Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Sumber Daya Berkelanjutan

Indonesia akan memperluas hilirisasi di luar mineral pada 2027, dan alasannya adalah perhitungan nilai per tenaga kerja

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pemandangan berdampingan antara pabrik pengolahan mineral dan fasilitas pengolahan hasil perkebunan atau kehutanan di Indonesia, menggambarkan perbandingan hilirisasi padat modal dan padat karya

Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyatakan pada 16 Agustus 2026 bahwa kehutanan, perkebunan, serta minyak dan gas bumi akan diprioritaskan untuk investasi hilirisasi pada 2027, karena sektor-sektor itu menyerap lebih banyak tenaga kerja per rupiah yang diinvestasikan dibanding pengolahan mineral. Mineral tetap memegang angka nominal terbesar, yaitu Rp206,5 triliun dari Rp300,1 triliun investasi hilirisasi pada semester pertama 2026. Pergeseran ini adalah argumen tentang berapa nilai sebenarnya dari satu rupiah investasi.

Sekilas data
Rp300,1 triliun
Investasi hilirisasi pada semester pertama 2026, setara 29,7 persen dari total nasional
Rp206,5 triliun
Porsi mineral dalam investasi hilirisasi tersebut
1.448.862
Tenaga kerja yang langsung terserap investasi sepanjang Januari sampai Juni 2026
Rp2.322 triliun
Target investasi nasional yang ditetapkan untuk 2027

Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyatakan pada 16 Agustus 2026 bahwa pemerintah akan memprioritaskan investasi hilirisasi di sektor kehutanan, perkebunan, serta minyak dan gas bumi sepanjang 2027, berdampingan dengan pengolahan mineral yang selama ini mendominasi program tersebut. Alasan yang disampaikannya bukan karena hilirisasi mineral berkinerja buruk. Alasannya adalah bahwa rupiah yang sama, jika ditanamkan pada pengolahan hasil kehutanan atau perkebunan, mempekerjakan lebih banyak orang dibanding jika ditanamkan pada sebuah smelter.

Itu argumen yang jarang disampaikan secara terbuka, dan layak ditanggapi dengan serius pada kerangkanya sendiri. Argumen itu mengubah hilirisasi dari pertanyaan tentang berapa banyak nilai yang diciptakan menjadi pertanyaan tentang bagaimana nilai itu terdistribusi, dan melakukannya dengan angka yang sudah diterbitkan pemerintah sendiri.

Bentuk neraca hilirisasi

Semester pertama 2026 memberi titik awalnya. Realisasi investasi nasional mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen secara tahunan dan setara 49,5 persen dari target Rp2.041,3 triliun untuk tahun ini. Investasi tersebut menyerap 1.448.862 tenaga kerja secara langsung sepanjang Januari sampai Juni, naik sekitar 15 persen dibanding periode yang sama pada 2025.

Hilirisasi menyumbang Rp300,1 triliun dari total itu, atau 29,7 persen, naik 6,9 persen secara tahunan. Satu sumber mencatat angkanya sebagai Rp301,9 triliun dan bukan Rp300,1 triliun, dan Sirkularium mencatat perbedaan itu alih-alih memilih salah satunya.

Komposisi sektoralnya adalah tempat argumen sang menteri berpijak. Hilirisasi mineral menyerap Rp206,5 triliun, kurang lebih dua pertiga dari total hilirisasi, dengan nikel sendiri Rp71 triliun dan sisanya tersebar pada tembaga, besi dan baja, bauksit, timah, serta mineral lainnya. Perkebunan dan kehutanan menyerap Rp54,4 triliun, terdiri dari kelapa sawit Rp29,5 triliun, kayu log Rp16,3 triliun, karet Rp5 triliun, dan komoditas lain Rp3,6 triliun. Minyak dan gas bumi menyerap Rp35,4 triliun, terbagi antara minyak bumi Rp26,4 triliun dan gas alam Rp9 triliun. Pengolahan perikanan dan kelautan, yang mencakup garam, tuna, udang, rumput laut, dan nila, menyerap Rp3,8 triliun.

Secara geografis, program hilirisasi bekerja sesuai rancangannya. Sekitar 75,7 persen investasi hilirisasi, kurang lebih Rp227,3 triliun, mendarat di luar Jawa, terkonsentrasi di Maluku Utara, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Barat. Untuk investasi nasional secara keseluruhan, pembagiannya jauh lebih berimbang, dengan Rp507,8 triliun di luar Jawa berbanding Rp502,8 triliun di Jawa. Hilirisasi adalah bagian dari portofolio investasi yang memindahkan modal ke daerah yang memiliki sumber dayanya.

Nilai per rupiah, dan nilai per tenaga kerja

Pokok yang disampaikan menteri adalah sebuah rasio. Hilirisasi mineral bersifat padat modal karena rancangannya memang demikian. Pabrik hidrometalurgi atau smelter tembaga adalah aset tetap berskala besar yang dioperasikan tenaga kerja permanen yang relatif sedikit, dengan sebagian besar penyerapan tenaga kerja terpusat pada tahap konstruksi yang kemudian berakhir. Pengolahan perkebunan, kehutanan, dan perikanan membawa nilai investasi per fasilitas yang lebih rendah namun jumlah pekerja yang lebih berkelanjutan, dan terhubung ke hulu dengan petani kecil serta koperasi, bukan dengan konsesi.

Tidak ada rasio yang lebih baik secara mutlak. Keduanya menjawab pertanyaan yang berbeda. Smelter menaikkan nilai ekspor satu ton bijih dan memperluas basis royalti dan pajak negara. Fasilitas pengolahan di daerah perkebunan menaikkan pendapatan rumah tangga pada populasi yang lebih luas. Pemerintah yang menetapkan target investasi Rp2.322 triliun untuk 2027, dibanding Rp2.041 triliun untuk 2026 dan Rp13.032 triliun sepanjang periode 2025 sampai 2029, harus memutuskan bauran hasil seperti apa yang sedang dibelinya.

Hilirisasi selama ini diukur hampir seluruhnya dari nilai yang ditambahkannya pada sebuah komoditas. Mengukurnya juga dari jumlah penghidupan yang ditopangnya per rupiah yang dikomitmenkan adalah standar yang lebih menuntut, sekaligus lebih jujur.

Hal ini juga berpadu rapi dengan kerangka anggaran yang diumumkan dua hari sebelumnya. Hilirisasi dan industrialisasi muncul sebagai fokus kelima dari delapan fokus dalam Program Kerja Prioritas Nasional yang menyertai RAPBN 2027, yang mengusulkan total pendapatan negara Rp3.426,0 triliun berbanding belanja Rp4.097,2 triliun dan defisit yang menyempit ke 2,40 persen terhadap produk domestik bruto. Program yang diharapkan memikul pertumbuhan penerimaan sekaligus pertumbuhan lapangan kerja perlu mampu menunjukkan bagian mana yang mengerjakan yang mana.

Apa yang tidak berubah bagi pertambangan

Sirkularium membaca ini sebagai perluasan, bukan penarikan diri. Hilirisasi mineral tetap menjadi dua pertiga neraca hilirisasi dan tujuan modal tunggal terbesar dalam program tersebut. Nikel sebesar Rp71 triliun dalam enam bulan bukanlah gambaran sektor yang sedang dikecilkan. Yang berubah adalah bahwa pengolahan mineral akan semakin dinilai terhadap alternatifnya, bukan hanya terhadap capaiannya sendiri pada tahun sebelumnya.

Hal itu menaikkan standar bukti yang diharapkan dari sisi pertambangan, dan menaikkannya ke arah yang spesifik. Jika hilirisasi mineral akan dibandingkan dari sisi penyerapan tenaga kerja, ia juga akan dibandingkan dari sisi hal-hal lain yang dibawanya. Rantai pengolahan nikel atau bauksit menempati lahan, menarik air, menghasilkan tailing dan terak, serta mengubah posisi ekosistem daerah tempatnya berdiri. Dampak itu nyata, dapat diukur, dan saat ini sebagian besar absen dari perbandingan karena belum ada pihak yang meletakkan angka rupiah padanya pada kadensi yang sama dengan angka investasi.

Inilah celah tempat Sirkularium bekerja. Indonesia sudah memiliki metodologinya. Permen LH No. 7 Tahun 2014 mengatur cara menilai kerusakan ekologis, kerugian ekonomi lingkungan, dan biaya pemulihan. AMDAL menetapkan garis dasarnya pada tahap perizinan. Dana jaminan reklamasi menyimpan uang untuk kewajiban di masa depan. Penginderaan jauh dan GIS membuat perubahan tutupan lahan dan luas reklamasi dapat diukur pada jadwal berulang dengan biaya marginal rendah. Valuasi jasa ekosistem melekatkan angka pada pengaturan air, perikanan, keanekaragaman hayati, tanah, dan karbon. Yang belum ada adalah kebiasaan menjalankan semua itu bersama-sama, secara berkala, sebagai pembukuan tetap, bukan sebagai bukti yang dirakit setelah muncul temuan.

Pandangan Sirkularium

Bagi pemerintah dan institusi publik, pengumuman ini adalah langkah konstruktif dan penalaran di baliknya layak dibawa lebih jauh. Tiga catatan menyusul.

Pertama, jika penyerapan tenaga kerja per rupiah kini menjadi kriteria pengalokasian investasi hilirisasi, kriteria itu sebaiknya diterbitkan sebagai sebuah seri, bukan sekadar dijelaskan secara umum. Angka penyerapan tenaga kerja langsung per triliun rupiah menurut sektor, diperbarui setiap semester berdampingan dengan data realisasi yang sudah ada, akan memungkinkan perbandingan itu dilakukan secara terbuka dan memungkinkan pemerintah daerah merencanakan berdasarkannya.

Kedua, disiplin yang sama sebaiknya diperluas ke posisi lingkungan. Portofolio hilirisasi yang melaporkan nilai yang diciptakan, lapangan kerja yang tercipta, dan kondisi terukur dari lahan serta air yang menopangnya akan menjadi akuntansi sumber daya paling lengkap yang diterbitkan ekonomi mana pun di kawasan ini. Dua dari tiga kolom itu sudah tersedia.

Ketiga, konsentrasi geografisnya layak mendapat perhatian khusus. Dengan sekitar tiga perempat investasi hilirisasi mendarat di luar Jawa, di Maluku Utara, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Barat, daerah yang memikul beban lingkungan program ini juga merupakan daerah dengan kapasitas fiskal paling terbatas untuk mengukurnya. Dukungan pusat bagi valuasi berkala yang terverifikasi independen di wilayah tersebut akan menjadi intervensi yang terarah dengan penerima manfaat yang jelas.

Bagi operator, pembacaan praktisnya adalah bahwa perbandingan akan datang. Perusahaan yang dapat menyampaikan kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebuah seri valuasi terverifikasi independen atas posisi lahan, air, dan ekosistemnya, yang disusun dari GIS dan data lapangan dengan metodologi nasional yang baku, akan berargumen dari bukti alih-alih dari klaim. Itu lebih murah dipelihara sebagai praktik rutin dibanding dirakit dalam tekanan.

Yang perlu diamati berikutnya adalah apakah target investasi 2027 diterbitkan dengan rincian penyerapan tenaga kerja per sektor, berapa besar dari target Rp2.322 triliun yang dialokasikan ke masing-masing aliran hilirisasi, dan apakah pelaporan lingkungan yang melekat pada pengolahan mineral mulai memuat angka sespesifik pelaporan investasi yang sudah ada.

Investasi hilirisasi menurut sektor, semester pertama 2026

Values in Rp triliun

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di sumber daya berkelanjutan, Sirkularium mendampingi tata kelola air, tailing, dan ESG agar proyek sumber daya tetap kredibel dan layak diinvestasikan.

Artikel terkait

Foto udara teras bekas tambang yang telah direvegetasi di Indonesia, deretan pohon muda di samping pit aktif, dengan sudut pandang tegak lurus seperti citra satelit
Sumber Daya Berkelanjutan

Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara menyebut jaminan reklamasi yang ditempatkan perusahaan tambang naik dari sekitar Rp17 sampai 18 triliun menjadi sekitar Rp40 triliun, dengan citra satelit dipakai untuk menyesuaikan setiap jaminan dengan luas lahan yang benar-benar dibuka. Kementerian Lingkungan Hidup menambahkan bahwa keberhasilan akan dinilai di lapangan, bukan di atas kertas.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Foto udara kawasan pengolahan nikel di Sulawesi dengan timbunan bijih dan blok pemurnian, atau karung produk nikel matte dan MHP di pelabuhan
Sumber Daya Berkelanjutan

Menko Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia membuka opsi moratorium smelter nikel baru yang menghasilkan produk antara seperti NPI, feronikel, nikel matte, dan MHP, dengan merujuk kelebihan pasokan global sekitar 2,5 juta ton. Langkah ini membingkai ulang fase hilirisasi berikutnya pada seberapa besar nilai yang tertahan di Indonesia dari setiap ton bijih.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Lereng berhutan Gunung Tompotika di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, dengan lahan pertanian dan desa di latar depan
Sumber Daya Berkelanjutan

Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Tengah memutuskan bahwa persetujuan lingkungan dan dokumen AMDAL PT Anugerah Bangun Mamur dan PT Anugerah Sumber Bumi di Kabupaten Banggai merupakan informasi publik yang harus diserahkan kepada Aliansi Konservasi Tompotika dalam 14 hari kerja. Putusan ini menjadikan AMDAL sebagai acuan bersama untuk menilai hutan, air, dan satwa endemik bentang alam Tompotika.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Bendung Amandit di Desa Malutu, Hulu Sungai Selatan, dengan air jernih mengalir di atas pelimpah dan kaki Pegunungan Meratus yang berhutan di belakangnya
Sumber Daya Berkelanjutan

Bupati Hulu Sungai Selatan mengusulkan penyaluran air baku jernih dari Bendung Amandit ke intake Muara Banta yang melayani Kandangan. Instalasi pengolahan air yang dibangun dengan Rp16,8 miliar dan beroperasi 50 dari 300 liter per detik menunjukkan seberapa besar nilai yang dapat dibawa oleh sumber air yang lebih baik.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Delegasi Indonesia dan Chile dalam pertemuan bilateral di Santiago, atau sebagai alternatif foto katoda tembaga maupun fasilitas tailing modern
Sumber Daya Berkelanjutan

Di Santiago pada 1 Oktober 2026, Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno mengusulkan MoU Kemitraan Mineral Hijau Indonesia-Chile yang mencakup proyek industri bersama, koalisi negara produsen, teknologi pertambangan hijau, platform investasi, serta pengelolaan dan pemanfaatan tailing. Menteri Luar Negeri Chile menyambut baik usulan tersebut dan berjanji segera menindaklanjutinya.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Petugas kepolisian memeriksa muatan bus penumpang di Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni, Lampung Selatan, dengan botol-botol barang bukti tersegel di atas meja
Sumber Daya Berkelanjutan

Pemeriksaan rutin di Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni menghentikan 61 kilogram merkuri tanpa dokumen yang berlabel untuk pengolahan emas, dan penyidik menelusuri kiriman itu hingga ke penerimanya di Bogor. Kasus ini menunjukkan bagaimana pemutusan pasokan merkuri melengkapi komitmen Minamata Indonesia, dan mengapa kerugian lingkungan yang berhasil dicegah layak divaluasi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca