Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Energi & Iklim

Indonesia pastikan mandatori bahan bakar penerbangan berkelanjutan mulai 2027

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pesawat komersial sedang diisi bahan bakar di landasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta dengan truk bahan bakar Pertamina di sampingnya, infrastruktur bahan bakar penerbangan berkelanjutan terlihat

Menteri Koordinator Agus Harimurti Yudhoyono memastikan Indonesia akan mewajibkan campuran bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF) sebesar 1 persen pada penerbangan internasional mulai 2027, didukung uji coba kilang Pertamina dan peta jalan menuju campuran 50 persen pada 2060.

Sekilas data
1%
Campuran SAF wajib pada penerbangan internasional mulai 2027
50%
Target campuran SAF nasional pada 2060 menurut peta jalan pemerintah
3,9 juta ton
Potensi pasokan minyak jelantah nasional per tahun, angka 2023
5 tahun
Lama Pertamina Patra Niaga mengembangkan SAF sebelum mandatori berlaku

Menteri memastikan mandatori

Pada 23 Juli 2026, dalam Indonesia Zero Emission Heavy-Duty Vehicle Summit di Jakarta, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono memastikan bahwa penerbangan Indonesia akan mulai menggunakan bahan bakar penerbangan berkelanjutan, yang dikenal di dalam negeri sebagai bioavtur, mulai 2027. Ia menggambarkan langkah ini sebagai bagian dari tren global, bukan sekadar kebijakan nasional yang berdiri sendiri.

"Ini adalah masa depan penerbangan global. Jika kita mulai bergerak ke arah itu, ini dapat berkontribusi signifikan terhadap penurunan emisi secara keseluruhan."

Pernyataan ini bukan pengumuman yang berdiri sendiri. Sehari sebelumnya, Pertamina Patra Niaga memanfaatkan Indonesia Aero Summit 2026 yang ketiga, yang diselenggarakan oleh Indonesia National Air Carriers Association, untuk memaparkan bagaimana perusahaan energi milik negara itu bersiap memenuhi mandatori tersebut begitu berlaku. Kedua acara yang berselang satu hari ini memberi media penerbangan dan energi Indonesia satu rangkaian kebijakan dan industri yang selaras untuk diberitakan, dan liputannya tersebar di kantor berita nasional maupun desk bisnis, termasuk Antara, CNN Indonesia, Media Indonesia, Liputan6, Sindonews, dan CNBC Indonesia.

Apa sebenarnya isi mandatori ini

Kewajiban awal ini lebih sempit dari yang mungkin terbayang dari kata "mandatori", dan itu disengaja. Mulai 2027, campuran SAF sebesar 1 persen akan diwajibkan pada penerbangan internasional yang berangkat dari dua bandara: Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang dan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Bali. Rute domestik belum tercakup dalam fase pertama ini.

Pemerintah juga telah mempublikasikan, dan terus dipantau oleh media keberlanjutan Indonesia, peta jalan campuran yang jauh lebih panjang dari sekadar langkah simbolis pertama: 1 persen pada 2027, naik menjadi 2,5 persen pada 2030, 5 persen pada 2035, 12,5 persen pada 2040, 20 persen pada 2045, 30 persen pada 2050, 40 persen pada 2055, dan 50 persen pada 2060. Dibaca secara utuh, peta jalan ini menggambarkan transisi bahan bakar yang diukur dalam hitungan dekade, bukan tahun, sebuah kerangka waktu yang realistis mengingat betapa padat modalnya konversi kilang dan peningkatan skala pasokan bahan baku.

Mengapa mesin bukan penghambat utama

Pertanyaan yang selalu muncul setiap kali campuran bahan bakar baru diusulkan untuk pesawat adalah apakah armada dan mesin yang ada dapat menggunakannya tanpa modifikasi. Kementerian Perhubungan menjawab langsung melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Sokhib Al Rokhman, Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara, memastikan bahwa pengujian komersial telah dilakukan sepanjang Agustus hingga Desember 2025 pada pesawat Airbus A320 milik Pelita Air, disertai pengujian sel mesin di Garuda Maintenance Facility.

Kesimpulannya disampaikan secara langsung: mesin tidak perlu diganti. Jawaban atas pertanyaan apakah penggantian diperlukan adalah tidak. Hasil ini penting karena menghilangkan apa yang seharusnya menjadi hambatan biaya terbesar dalam memperluas penggunaan SAF, yaitu modifikasi pesawat atau penggantian armada, dan menegaskan bahwa kendala sesungguhnya justru ada di sisi pasokan: kapasitas produksi, volume bahan baku, dan harga.

Lima tahun langkah awal Pertamina

Jika pengujian Kementerian Perhubungan menjawab sisi permintaan, Pertamina Patra Niaga memanfaatkan Aero Summit untuk menjawab sisi pasokan. Joko Pranoto, Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis Pertamina Patra Niaga, menyampaikan kepada peserta summit bahwa Pertamina Patra Niaga mulai mengembangkan SAF sejak lima tahun lalu, jauh sebelum ada kewajiban regulasi, dan terus melanjutkan upaya ini bahkan pada periode ketika permintaan komersial semata belum cukup untuk membenarkan investasi tersebut.

Kesiapan produksi kini mencakup tiga kilang. Green Refinery Cilacap sudah beroperasi, sementara uji coba co-processing, yaitu mencampur bahan baku terbarukan bersama minyak mentah konvensional di kilang yang sudah ada, sedang berlangsung pada 2026 di Dumai dan Balongan. Penerbangan uji coba telah diselesaikan bersama Garuda Indonesia dan Pelita Air, dan Pertamina Patra Niaga telah menandatangani kontrak penjualan SAF dengan sebuah maskapai internasional untuk memasok penerbangan dari Soekarno-Hatta dan Bali, yang berarti bahan bakar ini akan sampai ke penumpang berbayar sebelum mandatori resmi berlaku. Perusahaan juga menandatangani nota kesepahaman dengan Boeing Indonesia yang mencakup edukasi SAF, pemetaan bahan baku, penguatan kapasitas, studi pasar, dan advokasi kebijakan, sebuah upaya untuk menyiapkan seluruh ekosistem, bukan hanya kapasitas produksi.

Soal bahan baku, dan peluang ekonomi sirkular

Kesiapan sisi pasokan pada akhirnya bergantung pada bahan baku, dan di sinilah dorongan SAF Indonesia bersinggungan langsung dengan ekonomi sirkular. Sumber industri menyebut minyak jelantah sebagai kandidat bahan baku domestik utama, dengan estimasi potensi produksi nasional sebesar 3,9 juta ton per tahun berdasarkan angka 2023. Karena merupakan aliran limbah, bukan tanaman yang sengaja dibudidayakan, penggunaannya sebagai bahan baku SAF tidak bersaing dengan produksi pangan, sebuah kekhawatiran yang selama ini membayangi program biofuel di berbagai negara.

Mengubah aliran limbah rumah tangga dan jasa boga yang tersebar menjadi bahan baku setara aviasi dalam skala besar adalah persoalan pengumpulan dan logistik, sama besarnya dengan persoalan kimia, dan hal ini beririsan erat dengan jaringan pengumpulan sampah formal maupun informal yang sudah tengah diformalkan Indonesia untuk kebutuhan lain. Rantai pasok minyak jelantah yang kredibel untuk SAF memerlukan pengumpulan yang konsisten, jaminan kualitas, dan keterlacakan dari sumber hingga kilang, kemampuan yang juga memperkuat pengelolaan sampah sirkular secara lebih luas.

Pandangan Sirkularium

Bagi pemerintah dan institusi publik, mandatori SAF ini menawarkan contoh langka dari komitmen dekarbonisasi yang sudah melewati keberatan teknis paling mendasarnya. Dengan kompatibilitas mesin yang telah dipastikan melalui pengujian Kementerian Perhubungan sendiri, pekerjaan yang tersisa lebih bersifat kelembagaan dan logistik ketimbang eksperimental: membangun sistem pengumpulan minyak jelantah yang andal dan terlacak, menyelaraskan investasi kilang dengan peta jalan campuran yang telah dipublikasikan, serta menetapkan kerangka harga dan offtake yang menjaga biaya tiket tetap terjangkau seiring mandatori mengetat dari 1 persen menuju target 2060.

Cakupan awal yang terbatas pada dua bandara dan penerbangan internasional merupakan cara yang tepat untuk menguji seluruh rantai, mulai dari pengumpulan bahan baku, pemrosesan di kilang, hingga penyaluran, sebelum kewajiban ini diperluas secara nasional. Institusi publik yang memiliki kepentingan dalam kebijakan pengelolaan sampah sebaiknya melihat persoalan bahan baku SAF sebagai peluang untuk menyelaraskan dekarbonisasi penerbangan dengan upaya yang sudah berjalan dalam memformalkan pengumpulan minyak jelantah, mengubah kewajiban kepatuhan bagi satu sektor menjadi kasus investasi bagi infrastruktur ekonomi sirkular yang melayani beberapa sektor sekaligus. Peta jalan yang berjangka multi-dekade ini juga memberi ruang bagi pembuat kebijakan untuk menyusun langkah-langkah pendukung, standar agregasi bahan baku, insentif kilang, dan pemantauan tingkat bandara, jauh sebelum setiap ambang batas campuran tercapai, alih-alih baru bereaksi setelahnya.

Peta jalan campuran bahan bakar penerbangan berkelanjutan Indonesia

Values in % campuran SAF

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di energi dan iklim, Sirkularium mendukung penyusunan data dasar emisi, perencanaan energi terbarukan dan penyimpanan, serta kerangka karbon dan kebijakan yang kuat di lapangan.

Artikel terkait

Kereta antarkota modern Indonesia berangkat dari peron stasiun saat senja, dengan panel surya terlihat di atap depo terdekat dan kabel listrik aliran atas
Energi & Iklim

PT Kereta Api Indonesia menurunkan penggunaan energi per pelanggan sebesar 22,05 persen pada 2025 meski jumlah penumpang tumbuh 8,67 persen, menawarkan contoh nyata efisiensi energi industri yang menurut Sirkularium relevan langsung dengan agenda dekarbonisasi Indonesia yang lebih luas.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Pejabat Kementerian ESDM Indonesia dan Danish Energy Agency berjabat tangan usai menandatangani perjanjian implementasi INDODEPP II
Energi & Iklim

Indonesia dan Denmark menandatangani fase kedua kemitraan energi mereka pada 20 Juli 2026, memperpanjang satu dekade kerja sama untuk lima tahun berikutnya. Inilah apa yang telah dihasilkan INDODEPP, fokus INDODEPP II, dan mengapa hal ini penting bagi jalan Indonesia menuju nol emisi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 12 menit baca

Pemandangan berdampingan antara cerobong asap PLTU batu bara yang dinonaktifkan dengan instalasi PLTS terapung dan sepeda motor listrik di stasiun tukar baterai di Indonesia
Energi & Iklim

Analisis Task Force on Climate related Financial Disclosures yang dipaparkan di Lestari Summit Jakarta menunjukkan TBS Energi Utama berpotensi merugi hingga 3,8 miliar dollar AS pada 2050 jika tetap bergantung pada batu bara, memperkuat transisi yang sudah berjalan menuju pengelolaan sampah, energi terbarukan, dan mobilitas listrik.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Fasilitas penyimpanan atau pengisian hidrogen di Indonesia dengan infrastruktur industri modern, panel surya terlihat di latar belakang, dan seorang teknisi memeriksa peralatan
Energi & Iklim

Kementerian ESDM memanfaatkan Global Hydrogen Ecosystem Summit untuk memaparkan 93 inisiatif hidrogen senilai Rp32 triliun investasi, disertai bus dual fuel yang sudah beroperasi dan rencana koridor hidrogen hijau sepanjang 194 kilometer dari Jakarta ke Patimban.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pemandangan interior atau eksterior pabrik pengolahan bioetanol di Indonesia, dengan tangki fermentasi atau peralatan distilasi serta bahan baku pertanian seperti tebu atau singkong di sekitarnya
Energi & Iklim

Kementerian ESDM mengajak perusahaan swasta membangun pabrik bioetanol, dengan target mengembangkan satu-satunya pabrik yang ada saat ini menjadi 30 hingga 50 pabrik dalam beberapa tahun untuk memenuhi mandat campuran etanol 20 persen pada 2028.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pemandangan udara instalasi pembangkit listrik tenaga surya berskala besar di Indonesia, panel surya tersusun di lahan terbuka atau terapung dengan pekerja atau insinyur memeriksa peralatan
Energi & Iklim

Menteri Koordinator Airlangga Hartarto mengajak perusahaan China berinvestasi dalam target surya 100 gigawatt Indonesia saat pertemuan di Shanghai, dengan menunjuk PLTS terapung Cirata sebagai bukti kemitraan ini sudah berjalan.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca