Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Sumber Daya Berkelanjutan

Harita Nickel mengubah terak smelter menjadi tanah reklamasi, dan standar nasional kini membuat praktik itu dapat diukur

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pohon lokal muda tumbuh di tanah berbutir gelap pada lereng berteras bekas tambang nikel yang direklamasi di Pulau Obi, dengan cerobong smelter di kejauhan

Harita Nickel memanfaatkan terak dari smelternya di Pulau Obi sebagai pembenah tanah pada 272 hektare lahan bekas tambang yang direklamasi, praktik yang kini tertuang dalam standar nasional SNI 9420:2025. Pendekatan ini mengubah residu pengolahan berskala besar menjadi bahan reklamasi, dengan penghematan yang dilaporkan hingga 32 persen dibandingkan pupuk organik.

Sekilas data
272 ha
Lahan bekas tambang di Pulau Obi yang direklamasi dengan vegetasi lokal
640.000 t
Terak nikel yang dilaporkan Harita telah didaur ulang untuk berbagai pemanfaatan hingga 2025
Hingga 32%
Penghematan biaya reklamasi yang dilaporkan dari terak sebagai pengganti pupuk organik
Di atas 90%
Tingkat hidup tanaman yang dilaporkan pada media campuran terak dalam uji lapangan sejak Desember 2024

Setiap ton nikel yang keluar dari tanur listrik rotary kiln di Indonesia meninggalkan volume terak yang jauh lebih besar. Selama hampir satu dekade terakhir, residu itu diperlakukan sebagai persoalan pembuangan. Di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Harita Nickel selama dua tahun terakhir memperlakukannya sebagai bahan baku, dan pada 24 dan 25 September 2026 perusahaan memaparkan hasilnya: terak dari smelternya kini dipakai sebagai pembenah tanah di lahan tambang yang direklamasi, berdasarkan standar nasional yang dua tahun lalu belum ada.

Kabar ini diberitakan OG Indonesia dan Media Nikel Indonesia, menyusul kemenangan Harita dalam kategori Tailings Innovation Award pada Mining Magazine Awards 2026. Ini adalah kisah sirkularitas material sekaligus kisah reklamasi, dan menawarkan sesuatu yang semakin dibutuhkan pemerintah maupun industri: aliran residu dengan pemanfaatan kedua yang dapat diukur.

Dari residu menjadi media tanam

Terak dari peleburan RKEF kaya akan silika dan magnesium serta memiliki struktur berpori. Argumen Harita adalah bahwa sifat-sifat ini bermanfaat bagi tanah tipis dan miskin hara yang tersisa setelah penambangan laterit. Setelah diolah, terak menjadi material berbutir yang, menurut Supriyanto, Vice President Occupational Health, Safety and Management System, mirip pasir. Material ini kemudian dicampur dengan bahan organik untuk membentuk media tanam.

Perusahaan melakukan uji lapangan di bekas lubang tambang pada 2024, membandingkan media tanam dengan dan tanpa campuran terak sambil memantau respons tanaman. Uji coba yang berjalan sejak Desember 2024 melaporkan tingkat hidup di atas 90 persen untuk tanaman penutup dan pohon pada media campuran terak, dengan peningkatan tinggi tanaman dan jumlah daun yang terukur selama uji dua belas minggu, menurut angka yang dirangkum Discovery Alert. Area reklamasi ditanami spesies lokal, antara lain jabon merah, cemara, kayu putih, gofasa, dan gosale.

Hingga kini Harita telah mereklamasi 272 hektare lahan bekas tambang di Obi. Sebagai pembanding, CNBC Indonesia melaporkan pada Juni 2025 bahwa perusahaan telah mereklamasi 105 hektare sepanjang 2017 hingga triwulan pertama 2025 dan menargetkan tambahan 66 hektare pada tahun itu. Jika kedua angka diukur dengan dasar yang sama, total saat ini menunjukkan kemajuan yang substansial dalam delapan belas bulan terakhir.

"Evaluasi terhadap praktik yang telah dijalankan menjadi dasar kami untuk terus melakukan perbaikan." Tonny H. Gultom, Direktur HSE, Harita Nickel

Standar yang membuat praktik ini dapat direplikasi

Unsur paling penting dari kabar ini bukan penghargaannya, melainkan standarnya. SNI 9420:2025 memuat panduan pemanfaatan terak nikel sebagai pembenah tanah dalam reklamasi tambang nikel. Standar nasional mengubah praktik satu perusahaan menjadi metode terdokumentasi yang dapat diterapkan dan diperiksa oleh operator lain, regulator, dan auditor.

Dasar hukumnya sudah tersedia. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup mencantumkan terak dari peleburan nikel, dengan teknologi tanur tertentu, sebagai limbah nonB3 terdaftar, bukan limbah B3. Klasifikasi itu memungkinkan material dimanfaatkan, sepanjang pemanfaatannya tercantum dalam persetujuan lingkungan operator dan dikelola sesuai ketentuannya. SNI 9420:2025 menambahkan spesifikasi teknis untuk satu bentuk pemanfaatan tertentu.

Irdika Mansur, Kepala Pusat Studi Reklamasi Tambang IPB University, menyatakan bahwa inovasi ini mendukung kegiatan reklamasi secara lebih sistematis.

Ke mana terak mengalir, dan berapa nilainya

Pembenahan tanah hanyalah salah satu dari beberapa tujuan pemanfaatan. Hingga 2025 Harita melaporkan telah mendaur ulang lebih dari 640.000 ton terak nikel, termasuk lebih dari 409.715 meter persegi beton terak untuk jalan dan drainase, 2.092 kubus terumbu buatan untuk memulihkan habitat laut, material timbunan kembali tambang, dan pembenahan tanah. Setiap pemanfaatan ini menggantikan material yang semestinya dibeli, ditambang dari quarry, atau dikirim ke pulau.

Angka biaya perlu dibaca dengan cermat. Discovery Alert melaporkan bahwa penggunaan terak sebagai pengganti pupuk organik konvensional memangkas biaya reklamasi hingga 32 persen, sekitar Rp52,5 juta per hektare. Secara terpisah, CNBC Indonesia melaporkan pada 2025 bahwa biaya reklamasi penuh Harita sekitar Rp250 juta per hektare. Rp52,5 juta kira-kira seperlima dari total itu, bukan sepertiga, yang menunjukkan bahwa penghematan 32 persen merujuk pada komponen pembenahan tanah dalam reklamasi, bukan keseluruhan biaya memulihkan satu hektare. Kedua angka berasal dari dasar pelaporan yang berbeda, dan rincian biaya yang dipublikasikan secara konsisten akan membuat penghematan itu lebih mudah diverifikasi.

Bahkan dengan pembacaan yang konservatif, arahnya jelas. Residu yang semula menimbulkan biaya pembuangan kini menurunkan biaya sebuah kewajiban. Bagi perencanaan jaminan reklamasi hal ini penting: nilai sebuah rencana reklamasi sebagian ditentukan oleh biaya inputnya, dan biaya per hektare yang lebih rendah, jika konsisten dan terverifikasi, mengubah perhitungan finansial penutupan tambang yang baik.

Apa yang dituntut praktik ini dari pemantauan

Pemanfaatan residu industri di dalam tanah membawa tanggung jawab selain penghematan. Kajian akademik tentang pemanfaatan ulang terak, termasuk studi pelindian logam berat yang dikutip dalam ulasan Discovery Alert, menekankan pentingnya memantau apa yang berpindah dari terak ke tanah dan air dari waktu ke waktu. Keberadaan standar nasional, klasifikasi regulasi, dan data lapangan multitahun menempatkan Obi pada posisi yang baik untuk menunjukkan kinerja itu, dan untuk mempublikasikan hasil pemantauan yang memberi keyakinan kepada regulator dan masyarakat.

Pandangan Sirkularium

Sirkularium membaca program terak Obi sebagai salah satu contoh sirkularitas yang paling praktis di sektor nikel Indonesia. Program ini menghubungkan dua kewajiban yang biasanya dikelola terpisah, pengelolaan residu dan reklamasi lahan, dan membuat keduanya lebih murah dan lebih produktif dengan menyatukannya. Program ini juga hadir dengan perangkat kelembagaan yang sudah tersedia: klasifikasi hukum dalam PP 22/2021 dan standar teknis dalam SNI 9420:2025.

Bagi pemerintah dan lembaga publik, peluangnya adalah menjadikan ini praktik sektoral dengan kerangka pengukuran yang menyertainya. Tiga langkah dapat membantu. Pertama, pelaporan timbulan terak dan pemanfaatan terak menurut tujuannya sebagai baris standar dalam pelaporan lingkungan akan menunjukkan seberapa besar volume terak nasional yang terus tumbuh menemukan pemanfaatan produktif. Kedua, rencana reklamasi dan perhitungan jaminan dapat mengakui input berbasis terak yang terverifikasi, dengan biaya per hektare didokumentasikan secara konsisten agar penghematan dapat dibandingkan antaroperator. Ketiga, pemantauan tanah dan air jangka panjang di lokasi yang dibenahi dengan terak, yang dipublikasikan secara terbuka, akan membangun bukti yang memungkinkan standar ini diadopsi dengan yakin.

Bagi perusahaan tambang, pelajaran valuasinya langsung. Lahan yang direklamasi, pembuangan yang dihindari, dan pembelian material yang dihindari semuanya memiliki nilai ekonomi, tetapi nilai itu hanya meyakinkan bila diukur dengan metode standar dan diverifikasi secara independen, dengan pemetaan GIS atas hektare yang direklamasi serta data lapangan tentang kondisi tanah dan vegetasi. Obi kini memiliki standarnya. Langkah berikutnya adalah buku besar publik yang rutin tentang apa yang dihasilkannya.

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di sumber daya berkelanjutan, Sirkularium mendampingi tata kelola air, tailing, dan ESG agar proyek sumber daya tetap kredibel dan layak diinvestasikan.

Artikel terkait

Gulungan baja nirkarat atau produk nikel jadi yang ditumpuk di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah, dengan perbukitan tambang di latar belakang
Sumber Daya Berkelanjutan

Pada 27 September 2026 Wakil Gubernur Reny A. Lamadjido menyatakan nikel dan mineral lain dari Sulawesi Tengah tidak lagi boleh keluar dari provinsi dalam bentuk setengah jadi. Neraca ekonomi provinsi sudah menunjukkan pola di balik arahan itu: industri pengolahan menyumbang 44,37 persen perekonomian daerah, pertambangan dan penggalian 13,79 persen.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Emas batangan cetak 1 kilogram berstempel 999.9 tersusun di meja timbang di dalam ruang penyimpanan fasilitas pemurnian, dengan petugas uji kadar mencatat berat
Sumber Daya Berkelanjutan

PT Aneka Tambang membeli 9 ton emas berkadar 99,99 persen dari fasilitas pemurnian logam mulia PT Freeport Indonesia di Gresik sepanjang Januari hingga Agustus 2026, angka realisasi pertama terhadap perjanjian yang memungkinkan pembelian hingga 30 ton per tahun. Pembeli domestik kedua, Hartadinata, menerima 50 kilogram pertamanya pada September.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Unit instalasi pengolahan air bergerak dan tangki hidran umum melayani warga yang membawa jeriken di sebuah desa kering di Jawa Barat
Sumber Daya Berkelanjutan

Kementerian Pekerjaan Umum melaporkan pada 26 September 2026 bahwa pihaknya telah menangani 3.288 lokasi kekeringan sejak Juli, menyalurkan 48,9 juta liter air bersih kepada sekitar 1,75 juta jiwa dan menyelamatkan 141.440 hektare sawah. Menteri Dody Hanggodo menyatakan kementerian akan menambah unit instalasi pengolahan air bergerak seiring El Niño memperpanjang musim kemarau.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Foto udara smelter di kawasan industri Morowali di samping alur sungai yang surut pada musim kemarau, Sulawesi Tengah
Sumber Daya Berkelanjutan

Smelter di Indonesia Morowali Industrial Park mulai memangkas produksi nickel pig iron sebesar 30 hingga 40 persen pada 22 September 2026 karena El Niño menurunkan debit sungai. Peristiwa ini memberi angka pada sesuatu yang biasanya terlewat dalam valuasi tambang: nilai ekonomi dari pasokan air yang andal.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Suasana konsultasi publik di sebuah aula di Sumbawa dengan tokoh masyarakat dan pejabat duduk menghadap layar presentasi yang menampilkan peta rencana tambang
Sumber Daya Berkelanjutan

PT Amman Mineral Nusa Tenggara membuka konsultasi publik atas studi kelayakan dan analisis mengenai dampak lingkungan untuk Blok Elang di Sumbawa pada 22 September 2026. Investasi awal disebut Rp6 triliun sampai Rp8 triliun, dan cadangan yang sudah dinyatakan untuk Elang mencapai 2,5 miliar ton bijih.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Tumpukan lembaran katoda tembaga di smelter Sumbawa Barat dengan struktur kilang dan derek di belakangnya
Sumber Daya Berkelanjutan

PT Amman Mineral Internasional melaporkan penjualan bersih 2,05 miliar dolar AS dan laba bersih sekitar 497,9 juta dolar AS untuk semester I 2026 pada 21 September. Katoda tembaga dan emas murni yang diolah di Sumbawa Barat menyumbang 974 juta dolar AS dari pendapatan itu, dan penyajian ulang cadangan Batu Hijau memperlihatkan betapa besar nilai suatu tambang ditentukan oleh asumsi, bukan semata oleh geologi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca