Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Energi & Iklim

Surya dan penyimpanan bergerak ke depan rencana jaringan Indonesia

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Unit penyimpanan baterai di samping susunan panel surya

Proyek hibrida surya dan penyimpanan bergerak dari skema uji coba menuju kebijakan nasional, dengan rencana jaringan sepuluh tahun PLN dan program surya desa 100 GW yang sama-sama mengandalkan baterai agar terbarukan bisa diandalkan.

Sekilas data
42,6 GW
Kapasitas terbarukan baru yang ditargetkan dalam RUPTL PLN 2025-2034, disertai 10,3 GW penyimpanan
320 GWh
Penyimpanan baterai terdistribusi yang direncanakan untuk program surya-penyimpanan di 80.000 desa
US$0,12 hingga 0,15/kWh
Proyeksi biaya listrik surya-penyimpanan desa, dibanding US$0,20 hingga 0,40/kWh untuk genset diesel
1,49 GW
Kapasitas surya terpasang kumulatif Indonesia pada akhir 2025

Dari keraguan menjadi magnet investasi

Indonesia kian disebut, bersama Vietnam dan Filipina, sebagai magnet investasi terbarukan, bukan sekadar sistem listrik beremisi tinggi yang dibangun di atas batu bara. Sebagian besar pergeseran itu mengalir lewat proyek hibrida yang memasangkan surya dengan penyimpanan baterai, kombinasi yang menjawab intermitensi yang dahulu menghambat surya dan membuat perencana jaringan berhati-hati. Surya tanpa penyimpanan hanya menghasilkan listrik saat matahari mendukung. Menambahkan baterai memungkinkan listrik itu digeser ke beban puncak malam dan dipakai menstabilkan jaringan, dan itulah yang membuat surya cukup andal untuk menjadi dasar perencanaan sistem nasional.

Indonesia memasuki 2026 dengan kapasitas surya terpasang kumulatif sekitar 1,49 GW setelah menambah 546 MW pada 2025, basis yang kecil dibanding target yang kini ada di atas meja. Yang berubah bukan angka terpasangnya, melainkan keseriusan rencana yang menopangnya, mulai dari cetak biru jaringan sepuluh tahun milik PLN hingga program surya dan penyimpanan tingkat desa yang dimandatkan langsung oleh presiden.

Apa sebenarnya yang diminta rencana nasional

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik atau RUPTL milik PLN untuk 2025 hingga 2034 menetapkan 69,5 GW kapasitas pembangkit baru, dengan 42,6 GW atau 76 persen di antaranya diharapkan berasal dari sumber terbarukan. Surya PV menyumbang porsi terbesar dari pembangunan terbarukan itu sebesar 17,1 GW, di atas tenaga air 11,7 GW, angin 7,2 GW, panas bumi 5,2 GW, dan bioenergi 0,9 GW, rincian yang ditampilkan pada grafik di atas. Penyimpanan berdiri di samping target pembangkit, bukan di dalamnya, karena rencana ini menetapkan 10,3 GW kapasitas penyimpanan energi, terbagi antara 6,0 GW pumped hydro dan 4,3 GW sistem penyimpanan baterai (BESS), yang dimaksudkan agar jaringan mampu menyerap surya dan angin intermiten dalam jumlah sebesar itu tanpa kehilangan keandalan. Pemerintah memperkirakan terbarukan akan mencapai 35 persen dari bauran listrik nasional pada 2034 di bawah rencana ini.

Berjalan paralel, dan dimandatkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto, adalah ambisi yang berbeda dan jauh lebih besar, yaitu Rencana Pembangkit Listrik Tenaga Surya 100 GW untuk Koperasi Desa. Dari total itu, 80 GW akan didistribusikan dalam susunan surya kecil 1 MW yang dipasangkan dengan baterai 4 MWh masing-masing, sehingga totalnya mencapai 320 GWh kapasitas baterai di sebanyak 80.000 desa, sementara sisa 20 GW dibangun sebagai pembangkit terpusat yang lebih besar, tersambung ke jaringan utama atau berdiri sendiri. Setiap sistem desa akan dimiliki dan dioperasikan oleh koperasi desa di bawah program Merah Putih, bukan langsung oleh PLN. Target awal 10.000 sistem terpasang ditetapkan untuk Agustus 2025.

Mengapa keekonomiannya akhirnya masuk akal

Fabby Tumiwa, CEO Institute for Essential Services Reform (IESR), telah memodelkan biaya program desa ini dibanding pembangkit diesel yang akan digantikannya di jaringan-jaringan terisolasi.

"Perkiraan biaya listrik atau LCOE untuk sistem ini sekitar US$0,12 hingga 0,15 per kilowatt-jam selama 25 tahun ke depan, dibanding US$0,20 hingga 0,40 per kilowatt-jam untuk genset diesel," kata Fabby Tumiwa, CEO Institute for Essential Services Reform.

Selisih itu, kurang lebih separuh biaya diesel pada titik tertingginya, adalah argumen ekonomi dalam satu angka, dan itu menjelaskan mengapa program sebesar ini dicoba di desa-desa yang selama ini listriknya mahal karena logistik bahan bakar. Namun Tumiwa juga tegas menyebut bahwa membangun 100 GW surya terdistribusi dalam lima tahun akan sangat menantang, catatan hati-hati yang layak disandingkan dengan keunggulan biaya tadi.

Hibrida skala utilitas pun bergerak

Mikrogrid desa bukan satu-satunya bukti. Di Nusantara, Kalimantan, PT Sembcorp Renewables Indonesia dan PT PLN Nusantara Renewables yang dimiliki negara telah membangun susunan surya 50 MW yang dipasangkan dengan sistem baterai 14,2 MWh di lahan seluas 87 hektare, memakai 114.420 modul surya bifacial dan 126 paket baterai litium besi fosfat, diperkirakan menghasilkan sekitar 93 GWh energi terbarukan per tahun. Ini adalah proyek surya skala besar pertama Sembcorp di pasar Indonesia.

"Sembcorp senang bermitra dengan PLN dalam proyek ini. Dengan memanfaatkan pengalaman kami, kami akan menerapkan penyimpanan energi mutakhir dipasangkan dengan teknologi surya terbaru dalam proyek skala utilitas yang menjadi tonggak ini," kata Jen Tan, Kepala Divisi Energi Terbarukan untuk Singapura dan Indonesia di Sembcorp Industries.

Di tingkat pengadaan, PLN membuka tender pada Mei 2026 untuk paket Mentari Nusantara I, mencakup 1.225 MW pembangkit surya di berbagai lokasi, skala yang dengan sendirinya hampir menambah kapasitas surya sebesar total yang terpasang secara kumulatif hingga akhir 2025.

Kesenjangannya: minat yang melampaui aturan

Yang masih kurang bukan minat, melainkan aturan mapan tentang bagaimana penyimpanan dibayar. Indonesia saat ini belum memiliki regulasi khusus yang mengatur harga atau pengoperasian penyimpanan baterai yang berdiri sendiri, meski tender energi terbarukan kian sering menyertakan BESS dalam kontrak yang sama. Kesenjangan itu mulai menyempit. Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi di Kementerian ESDM, memastikan pada Februari 2026 bahwa sebuah peraturan menteri sedang dalam tahap akhir, melanjutkan Peraturan Menteri ESDM 19/2025 yang diterbitkan Desember 2025.

"Kami saat ini sedang menyelesaikan Peraturan Menteri ini, dan saya yakin ini akan menjadi dasar bagi pelaksanaan pengembangan de-dieselisasi berbasis hidrogen," kata Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi.

Peraturan ini diperkirakan akan menetapkan formula tarif bagi sistem hibrida surya, angin, atau hidrogen yang dipasangkan dengan penyimpanan, dengan ambang kapasitas 10 MW yang membuat sistem terpencil dan kepulauan berskala lebih kecil memenuhi syarat untuk harga preferensial, serta aturan bahwa PLN akan membeli listrik tersebut kapan pun harganya lebih murah dari biaya pembangkit diesel setempat. Ini adalah perbaikan yang lebih sempit dibanding pasar penyimpanan nasional yang utuh, tetapi tepat menyasar wilayah terdepan dan tertinggal, tempat diesel saat ini masih mendominasi dan tempat program koperasi desa paling membutuhkan tarif yang layak dibiayai agar bisa berjalan.

Pandangan Sirkularium

Bagi pemerintah dan lembaga publik, benang merah dari RUPTL, program koperasi desa, dan proyek hibrida Nusantara adalah bahwa Indonesia telah melewati perdebatan soal apakah surya dan penyimpanan layak masuk rencana nasional, dan kini masuk ke pekerjaan yang lebih berat, yaitu membiayai, menyambungkan, dan memberi harga pada teknologi itu dalam skala besar. Target baterai 4,3 GW dalam RUPTL dan target 320 GWh terdistribusi dalam program desa bukan dua visi yang bersaing, melainkan dua skala berbeda dari teknologi yang sama, menjawab dua persoalan berbeda, yaitu fleksibilitas jaringan di satu sisi dan penggantian diesel di sistem terisolasi di sisi lain.

Uji jangka pendeknya adalah apakah peraturan menteri yang tengah disiapkan akan hadir dengan formula tarif yang cukup jelas sehingga koperasi atau pengembang bisa membawa proyek yang layak dibiayai ke bank, bukan sekadar rencana ke kementerian. Mengingat kehati-hatian Tumiwa sendiri bahwa target lima tahun untuk 100 GW sangat menantang, memprioritaskan aturan yang tuntas dibanding pengumuman kapasitas yang terus direvisi ke atas akan lebih efektif mengubah minat hari ini menjadi baterai yang benar-benar terpasang, dibanding sekadar menaikkan lagi angka targetnya.

Surya memimpin pembangunan terbarukan Indonesia 2025-2034

Values in GW direncanakan hingga 2034

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di energi dan iklim, Sirkularium mendukung penyusunan data dasar emisi, perencanaan energi terbarukan dan penyimpanan, serta kerangka karbon dan kebijakan yang kuat di lapangan.

Artikel terkait

Hamparan tanaman singkong dan sorgum di perkebunan luas di Kalimantan, dengan ahli agronomi mengambil sampel tanah di latar depan dan pabrik pengolahan di kejauhan
Energi & Iklim

BUMN perkebunan Agrinas Palma Nusantara menyampaikan pada 8 Oktober bahwa pihaknya telah memetakan satu juta hektare lahan khusus untuk jagung, sorgum, dan singkong sebagai bahan baku bioetanol, dengan potensi produksi sekitar 5 juta kiloliter per tahun untuk mendukung campuran 20 persen etanol dalam bensin. Rencana ini menggeser pembahasan E20 dari target pencampuran ke kebun, pabrik, dan perizinan yang akan memasoknya.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Kontainer berisi sel baterai litium ion dimuat ke kapal kargo di pelabuhan kawasan industri Weda Bay, Halmahera Tengah, dengan bangunan industri dan perbukitan hijau di latar belakang
Energi & Iklim

Presiden Prabowo Subianto meluncurkan ekspor perdana baterai kendaraan listrik Indonesia dan 11 proyek hilirisasi senilai US$10,2 miliar di Indonesia Weda Bay Industrial Park. Babak berikutnya bagi kawasan ini adalah memenuhi kebutuhan listrik 7,1 GW dengan lebih banyak tenaga surya dan angin.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Panel surya atap di sebuah pabrik pulp dan kertas besar di Indonesia, dengan bangunan pengolahan pabrik di latar belakang
Energi & Iklim

Grup pulp dan kertas ini berkomitmen menggunakan 100 persen listrik terbarukan di seluruh operasinya paling lambat pada 2050, berangkat dari bauran energi 2025 di mana sumber terbarukan, terutama black liquor dari pabriknya sendiri, sudah memasok 57,3 persen total penggunaan energi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Reaktor dan jaringan pipa pabrik amonia di kompleks Pupuk Kaltim, Bontang, Kalimantan Timur, pada siang hari
Energi & Iklim

Deklarasi bersama dengan pemegang lisensi teknologi asal Swiss, Casale, pada 6 Oktober menegaskan bahwa Ammonia Pabrik-2 di Bontang hasil revamping menurunkan konsumsi energi dari 39,28 menjadi 35,25 MMBTU per ton sekaligus menaikkan produksi 4,18 persen, menghemat sekitar Rp228 miliar dan 110.000 ton CO2 per tahun.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Unit pemurnian biogas dan kolam limbah tertutup di samping pabrik kelapa sawit di Sumatera Selatan, dengan jaringan pipa gas menuju stasiun meter
Energi & Iklim

PGN memastikan akan membeli dan menyalurkan biometana dari fasilitas baru di Sumatera Selatan yang dikembangkan perusahaan patungan KIS Biofuels dan Toyota Tsusho. Peletakan batu pertama dilakukan pada 5 Oktober, dengan target sekitar 150.000 MMBtu per tahun untuk Toyota Motor Manufacturing Indonesia dan industri lain mulai 2027.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Deretan panel surya terapung di permukaan waduk yang tenang di Indonesia dengan dinding bendungan dan perbukitan hijau di latar belakang
Energi & Iklim

Pada 5 Oktober, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) menemui Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno dengan 22 rekomendasi untuk RUU EBET dan usulan memanfaatkan 263 bendungan milik negara, dengan potensi PLTS terapung dan PLTA sekitar 23,9 GW, untuk mempercepat program PLTS 100 GWp.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca