Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Energi & Iklim

Indonesia terbitkan kredit karbon kehutanan pertama di bawah registri nasional baru

Oleh Sirkularium Editorial Team, 7 menit baca

Pemandangan udara sebuah instalasi besar dengan latar perbukitan hutan tropis

Kementerian Kehutanan menyetujui 31,7 juta ton kredit karbon kehutanan untuk empat proyek dan meluncurkan registri nasional untuk melacaknya, menandai pergeseran pasar karbon Indonesia dari kerangka kebijakan ke transaksi pertama.

Sekilas data
31,72 juta ton
CO2e kredit karbon kehutanan yang disetujui untuk diperdagangkan di empat proyek
Rp 5 triliun
Proyeksi nilai transaksi (sekitar US$276 hingga 277,5 juta)
Rp 500 miliar
Proyeksi penerimaan negara bukan pajak dari penerbitan ini (sekitar US$27,7 juta)
8,3 juta hektare
Kawasan perhutanan sosial yang ditandai untuk partisipasi proyek karbon di masa depan

Dari kerangka kebijakan menuju transaksi pertama

Pada 6 Juli 2026, Kementerian Kehutanan Indonesia menerbitkan persetujuan perdagangan resmi untuk empat proyek karbon kehutanan, melepaskan cadangan awal sekitar 31,72 juta ton setara karbon dioksida, CO2e, ke pasar karbon nasional. Tiga hari kemudian, pada 9 Juli, pemerintah meluncurkan Sistem Registri Unit Karbon, SRUK, di Jakarta, registri nasional yang dirancang untuk mencatat, melacak, dan menghapus setiap unit karbon yang diperdagangkan di Indonesia ke depannya. Kedua peristiwa ini bersama-sama menandai momen ketika program nilai ekonomi karbon Indonesia, yang dibangun di atas Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 dan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 6 dan Nomor 7 Tahun 2026, bergerak dari arsitektur hukum menjadi transaksi nyata yang dapat dihitung.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menggambarkan pergeseran ini secara langsung saat peluncuran SRUK, menyebut registri tersebut sebagai "instrumen krusial untuk mewujudkan potensi ekonomi hijau yang inklusif di Indonesia." Beberapa minggu sebelumnya, saat memaparkan tonggak yang sama, ia menyampaikannya dengan lebih tegas lagi: "Indonesia tidak lagi sekadar merancang kebijakan, tetapi telah maju secara signifikan ke tahap implementasi nyata di lapangan."

Empat proyek, satu registri baru

Persetujuan pada 6 Juli mencakup tiga pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan, PBPH, berskala konsesi dan satu entitas perhutanan sosial berbasis komunitas. Sumatra Merang Peatland Project di Sumatra Selatan, yang dikembangkan oleh PT Global Alam Lestari, dan Katingan Mentaya Project di Kalimantan Tengah, yang dikembangkan oleh PT Rimba Makmur Utama dan sudah menjadi salah satu proyek restorasi lahan gambut yang paling banyak diawasi di Asia Tenggara, keduanya mendapat persetujuan. Begitu pula Mayas Project di Kalimantan Barat, yang dikembangkan oleh PT Mohairson Pawan Khatulistiwa, dan proyek perhutanan komunitas Bujang Raba di Jambi, skema perhutanan sosial seluas sekitar 224.000 hektare yang didukung oleh Komunitas Konservasi Indonesia, yang dikenal sebagai KKI Warsi.

Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki dengan cermat menjelaskan batasan mekanisme ini di samping cakupannya. Persetujuan tersebut, katanya, "membuka pintu bagi pasar karbon sukarela. Oleh karena itu, mekanismenya bersifat sukarela." Perbedaan ini penting bagi cara pemerintah dan institusi publik membaca momen ini: ini adalah langkah pemberian izin bagi empat proyek tertentu untuk menjual kredit, bukan pajak karbon nasional yang wajib atau skema kepatuhan yang menjangkau seluruh perekonomian.

SRUK sendiri dirancang untuk mencegah masalah yang selama ini membayangi pasar karbon sukarela di seluruh dunia, yaitu ton karbon yang sama dihitung, dan dijual, lebih dari sekali. Sistem ini terhubung, melalui antarmuka pemrograman aplikasi dan penelusuran berbasis blockchain, ke Verra Registry, standar internasional yang digunakan oleh tiga dari empat proyek yang disetujui, dan ke Bursa Karbon Indonesia, IDXCarbon, di Bursa Efek Indonesia. Menteri Antoni, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, Utusan Khusus Presiden untuk Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo, dan Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi semuanya hadir dalam peluncuran 9 Juli, sebuah susunan yang menandakan inisiatif ini melibatkan setidaknya empat kementerian dan regulator keuangan, bukan hanya berada di dalam kebijakan kehutanan semata.

Angka-angka di balik peluncuran

31,72 juta ton CO2e yang dilepaskan di empat proyek tersebut membawa proyeksi nilai transaksi sekitar Rp 5 triliun, yang diperkirakan oleh berbagai sumber pemerintah berkisar antara US$276 juta hingga US$277,5 juta tergantung nilai tukar yang digunakan. Dari jumlah itu, pemerintah memproyeksikan sekitar Rp 500 miliar, mendekati US$27,7 juta, akan mengalir ke negara sebagai penerimaan negara bukan pajak, yang dikenal sebagai PNBP.

"Perdagangan karbon bukan hanya untuk kalangan elite, bukan hanya untuk mereka yang sudah lama berkecukupan, tetapi juga untuk masyarakat di tingkat akar rumput."

Kalimat dari Menteri Antoni itu menunjuk pada dua kategori lahan yang telah ditandai kementerian untuk partisipasi di masa depan di luar kelompok pertama ini: 8,3 juta hektare kawasan perhutanan sosial dan 1,4 juta hektare hutan adat, keduanya berhak atas skema bagi hasil jika komunitas pengelolanya mengejar status proyek karbon. Kementerian secara terpisah memproyeksikan bahwa implementasi penuh instrumen nilai ekonomi karbon dapat menarik sekitar US$5,8 miliar investasi hijau secara nasional, sebuah angka yang menggambarkan ambisi program ini, bukan sesuatu yang dijamin oleh penerbitan pertama ini.

Pertanyaan tata kelola yang belum terjawab

Tidak semua suara di dalam pemerintah merayakan kecepatan peluncuran ini. Eddy Soeparno, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, MPR, dan anggota Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat, memperingatkan sebelum peluncuran bahwa Indonesia berisiko menjual kredit karbon ke luar negeri sebelum menyelesaikan penghitungan emisinya sendiri. "Setiap sektor, termasuk industri, energi, kelautan, pertanian, dan lainnya, harus memiliki data yang jelas tentang emisinya dan seberapa besar emisi tersebut akan dikurangi," katanya, mendesak penyelesaian neraca karbon nasional sebelum perdagangan diperluas lebih jauh. Kekhawatirannya bersifat teknis namun konsekuensinya besar: tanpa dasar perhitungan itu, Indonesia tidak dapat secara andal membedakan pengurangan emisi mana yang dibutuhkan untuk memenuhi komitmen iklimnya sendiri dan mana yang benar-benar surplus dan aman untuk dijual ke luar negeri.

Ketegangan itu, antara pemerintah yang ingin menunjukkan implementasi dan legislatif yang meminta penghitungan menyusul terlebih dahulu, kemungkinan akan menentukan seberapa cepat daftar proyek SRUK berkembang melampaui empat proyek awal ini.

Pandangan Sirkularium

Bagi pemerintah dan institusi publik yang mengamati pasar karbon Indonesia, peluncuran ini paling tepat dibaca sebagai proyek percontohan dengan uang sungguhan yang menyertainya, bukan sistem yang sudah selesai. Infrastruktur registri, tautan API ke Verra, dan persetujuan kementerian untuk empat proyek yang terdokumentasi dengan baik merupakan kemajuan nyata, dan penekanan Wakil Menteri Marzuki pada sifat sukarela dan berbasis izin dari mekanisme ini menjadi titik awal yang dapat dipertanggungjawabkan.

Tiga hal layak mendapat perhatian ke depan. Pertama, apakah neraca karbon nasional yang diminta Wakil Ketua Soeparno akan dibangun sebelum daftar proyek berkembang jauh melampaui empat proyek ini, karena kredibilitas di pasar karbon internasional bergantung pada kemampuan Indonesia menunjukkan penghitungannya sendiri, bukan hanya kredensial masing-masing proyek. Kedua, apakah bagi hasil yang dijanjikan kepada 8,3 juta hektare kawasan perhutanan sosial dan 1,4 juta hektare hutan adat benar-benar sampai kepada kelompok tani hutan dan masyarakat adat dalam model Bujang Raba, alih-alih terkonsentrasi pada tiga proyek berskala konsesi. Ketiga, apakah pengaman anti-penghitungan ganda milik SRUK tetap kokoh di bawah pengawasan begitu volume perdagangan tumbuh melampaui kelompok awal yang diawasi ketat ini. Institusi publik yang berkepentingan dengan tata guna lahan, pembiayaan iklim, atau pembangunan daerah sebaiknya menjadikan putaran persetujuan proyek berikutnya, bukan yang pertama ini, sebagai ujian sesungguhnya apakah pasar karbon Indonesia dapat berkembang dengan integritas.

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di energi dan iklim, Sirkularium mendukung penyusunan data dasar emisi, perencanaan energi terbarukan dan penyimpanan, serta kerangka karbon dan kebijakan yang kuat di lapangan.

Artikel terkait

Kereta antarkota modern Indonesia berangkat dari peron stasiun saat senja, dengan panel surya terlihat di atap depo terdekat dan kabel listrik aliran atas
Energi & Iklim

PT Kereta Api Indonesia menurunkan penggunaan energi per pelanggan sebesar 22,05 persen pada 2025 meski jumlah penumpang tumbuh 8,67 persen, menawarkan contoh nyata efisiensi energi industri yang menurut Sirkularium relevan langsung dengan agenda dekarbonisasi Indonesia yang lebih luas.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Pejabat Kementerian ESDM Indonesia dan Danish Energy Agency berjabat tangan usai menandatangani perjanjian implementasi INDODEPP II
Energi & Iklim

Indonesia dan Denmark menandatangani fase kedua kemitraan energi mereka pada 20 Juli 2026, memperpanjang satu dekade kerja sama untuk lima tahun berikutnya. Inilah apa yang telah dihasilkan INDODEPP, fokus INDODEPP II, dan mengapa hal ini penting bagi jalan Indonesia menuju nol emisi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 12 menit baca

Pesawat komersial sedang diisi bahan bakar di landasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta dengan truk bahan bakar Pertamina di sampingnya, infrastruktur bahan bakar penerbangan berkelanjutan terlihat
Energi & Iklim

Menteri Koordinator Agus Harimurti Yudhoyono memastikan Indonesia akan mewajibkan campuran bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF) sebesar 1 persen pada penerbangan internasional mulai 2027, didukung uji coba kilang Pertamina dan peta jalan menuju campuran 50 persen pada 2060.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pemandangan berdampingan antara cerobong asap PLTU batu bara yang dinonaktifkan dengan instalasi PLTS terapung dan sepeda motor listrik di stasiun tukar baterai di Indonesia
Energi & Iklim

Analisis Task Force on Climate related Financial Disclosures yang dipaparkan di Lestari Summit Jakarta menunjukkan TBS Energi Utama berpotensi merugi hingga 3,8 miliar dollar AS pada 2050 jika tetap bergantung pada batu bara, memperkuat transisi yang sudah berjalan menuju pengelolaan sampah, energi terbarukan, dan mobilitas listrik.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Fasilitas penyimpanan atau pengisian hidrogen di Indonesia dengan infrastruktur industri modern, panel surya terlihat di latar belakang, dan seorang teknisi memeriksa peralatan
Energi & Iklim

Kementerian ESDM memanfaatkan Global Hydrogen Ecosystem Summit untuk memaparkan 93 inisiatif hidrogen senilai Rp32 triliun investasi, disertai bus dual fuel yang sudah beroperasi dan rencana koridor hidrogen hijau sepanjang 194 kilometer dari Jakarta ke Patimban.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pemandangan interior atau eksterior pabrik pengolahan bioetanol di Indonesia, dengan tangki fermentasi atau peralatan distilasi serta bahan baku pertanian seperti tebu atau singkong di sekitarnya
Energi & Iklim

Kementerian ESDM mengajak perusahaan swasta membangun pabrik bioetanol, dengan target mengembangkan satu-satunya pabrik yang ada saat ini menjadi 30 hingga 50 pabrik dalam beberapa tahun untuk memenuhi mandat campuran etanol 20 persen pada 2028.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca