Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Limbah & Polusi

Jakarta bergerak cabut izin atas 700 meter sampah yang ditimbun ilegal di Penjaringan

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Truk kebersihan kota dan alat berat membersihkan sampah yang ditimbun ilegal sepanjang ruang terbuka hijau di Jakarta Utara

Gubernur Pramono Anung memerintahkan pembersihan dua pekan atas sekitar 700 meter sampah yang ditimbun ilegal di ruang terbuka hijau Penjaringan, Jakarta Utara, dan memperingatkan bahwa pemegang izin swasta yang bertanggung jawab menghadapi pembekuan atau pencabutan izin berdasarkan peraturan gubernur tahun 2021.

Sekilas data
700 meter
Panjang lahan publik di RTH Penjaringan yang tertutup timbunan sampah ilegal
10 truk
Armada Dinas Lingkungan Hidup yang langsung dikerahkan untuk pembersihan
15 hingga 20 truk
Kapasitas truk harian yang menurut pejabat dibutuhkan untuk membersihkan lokasi
2 perusahaan
Pemegang izin sampah swasta yang sudah disanksi tahun ini, pada 12 Mei dan 1 Juli 2026

Inspeksi hari Minggu berujung ultimatum publik

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memanfaatkan kehadirannya pada Car Free Day di Jalan H.R. Rasuna Said, Setiabudi, Jakarta Selatan, pada Minggu, 26 Juli 2026, untuk menyampaikan pesan tegas kepada para pemegang izin pengelolaan sampah swasta di ibu kota. Didampingi Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, sang gubernur menegaskan bahwa ia telah menginstruksikan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta untuk bekerja sama dengan Kominfotik agar sampah yang menumpuk di lahan publik di Jakarta Utara segera diangkut.

"Untuk sampah di Jakarta, saya sudah memerintahkan Dinas Lingkungan Hidup bekerja sama dengan Kominfotik agar sampah yang menumpuk segera diangkut," kata Pramono, menjelaskan instruksinya untuk bergerak cepat menangani timbunan sampah tersebut. Ia lebih tegas lagi soal sumber masalahnya. "Pihak swasta yang menimbun sampah sudah kami berikan teguran keras. Perbuatan ini tidak boleh terulang," katanya, menegaskan bahwa teguran keras telah disampaikan kepada perusahaan swasta yang bertanggung jawab dan perbuatan itu tidak boleh terjadi lagi.

Menelisik lokasi Penjaringan

Sampah yang dimaksud berada di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Penjaringan, Jakarta Utara, tempat timbunan ilegal menutupi sekitar 700 meter lahan publik, menurut pemberitaan ANTARA News, Suara.com, Jawa Pos, Koran Jakarta, JPNN, dan MetroTV News. Titik keluhan kedua yang lebih kecil juga dilaporkan di sekitar Stasiun Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Inti pelanggaran ini adalah ketidaksesuaian antara apa yang diizinkan bagi pemegang izin dan apa yang sebenarnya mereka lakukan. Perusahaan pemegang izin pengelolaan sampah swasta di Jakarta hanya diizinkan mengangkut residu hasil pengolahan menuju tempat pembuangan akhir (TPA) kota. Namun, menurut keterangan sang gubernur, sampah justru ditimbun di lahan publik alih-alih diteruskan ke pembuangan yang seharusnya, sebuah praktik yang membuat volume sampah menumpuk sepanjang area RTH Penjaringan alih-alih dibersihkan sebagaimana mestinya.

Untuk menangani timbunan yang sudah terjadi, Dinas Lingkungan Hidup telah mengerahkan sepuluh truk, dengan tambahan alat berat dari Dinas Sumber Daya Air yang turut membantu pembersihan. Pejabat memperkirakan pembersihan menyeluruh lokasi tersebut membutuhkan 15 hingga 20 rit truk per hari, dan Pramono menetapkan target dua pekan untuk menuntaskan operasi tersebut.

Bukan peringatan pertama bagi operator ini

Ini bukan langkah pertama yang diambil pemerintah kota terhadap perusahaan-perusahaan yang terlibat. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebelumnya telah menjatuhkan sanksi, termasuk denda dan penahanan truk, terhadap pemegang izin sebanyak dua kali tahun ini, yaitu pada 12 Mei dan kembali pada 1 Juli 2026, menurut sejumlah media yang meliput pernyataan Pramono pada hari Minggu. Riwayat itulah yang menjadi alasan mengapa pernyataan gubernur kali ini membawa ancaman tegas berupa tindakan terhadap izin usaha, bukan sekadar teguran ulang.

"Jika masih membandel, akan kami tindak sesuai ketentuan hukum," kata sang gubernur, memperingatkan bahwa perilaku membandel akan ditindak sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Dasar hukum ancaman tersebut adalah Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 102 Tahun 2021, yang mengatur kewajiban pengelolaan sampah bagi kawasan dan perusahaan yang beroperasi di ibu kota. Berdasarkan peraturan itu, pemerintah kota dapat meningkatkan sanksi secara bertahap: hingga tiga kali teguran tertulis, pengumuman nama perusahaan pelanggar kepada publik, pembekuan sementara izin operasional, dan pada tingkat tertinggi, pencabutan izin usaha sepenuhnya.

"Pihak swasta yang menimbun sampah sudah kami berikan teguran keras. Perbuatan ini tidak boleh terulang," kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, menegaskan bahwa perusahaan swasta yang bertanggung jawab atas timbunan sampah di Penjaringan sudah menerima teguran resmi sebelum perintah pembersihan hari Minggu itu.

Dorongan paralel pada titik awal sampah

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memanfaatkan kesempatan yang sama untuk menekankan sisi awal dari rantai sampah, dengan berargumen bahwa edukasi publik soal pemilahan sama pentingnya dengan penegakan di ujung pembuangan. "Yang paling penting adalah ilmunya disebarluaskan kepada masyarakat," katanya, menekankan bahwa tugas terpenting adalah menyebarkan pengetahuan praktis kepada masyarakat, sehingga pemilahan terjadi "dari sumbernya, yaitu oleh warga sendiri".

Pemerintah Jakarta juga mengarahkan warga pada kanal yang sudah tersedia untuk melaporkan masalah sebelum berkembang seluas yang terjadi di Penjaringan. Aplikasi JAKI milik pemerintah kota, yang sudah digunakan untuk berbagai layanan kota, memungkinkan warga melaporkan timbunan sampah secara langsung, memberi Dinas Lingkungan Hidup pemicu penegakan yang lebih dini daripada menunggu sebuah lokasi mencapai timbunan sepanjang ratusan meter.

Mengapa kasus ini penting di luar satu ruang terbuka hijau

Tindakan penegakan di Penjaringan ini muncul di tengah dorongan nasional yang lebih luas untuk mengakhiri praktik open dumping, dengan Kementerian Lingkungan Hidup pemerintah pusat menetapkan 31 Juli 2026 sebagai tenggat bagi pemerintah daerah untuk mengakhiri open dumping di tempat pembuangan akhir secara nasional. Salah satu pemberitaan mengenai pernyataan hari Minggu itu juga mengaitkan dorongan penegakan di Jakarta dengan target internal kota untuk mengakhiri praktik open dumping pada 1 Agustus 2026, meski dinas-dinas provinsi belum merinci tanggal tersebut secara terpisah kepada publik, dan Sirkularium mencatat angka ini sebagaimana diberitakan, bukan sebagai hal yang telah diverifikasi secara independen.

Terlepas dari tanggal pastinya, benang merahnya konsisten. Jakarta memperlakukan timbunan ilegal oleh pihak swasta sebagai prioritas penegakan yang aktif, bukan sekadar urusan yang diserahkan pada inspeksi rutin, dan melakukannya melalui instrumen regulasi yang sudah ada, yakni Pergub 102/2021, bukan melalui langkah darurat atau ad hoc. Perbedaan ini penting bagi seberapa dapat diprediksinya proses tersebut, baik bagi perusahaan yang terlibat maupun bagi warga yang mengamati seberapa cepat lokasi bermasalah ditangani.

Pandangan Sirkularium

Bagi dinas lingkungan hidup provinsi dan kota di daerah lain di Indonesia, pendekatan Jakarta di Penjaringan menawarkan model yang dapat diterapkan untuk masalah yang umum terjadi: ketidaksesuaian antara apa yang diizinkan oleh sebuah izin sampah dan apa yang sebenarnya dilakukan perusahaan terhadap material yang dikumpulkannya. Dua sanksi sebelumnya tahun ini terhadap kategori operator yang sama, diikuti dengan ancaman terbuka dan tercatat untuk mencabut izin apabila pola tersebut berulang, menunjukkan tangga penegakan bertahap yang digunakan sebagaimana dirancang, bukan dilewati demi satu hukuman dramatis tunggal.

Perpaduan antara penegakan hukum dan penekanan Menteri Kesehatan pada pemilahan di tingkat sumber juga patut dicermati. Kapasitas pembersihan, sepuluh truk yang meningkat menjadi lima belas hingga dua puluh truk per hari, menangani gejala yang sudah terjadi di lapangan. Edukasi publik soal pemilahan, dipadukan dengan kanal pelaporan yang mudah diakses seperti JAKI, ditujukan untuk mengurangi seberapa sering gejala tersebut berulang sejak awal. Pemerintah daerah yang sedang membangun atau menyempurnakan kerangka penegakan pengelolaan sampah mereka sendiri akan diuntungkan dengan mengadopsi kedua sisi pendekatan ini sekaligus: regulasi dengan sanksi bertahap yang nyata, diterapkan secara konsisten dan transparan, dipadukan dengan kanal berhambatan rendah bagi warga untuk melaporkan masalah selagi masih cukup kecil untuk dibersihkan dalam hitungan hari, bukan pekan. Apa yang terjadi di Penjaringan dalam dua pekan mendatang, dan apakah izin benar-benar dibekukan atau dicabut, bukan sekadar diancam, akan menjadi sinyal berguna tentang seberapa tegas Jakarta akan menindaklanjuti langkahnya.

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di limbah dan polusi, Sirkularium membantu merancang sistem pengumpulan, pemilahan, dan pemulihan, menyusun kebijakan dan peta jalan, serta mengubah sampah menjadi sumber daya yang terkelola.

Artikel terkait

Para bankir dan pejabat pembiayaan proyek di sekitar meja meninjau tata letak fasilitas pengolahan sampah menjadi energi, dengan fasilitas PSEL modern yang sedang dibangun tampak di layar di belakang mereka
Limbah & Polusi

Pada 16 Oktober 2026, Danantara Investment Management dan anak usahanya di bidang pengolahan sampah menjadi energi, Denera, menetapkan 34 institusi keuangan sebagai anggota lenders panel program PSEL Indonesia, dengan minat pembiayaan indikatif lebih dari tiga kali estimasi kebutuhan utang program.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Nelayan di sebuah pelabuhan perikanan Indonesia memilah dan mengikat jaring insang nilon serta tali yang sudah usang di dermaga untuk dikumpulkan dan didaur ulang, dengan kapal ikan bersandar di belakangnya
Limbah & Polusi

Kementerian Kelautan dan Perikanan menerbitkan Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Nomor 23 Tahun 2026, pedoman nasional pengelolaan alat penangkapan ikan yang ditinggalkan, hilang, dibuang, maupun yang sudah habis masa pakainya dengan prinsip 3R. Uji coba dimulai di tiga pelabuhan perikanan, didukung mitra lapangan di Merauke, Muncar, Pengambengan dan Gresik.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Foto udara kawasan TPST Bantargebang dengan lahan yang telah dibersihkan dan diratakan untuk fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik di samping zona timbunan sampah yang ada
Limbah & Polusi

Gubernur Pramono Anung menyampaikan pada 7 Oktober bahwa persoalan penyediaan lahan yang selama ini menahan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik Jakarta di Bantargebang telah menemukan jalan keluar, dan kota berharap masuk batch ketiga program nasional agar pembangunan dapat dimulai sebelum akhir 2026.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Mahasiswa berjaket almamater membantu warga memilah sampah rumah tangga organik dan anorganik ke dalam tempat sampah berlabel di sebuah permukiman di Bandung
Limbah & Polusi

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menerjunkan 25.000 mahasiswa ke 52 kecamatan di Bandung Raya selama tiga bulan, dengan pengakuan setara 10 SKS, untuk membantu rumah tangga memilah dan mengurangi sampah dari sumber. Targetnya pengurangan 20 persen yang memperpanjang usia TPA Sarimukti hingga fasilitas Legok Nangka beroperasi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pejabat Pemerintah Kota Kendari di TPAS Puuwatu, Sulawesi Tenggara, di samping lahan yang direncanakan untuk fasilitas pengolahan sampah terpadu, dengan alat berat memadatkan sampah di sel yang ada
Limbah & Polusi

Kendari menjadi satu dari empat penerima di Sulawesi dalam Local Service Delivery Improvement Project yang didukung Bank Dunia, pada penyerahan di Makassar tanggal 6 Oktober. Kota ini berencana mengarahkan program senilai Rp107 miliar tersebut untuk fasilitas pengolahan sampah di TPAS Puuwatu dan sistem layanan yang berjalan dari pemilahan di rumah tangga hingga pemrosesan akhir.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Petugas dan ekskavator mengangkat kayu, bambu, dan sampah plastik yang hanyut dari saringan sampah di Sungai Ciliwung, Jakarta Selatan, dengan tumpukan material organik hasil pilahan di tepi sungai
Limbah & Polusi

Gubernur Pramono Anung menyampaikan pada 5 Oktober bahwa Jakarta akan mereplikasi saringan sampah terpadu TB Simatupang, yang menangkap hampir 30 persen sampah yang terbawa Sungai Ciliwung dan mengolah sebagian besarnya menjadi kompos dan woodchip, di 11 sungai lain di ibu kota.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca