Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Limbah & Polusi

Indonesia bergerak wajibkan produsen plastik danai pengelolaan sampah

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Seorang pejabat pemerintah berbicara dengan pemulung yang memegang keranjang berisi sampah kemasan plastik hasil pemilahan

Rancangan peraturan menteri yang mendekati final akan mewajibkan hampir 10.000 pabrik besar membiayai pengelolaan sampah kemasan melalui organisasi pengelola independen, mengalihkan beban dari anggaran negara.

Sekilas data
10.000
Pabrik besar yang diperkirakan bergabung dalam skema EPR wajib
26
Perusahaan besar yang telah mengajukan peta jalan EPR sukarela per Desember 2025
80%
Pangsa pasar barang kemasan Indonesia yang dicakup 26 perusahaan tersebut
30%
Target pengurangan sampah produsen pada 2029 berdasarkan regulasi yang berlaku

Apa yang diumumkan menteri

Pada 12 Juli 2026, di Festival Kali Sabi di kawasan industri Cibodas, Kota Tangerang, Menteri Lingkungan Hidup Muhammad Jumhur Hidayat menyampaikan kepada wartawan bahwa peraturan menteri tentang tanggung jawab produsen yang diperluas, atau EPR, hampir rampung. Aturan ini akan mewajibkan produsen kemasan plastik membiayai pengelolaan sampah yang dihasilkan produk mereka, alih-alih membebankan biaya tersebut pada anggaran negara atau APBN. Jumhur menyebut hampir 10.000 pabrik besar diperkirakan akan mengikuti skema ini, mengalokasikan sebagian anggaran operasional mereka untuk pengelolaan sampah begitu aturan tersebut berlaku.

Pengumuman ini disampaikan dalam acara komunitas, bukan pengarahan resmi kementerian. Festival yang diselenggarakan Banksasuci Foundation dengan tema "Bersih Kalinya, Sehat Warganya" ini memadukan kegiatan bersih-bersih sungai, penanaman pohon, pelepasan ribuan bibit ikan lele, pemeriksaan kesehatan, dan bazar usaha kecil di sepanjang bantaran Kali Sabi. Jumhur memanfaatkan momen ini untuk menghubungkan aturan EPR dengan argumen yang lebih luas, bahwa pendanaan pengelolaan sampah oleh produsen dan pelestarian sungai oleh komunitas adalah dua sisi dari masalah yang sama, mengingat sebagian besar sampah kemasan plastik Indonesia yang tidak terkumpul dengan baik berakhir di badan air seperti Kali Sabi.

Dari peta jalan sukarela menuju aturan wajib

Skema yang dijelaskan Jumhur tidak muncul begitu saja. Kerangka EPR Indonesia saat ini bertumpu pada Peraturan Menteri Nomor 75 Tahun 2019, yang meminta produsen menyusun peta jalan pengurangan sampah secara sukarela, tanpa mewajibkan partisipasi. Per akhir Desember 2025, Agus Rusly, Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular di kementerian tersebut, menyatakan 26 perusahaan besar telah mengajukan peta jalan semacam itu, yang bersama-sama mencakup sekitar 80 persen pasar barang kemasan Indonesia. Saat itu, Rusly mengatakan kementerian tengah mengikat EPR lebih kuat ke dalam rancangan peraturan presiden, dengan target penyelesaian pada semester pertama 2026, dan aturan tersebut seharusnya bisa langsung diterapkan begitu diundangkan.

Pengumuman Juli ini menandai pergeseran baik dari segi bentuk maupun skala dibandingkan titik acuan Desember tersebut. Jika rancangan sebelumnya digambarkan sebagai peraturan presiden yang mencakup sekelompok kecil perusahaan besar yang telah memiliki peta jalan, versi yang dijelaskan Jumhur di Tangerang adalah peraturan menteri yang menyasar entitas jauh lebih banyak, hampir 10.000 pabrik, bukan 26 perusahaan. Media Indonesia ANTARA dan Merdeka.com, yang sama-sama meliput dari acara Kali Sabi, menggambarkan mekanisme ini dengan istilah serupa, meski keduanya tidak menjelaskan apakah peraturan menteri ini menggantikan jalur peraturan presiden yang disebutkan pada Desember atau berjalan beriringan dengannya. Ini adalah detail yang perlu diklarifikasi kementerian kepada pemerintah daerah dan asosiasi industri sebelum aturan ini difinalisasi.

Bagaimana aliran dananya bekerja

Mekanisme yang dijelaskan Jumhur bekerja melalui apa yang disebut kementerian sebagai Producer Responsibility Organization atau PRO, badan kolaboratif yang menerima dan mengelola kontribusi produsen atas nama sekelompok pabrik. Menurut menteri, PRO dapat dibentuk oleh yayasan, kelompok komunitas, atau organisasi lingkungan yang telah aktif di sektor ini, sepanjang memiliki kapasitas administratif untuk mengelola aliran dana yang berkelanjutan. Dana tersebut akan mendukung berbagai kegiatan, mulai dari edukasi publik dari pintu ke pintu dan penyediaan sarana pemilahan sampah rumah tangga hingga kampanye untuk mencegah pembuangan sampah ke sungai, persoalan yang justru menjadi alasan digelarnya Festival Kali Sabi itu sendiri.

Jumhur menegaskan bahwa model pendanaan ini dirancang untuk berkelanjutan, bukan berbasis proyek.

"Ini bukan sistem berbasis proposal. Selama pabrik-pabrik itu beroperasi, pendanaan untuk pengelolaan sampah akan terus berjalan, sehingga organisasi pengelola memiliki kepastian dalam menjalankan programnya."

Desain ini menjawab kritik umum terhadap program pengelolaan sampah berbasis hibah di Indonesia, yaitu bahwa dana datang dalam jangka pendek yang terikat proyek tertentu dan mengering begitu siklus hibah berakhir. Dengan mengaitkan pendanaan pada operasional pabrik yang berkelanjutan, bukan pada proposal berkala, PRO diharapkan memiliki anggaran yang dapat diprediksi untuk merancang program jangka panjang.

Mengapa penegakan aturan selama ini tertinggal

Kesenjangan antara 26 peserta sukarela dan target 10.000 pabrik menggambarkan inti persoalan yang kini coba dipecahkan kementerian. Analisis industri terhadap kerangka EPR Indonesia menunjuk pada kelemahan struktural, yaitu regulasi 2019 tidak mewajibkan pendekatan kolektif, sehingga hanya ada sedikit insentif bagi produsen untuk bergabung dengan satu-satunya badan pengelola bentukan industri yang berfungsi, Indonesia Packaging Recovery Organization atau IPRO. IPRO didirikan pada 2020 oleh sekelompok pelaku sektor swasta khusus untuk mendukung implementasi EPR, namun partisipasinya tetap terbatas pada anggota pendiri karena bergabung membawa biaya tanpa kewajiban hukum yang sepadan. Para analis yang mengamati sektor ini mencatat bahwa keberhasilan EPR Indonesia akan bergantung pada apakah lebih banyak perusahaan bergabung dengan badan yang sudah ada seperti IPRO, dan apakah PRO baru mendapat dukungan hukum yang jelas dari pemerintah, tepat celah yang coba ditutup oleh peraturan menteri yang bersifat wajib.

Sejarah inilah yang membuat skala pengumuman Juli ini lebih penting daripada angka utamanya. Lompatan dari 26 perusahaan yang bergabung secara sukarela menjadi hampir 10.000 pabrik hanya akan berhasil jika insentif yang mendasarinya berubah dari niat baik reputasi menjadi kewajiban hukum. Penegasan menteri bahwa industri, bukan anggaran negara, yang akan mendanai skema ini ke depan adalah pertanda paling jelas bahwa kementerian bermaksud membuat aturan ini mengikat secara hukum, bukan sekadar aspirasi.

Yang masih belum terjawab

Sejumlah pertanyaan praktis masih terbuka. Pemberitaan yang ada sejauh ini belum menyebutkan tanggal pasti kapan peraturan menteri ini akan ditandatangani, dan juga belum merinci formula kontribusi yang akan dikenakan pada produsen lebih kecil di dalam kelompok sekitar 10.000 pabrik, dibandingkan dengan produsen bermerek besar yang mendominasi kelompok 26 perusahaan yang sudah memiliki peta jalan. Belum jelas pula bagaimana kementerian akan memverifikasi bahwa dana PRO benar-benar digunakan untuk pengurangan sampah, bukan terserap sebagai biaya administrasi, kekhawatiran yang telah disuarakan pengamat industri terhadap skema kepatuhan kolektif secara lebih luas. Target nasional yang sudah ada, yaitu produsen mengurangi timbulan sampah dari produk dan kemasan mereka sebesar 30 persen sebelum 2029, memberi tolok ukur numerik bagi aturan baru ini, namun pemberitaan yang tersedia hingga tulisan ini dibuat belum menjelaskan mekanisme penegakan atau pelaporan yang terkait langsung dengan target tersebut.

Pandangan Sirkularium

Bagi pemerintah dan lembaga publik, nilai dari pengumuman ini terletak bukan pada angka 10.000 itu sendiri, yang belum diverifikasi secara independen terhadap daftar fasilitas yang tercakup, melainkan pada arsitektur pendanaan yang diusulkan kementerian. Mengalihkan pembiayaan pengelolaan sampah plastik dari anggaran negara ke produsen, yang disalurkan melalui PRO, menjawab kelemahan berulang dalam program ekonomi sirkular Indonesia, yaitu ketergantungan pada siklus anggaran pemerintah yang jarang bertahan melewati pergantian kepemimpinan. Jika diterapkan sesuai rencana, aliran dana yang terkait dengan operasional pabrik akan memberi organisasi pengelola sampah kepastian anggaran yang setara dengan yang dinikmati perusahaan utilitas, merencanakan program berdasarkan pendapatan yang dapat diprediksi, bukan bersaing memperebutkan pos anggaran tahunan.

Pertanyaan yang belum terjawab ini bukan hal sepele, dan lembaga yang memberi masukan kepada pemerintah provinsi dan kabupaten mengenai kesiapan EPR sebaiknya mendorong kejelasan atas tiga hal sebelum menganggap aturan ini sudah final, yaitu apakah aturan ini menggantikan atau melengkapi jalur peraturan presiden yang disebutkan pada Desember 2025, mekanisme verifikasi apa yang akan memastikan dana PRO benar-benar sampai pada kegiatan pengurangan sampah dan bukan biaya administrasi, serta skala kontribusi apa yang berlaku bagi ribuan pabrik skala menengah yang akan baru masuk skema ini di luar 26 perusahaan yang sudah terlibat secara sukarela. Kerangka EPR Indonesia telah bergerak dari aspirasi menjadi peta jalan sukarela dan, berpotensi, menjadi kewajiban dalam enam tahun terakhir. Apakah lompatan menuju 10.000 pabrik ini akan menutup celah penegakan yang selama ini menjadi ciri tahap sebelumnya, atau sekadar mengulang ambisi yang sama dalam skala lebih besar, akan bergantung pada detail yang belum diungkap kementerian.

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di limbah dan polusi, Sirkularium membantu merancang sistem pengumpulan, pemilahan, dan pemulihan, menyusun kebijakan dan peta jalan, serta mengubah sampah menjadi sumber daya yang terkelola.

Artikel terkait

Para bankir dan pejabat pembiayaan proyek di sekitar meja meninjau tata letak fasilitas pengolahan sampah menjadi energi, dengan fasilitas PSEL modern yang sedang dibangun tampak di layar di belakang mereka
Limbah & Polusi

Pada 16 Oktober 2026, Danantara Investment Management dan anak usahanya di bidang pengolahan sampah menjadi energi, Denera, menetapkan 34 institusi keuangan sebagai anggota lenders panel program PSEL Indonesia, dengan minat pembiayaan indikatif lebih dari tiga kali estimasi kebutuhan utang program.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Nelayan di sebuah pelabuhan perikanan Indonesia memilah dan mengikat jaring insang nilon serta tali yang sudah usang di dermaga untuk dikumpulkan dan didaur ulang, dengan kapal ikan bersandar di belakangnya
Limbah & Polusi

Kementerian Kelautan dan Perikanan menerbitkan Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Nomor 23 Tahun 2026, pedoman nasional pengelolaan alat penangkapan ikan yang ditinggalkan, hilang, dibuang, maupun yang sudah habis masa pakainya dengan prinsip 3R. Uji coba dimulai di tiga pelabuhan perikanan, didukung mitra lapangan di Merauke, Muncar, Pengambengan dan Gresik.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Foto udara kawasan TPST Bantargebang dengan lahan yang telah dibersihkan dan diratakan untuk fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik di samping zona timbunan sampah yang ada
Limbah & Polusi

Gubernur Pramono Anung menyampaikan pada 7 Oktober bahwa persoalan penyediaan lahan yang selama ini menahan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik Jakarta di Bantargebang telah menemukan jalan keluar, dan kota berharap masuk batch ketiga program nasional agar pembangunan dapat dimulai sebelum akhir 2026.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Mahasiswa berjaket almamater membantu warga memilah sampah rumah tangga organik dan anorganik ke dalam tempat sampah berlabel di sebuah permukiman di Bandung
Limbah & Polusi

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menerjunkan 25.000 mahasiswa ke 52 kecamatan di Bandung Raya selama tiga bulan, dengan pengakuan setara 10 SKS, untuk membantu rumah tangga memilah dan mengurangi sampah dari sumber. Targetnya pengurangan 20 persen yang memperpanjang usia TPA Sarimukti hingga fasilitas Legok Nangka beroperasi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pejabat Pemerintah Kota Kendari di TPAS Puuwatu, Sulawesi Tenggara, di samping lahan yang direncanakan untuk fasilitas pengolahan sampah terpadu, dengan alat berat memadatkan sampah di sel yang ada
Limbah & Polusi

Kendari menjadi satu dari empat penerima di Sulawesi dalam Local Service Delivery Improvement Project yang didukung Bank Dunia, pada penyerahan di Makassar tanggal 6 Oktober. Kota ini berencana mengarahkan program senilai Rp107 miliar tersebut untuk fasilitas pengolahan sampah di TPAS Puuwatu dan sistem layanan yang berjalan dari pemilahan di rumah tangga hingga pemrosesan akhir.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Petugas dan ekskavator mengangkat kayu, bambu, dan sampah plastik yang hanyut dari saringan sampah di Sungai Ciliwung, Jakarta Selatan, dengan tumpukan material organik hasil pilahan di tepi sungai
Limbah & Polusi

Gubernur Pramono Anung menyampaikan pada 5 Oktober bahwa Jakarta akan mereplikasi saringan sampah terpadu TB Simatupang, yang menangkap hampir 30 persen sampah yang terbawa Sungai Ciliwung dan mengolah sebagian besarnya menjadi kompos dan woodchip, di 11 sungai lain di ibu kota.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca