Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Limbah & Polusi

Pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah Legok Nangka di Jawa Barat dimulai, model senilai 400 juta dolar AS untuk enam wilayah

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Seremoni peletakan batu pertama di lokasi konstruksi fasilitas pengolah sampah menjadi energi dengan pejabat mengenakan helm proyek dan alat berat di latar belakang

Peletakan batu pertama fasilitas pengolah sampah menjadi energi TPPAS Legok Nangka di Kabupaten Bandung menandai dimulainya pembangunan selama 41 bulan yang ditargetkan mengolah lebih dari 2.000 ton sampah harian dari enam wilayah menjadi 40,79 megawatt listrik pada 2029.

Sekilas data
US$400 juta
Total investasi (sekitar Rp 7,2 triliun)
2.131 ton
Sampah kota yang akan diolah setiap hari
40,79 MW
Kapasitas pembangkit listrik, setara kebutuhan sekitar 40.000 rumah tangga
1.500
Lapangan kerja konstruksi yang tercipta selama pembangunan

Apa yang terjadi

Pada Rabu, 29 Juli 2026, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot Tanjung bersama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memimpin peletakan batu pertama fasilitas pengolah sampah menjadi energi TPPAS Legok Nangka di Kabupaten Bandung. Seremoni ini menandai dimulainya secara resmi konstruksi proyek yang oleh para pejabat disebut sebagai fasilitas pengolah sampah menjadi energi regional pertama di Indonesia yang dikembangkan melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), dan ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional.

Fasilitas ini akan dibangun dan dioperasikan oleh PT Jabar Environmental Solution, sebuah usaha patungan yang menyatukan Sumitomo Corporation dan Hitachi Zosen Corporation dari Jepang dengan PT Energia Prima Nusantara, anak usaha energi terbarukan Grup Astra di bawah PT United Tractors Tbk. PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia, perusahaan penjaminan infrastruktur milik negara, mendukung struktur pembiayaan proyek ini.

Konstruksi diperkirakan berlangsung sekitar 41 bulan, dengan target operasi komersial pada akhir 2029. Wamen Tanjung menyampaikan kepada wartawan di lokasi bahwa kementeriannya berharap jadwal tersebut dapat dipercepat. "Kami mengharapkan pelaksanaan konstruksi dapat dilakukan percepatan sehingga PSEL Legok Nangka dapat beroperasi lebih awal," ujarnya, menyampaikan harapan agar konstruksi dapat dipercepat sehingga fasilitas ini dapat mulai beroperasi lebih cepat dari jadwal.

Angka-angka di balik proyek ini

Fasilitas ini membawa total investasi sekitar US$400 juta, yang oleh sejumlah media disebut setara dengan sekitar Rp 7,2 triliun (satu laporan mengonversi angka tersebut menjadi Rp 6,69 triliun, perbedaan yang kemungkinan terkait dengan kurs yang digunakan pada hari pemberitaan). Setelah beroperasi, fasilitas ini dirancang untuk mengolah 2.131 ton sampah kota setiap hari, angka yang oleh Liputan6 dan media lain dibulatkan menjadi 2.000 ton dalam ringkasan pemberitaan.

Kapasitas pengolahan tersebut akan menghasilkan 40,79 megawatt listrik, cukup untuk memasok sekitar 40.000 rumah tangga, yang akan dibeli oleh PT PLN (Persero) sesuai skema jual beli listrik proyek ini. Para pejabat memproyeksikan fasilitas ini akan memangkas emisi gas rumah kaca sekitar 311.874 ton setara karbon dioksida per tahun, angka yang oleh sebagian laporan dibulatkan menjadi sekitar 311.000 ton. Konstruksi sendiri diperkirakan menciptakan sekitar 1.500 lapangan kerja, dengan satu laporan menyebut angka 1.565.

"PSEL Legok Nangka diharapkan dapat menjadi model pengembangan proyek pengolahan sampah menjadi energi yang dapat direplikasi di berbagai daerah," kata Wamen Tanjung, menggambarkan fasilitas ini sebagai model pengembangan pengolahan sampah menjadi energi yang dapat direplikasi di wilayah lain di Indonesia.

Model yang dibangun selama bertahun-tahun

Legok Nangka telah dalam tahap pengembangan lebih lama dibandingkan sebagian besar proyek pengolah sampah menjadi energi yang mencapai tahap peletakan batu pertama pada tahun ini. Lokasi ini mendapat dukungan penyiapan dari Global Infrastructure Facility sejak 2019, termasuk pendanaan tahap awal sekitar US$1,1 juta yang dikoordinasikan bersama International Finance Corporation dan Japan International Cooperation Agency. Konsorsium Sumitomo, Energia Prima Nusantara, dan Hitachi Zosen memenangkan tender kompetitif untuk mengembangkan lokasi ini pada 2023, dan para pihak menandatangani kesepakatan awal di Indramayu pada Juni 2026, dengan target penutupan pembiayaan (financial close) pada akhir tahun tersebut.

Achmad Rizal Roesindrawan, Direktur Pengembangan Bisnis PT Energia Prima Nusantara, pada tahap awal proyek ini menyatakan bahwa perusahaannya berkomitmen untuk terus mendukung percepatan pengembangan energi terbarukan di Indonesia dan pengurangan emisi gas rumah kaca secara nasional. Gubernur Mulyadi, dalam sambutannya pada seremoni tersebut, menyinggung sejarah panjang proyek ini dalam perencanaan Jawa Barat, seraya menyebut bahwa provinsi telah berupaya mewujudkan fasilitas ini sejak masa kepemimpinan gubernur sebelumnya, Ahmad Heryawan.

Mengapa ini penting bagi Bandung Raya

Legok Nangka dirancang untuk melayani enam wilayah di kawasan metropolitan Bandung Raya: Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Sumedang. Wilayah-wilayah ini bersama-sama menghadapi tekanan tempat pembuangan akhir yang mendekati atau melampaui kapasitas, persoalan yang telah lama mewarnai perencanaan pengelolaan sampah Jawa Barat. Gubernur Mulyadi menyatakan bahwa fasilitas ini akan mengurangi ketergantungan pada tempat pembuangan akhir yang sudah menghadapi keterbatasan kapasitas yang serius.

Proyek ini menjadi bagian dari dorongan nasional yang lebih luas. Pemerintah menargetkan penghentian praktik open dumping di 343 dari 550 tempat pemrosesan akhir di seluruh Indonesia, dan pemerintah pusat secara terpisah telah menyederhanakan proses perizinan bagi proyek pengolahan sampah menjadi energi, menggantikan rantai persetujuan lintas kementerian dengan kerangka yang lebih sederhana berlandaskan peraturan presiden tahun 2025. Legok Nangka, bersama proyek serupa yang tengah menuju tahap peletakan batu pertama di Bali dan wilayah lain, menjadi salah satu ujian paling jelas apakah penyederhanaan perizinan tersebut dapat berbuah infrastruktur yang benar-benar terbangun sesuai jadwal.

Yang akan terjadi selanjutnya

Tonggak terdekat yang perlu diperhatikan adalah penutupan pembiayaan, yang oleh konsorsium ditargetkan pada akhir 2026 sebagai bagian dari penandatanganan Juni lalu, serta kecepatan konstruksi terhadap jadwal 41 bulan. Wamen Tanjung telah meminta seluruh pihak, termasuk pemerintah pusat dan daerah, PLN, pengembang, lembaga pembiayaan, dan masyarakat, untuk berkoordinasi erat agar hambatan diselesaikan bersama, bukan dibiarkan menumpuk menjadi keterlambatan.

Jika pembangunan berjalan sesuai jadwal, operasi komersial pada 2029 akan memberikan Bandung Raya sebuah fasilitas pengolah sampah menjadi energi yang mengolah porsi signifikan dari arus sampah kota harian sekaligus memasok listrik bersih bagi puluhan ribu rumah tangga. Kemampuan untuk direplikasi yang ditekankan para pejabat, dari Legok Nangka menuju lokasi-lokasi berikutnya, akan bergantung sebagian pada seberapa mulus proyek KPBU regional pertama ini bergerak dari peletakan batu pertama menuju commissioning.

Pandangan Sirkularium

Bagi pemerintah dan institusi publik yang mengamati jalur pengembangan pengolahan sampah menjadi energi di Indonesia, Legok Nangka menawarkan rujukan yang berguna justru karena sejarahnya panjang dan terdokumentasi dengan baik: kajian kelayakan awal yang didukung donor, tender kompetitif, jalur bertahun-tahun menuju penutupan pembiayaan, dan kini konstruksi. Rangkaian tersebut, meski lebih lambat dari kesan yang ditimbulkan berita seremoni peletakan batu pertama, merupakan acuan yang lebih realistis bagi wilayah lain dibandingkan jadwal yang dipadatkan secara terburu-buru.

Prioritas praktis bagi institusi yang mempertimbangkan proyek serupa ada tiga. Pertama, struktur penjaminan menjadi penting: peran PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia dalam mendukung pembiayaan layak dipelajari oleh wilayah yang ingin mengurangi risiko investasi pengolahan sampah menjadi energi bagi mitra swasta. Kedua, pengelompokan wilayah, dalam hal ini enam yurisdiksi di Bandung Raya, memungkinkan satu fasilitas mencapai volume sampah yang dibutuhkan untuk kelayakan pembiayaan, pelajaran yang dapat diterapkan pada kawasan metropolitan multikota lain yang menghadapi keterbatasan tempat pembuangan akhir secara mandiri. Ketiga, penekanan pada percepatan konstruksi hendaknya tidak mengorbankan perlindungan lingkungan dan sosial yang justru dimaksudkan untuk diberi ruang oleh jadwal pembangunan 41 bulan, termasuk perlindungan bagi pemulung dan warga di sekitar tempat pembuangan akhir yang saat ini hendak dikurangi bebannya oleh fasilitas baru tersebut.

Sirkularium akan terus memantau penutupan pembiayaan dan perkembangan konstruksi di Legok Nangka sebagai tolok ukur struktur pembiayaan pengolahan sampah menjadi energi regional di wilayah lain di Indonesia.

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di limbah dan polusi, Sirkularium membantu merancang sistem pengumpulan, pemilahan, dan pemulihan, menyusun kebijakan dan peta jalan, serta mengubah sampah menjadi sumber daya yang terkelola.

Artikel terkait

Sel terekayasa di sebuah tempat pemrosesan akhir sampah di Indonesia, memperlihatkan lapisan sampah terpadatkan di bawah tutupan tanah baru, kolam lindi berlapis, dan pipa ventilasi metana tegak, dengan ekskavator bekerja di muka aktif
Limbah & Polusi

Pada 14 September 2026 Wakil Menteri Lingkungan Hidup meninjau TPA Sambutan di Samarinda, enam pekan setelah kota itu menghentikan open dumping di Zona 1 dan mengoperasikan sel terekayasa sebagai penggantinya. Kunjungan tersebut menempatkan satu contoh nyata pemenuhan tenggat nasional 2026 berdampingan dengan rencana pembangkit listrik tenaga sampah yang disiapkan Kalimantan Timur.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Petugas kota dan alat berat memadatkan serta menguruk timbunan sampah dengan tanah di sebuah TPA di Indonesia pada kondisi kering dan cerah, dengan pos pemantauan 24 jam terlihat di dekatnya
Limbah & Polusi

Antara 11 dan 13 September 2026 Pemerintah Kota Tangerang Selatan menguruk sekitar 70 persen timbunan sampah di TPA Cipeucang dengan tanah dan menempatkan penjagaan 24 jam, langkah pencegahan terhadap risiko kebakaran dan longsor di musim kemarau yang sekaligus menjadi uji nyata bagi target nasional penghentian open dumping pada 2026.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Sebuah gang sempit di Jakarta yang diubah menjadi area pengolahan sampah komunitas dengan tong kompos, kolam ikan kecil, dan kandang ayam di samping mural, dengan warga merawat instalasi tersebut
Limbah & Polusi

Dalam forum kebersihan sekolah di Jakarta pada 19 Agustus 2026, seorang peneliti BRIN memaparkan angka timbunan sampah nasional, 144.869 ton per hari, dan menyebut landfill mining sebagai solusi yang terbukti bagi Bantargebang, sementara penggerak komunitas Taufik Supriadi menunjukkan bagaimana RT-nya sendiri di Jakarta Timur sudah mengolah sampah organik menjadi kompos, pakan maggot, pakan ikan, dan pakan unggas di skala lingkungan.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Mahasiswa mengenakan kaus relawan seragam memilah sampah dan membersihkan saluran air kampus di Banjarmasin, dengan spanduk upacara peluncuran dan para pejabat di latar belakang
Limbah & Polusi

Pada 17 hingga 18 Agustus 2026, kampanye nasional World Cleanup Day Indonesia diluncurkan di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, dengan Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menantang kampus tersebut menjadi kampus pertama di Indonesia yang mengelola 100 persen sampahnya secara mandiri, didukung tujuh regulasi baru kota dan mobilisasi pemuda selama dua bulan.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Relawan dan pejabat menanam bibit mangrove di garis pantai selatan Indonesia di samping tambak garam
Limbah & Polusi

Sepanjang tiga hari menjelang HUT ke-81 RI, Kementerian Kelautan dan Perikanan menanam 5.000 bibit mangrove, mendeklarasikan komitmen Laut Sehat Bebas Sampah (Laut SEBASAH) di Pantai Papela, dan memanfaatkan upacara bendera untuk melaporkan bahwa ekonomi Rote Ndao tumbuh 7,96 persen pada 2025, capaian tertinggi sepanjang sejarahnya, bersamaan dengan masuknya proyek garam nasional di kabupaten ini ke tahap konstruksi kedua.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pemandangan udara lokasi pembangunan PLTSa Jakarta di samping tumpukan sampah terpilah, dengan pejabat kota dan titik pengumpulan bank sampah di bagian depan
Limbah & Polusi

Dalam serangkaian pengumuman sejak 10 hingga 16 Agustus 2026, pemerintah provinsi DKI Jakarta kembali menegaskan target Gubernur Pramono Anung Wibowo untuk mengelola 100 persen sampah ibu kota pada 2028, sementara seorang anggota DPD mendesak kota membentuk badan usaha khusus pengolah sampah bernilai ekonomi dan pemerintah membuka akses pers ke lokasi pembuangan sampah bermasalah di Cilincing.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca