Indonesia buka peluang investor swasta bangun pabrik etanol menuju E20
Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Kementerian ESDM mengajak perusahaan swasta membangun pabrik bioetanol, dengan target mengembangkan satu-satunya pabrik yang ada saat ini menjadi 30 hingga 50 pabrik dalam beberapa tahun untuk memenuhi mandat campuran etanol 20 persen pada 2028.
Jakarta membuka pintu bagi pabrik etanol swasta
Pada Senin, 20 Juli 2026, di Jakarta, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral secara resmi mengajak perusahaan swasta membangun pabrik bioetanol, sebuah respons langsung terhadap kesenjangan antara kapasitas produksi etanol Indonesia saat ini dan kebutuhan untuk memenuhi mandat campuran etanol 20 persen dalam bensin, yang dikenal sebagai E20, pada 2028. Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi kementerian tersebut, menyampaikan ajakan itu secara lugas: "Swasta itu boleh dan sangat kita dorong untuk dia bisa menghasilkan pabrik-pabrik (bioetanol) itu."
Pengumuman ini diberitakan luas oleh media bisnis Indonesia, termasuk Kompas, Liputan6, Viva, dan kantor berita nasional Antara beserta layanan bahasa Inggrisnya. Kementerian menyertai ajakan tersebut dengan sinyal kebijakan yang substantif, dengan mengonfirmasi sedang merevisi Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2023 tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional dan Penyediaan Bioetanol, aturan yang mengatur bagaimana kapasitas pencampuran dibangun dan diregulasi.
Kesenjangan antara satu pabrik dan mandat 20 persen
Skala tugas ini menjelaskan urgensinya. Indonesia saat ini hanya mengoperasikan satu pabrik etanol yang mampu memasok pencampuran bahan bakar, dan hanya tiga perusahaan secara nasional yang memproduksi etanol berkelas bahan bakar sama sekali, dengan kapasitas gabungan tahunan sekitar 26.000 kiloliter, menurut data industri yang dilaporkan bersamaan dengan pengumuman kementerian. Memenuhi mandat E20 pada 2028 akan membutuhkan sekitar 4 juta kiloliter etanol setiap tahun, menurut laporan The Jakarta Post akhir Juni, mengutip proyeksi pemerintah yang terkait dengan permintaan bensin nasional Indonesia yang mencapai sekitar 40 juta kiloliter per tahun.
Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan target untuk menutup kesenjangan tersebut: setidaknya 30 pabrik baru, dan hingga 50 pabrik jika diperlukan. Ia membingkai ambisi ini dengan tolok ukur internasional dalam pernyataan yang dikutip Liputan6: "Tadi saya putuskan kita akan bangun minimal 30 pabrik, kalau perlu sampai 50 pabrik. India sudah E20, Brasil sudah E100. Masa Indonesia tidak bisa? Indonesia pasti bisa."
Pembangunan fisik sendiri diperkirakan bukan hambatan utama. Eniya menyampaikan kepada wartawan bahwa sebuah pabrik etanol baru biasanya dapat dibangun dalam sekitar 1,5 tahun, asalkan pasokan bahan bakunya sudah diamankan terlebih dahulu, sebuah catatan yang menunjukkan di mana pekerjaan sesungguhnya dari program ini akan berlangsung.
Belajar dari templat kebijakan yang telah terbukti berhasil
Pemerintah secara eksplisit menjadikan keberhasilan biodiesel sebagai model bagi ajakan ini. Mandat biodiesel B50 Indonesia, yang mencampurkan 50 persen biodiesel berbasis sawit dengan solar konvensional, mulai berlaku secara nasional pada Juli 2026 dan telah memungkinkan negara menghentikan impor solar bersubsidi, kebijakan yang menurut pemerintah menghemat sekitar Rp170 triliun tahun ini. Liputan Viva atas pengumuman etanol ini mencatat pejabat menarik perbandingan tersebut secara langsung: seperti halnya biodiesel, sektor swasta kini secara aktif digaet untuk membantu produksi etanol berkembang dengan cara yang sama.
Perbandingan ini penting karena menandakan program dengan panduan yang sudah terbukti, bukan eksperimen yang dimulai dari nol. Indonesia telah menunjukkan mampu mengoordinasikan produsen bahan baku, pengolah, dan distributor bahan bakar dalam skala nasional untuk satu mandat biofuel. Menerapkan model koordinasi yang sama pada etanol, alih-alih menciptakan pendekatan baru dari awal, memperpendek kurva belajar secara signifikan.
Dari mana etanol akan berasal
Bahan baku, bukan konstruksi, adalah variabel yang terus disebut oleh setiap pejabat yang dikutip dalam berita ini. Peta jalan pemerintah di bawah peraturan yang kini sedang direvisi memprioritaskan tebu, singkong, dan jagung sebagai sumber etanol, dengan rencana paralel untuk merehabilitasi perkebunan tebu domestik dengan laju setidaknya 100.000 hektare per tahun selama dua tahun ke depan, bertujuan mengamankan pasokan tetes tebu yang mendasari produksi etanol. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyampaikan pemerintah berniat bertindak sebagai pembeli utama (off-taker) bagi produsen etanol, sebuah jaminan yang dirancang untuk memberi petani dan pelaku usaha hulu kepastian permintaan yang dibutuhkan untuk berinvestasi memperluas penanaman dan kapasitas pengolahan.
Minat investasi swasta sudah terlihat bahkan sebelum ajakan resmi ini disampaikan. Toyota dan perusahaan energi negara Pertamina mengumumkan usaha patungan untuk membangun pabrik bioetanol, dengan konstruksi ditargetkan pada kuartal kedua dan ketiga 2026 dan produksi diarahkan untuk mendukung mulainya mandat E20 pada 2028. Proyek terpisah tengah berjalan untuk merevitalisasi fasilitas bioetanol yang sudah ada di Lampung dengan rantai pasok berbasis singkong multi-bahan baku, serta membangun pabrik baru di Bone, Sulawesi Selatan, yang memanfaatkan singkong, jagung, dan tebu dari wilayah sekitarnya.
Jalur bertahap: E5, E10, lalu E20
Mandat ini diperkenalkan secara bertahap, bukan sekaligus, sehingga memberi waktu bagi produsen bahan baku maupun pengembang pabrik untuk meningkatkan skala. Campuran 5 persen, E5, mulai diterapkan pada Juli 2026. E10 direncanakan menjadi wajib pada 2027, sebelum kewajiban penuh E20 yang ditargetkan pada 2028, dengan sejumlah pejabat mengindikasikan penerapan penuh E20 dapat meluas hingga 2029 tergantung perkembangan pasokan. Kalender bertahap ini memberi para pengembang swasta yang baru diajak jalur yang realistis: pabrik yang disetujui dan dibiayai sekarang, dibangun dalam sekitar 1,5 tahun, dapat beroperasi jauh sebelum mandat yang mereka layani menjadi mengikat.
"Tadi saya putuskan kita akan bangun minimal 30 pabrik, kalau perlu sampai 50 pabrik. India sudah E20, Brasil sudah E100. Masa Indonesia tidak bisa? Indonesia pasti bisa," kata Presiden Prabowo Subianto, sebagaimana dilaporkan Liputan6.
Pandangan Sirkularium
Bagi lembaga pemerintah dan publik yang mengikuti transisi energi Indonesia, pengumuman ini paling tepat dibaca berdampingan dengan ajakan investasi surya China yang diberitakan awal pekan ini: keduanya mencerminkan pemerintah yang secara aktif merekrut modal swasta dan asing ke dalam kesenjangan kapasitas yang spesifik dan terukur, bukan sekadar menetapkan target luas lalu menunggu pasar merespons dengan sendirinya. Pendekatan ini memiliki rekam jejak. Program biodiesel B50, yang kini dijadikan templat bagi etanol, bergerak dari mandat menuju penerapan nasional dengan partisipasi swasta yang dirancang sejak awal, dan sudah menghasilkan penghematan impor yang terukur.
Lembaga yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan program ini bukan terutama berada di Jakarta. Mereka adalah dinas pertanian provinsi, regulator perkebunan, dan badan pembangunan daerah yang bertanggung jawab atas rantai pasok tebu, singkong, dan jagung yang akan menentukan apakah 30 hingga 50 pabrik baru memiliki cukup bahan baku untuk beroperasi pada kapasitas penuh. Mengoordinasikan rehabilitasi lahan, pembiayaan petani, dan jaminan penyerapan hasil di seluruh lembaga daerah tersebut merupakan pekerjaan yang lebih kompleks dibandingkan menyetujui izin pabrik, dan pantas mendapat perhatian yang setidaknya sama besar dari pembuat kebijakan sebagaimana linimasa pembangunan pabrik.
Bagi lembaga yang mengevaluasi ke mana harus memfokuskan dukungan, sinyal yang berguna adalah seberapa cepat revisi Peraturan Presiden Nomor 40 menerjemahkan komitmen bahan baku, khususnya target rehabilitasi tebu, menjadi program pembiayaan dan penyuluhan yang menjangkau petani secara individual. Industri etanol dengan pasokan yang baik akan memperkuat ketahanan energi Indonesia dan mengurangi ketergantungan impor bahan bakar dengan cara yang sama seperti yang telah dilakukan B50. Sebaliknya, industri etanol yang dibangun mendahului bahan bakunya akan mengulang risiko yang jelas telah dipelajari pemerintah dan berupaya dihindari dengan mengajak modal swasta masuk lebih awal, dengan persoalan bahan baku disebutkan sebagai prioritas sejak awal.






