Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Limbah & Polusi

Kepulauan Seribu tingkatkan pemilahan sampah dari sumber ke 59 persen

Oleh Sirkularium Editorial Team, 7 menit baca

Warga berkumpul dalam pertemuan desa di bawah spanduk tentang sampah sebagai sumber energi alternatif

Kabupaten kepulauan di Jakarta ini melaporkan pemilahan sampah dari sumber telah mencapai 59 persen di sebelas pulau berpenghuni, didukung program percontohan pengolahan sampah organik menjadi pakan ternak dan fasilitas pemilahan otomatis yang menjadi bukti nyata bagi transisi penghentian open dumping di provinsi ini.

Sekilas data
59%
Sampah terpilah dari sumber di Kepulauan Seribu, dilaporkan 10 Juli 2026
71%
Angka yang disebutkan dalam kegiatan pelatihan PJLP terpisah pada 9 Juni (konteks berbeda)
11
Pulau berpenghuni yang menjalankan program pemilahan dari sumber
22 ton
Sampah yang dihasilkan setiap hari di seluruh Kepulauan Seribu

Apa yang terjadi

Pada 10 Juli 2026, Suku Dinas Lingkungan Hidup Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta, melaporkan bahwa pemilahan sampah rumah tangga dari sumber di seluruh kepulauan telah mencapai 59 persen, mengacu pada Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber. Achmad Hariadi, Kepala Suku Dinas, menyampaikan angka tersebut sebagai bukti bahwa sebelas pulau berpenghuni kini menjalankan program pemilahan yang terorganisasi, sementara Bupati Muhammad Fadjar Churniawan meminta agar investasi pada infrastruktur lokal terus dilanjutkan demi mencapai target wilayah tersebut.

Angka terpisah, sekitar 71 persen, muncul kurang lebih sebulan sebelumnya dalam liputan ANTARA tentang kegiatan pelatihan pemilahan sampah bagi pekerja PJLP (petugas jasa lainnya) di Pulau Kelapa pada 9 Juni. Angka tersebut disebutkan dalam konteks kegiatan pelatihan komunitas, bukan laporan capaian resmi, dan pemberitaan yang tersedia tidak menjelaskan apakah cakupan pulau atau periode pengukurannya sama dengan angka Juli. Sirkularium mencatat perbedaan ini demi kelengkapan informasi, bukan sebagai bukti bahwa program ini mengalami kemunduran: jika dibaca bersama, kedua angka tersebut menunjukkan bahwa tingkat pemilahan dari sumber di Kepulauan Seribu berada pada kisaran tertentu, dengan angka Juli sebagai capaian resmi terkini yang paling formal tersedia saat ini.

Infrastruktur di balik kemajuan ini

Kepulauan Seribu adalah kabupaten kepulauan kecil yang tersebar, salah satu dari lima wilayah administrasi Jakarta, dengan sekitar 30.000 penduduk yang menghasilkan sekitar 22 ton sampah per hari, menurut data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta yang dipublikasikan awal tahun ini. Lebih dari separuh volume tersebut merupakan sampah organik, yang membuat pengolahan lokal menjadi sangat bernilai: sampah yang tidak diolah di tempat dikemas, diangkut kapal menuju Pelabuhan Green Bay, lalu dilanjutkan dengan truk menuju TPST Bantar Gebang di Bekasi, rantai logistik yang lebih lambat dan lebih mahal per ton dibandingkan pengangkutan di daratan.

Rantai logistik itulah yang hendak dipersingkat oleh kebijakan pemilahan dari sumber, dan hasil awalnya sudah terlihat nyata. Keberhasilan lokal yang paling jelas sejauh ini adalah program percontohan ternak bebek di Pulau Untung Jawa, tempat sampah organik kini diolah menjadi pakan ternak alih-alih diangkut keluar pulau; pengelola setempat menyebutkan bebek-bebek tersebut mulai bertelur hanya dua hari setelah program diluncurkan, dan Bupati Churniawan menyebut program ini sebagai contoh yang dapat diadaptasi pulau lain, dengan catatan pengelola menambahkan nutrisi tambahan pada pakan untuk menjaga kesehatan ternak. Fasilitas pemilahan otomatis juga sudah berjalan di Pulau Pramuka dan Pulau Harapan, ditambah unit TPS 3R (reduce, reuse, recycle) berbasis komunitas di Pulau Tidung, Panggang, dan Sabira. Sebelas pulau dengan infrastruktur pemilahan yang aktif, program percontohan pengolahan sampah organik menjadi pakan ternak yang berjalan, dan pengurangan nyata volume sampah yang harus diangkut lewat kapal dan truk menuju Bekasi merupakan capaian riil di lapangan bagi kabupaten dengan keterbatasan logistik yang nyata.

"Penguatan infrastruktur pengelolaan sampah masih diperlukan agar target pengurangan pengiriman sampah ke daratan dapat tercapai secara optimal," kata Bupati Muhammad Fadjar Churniawan.

Mengapa kepulauan terluar menjadi bukti konsep yang berarti

Pejabat Jakarta kerap menyebut Kepulauan Seribu sebagai bukti konsep paling jelas bagi pemilahan dari sumber, justru karena keterbatasan logistiknya membuat argumen untuk pengolahan lokal menjadi sangat meyakinkan. Kepulauan ini juga menghadapi persoalan yang tidak dialami wilayah daratan: sampah yang datang dari laut. Sampah kiriman laut yang terdampar di pesisir pulau bukan berasal dari rumah tangga setempat dan menurut definisinya tidak dapat dipilah dari sumber, namun tetap menambah volume yang harus ditangani fasilitas lokal dan, menurut staf lingkungan hidup DKI Jakarta yang dikutip dalam liputan Kompas.com tentang gambaran sampah ibu kota secara lebih luas, memerlukan pembilasan khusus untuk menghilangkan kandungan garam sebelum dapat diolah sama sekali. Detail ini membantu menjelaskan mengapa angka kepatuhan di kabupaten kepulauan secara alami lebih bergerak dibandingkan rata-rata tingkat kota: badai, pasang air laut, atau pergeseran arus musiman dapat memengaruhi angka tersebut, terlepas dari perilaku pemilahan setiap rumah tangga. Dengan variabilitas tambahan itu, mempertahankan tingkat pemilahan di kisaran 60 hingga 70 persen di sebelas pulau merupakan hasil yang solid.

Konteks daratan yang mendorong kebijakan ini

Program Kepulauan Seribu merupakan bagian dari dorongan seluruh kota. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menandatangani Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 pada 30 April 2026 dan meluncurkannya pada 10 Mei, bertepatan dengan rangkaian peringatan HUT ke-499 Jakarta, meminta seluruh warga memilah sampah menjadi empat kategori, yakni organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun (B3), serta residu, dengan rukun warga yang mencapai kepatuhan penuh berhak menerima insentif berupa bantuan sarana dan prasarana. Urgensi di balik dorongan ini bersifat konkret: TPST Bantar Gebang, tempat pembuangan akhir yang masih menampung sebagian besar sampah Jakarta termasuk sampah dari Kepulauan Seribu yang tidak dapat diolah secara lokal, kini mencapai ketinggian sekitar 60 meter dan mendekati batas kapasitas untuk pembuangan terbuka. Jakarta mengirim sekitar 7.200 hingga 7.800 ton sampah ke Bantar Gebang setiap hari, dari total sekitar 9.000 ton yang dihasilkan seluruh kota jika populasi komuter turut dihitung, dan praktik open dumping di lokasi tersebut dijadwalkan berhenti sepenuhnya mulai 1 Agustus 2026, setelah itu hanya pembuangan terkendali dan saniter yang diizinkan. Program seperti di Kepulauan Seribu menjadi contoh terdepan dari apa yang perlu terjadi di seluruh kota sebelum tenggat itu tiba.

Pandangan Sirkularium

Bagi pemerintah dan lembaga publik, Kepulauan Seribu merupakan contoh awal yang berguna tentang apa yang dapat dicapai oleh mandat pemilahan dari sumber ketika dipadukan dengan infrastruktur lokal yang nyata, bukan sekadar kebijakan di atas kertas: sebelas pulau menjalankan program yang terorganisasi, program percontohan pengolahan sampah organik menjadi pakan ternak yang berjalan, fasilitas pemilahan otomatis, dan unit pengolahan berbasis komunitas, semuanya tercapai dalam waktu tidak lebih dari dua bulan sejak instruksi gubernur berlaku. Ini merupakan fondasi yang kredibel untuk dipelajari kabupaten lain seiring Jakarta bergerak menuju tenggat penghentian open dumping pada 1 Agustus 2026.

Satu hal yang layak diperbaiki seiring program ini berkembang adalah konsistensi pelaporan. Mempublikasikan satu metrik kepatuhan pemilahan yang terdefinisi jelas secara berkala, dengan menyebutkan pulau mana saja yang dihitung dan bagaimana sampah kiriman laut diperlakukan, akan memungkinkan Jakarta dan mitranya memantau kemajuan bulan ke bulan dengan lebih meyakinkan, sekaligus menjadikan Kepulauan Seribu rujukan yang lebih kuat bagi provinsi lain yang ingin mereplikasinya. Lembaga dan lembaga pembiayaan yang mengevaluasi dukungan bagi transisi ini sebaiknya melihat secara positif substansi yang sudah terbangun, mulai dari kapasitas kapal, peralatan pengolahan yang tahan terhadap kandungan garam, hingga penugasan PJLP yang memungkinkan pemilahan lokal berjalan, dan memperlakukan penguatan pelaporan publik sebagai langkah lanjutan yang dapat dicapai, bukan sebagai kekurangan.

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di limbah dan polusi, Sirkularium membantu merancang sistem pengumpulan, pemilahan, dan pemulihan, menyusun kebijakan dan peta jalan, serta mengubah sampah menjadi sumber daya yang terkelola.

Artikel terkait

Para bankir dan pejabat pembiayaan proyek di sekitar meja meninjau tata letak fasilitas pengolahan sampah menjadi energi, dengan fasilitas PSEL modern yang sedang dibangun tampak di layar di belakang mereka
Limbah & Polusi

Pada 16 Oktober 2026, Danantara Investment Management dan anak usahanya di bidang pengolahan sampah menjadi energi, Denera, menetapkan 34 institusi keuangan sebagai anggota lenders panel program PSEL Indonesia, dengan minat pembiayaan indikatif lebih dari tiga kali estimasi kebutuhan utang program.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Nelayan di sebuah pelabuhan perikanan Indonesia memilah dan mengikat jaring insang nilon serta tali yang sudah usang di dermaga untuk dikumpulkan dan didaur ulang, dengan kapal ikan bersandar di belakangnya
Limbah & Polusi

Kementerian Kelautan dan Perikanan menerbitkan Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Nomor 23 Tahun 2026, pedoman nasional pengelolaan alat penangkapan ikan yang ditinggalkan, hilang, dibuang, maupun yang sudah habis masa pakainya dengan prinsip 3R. Uji coba dimulai di tiga pelabuhan perikanan, didukung mitra lapangan di Merauke, Muncar, Pengambengan dan Gresik.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Foto udara kawasan TPST Bantargebang dengan lahan yang telah dibersihkan dan diratakan untuk fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik di samping zona timbunan sampah yang ada
Limbah & Polusi

Gubernur Pramono Anung menyampaikan pada 7 Oktober bahwa persoalan penyediaan lahan yang selama ini menahan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik Jakarta di Bantargebang telah menemukan jalan keluar, dan kota berharap masuk batch ketiga program nasional agar pembangunan dapat dimulai sebelum akhir 2026.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Mahasiswa berjaket almamater membantu warga memilah sampah rumah tangga organik dan anorganik ke dalam tempat sampah berlabel di sebuah permukiman di Bandung
Limbah & Polusi

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menerjunkan 25.000 mahasiswa ke 52 kecamatan di Bandung Raya selama tiga bulan, dengan pengakuan setara 10 SKS, untuk membantu rumah tangga memilah dan mengurangi sampah dari sumber. Targetnya pengurangan 20 persen yang memperpanjang usia TPA Sarimukti hingga fasilitas Legok Nangka beroperasi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pejabat Pemerintah Kota Kendari di TPAS Puuwatu, Sulawesi Tenggara, di samping lahan yang direncanakan untuk fasilitas pengolahan sampah terpadu, dengan alat berat memadatkan sampah di sel yang ada
Limbah & Polusi

Kendari menjadi satu dari empat penerima di Sulawesi dalam Local Service Delivery Improvement Project yang didukung Bank Dunia, pada penyerahan di Makassar tanggal 6 Oktober. Kota ini berencana mengarahkan program senilai Rp107 miliar tersebut untuk fasilitas pengolahan sampah di TPAS Puuwatu dan sistem layanan yang berjalan dari pemilahan di rumah tangga hingga pemrosesan akhir.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Petugas dan ekskavator mengangkat kayu, bambu, dan sampah plastik yang hanyut dari saringan sampah di Sungai Ciliwung, Jakarta Selatan, dengan tumpukan material organik hasil pilahan di tepi sungai
Limbah & Polusi

Gubernur Pramono Anung menyampaikan pada 5 Oktober bahwa Jakarta akan mereplikasi saringan sampah terpadu TB Simatupang, yang menangkap hampir 30 persen sampah yang terbawa Sungai Ciliwung dan mengolah sebagian besarnya menjadi kompos dan woodchip, di 11 sungai lain di ibu kota.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca