Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Limbah & Polusi

Aturan wajib pilah sampah Makassar berlaku 1 Agustus seiring TPA Tamangapa mendekati kapasitas penuh

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Warga di sebuah kompleks perumahan Makassar memilah sampah rumah tangga ke dalam wadah organik dan anorganik saat kegiatan edukasi warga

Mulai 1 Agustus 2026, TPA utama Makassar hanya akan menerima sampah residu, mendorong rumah tangga, kantor, dan hotel di seluruh kota untuk memilah sampah organik dan anorganik sejak dari sumber, seiring upaya kota memangkas volume sampah yang masuk ke TPA Tamangapa lebih dari separuh.

Sekilas data
54%
Porsi sampah harian yang masuk ke TPA Tamangapa berupa material organik, pemicu utama gas metana dan air lindi
50%+
Target pengurangan volume sampah ke TPA Tamangapa yang dibidik DLH Makassar setelah pemilahan sejak sumber diberlakukan penuh
15 kecamatan
Kecamatan yang menjalankan uji coba wajib pilah sampah rumah tangga sejak 1 Juli 2026, sebelum penerapan penuh se-kota pada 1 Agustus
Rp250 miliar
Anggaran tahunan yang menurut DLH Makassar dibutuhkan untuk pengelolaan sampah yang memadai, dibandingkan sekitar Rp10 miliar yang saat ini dialokasikan untuk TPA Antang

Hitung mundur empat hari menuju aturan yang lebih ketat

Rumah tangga, perkantoran, hotel, dan pelaku usaha di seluruh Makassar tinggal punya waktu empat hari untuk membiasakan diri dengan kebiasaan baru. Mulai 1 Agustus 2026, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar akan memberlakukan aturan yang sudah dibangun sejak awal Juli, yaitu hanya sampah residu, material yang tersisa setelah sampah organik dan sampah anorganik yang bisa didaur ulang dipisahkan, yang akan diterima di TPA Tamangapa, tempat pemrosesan akhir utama kota di kawasan Antang.

Kepala DLH Helmy Budiman menjelaskan perubahan ini secara gamblang pada Selasa, 21 Juli 2026. "Mulai 1 Agustus 2026 Pemerintah Kota Makassar menerapkan sistem controlled landfill sebagai bagian dari upaya menghentikan praktik open dumping secara bertahap," katanya, menggambarkan langkah menuju sistem controlled landfill sebagai bagian dari upaya bertahap mengakhiri praktik open dumping. "Masyarakat diwajibkan memilah sampah sejak dari sumbernya, baik di rumah, kantor, hotel maupun tempat usaha," tambahnya, menegaskan kewajiban memilah sejak dari sumber berlaku bagi rumah tangga, kantor, hotel, maupun tempat usaha.

Dalam sistem baru ini, sampah dipisahkan menjadi tiga kategori sebelum sampai ke titik pengumpulan, yaitu sampah organik seperti sisa makanan, kulit buah, dan potongan tanaman, sampah anorganik yang bisa didaur ulang seperti plastik, kertas, logam, dan kaca, serta sampah residu, sisa yang benar-benar tidak bisa dimanfaatkan lagi seperti popok dan pembalut bekas serta kemasan yang terkontaminasi. Hanya kategori terakhir itu yang seharusnya diangkut ke TPA Tamangapa. Penegakan akan dilakukan secara bertahap melalui Satuan Tugas Penegakan Perda Persampahan, dengan petugas pengangkut berwenang untuk tidak mengangkut sampah rumah tangga yang belum dipilah, sesuai pemberitaan SulawesiPos dan sejumlah media Makassar lain mengenai mekanisme ini.

Mengapa TPA Tamangapa tak lagi bisa menampung semuanya

Urgensi di balik tenggat waktu ini terlihat dari data yang dipublikasikan DLH sendiri. Material organik menyumbang sekitar 54 persen dari sampah yang saat ini masuk ke TPA Tamangapa, menurut keterangan Helmy Budiman kepada Detik Sulsel dan RRI, dan justru porsi itulah, yang basah, cepat terurai, dan mudah memadat, yang menjadi penyumbang terbesar emisi metana dan air lindi di lokasi tersebut, cairan terkontaminasi yang dapat meresap ke tanah dan aliran air di sekitarnya. Sebuah TPA yang dibangun untuk menampung sampah campuran selama puluhan tahun di atas lahan yang terbatas pada akhirnya kehabisan ruang untuk material yang sebenarnya bisa dikomposkan, dijual ke pengepul daur ulang, atau diolah di tingkat rumah tangga.

Target yang dicanangkan DLH adalah memangkas volume sampah yang masuk ke TPA lebih dari separuh melalui pemilahan sejak sumber, sasaran yang pertama kali disampaikan Aswin Harun, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah DLH, saat tahap uji coba dimulai pada 1 Juli 2026 di Kelurahan Panambungan, Kecamatan Mariso. Logikanya sederhana, sampah organik yang diolah menjadi kompos, pakan ternak, atau larva maggot untuk kebutuhan perikanan dan peternakan tidak perlu lagi diangkut ke Antang, sementara sampah anorganik yang disalurkan ke bank sampah tetap memiliki nilai jual yang akan hilang percuma jika dibuang ke TPA.

Konteks anggaran turut memperkuat alasan kota mengandalkan pemilahan alih-alih perluasan lahan. Helmy Budiman menyampaikan kepada media lokal bahwa pengelolaan sampah yang memadai idealnya membutuhkan sekitar Rp250 miliar per tahun, atau sekitar 3 persen dari APBD, sementara TPA Antang saat ini hanya menerima sekitar Rp10 miliar. Kesenjangan itu membuat sejumlah alat berat, termasuk beberapa unit ekskavator, sempat tidak berfungsi pada beberapa periode tahun ini. Mengurangi tonase yang perlu ditangani secara mekanis di TPA, dengan demikian, juga menjadi strategi anggaran selain strategi lingkungan, memberi waktu dan ruang bagi kota sembari terus mengupayakan investasi yang lebih besar.

Membangun sistem sebelum menegakkan aturan

Pendekatan Makassar adalah membangun kapasitas secara bertahap, bukan mengumumkan tenggat waktu lalu membiarkan warga mencari sendiri caranya. Uji coba yang dimulai 1 Juli 2026 mencakup 15 kecamatan, dengan DLH berencana memperluas infrastruktur pemilahan tingkat rumah tangga ke sekitar 400 kelurahan di kota tersebut seiring waktu. Bank Sampah Pusat telah dibentuk untuk membeli sampah anorganik yang bisa didaur ulang maupun hasil olahan organik seperti kompos dan panen maggot dari warga, memberi insentif langsung bagi warga untuk memilah alih-alih memperlakukan aturan ini sebagai kewajiban tanpa imbalan.

Kegiatan edukasi warga terus berlangsung menjelang tenggat waktu. Pada Minggu malam, 26 Juli 2026, warga kompleks Taman Griya Antang Harapan di Kelurahan Tamangapa, Kecamatan Manggala, mengikuti sesi edukasi pemilahan sampah organik dan anorganik yang dipandu oleh Ahmad Tholib, Ketua Pengelolaan dan Pemilahan Sampah Kota Makassar, menurut pemberitaan Berita Kota Makassar. Sesi semacam ini, yang digelar dari satu lingkungan ke lingkungan lain menjelang 1 Agustus, menjadi alat utama DLH untuk memastikan perubahan aturan tidak datang sebagai kejutan.

"Ke depan, kita harus beralih ke sistem sanitary landfill, di mana hanya residu yang masuk ke TPA," kata Helmy Budiman, menggambarkan arah jangka panjang menuju sistem sanitary landfill yang hanya menerima sampah residu murni.

DPRD mendorong kesiapan, bukan menolak kebijakan

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar menjalankan fungsi pengawasannya menjelang tenggat waktu untuk mendorong persiapan yang lebih matang, sebuah bagian yang wajar dan konstruktif dari proses menguji kebijakan ini sebelum berlaku penuh. Azwar Rasmin, Ketua Komisi C DPRD Makassar, menyampaikan kekhawatirannya langsung kepada DLH dalam sesi pemantauan yang diberitakan pada 23 Juli 2026.

"Kalau pemerintah mewajibkan masyarakat memilah sampah, seharusnya pemerintah juga menyediakan tempat sampahnya," kata Azwar, yang berpendapat bahwa kewajiban memilah sampah semestinya dibarengi penyediaan wadah pilah dari pemerintah, bukan dibebankan sepenuhnya kepada warga untuk mencari sendiri.

Inti dari pandangan Azwar, yang turut digaungkan anggota dewan lain termasuk dari fraksi Nasdem, sebenarnya soal urutan pelaksanaan, bukan soal substansi kebijakan, sebab tidak satu pun anggota dewan yang dikutip menolak pemilahan sampah sebagai kebijakan, mereka hanya menilai fasilitas dan sosialisasi di sejumlah lingkungan, terutama akses terhadap wadah pilah di tingkat RT dan RW, masih perlu dikejar sebelum penegakan aturan benar-benar berlaku. Respons DLH adalah terus menjalankan sesi edukasi seperti yang digelar di Manggala pada 26 Juli, serta memastikan penegakan aturan dilakukan secara bertahap, dimulai dari edukasi sebelum penghentian layanan pengangkutan diterapkan. Kombinasi antara lembaga legislatif yang aktif menandai celah implementasi dan dinas yang merespons dengan lebih banyak edukasi, alih-alih menjalankan rencana secara kaku tanpa mempedulikan kesiapan lapangan, lebih tepat digambarkan sebagai sistem yang mengoreksi dirinya sendiri secara langsung, bukan kebijakan yang bermasalah.

Pandangan Sirkularium

Transisi di Makassar menjadi rujukan yang berguna bagi kota-kota lain di Indonesia yang tengah mengejar tenggat waktu nasional yang sama untuk mengakhiri open dumping. Urutan pelaksanaannya patut dicermati, uji coba bertahap di 15 kecamatan, bank sampah khusus untuk memberi nilai ekonomi nyata pada kegiatan memilah, dan sesi edukasi mingguan tingkat lingkungan, semuanya sudah berjalan sebelum tanggal penegakan ditetapkan, bukan diumumkan bersamaan dengan tenggat waktu itu. Urutan ini memberi warga alasan untuk patuh yang lebih kuat daripada sekadar ancaman sampah tidak diangkut, dan memberi kota waktu untuk menemukan serta memperbaiki celah, seperti kekurangan wadah pilah yang disoroti Komisi C, sebelum aturan ini dinilai berhasil atau gagal.

Kesenjangan pembiayaan yang secara terbuka diakui DLH, perkiraan kebutuhan ideal Rp250 miliar per tahun dibandingkan sekitar Rp10 miliar yang saat ini diterima TPA Antang, layak dicermati oleh pemerintah daerah lain. Pemilahan sejak sumber, di antara manfaat lainnya, adalah cara membuat anggaran sampah yang terbatas menjadi lebih efisien dengan menjaga material yang bisa dikomposkan dan didaur ulang tetap keluar dari bagian sistem yang paling mahal, yaitu pengangkutan dan penanganan mekanis di TPA. Bagi pembuat kebijakan di tingkat provinsi maupun nasional yang mendukung tenggat waktu open dumping secara lebih luas, pengalaman Makassar menunjukkan bahwa memasangkan tanggal penegakan dengan infrastruktur hulu yang terlihat nyata dan mendapat pendanaan, serta memperlakukan pengawasan DPRD sebagai pemeriksaan kesiapan alih-alih hambatan, memberi aturan wajib pilah sampah peluang sungguhan untuk benar-benar berjalan begitu Agustus tiba.

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di limbah dan polusi, Sirkularium membantu merancang sistem pengumpulan, pemilahan, dan pemulihan, menyusun kebijakan dan peta jalan, serta mengubah sampah menjadi sumber daya yang terkelola.

Artikel terkait

Para bankir dan pejabat pembiayaan proyek di sekitar meja meninjau tata letak fasilitas pengolahan sampah menjadi energi, dengan fasilitas PSEL modern yang sedang dibangun tampak di layar di belakang mereka
Limbah & Polusi

Pada 16 Oktober 2026, Danantara Investment Management dan anak usahanya di bidang pengolahan sampah menjadi energi, Denera, menetapkan 34 institusi keuangan sebagai anggota lenders panel program PSEL Indonesia, dengan minat pembiayaan indikatif lebih dari tiga kali estimasi kebutuhan utang program.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Nelayan di sebuah pelabuhan perikanan Indonesia memilah dan mengikat jaring insang nilon serta tali yang sudah usang di dermaga untuk dikumpulkan dan didaur ulang, dengan kapal ikan bersandar di belakangnya
Limbah & Polusi

Kementerian Kelautan dan Perikanan menerbitkan Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Nomor 23 Tahun 2026, pedoman nasional pengelolaan alat penangkapan ikan yang ditinggalkan, hilang, dibuang, maupun yang sudah habis masa pakainya dengan prinsip 3R. Uji coba dimulai di tiga pelabuhan perikanan, didukung mitra lapangan di Merauke, Muncar, Pengambengan dan Gresik.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Foto udara kawasan TPST Bantargebang dengan lahan yang telah dibersihkan dan diratakan untuk fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik di samping zona timbunan sampah yang ada
Limbah & Polusi

Gubernur Pramono Anung menyampaikan pada 7 Oktober bahwa persoalan penyediaan lahan yang selama ini menahan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik Jakarta di Bantargebang telah menemukan jalan keluar, dan kota berharap masuk batch ketiga program nasional agar pembangunan dapat dimulai sebelum akhir 2026.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Mahasiswa berjaket almamater membantu warga memilah sampah rumah tangga organik dan anorganik ke dalam tempat sampah berlabel di sebuah permukiman di Bandung
Limbah & Polusi

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menerjunkan 25.000 mahasiswa ke 52 kecamatan di Bandung Raya selama tiga bulan, dengan pengakuan setara 10 SKS, untuk membantu rumah tangga memilah dan mengurangi sampah dari sumber. Targetnya pengurangan 20 persen yang memperpanjang usia TPA Sarimukti hingga fasilitas Legok Nangka beroperasi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pejabat Pemerintah Kota Kendari di TPAS Puuwatu, Sulawesi Tenggara, di samping lahan yang direncanakan untuk fasilitas pengolahan sampah terpadu, dengan alat berat memadatkan sampah di sel yang ada
Limbah & Polusi

Kendari menjadi satu dari empat penerima di Sulawesi dalam Local Service Delivery Improvement Project yang didukung Bank Dunia, pada penyerahan di Makassar tanggal 6 Oktober. Kota ini berencana mengarahkan program senilai Rp107 miliar tersebut untuk fasilitas pengolahan sampah di TPAS Puuwatu dan sistem layanan yang berjalan dari pemilahan di rumah tangga hingga pemrosesan akhir.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Petugas dan ekskavator mengangkat kayu, bambu, dan sampah plastik yang hanyut dari saringan sampah di Sungai Ciliwung, Jakarta Selatan, dengan tumpukan material organik hasil pilahan di tepi sungai
Limbah & Polusi

Gubernur Pramono Anung menyampaikan pada 5 Oktober bahwa Jakarta akan mereplikasi saringan sampah terpadu TB Simatupang, yang menangkap hampir 30 persen sampah yang terbawa Sungai Ciliwung dan mengolah sebagian besarnya menjadi kompos dan woodchip, di 11 sungai lain di ibu kota.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca