sumber milik BRIN dan peraturan sanksi Jawa Barat untuk menekan beban sampah 2.000 ton per hari di kawasan tersebut.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Ruang rapat dengan perwakilan perbankan dan pembiayaan infrastruktur meninjau dokumen, dengan model atau diagram fasilitas sampah jadi listrik di layar
Limbah & Polusi

Pada 22 Juli 2026, anak usaha Danantara, Denera, membuka pendaftaran bagi bank dan lembaga pembiayaan infrastruktur untuk bergabung dalam lenders panel yang mendukung program sampah jadi listrik (PSEL) nasional, dengan PT Indonesia Infrastructure Finance mengoordinasikan proses tersebut dan pendaftaran dibuka hingga 28 Juli 2026.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Unit insinerator sampah karya TNI di sebuah pangkalan udara, dengan prajurit dan pejabat mengamati abu hasil pembakaran yang dicetak menjadi paving block
Limbah & Polusi

Setelah meninjau mesin pengolah sampah MOTAH di sebuah pangkalan udara di Malang pada 17 Juli 2026, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan TNI, Polri, kementerian, dan pemerintah daerah untuk berperan aktif dalam penanganan sampah nasional, dan Panglima TNI memastikan jajarannya siap membantu memperluas penerapan teknologi tersebut.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Petugas pemadam kebakaran dan truk tangki air bekerja pada malam hari mengendalikan kebakaran di tepi TPA berskala besar, dengan alat berat siaga di sekitarnya
Limbah & Polusi

Kebakaran melanda Blok 1B TPA Benowo di Surabaya pada malam 19 Juli 2026 dan berhasil dikendalikan sepenuhnya dalam sekitar lima jam tanpa korban jiwa, memperbarui perhatian pada kesiapan menghadapi kebakaran TPA saat musim kemarau di Indonesia.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pemandangan luas ruang rapat koordinasi di Padang Pariaman dengan pejabat daerah dan spanduk provinsi, fasilitas bank sampah terlihat dari jendela
Limbah & Polusi

Dalam rapat koordinasi di Padang Pariaman pada 14 Juli 2026, Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat meminta gubernur Sumatra Barat dan seluruh kepala daerah menuntaskan pembenahan sistem sampah dari hulu ke hilir paling lambat akhir 2027, dua tahun lebih cepat dari target nasional.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pemandangan udara area pengolahan sampah Bantargebang di Bekasi dengan alat pemadat bekerja di permukaan terasering landfill
Limbah & Polusi

Mulai 1 Agustus 2026, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta memulai transisi bertahap dari open dumping menuju sistem controlled landfill di TPST Bantargebang, dengan target porsi open dumping turun dari 72,56 persen saat ini menjadi nol pada 2028.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca