Kereta api negara pangkas intensitas energi 22 persen sambil angkut penumpang terbanyak sepanjang sejarah
Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

PT Kereta Api Indonesia menurunkan penggunaan energi per pelanggan sebesar 22,05 persen pada 2025 meski jumlah penumpang tumbuh 8,67 persen, menawarkan contoh nyata efisiensi energi industri yang menurut Sirkularium relevan langsung dengan agenda dekarbonisasi Indonesia yang lebih luas.
Apa yang terjadi
PT Kereta Api Indonesia (KAI), operator kereta api milik negara, melaporkan bahwa intensitas energi per pelanggan turun 22,05 persen pada 2025, dari 0,0263 gigajoule (GJ) per pelanggan pada 2024 menjadi 0,0205 GJ per pelanggan pada 2025. Perbaikan ini terjadi pada tahun ketika perusahaan mengangkut lebih banyak orang dan lebih banyak barang dibanding sebelumnya, bukan lebih sedikit. Wakil Presiden Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengungkapkan angka ini pada 25 Juli 2026, menggambarkan energi sebagai salah satu unsur penting dalam menjalankan layanan kereta api yang andal, dan menempatkan metrik intensitas sebagai penanda paling jelas apakah unsur tersebut digunakan secara efisien.
Angka utama ini berada dalam rangkaian hasil yang lebih luas. Total konsumsi energi KAI Group turun 15,39 persen, dari 11.945.467 GJ pada 2024 menjadi 10.107.302 GJ pada 2025, meski perusahaan melayani 492.657.571 pelanggan, naik 8,67 persen dari 453.343.189 pelanggan pada tahun sebelumnya. Intensitas energi per ton kargo yang diangkut juga turun, sebesar 15,82 persen, dari 0,1726 GJ per ton pada 2024 menjadi 0,1453 GJ per ton pada 2025. Intensitas yang diukur terhadap pendapatan turun 14,57 persen, dari 0,3308 GJ per miliar rupiah menjadi 0,2826 GJ per miliar rupiah. Volume kargo sendiri tumbuh moderat, dari 69.201.670 ton pada 2024 menjadi 69.571.601 ton pada 2025, yang berarti capaian efisiensi ini bukan akibat dari berkurangnya aktivitas bisnis.
"Semakin rendah intensitasnya, semakin efisien energi," kata Anne Purba, yang menggambarkan intensitas, bukan konsumsi mentah, sebagai metrik yang paling mencerminkan apakah pertumbuhan dan keberlanjutan berjalan beriringan.
Mekanisme di balik angka tersebut
Tiga pengungkit terpisah tampak mendorong hasil ini, berdasarkan pengungkapan KAI sepanjang tahun. Pengungkit pertama adalah substitusi bahan bakar. Seluruh lokomotif dan genset KAI telah beroperasi sepenuhnya dengan biosolar B40, campuran 40 persen biodiesel berbasis sawit dan 60 persen solar berbasis minyak bumi, sejak Februari 2025, menyusul uji coba teknis yang dimulai pada 2024. Sepanjang 2025 saja, konsumsi Biosolar B40/B35 mencapai 255.047,87 kiloliter, setara dengan 9.666.314,31 GJ, porsi terbesar dari total penggunaan energi perusahaan. Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menggambarkan pergeseran ini sebagai peta jalan bertahap, bukan satu kali beralih: solar murni hingga 2017, B20 pada 2018 hingga 2019, B30 pada 2020 hingga 2022, B35 sepanjang 2023 dan 2024, B40 pada 2025 dan 2026, dan kini uji coba menuju B50, yang diwajibkan pemerintah secara nasional mulai 1 Juli 2026. KAI membangun fasilitas pencampuran dan pengisian B40 khusus di lima lokasi, yaitu Cipinang, Arjawinangun, Lempuyangan, Cepu, dan Pasar Turi, untuk mendukung transisi ini.
Pengungkit kedua adalah manajemen, bukan mesin. Selain peralihan bahan bakar, KAI memperkuat tata kelola energi melalui pengukuran konsumsi, pemantauan berkala, dan evaluasi di seluruh wilayah operasional regional, didukung pelatihan manajemen energi yang ditujukan untuk membangun kesadaran konservasi di kalangan pekerja lapangan. Anne Purba secara eksplisit menyatakan bahwa lapisan administratif ini, bukan hanya campuran biofuel, diperlakukan sebagai sumber tersendiri dari capaian efisiensi tersebut.
Pengungkit ketiga adalah elektrifikasi dan energi terbarukan pada skala terbatas. KAI telah memasang kapasitas surya di atap dan depo, dengan angka yang dilaporkan perusahaan berkisar dari 3.435,5 kilowatt-peak (kWp) di 66 lokasi dalam pengungkapan Juni 2026, hingga 4.430,65 kWp di 92 lokasi dalam pengungkapan April 2026. Sirkularium mencatat perbedaan ini tanpa menyimpulkannya secara sepihak. Angka manapun yang benar, keduanya tetap merupakan porsi kecil dari total pasokan energi, tetapi keduanya menunjukkan arah yang sama: pembangkitan surya terdistribusi di depo dan stasiun terus berkembang. KAI juga berkomitmen pada 1.038,7 kilometer jalur kereta yang dielektrifikasi, termasuk koridor Rangkasbitung-Merak, Cikarang-Cikampek, dan Bogor-Cigombong, serta menguji coba teknologi Battery Electric Multiple Unit (BEMU).
Mengapa ini penting bagi dekarbonisasi industri
Kereta api sudah menyumbang porsi emisi sektor transportasi yang jauh lebih kecil dibanding mobilitas yang disediakannya. Analisis yang dikutip tim keberlanjutan KAI menempatkan kereta api pada sekitar 1 persen emisi transportasi di Indonesia, dibanding sekitar 89 persen untuk transportasi jalan raya, sementara intensitas emisi layanan KAI sendiri berada pada 15 gram setara CO2 per penumpang-kilometer untuk LRT Jabodebek dan 16,43 gram per penumpang-kilometer untuk kereta antarkota. Efisiensi dasar inilah yang membuat perbaikan intensitas 2025 signifikan melampaui neraca KAI sendiri: hal ini menunjukkan bahwa operator besar milik negara yang terus tumbuh dapat menekan jejak energinya per unit layanan menggunakan tiga pengungkit yang sama, substitusi bahan bakar, disiplin manajemen, dan elektrifikasi bertahap, yang berlaku di sektor-sektor industri padat energi Indonesia secara lebih luas.
Peta jalan net zero KAI sendiri, yang disusun dengan dukungan program UK Partnering for Accelerated Climate Transition (UK PACT) dari Inggris, Palladium, dan Kynergy Consulting, menargetkan pemangkasan emisi 25,76 persen pada 2030 terhadap basis 647.785 ton setara CO2, meningkat menjadi pengurangan yang disebutkan sebesar 33,55 persen dalam satu pengungkapan perusahaan dan 35,55 persen dalam pengungkapan lain untuk 2035, perbedaan yang dicatat Sirkularium tanpa memutuskan mana yang benar, kemudian 78,17 persen pada 2050, sebelum mencapai net zero pada 2060. Wakil Presiden Sustainability KAI, Tria Mutiari Meilan, dan direktur proyek Kynergy Consulting, Rekyan Eckersley, sama-sama menggambarkan peta jalan ini dalam empat pilar: elektrifikasi, efisiensi operasional, bahan bakar bersih, dan penyerapan karbon melalui reboisasi, KAI telah menanam lebih dari 107.000 pohon sejak 2021.
"Elektrifikasi memungkinkan kami mengurangi emisi karbon secara langsung melalui desain sistem sekaligus menciptakan ekosistem transportasi yang lebih ramah lingkungan," kata Tria Mutiari Meilan tentang peta jalan perusahaan.
Angka di balik konteks kebijakan yang lebih luas
Transisi bahan bakar KAI berada dalam program biodiesel nasional dengan bobot makroekonomi yang besar. Kewajiban B50 pemerintah, berlaku nasional mulai Juli 2026, diproyeksikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menghasilkan penghematan devisa nasional pada kisaran Rp157,28 triliun hingga Rp177 triliun tahun ini, bersama perkiraan nilai tambah Rp24,68 triliun bagi rantai pasok minyak sawit mentah dan sekitar 2,21 juta lapangan kerja yang didukung di sepanjang rantai tersebut. Adopsi B40 dan persiapan B50 oleh KAI menempatkan salah satu operator transportasi milik negara terbesar di Indonesia dalam arsitektur kebijakan yang sama, mengubah tujuan ketahanan energi nasional menjadi efisiensi operasional yang terukur pada level satu perusahaan.
Pandangan Sirkularium
Bagi pemangku kepentingan pemerintah dan institusi publik, hasil KAI 2025 menawarkan contoh yang dapat direplikasi, bukan sekadar statistik satu kali. Perusahaan mencapai perbaikan efisiensinya sambil menumbuhkan jumlah penumpang dan volume kargo, yang secara langsung menjawab kekhawatiran bahwa efisiensi energi dan perluasan layanan saling bertentangan. Capaian ini diraih melalui tiga pengungkit yang semuanya dapat direplikasi di bagian lain portofolio badan usaha milik negara Indonesia dan basis industrinya yang lebih luas: beralih ke campuran biofuel domestik yang lebih tinggi sesuai jadwal yang diumumkan dan dapat diprediksi, menanamkan pengukuran dan akuntabilitas energi ke dalam operasi rutin alih-alih memperlakukannya sebagai audit satu kali, dan menambahkan pembangkitan energi terbarukan terdistribusi serta elektrifikasi sejauh modal memungkinkan.
Yang patut diperhatikan selanjutnya adalah apakah capaian intensitas KAI akan bertahan seiring penerapan B50 secara nasional dan proyek elektrifikasi di koridor Rangkasbitung-Merak dan Cikarang-Cikampek mulai beroperasi, karena masing-masing mewakili perubahan besar, bukan perbaikan marginal. Sirkularium juga melihat nilai jika badan usaha milik negara Indonesia lainnya dan subsektor industri padat energi, termasuk semen, baja, tekstil, dan pulp dan kertas, mempublikasikan metrik intensitas dengan tingkat transparansi yang sama seperti yang telah ditunjukkan KAI dua kali dalam satu tahun. Pelaporan intensitas yang terstandardisasi dan dapat dibandingkan di seluruh badan usaha milik negara akan memberi pembuat kebijakan gambaran yang jauh lebih jelas tentang di mana investasi efisiensi berhasil dan di mana investasi tersebut masih memerlukan dukungan, pembiayaan, atau dorongan regulasi untuk berkembang lebih luas.
Pangsa campuran biodiesel KAI menurut tahap penerapan
Values in % biodiesel dalam campuran bahan bakar
Sumber
- Antara News, laporan kantor berita nasional tentang hasil intensitas energi KAI 2025
- Antara News, laporan penggunaan penuh biosolar B40 di seluruh armada lokomotif dan genset KAI
- Antara News (Jambi), siaran pers tentang strategi net zero emission KAI
- Good News From Indonesia, liputan Hari Bumi 2026 tentang operasional rendah emisi KAI
- Antara News English, laporan tentang transisi KAI menuju biodiesel B50
- Ecobiz Asia, laporan dukungan UK PACT terhadap peta jalan dekarbonisasi net zero KAI






