Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Sumber Daya Berkelanjutan

Satu hektare hutan Morowali memiliki tiga harga berbeda, dan jarak di antara ketiganya adalah persoalan valuasi paling berkonsekuensi di Indonesia

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pemandangan udara hutan Sulawesi Tengah yang berbatasan dengan konsesi tambang nikel, memperlihatkan tajuk hutan utuh berdampingan dengan lahan terbuka

Riset yang dibahas pada 28 Agustus 2026 menempatkan nilai administratif satu hektare hutan pada Rp395.000, biaya merehabilitasi satu hektare pada Rp30 sampai 50 juta, dan nilai ekonomi tahunan hutan Morowali secara keseluruhan pada Rp2,81 triliun. Ketiga angka itu menggambarkan aset yang sama. Indonesia sudah memiliki metodologi untuk mendamaikannya, dan pekerjaan itulah yang kini ada di hadapan negeri ini.

Sekilas data
Rp2,81 triliun
Nilai ekonomi total tahunan hutan Morowali, 44,61 persen di atas pendapatan daerah 2023
Rp395.000
Nilai administratif yang dilekatkan pada satu hektare hutan
Rp30 sampai 50 juta
Biaya merehabilitasi satu hektare hutan
133.256 hektare
Luas hutan yang berada di dalam konsesi nikel Morowali

Tiga angka disandingkan dalam sebuah pembahasan mengenai daerah penghasil nikel yang diberitakan pada 28 Agustus 2026, dan jarak di antara ketiganya adalah inti dari cerita ini.

Satu hektare hutan dinilai Rp395.000 dalam perhitungan administratif yang mengatur kompensasi. Merehabilitasi satu hektare hutan menelan biaya antara Rp30 juta dan Rp50 juta. Dan hutan Kabupaten Morowali, jika dipandang sebagai ekosistem yang bekerja, menghasilkan nilai ekonomi Rp2,81 triliun per tahun.

Itu tiga harga untuk aset yang sama, dan ketiganya berbeda dalam orde besaran. Moh Ahlis Djirimu, Guru Besar Ekonomi Internasional pada Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako, merumuskan angka pertama dengan cara yang sulit diperbaiki. Hutan kita, ujarnya, hanya dihargai seharga dua pasang sepatu kaki lima.

Ini bukan terutama cerita tentang kerusakan. Ini cerita tentang sebuah pengukuran yang tertinggal dari apa yang diukurnya, dan tentang sebuah negeri yang sesungguhnya sudah memiliki perangkat untuk membetulkannya.

Apa yang ditemukan valuasi yang lebih utuh

Angka Rp2,81 triliun berasal dari valuasi hutan Morowali yang dikerjakan Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat bersama peneliti akademik. Ini bukan angka advokasi. Angka itu dihasilkan dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 15 Tahun 2012, pedoman nasional bagi valuasi ekonomi ekosistem hutan, menggunakan analisis tumpang susun spasial ArcGIS dipadukan dengan metode pasar dan benefit transfer, serta mencakup manfaat langsung, jasa tidak langsung, nilai keberadaan, dan nilai pilihan serta warisan.

Hasilnya melampaui realisasi pendapatan Morowali sendiri pada 2023 sebesar Rp1,94 triliun, dengan selisih 44,61 persen. Hutan kabupaten itu, jika dinilai dengan benar, bernilai lebih besar setiap tahun dibanding yang dikumpulkan pemerintah daerahnya.

Rincian spasialnya spesifik. Sekitar 133.256,84 hektare hutan berada di dalam konsesi nikel, terdiri dari 97.790,78 hektare hutan primer, 35.200,30 hektare hutan kering sekunder, dan 265,79 hektare mangrove. Tujuh puluh izin tambang nikel mencakup 241.806,79 hektare, sekitar 35 persen dari luas administratif Morowali. Hutan tersebut menyerap lebih dari 1,1 juta ton setara karbon dioksida per tahun. Dari keseluruhan nilai ekonomi itu, Rp1,07 triliun per tahun sudah berada di dalam batas konsesi, dengan tambahan Rp568 miliar per tahun yang terpapar jika konsesi meluas.

Akhmad Fauzi, Guru Besar IPB University, merumuskan prinsip dasarnya secara lugas. Sumber daya alam tidak dapat diperlakukan semata sebagai faktor produksi. Sumber daya alam harus dipahami sebagai modal alam.

Aset yang dicatat Rp395.000 per hektare dan aset yang biaya pemulihannya Rp30 juta per hektare tidak mungkin keduanya dinilai dengan benar. Salah satu angka itu sedang mengerjakan tugas yang bukan rancangannya.

Mengapa selisih ini berkonsekuensi fiskal

Selisih pengukuran ini bukan persoalan akademis, karena angka-angka tersebut mengalir ke transfer yang nyata. Riset Profesor Djirimu bersama tim dari empat universitas membandingkan apa yang diterima daerah dengan apa yang dipikulnya. Pajak industri yang disetor dari kawasan tambang Morowali dan Morowali Utara mencapai sekitar Rp18,56 triliun per tahun, sementara alokasi dana desa bagi dua belas desa di Kecamatan Petasia Timur berjumlah Rp4,25 miliar, sekitar 0,02 persen dari pajak yang dihasilkan. Penerimaan dana bagi hasil Sulawesi Tengah disebut sebesar Rp10 miliar. Simulasi aktivitas peleburan sepanjang 2021 sampai 2024 menempatkan biaya ekologis pada kisaran Rp20 triliun berbanding sekitar Rp2 triliun penerimaan negara pada periode yang sama.

Rasio-rasio itu masih diperdebatkan dan sangat bergantung pada metode, dan Sirkularium tidak akan menyajikan satu pun di antaranya sebagai perkara yang sudah selesai. Yang tidak diperdebatkan adalah arahnya. Ketika sisi lingkungan dari neraca dinilai Rp395.000 per hektare, sisi itu akan selalu tampak kecil di samping angka pajak dalam satuan triliun, terlepas dari apa yang sebenarnya dikerjakan hutan tersebut.

Chitra Retna dari Article 33 Indonesia menyampaikan pokok yang lebih tajam tentang apa yang seharusnya diukur. Tolok ukurnya bukanlah apakah manfaat yang dibagikan kepada suatu daerah menjadi lebih besar, melainkan apakah distribusi rente tersebut mengubah arah pembangunan wilayah itu.

Indonesia sudah memegang instrumennya

Bagian yang menggembirakan dari gambaran ini adalah bahwa tidak ada yang perlu ditemukan dari nol.

Permen LH No. 15 Tahun 2012 sudah mengatur cara menilai ekosistem hutan, dan studi Morowali menunjukkan pedoman itu menghasilkan angka yang dapat dipertahankan dan diaudit bila diterapkan dengan data spasial. Permen LH No. 7 Tahun 2014 sudah mengatur cara menilai kerusakan ekologis, kerugian ekonomi lingkungan, dan biaya pemulihan, dan pengadilan telah menggunakannya untuk sampai pada putusan rupiah yang konkret. AMDAL menetapkan garis dasar lingkungan pada tahap perizinan. Dana jaminan reklamasi menyimpan uang untuk kewajiban di masa depan, dan Indonesia telah menggarap standar biaya reklamasi nasional. GIS dan penginderaan jauh membuat perubahan tutupan lahan dan tapak gangguan dapat diukur pada jadwal berulang dengan biaya marginal rendah.

Pemerintah juga sedang bergerak pada kerangka tata kelolanya. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian tengah menyiapkan Peraturan Presiden mengenai mineral kritis dan strategis, yang menarik masuk parameter lingkungan dan sosial berdampingan dengan 47 mineral kritis dan 22 mineral strategis yang telah ditetapkan pemerintah, dan Kusti Erawati dari kementerian tersebut menunjuk pada pekerjaan itu. Berdampingan dengannya terdapat bursa mineral dan komoditas strategis yang diumumkan untuk Januari 2027 serta sistem tata kelola ekspor yang kini berjalan melalui Danantara Sumberdaya Indonesia. Masing-masing hadir untuk mengubah angka yang sebelumnya diasumsikan menjadi angka yang diverifikasi.

Kolom lingkungan adalah satu-satunya yang belum ditarik masuk ke dalam program itu.

Pandangan Sirkularium

Indonesia menghabiskan 2026 untuk membangun ulang cara menilai apa yang diambilnya dari perut bumi. Formula harga patokan ditulis ulang. Kuota produksi dikaitkan dengan kontribusi royalti. Sebuah bursa diumumkan untuk membentuk harga referensi dalam negeri. Sistem satu pintu ekspor dibangun untuk menangkap under invoicing. Itu rangkaian kerja yang serius dan koheren, dan layak diakui sebagaimana adanya.

Disiplin yang sama kini perlu menjangkau lahan. Tiga catatan bagi pemerintah dan institusi publik.

Pertama, angka administratif per hektare sebaiknya direvisi terhadap biaya rehabilitasi yang nyata. Nilai kompensasi Rp395.000 berhadapan dengan biaya pemulihan Rp30 juta sampai Rp50 juta bukanlah pilihan kebijakan tentang seberapa besar pungutan. Itu adalah masukan yang sudah kedaluwarsa. Memperbaruinya tidak memerlukan undang-undang baru, hanya perhitungan ulang dengan metodologi yang sudah tersedia.

Kedua, nilai ekonomi total sebaiknya masuk ke dalam perhitungan perizinan dan bagi hasil, bukan berdiri di dalam studi yang terpisah dari keduanya. Kerja Morowali menunjukkan nilai ekonomi total tingkat kabupaten dapat dihasilkan dengan pedoman nasional memakai GIS dan data terbuka. Menugaskan penyusunannya untuk setiap kabupaten penghasil utama, pada siklus yang tetap, akan memberi pemerintah pusat maupun daerah angka yang dapat dipertahankan sebagai dasar perencanaan.

Ketiga, daerah yang memikul beban lingkungan justru yang paling terbatas kemampuannya untuk mengukurnya. Dukungan pusat bagi valuasi berkala yang terverifikasi independen di Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Sulawesi Tenggara, dan Nusa Tenggara Barat akan menjadi intervensi terarah dengan penerima manfaat yang jelas dan biaya yang sederhana.

Bagi operator, pembacaannya bersifat praktis, bukan berhadap-hadapan. Angka administratif yang saat ini terlalu rendah menilai lingkungan juga membuat perusahaan rentan, karena angka serendah itu mengundang gugatan sekaligus tidak memberi pembelaan ketika gugatan datang. Perusahaan yang memegang valuasi sendiri yang cermat dan terverifikasi independen atas posisi lahan, air, dan ekosistem konsesinya, disusun dari GIS dan data lapangan dengan metodologi nasional, berada pada posisi jauh lebih kuat di hadapan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dibanding yang bersandar pada angka yang semua pihak sudah tahu keliru.

Yang perlu diamati berikutnya adalah apakah Peraturan Presiden mineral kritis memuat kewajiban valuasi ekosistem, apakah nilai kompensasi per hektare direvisi mendekati biaya rehabilitasi, dan apakah ada kabupaten penghasil yang menerbitkan angka nilai ekonomi total sebagai bagian dari dokumen perencanaannya sendiri.

Nilai hutan Morowali dibanding pendapatan daerah

Values in Rp triliun per tahun

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di sumber daya berkelanjutan, Sirkularium mendampingi tata kelola air, tailing, dan ESG agar proyek sumber daya tetap kredibel dan layak diinvestasikan.

Artikel terkait

Tumpukan bijih nikel laterit di lokasi tambang Indonesia dengan truk angkut dan jembatan timbang, serta fasilitas pengolahan di kejauhan
Sumber Daya Berkelanjutan

Keputusan menteri yang ditetapkan pada 11 September 2026 dan berlaku sejak 15 September menurunkan faktor korektif bijih nikel kadar rendah menjadi 14 persen, sehingga harga patokan negara untuk bijih 1,2 persen menjadi US$24,89 per ton basah. Bagian yang menarik bukan angkanya. Indonesia kini mengiterasi sebuah metode valuasi sumber daya secara terbuka.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Lembaran katoda tembaga dan infrastruktur pemurnian di dalam kompleks smelter tembaga besar di Indonesia, dengan fasilitas pelabuhan industri di kejauhan
Sumber Daya Berkelanjutan

PT Freeport Indonesia kembali memproduksi katoda tembaga di Smelter Manyar, Gresik, senilai US$3,7 miliar pada September 2026, dengan target 5 juta pon bulan ini dan naik menjadi 57 juta pon pada Desember. Sisi produksi dari neraca ini sudah terukur dengan baik. Sisi ekosistem yang menopangnya adalah tempat pekerjaan valuasi Indonesia berikutnya berada.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pemandangan udara fasilitas pengolahan nikel atau bauksit di Indonesia dengan lahan hijau hasil reklamasi di bagian depan
Sumber Daya Berkelanjutan

Dalam acara sosialisasi jurnalistik di Universitas Indonesia pada 13 September, holding tambang negara MIND ID melaporkan pendapatan grup Rp159,46 triliun dan kontribusi ke negara Rp92,56 triliun untuk 2025, disertai penanaman 7,48 juta pohon dan reklamasi lebih dari 7.800 hektare lahan.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Lahan bekas tambang timah di Bangka Belitung yang telah direvegetasi dengan pohon muda dan badan air yang dipulihkan, berdampingan dengan bentang yang belum tersentuh
Sumber Daya Berkelanjutan

Angka yang diterbitkan pada 13 September 2026 memaparkan satu dekade reklamasi timah: 3.575,8 hektare dipulihkan antara 2015 dan 2025, 354,05 hektare sepanjang 2025 saja, dan 411,16 hektare direncanakan untuk 2026 di enam kabupaten. Indonesia menghitung hektare reklamasi dengan cermat. Yang belum dihitung adalah apa yang dihasilkan hektare tersebut.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Lahan bekas tambang batubara di Kalimantan Selatan yang telah direvegetasi dengan tegakan pohon muda dan kolam pengendap, ditinjau pejabat yang berkunjung
Sumber Daya Berkelanjutan

Komisi III DPRD Kalimantan Selatan meninjau dua operasi batubara di Tanah Laut pada 11 September 2026. PT Jorong Barutama Greston melaporkan 1.216,84 hektare telah direklamasi dari 1.416,89 hektare lahan terganggu, rehabilitasi daerah aliran sungai 2.642,96 hektare rampung seluruhnya, dan limbah B3 dicatat sampai lima angka desimal. Angka yang dilaporkan dan angka yang diverifikasi bukanlah hal yang sama, dan beginilah celah itu ditutup.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Kilang alumina dalam tahap konstruksi di samping kawasan tambang bauksit di Kalimantan, dengan tanah bauksit kemerahan dan infrastruktur pengolahan terlihat
Sumber Daya Berkelanjutan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan pada 11 September 2026 bahwa perizinan pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina milik UC Rusal di Kalimantan hampir final, menyusul pertemuan Presiden Prabowo di Eastern Economic Forum di Vladivostok. Indonesia telah membangun rantai pemurnian bauksit yang layak diukur. Alumina adalah anak tangga pertamanya, bukan yang terakhir.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca