Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Sumber Daya Berkelanjutan

Indonesia kini punya angka per komoditas tentang berapa besar produksi tambang yang dikerjakan negara, dan justru pengukurannya yang berguna

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Ruang kendali atau aktivitas pemuatan di fasilitas tambang milik negara di Indonesia, dengan data produksi tampil di layar

Analisis yang terbit pada 20 September 2026 memaparkan porsi produksi nasional yang berada di tangan perusahaan tambang negara: 0,83 persen emas, 5,97 persen bijih nikel, 28,28 persen bauksit, 47,51 persen logam timah, dan 5,16 persen batu bara. Dibaca bersama PNBP Rp108 triliun hingga akhir Agustus, angka-angka itu menggambarkan dua pertanyaan berbeda tentang nilai.

Sekilas data
0,83%
Porsi Antam dalam produksi emas nasional
47,51%
Porsi PT Timah dalam produksi logam timah nasional
Rp108 triliun
PNBP subsektor mineral dan batu bara hingga 31 Agustus 2026
US$4 triliun
Perkiraan nilai kekayaan mineral dan batu bara Indonesia

Akhir pekan berisi angka, bukan slogan

Dua tulisan yang terbit pada Minggu 20 September 2026 memindahkan perdebatan lama di Indonesia ke landasan yang lebih kokoh. FORTUNE Indonesia memaparkan, komoditas demi komoditas, berapa besar produksi tambang nasional yang dikerjakan perusahaan di bawah holding pertambangan negara MIND ID. Tribunnews memuat pandangan Irwandy Arif, Ketua Indonesian Mining Institute, mengenai apa yang perlu berubah agar porsi itu naik. Keduanya bertumpu pada bahan yang sama: rapat dengar pendapat di Komisi XII DPR pada pertengahan September, dan diskusi kebangsaan tentang implementasi Pasal 33 UUD 1945 di Universitas Paramadina pada awal bulan.

Nilai dari liputan akhir pekan itu terletak pada penggantian argumen yang sudah terlalu sering diulang dengan sebuah tabel. Indonesia telah memperdebatkan keseimbangan peran negara dan swasta di pertambangan selama puluhan tahun, umumnya dalam bahasa yang umum. Kini tersedia persentase yang dipublikasikan, yang dapat diperiksa, diperdebatkan, atau dijadikan dasar kebijakan oleh siapa pun.

Apa yang dikatakan angka porsi produksi

Angka yang dilaporkan FORTUNE Indonesia bersifat spesifik. PT Aneka Tambang Tbk mencatat sekitar 0,83 persen dari produksi emas nasional, dengan total nasional sekitar 90 ribu kilogram. Pada bijih nikel, produksi Antam sekitar 16,11 juta ton setara 5,97 persen dari angka nasional. Bauksit adalah komoditas dengan posisi tertinggi dalam portofolio Antam, yakni 28,28 persen. PT Bukit Asam Tbk mencatat 5,16 persen produksi batu bara nasional, atau sekitar 43,1 juta ton. Pada logam timah, PT Timah Tbk memegang 47,51 persen.

Irwandy Arif menempatkan angka timah itu dalam konteks sejarah, dengan mencatat bahwa penguasaan negara atas komoditas tersebut pernah mendekati 100 persen dan kini berada di kisaran 48 persen. Ia juga menunjuk sebab yang dinilainya paling penting, yaitu nyaris tidak adanya penambahan cadangan pada perusahaan tambang negara.

"Semua Undang-Undang Minerba mengutamakan BUMN. Tapi faktanya seperti ini. Apa yang terjadi? Ya, karena penambahan cadangannya dari BUMN hampir tidak ada. Tidak mendapatkan lagi tambang-tambang baru." Irwandy Arif, Ketua Indonesian Mining Institute.

Rekomendasinya bersifat praktis. Ia meminta kementerian dan lembaga terkait membantu perusahaan tambang negara memperoleh akses ke wilayah pertambangan baru, dengan alasan tambahan cadangan adalah prasyarat tambahan produksi, dan tambahan produksi adalah prasyarat manfaat ekonomi langsung yang lebih besar bagi negara.

Anggota Komisi XII DPR mengangkat tema yang sama dalam rapat dengar pendapat pertengahan September, dengan mendorong MIND ID mengoptimalkan pengelolaan sumber daya nasional dan meminta evaluasi atas posisi holding tersebut. Kerangka yang dipakai DPR, Indonesian Mining Institute, dan media sektor konsisten: Indonesia ingin lebih banyak nilai sumber dayanya tertahan di dalam negeri, dan kini sedang menelaah mekanismenya.

Mengapa porsi produksi yang kecil tidak berarti penerimaan negara yang kecil

Ada satu pembedaan penting yang tidak terbawa oleh persentase itu sendiri, dan layak dinyatakan dengan jelas. Porsi produksi yang dipegang perusahaan negara mengukur partisipasi industri. Ia tidak mengukur besarnya penerimaan negara dari sektor ini, karena royalti, pajak, dan pungutan lain berlaku untuk seluruh produsen, baik milik negara maupun bukan.

Pada ukuran kedua itu, arahnya jelas. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melaporkan PNBP subsektor mineral dan batu bara sebesar Rp108 triliun per 31 Agustus 2026, naik dari Rp87 triliun pada periode yang sama 2025. Batu bara menyumbang Rp66 triliun, naik dari Rp59 triliun. Nikel menyumbang Rp21 triliun, naik dari Rp10 triliun setahun sebelumnya, sebuah lonjakan dua kali lipat yang terjadi ketika produksi nikel justru turun sekitar 13 juta ton.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Tri Winarno menyebut pendekatan di balik hasil itu sebagai optimum production, yakni produksi yang diseimbangkan dengan kebutuhan pasar, kewajiban domestik, kondisi harga, logistik, serta keberlanjutan cadangan. Angka nikel adalah ilustrasi paling bersih yang tersedia mengenai hasil dari pendekatan tersebut. Lebih sedikit bijih yang diangkat, dan lebih banyak nilai yang tertahan di negara.

Dibandingkan dengan itu, titik acuan yang diangkat Irwandy lebih tepat dibaca sebagai ukuran ambisi ketimbang vonis. Ia memperkirakan kekayaan mineral dan batu bara Indonesia sekitar US$4 triliun, sementara penerimaan negara dari sektor ini pada 2024 sekitar Rp173 triliun. Kedua angka itu tidak sebanding secara langsung, karena yang satu adalah stok sumber daya di dalam tanah dan yang lain adalah aliran tahunan. Dibaca dengan cermat, keduanya justru merumuskan pertanyaan yang tepat, yaitu seberapa besar stok yang sangat besar itu dikonversi Indonesia menjadi nilai setiap tahun, dan melalui cara apa.

Buku besar yang masih kosong

Indonesia kini mengukur sisi penerimaan dari pertambangan dengan presisi yang tinggi. Produksi dihitung, royalti ditelusuri, harga acuan ditetapkan dua kali sebulan, dan penerimaan negara bukan pajak diumumkan per komoditas. Itu pencapaian administratif yang nyata, dan menjadi fondasi bagi segala hal lain.

Buku besar kedua masih tipis. Kondisi lahan, air, hutan, dan keanekaragaman hayati di dalam dan sekitar wilayah tambang tercatat dalam izin, laporan reklamasi, dan hasil pemantauan, tetapi jarang dinyatakan dalam satuan moneter yang dapat disandingkan dengan angka penerimaan. Ketika valuasi itu dilakukan, umumnya dilakukan terlambat, sebagai respons atas sengketa, dan dalam kondisi yang membuatnya mahal serta mudah diperdebatkan.

Negara yang mampu menyebut penerimaan royaltinya hingga triliunan rupiah terdekat, tetapi belum mampu menyebut nilai kondisi ekosistem di bawah konsesi yang sama, baru mengukur separuh dari apa yang dimilikinya.

Hal ini penting justru untuk pertanyaan yang diangkat liputan akhir pekan itu. Jika tujuannya adalah Indonesia menangkap lebih banyak nilai dari sumber dayanya, maka pembukuannya harus mencakup keseluruhan nilai tersebut. Perkiraan cadangan dan porsi produksi menggambarkan bagian yang dapat diekstraksi. Tata air, kestabilan tanah, simpanan karbon, perikanan, dan tegakan hutan menggambarkan bagian yang tetap ada setelah ekstraksi berakhir, dan memiliki harga yang dapat diukur dengan metodologi yang sudah diakui regulasi Indonesia.

Pandangan Sirkularium

Bagi pemerintah dan institusi publik, tiga langkah praktis mengalir dari angka yang terbit akhir pekan ini.

Pertama, teruskan publikasinya. Porsi produksi di tingkat komoditas, diperbarui setiap tahun dan ditempatkan bersebelahan dengan PNBP per komoditas, akan memungkinkan kementerian, DPR, dan pemerintah daerah memantau dua tujuan berbeda tanpa mencampuradukkannya. Partisipasi industri dan penangkapan fiskal merespons instrumen yang berbeda, dan layak diberi baris tersendiri.

Kedua, perlakukan akses cadangan bagi perusahaan tambang negara sebagai persoalan data sebelum menjadi persoalan kebijakan. Setiap alokasi wilayah pertambangan baru bertumpu pada kualitas penilaian sumber daya di baliknya, serta pada pembacaan yang jernih atas kondisi lingkungan dan sosial yang melekat pada lahan bersangkutan. Data geologi dan ekosistem yang lebih baik di awal menurunkan biaya setiap keputusan sesudahnya.

Ketiga, bangun buku besar kedua itu secara sengaja. Valuasi ekonomi atas kegiatan pertambangan, yang memadukan penginderaan jauh dan sistem informasi geografis dengan pengukuran lapangan serta diterapkan melalui metodologi yang diakui, menghasilkan angka yang dapat dipertahankan mengenai nilai lahan dan kondisi ekosistem pada satu titik waktu. Dijalankan sebagai praktik rutin dan bukan respons krisis, valuasi itu memungkinkan operator menunjukkan kepatuhan kepada Kementerian Lingkungan Hidup dengan bukti alih-alih perdebatan, dan memungkinkan pemerintah merencanakan ekonomi kawasan di atas modal alam yang terukur, bukan di atas perkiraan.

Pembacaan Sirkularium atas akhir pekan ini karena itu bersifat optimistis. Angka porsi produksi bukan papan skor yang harus dimenangkan atau dikalahkan. Ia adalah separuh pertama dari neraca nasional yang kini hampir dapat ditulis Indonesia secara utuh. Yang perlu dicermati berikutnya adalah apakah publikasi angka putaran berikutnya menambahkan sisi ekosistem dari neraca tersebut, dan apakah perusahaan tambang negara yang mengajukan cadangan baru diminta membawa serta valuasi ekonominya.

Porsi produksi nasional yang dikerjakan perusahaan tambang negara, per komoditas

Values in persen

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di sumber daya berkelanjutan, Sirkularium mendampingi tata kelola air, tailing, dan ESG agar proyek sumber daya tetap kredibel dan layak diinvestasikan.

Artikel terkait

Bekas jenjang tambang nikel di Sulawesi yang telah direvegetasi dengan pohon endemik muda dan kolam pengendapan di latar depan
Sumber Daya Berkelanjutan

Proyek pertumbuhan PT Vale Indonesia di Morowali membuka konsultasi pemangku kepentingan atas rencana pascatambang Bahodopi Blok 2 dan 3 untuk periode 2036 sampai 2040. Menyusun rencana penutupan sepuluh tahun lebih awal mengubah kewajiban akhir usia tambang menjadi sesuatu yang dapat diukur, dinilai, dan didanai tepat waktu.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Batangan timah tersusun di gudang smelter Indonesia dengan papan harga komoditas terlihat, menghubungkan produksi mineral fisik dengan penetapan harga pasar
Sumber Daya Berkelanjutan

Otoritas Jasa Keuangan menetapkan dua peraturan pada 17 September 2026 yang memberi Bursa Mineral dan Komoditas Strategis landasan hukumnya, dengan operasi dimulai 1 Januari 2027 dan timah sebagai produk pertama yang dicatatkan. Komisi XI DPR meminta satu pasal dipertegas, agar harga bursa menjadi wajib dan bukan sekadar boleh digunakan sebagai acuan untuk royalti, ekspor dan transaksi terafiliasi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Tajuk hutan yang telah dipulihkan berbatasan dengan konsesi tambang di Indonesia, dengan tim survei melakukan pengukuran lapangan di antara vegetasi hasil penanaman
Sumber Daya Berkelanjutan

Pada forum kebijakan internasional di Jakarta, 15 September 2026, Kementerian Lingkungan Hidup menetapkan prinsip yang akan mengatur kredit biodiversitas Indonesia, sementara Kementerian Kehutanan menyebut 13 taman nasional dan dua lanskap spesies sebagai lokasi rintisan. Instrumen ini hanya berjalan bila kondisi ekosistem dapat diukur dan diverifikasi, sehingga ini adalah persoalan valuasi sebelum menjadi persoalan pembiayaan.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Tumpukan bijih nikel laterit di lokasi tambang Indonesia dengan truk angkut dan jembatan timbang, serta fasilitas pengolahan di kejauhan
Sumber Daya Berkelanjutan

Keputusan menteri yang ditetapkan pada 11 September 2026 dan berlaku sejak 15 September menurunkan faktor korektif bijih nikel kadar rendah menjadi 14 persen, sehingga harga patokan negara untuk bijih 1,2 persen menjadi US$24,89 per ton basah. Bagian yang menarik bukan angkanya. Indonesia kini mengiterasi sebuah metode valuasi sumber daya secara terbuka.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Lembaran katoda tembaga dan infrastruktur pemurnian di dalam kompleks smelter tembaga besar di Indonesia, dengan fasilitas pelabuhan industri di kejauhan
Sumber Daya Berkelanjutan

PT Freeport Indonesia kembali memproduksi katoda tembaga di Smelter Manyar, Gresik, senilai US$3,7 miliar pada September 2026, dengan target 5 juta pon bulan ini dan naik menjadi 57 juta pon pada Desember. Sisi produksi dari neraca ini sudah terukur dengan baik. Sisi ekosistem yang menopangnya adalah tempat pekerjaan valuasi Indonesia berikutnya berada.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pemandangan udara fasilitas pengolahan nikel atau bauksit di Indonesia dengan lahan hijau hasil reklamasi di bagian depan
Sumber Daya Berkelanjutan

Dalam acara sosialisasi jurnalistik di Universitas Indonesia pada 13 September, holding tambang negara MIND ID melaporkan pendapatan grup Rp159,46 triliun dan kontribusi ke negara Rp92,56 triliun untuk 2025, disertai penanaman 7,48 juta pohon dan reklamasi lebih dari 7.800 hektare lahan.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca