Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Energi & Iklim

TBS Energi Utama menghitung angka kerugian jika bertahan di bisnis batu bara

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pemandangan berdampingan antara cerobong asap PLTU batu bara yang dinonaktifkan dengan instalasi PLTS terapung dan sepeda motor listrik di stasiun tukar baterai di Indonesia

Analisis Task Force on Climate related Financial Disclosures yang dipaparkan di Lestari Summit Jakarta menunjukkan TBS Energi Utama berpotensi merugi hingga 3,8 miliar dollar AS pada 2050 jika tetap bergantung pada batu bara, memperkuat transisi yang sudah berjalan menuju pengelolaan sampah, energi terbarukan, dan mobilitas listrik.

Sekilas data
3,8 miliar dollar AS
Proyeksi kerugian pada 2050 jika TBS tetap bergantung pada batu bara, menurut analisis TCFD
~65%
Kontribusi bisnis non batu bara terhadap pendapatan TBS pada kuartal I 2024, naik dari kurang dari 1% pada 2022
600 juta dollar AS
Rencana belanja modal untuk pertumbuhan bisnis non batu bara hingga 2030
2027
Target tahun penghentian penuh operasi pertambangan batu bara

Sebuah angka dari panggung forum, bukan slogan

Dalam Lestari Summit 2026 yang digelar di Hotel Raffles Jakarta pada 22 Juli 2026, Triana Krisandini, Senior Vice President Sustainability PT TBS Energi Utama Tbk, memaparkan angka atas pertanyaan yang selama ini lebih banyak dijawab perusahaan batu bara Indonesia dengan pernyataan ambisi ketimbang hitungan pasti: berapa sebenarnya biaya yang harus ditanggung jika tetap bertahan di bisnis batu bara. Mengutip analisis pihak ketiga yang disusun dengan kerangka Task Force on Climate related Financial Disclosures, ia menyampaikan kepada forum bahwa ketergantungan berkelanjutan pada batu bara dapat membuat perusahaan menanggung potensi kerugian sekitar 3,8 miliar dollar AS pada 2050.

Angka ini tidak disampaikan sebagai peringatan dari pihak luar, melainkan sebagai masukan perencanaan internal. TBS, yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham TOBA dan dikenal hingga 2020 sebagai Toba Bara Sejahtra, telah menghabiskan beberapa tahun terakhir mengubah angka tersebut menjadi strategi, bukan sekadar bahan pembicaraan. Perbedaan ini penting bagi cara pemerintah dan pelaku keuangan membaca pengungkapan ini: perusahaan menggunakan akuntansi risiko iklim untuk membenarkan alokasi modal, sebuah sinyal yang lebih tahan lama dibandingkan komitmen keberlanjutan yang dibuat untuk kepentingan reputasi semata.

"Risiko iklim kini menjadi risiko finansial nyata bagi neraca perusahaan, bukan lagi sekadar risiko reputasi."

Mengapa batu bara menjadi persoalan neraca keuangan

Pergeseran TBS tidak dimulai dari pengungkapan di Lestari Summit. Perusahaan meluncurkan Climate Transition Plan (CTP) pada November 2025, yang oleh manajemennya digambarkan sebagai kelanjutan dari peta jalan internal yang pertama kali disusun pada 2022 dengan nama TBS2030. Aksi paling nyata dalam rencana itu adalah divestasi dua anak usaha pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara pada 2024. Berdasarkan pemberitaan atas transaksi tersebut, kedua aset itu menyumbang sekitar 86 persen dari total emisi operasional Scope 1 dan Scope 2 perusahaan pada tahun sebelum penjualan, yang berarti satu keputusan divestasi menghilangkan sebagian besar jejak karbon langsung perusahaan dalam satu langkah, bukan melalui bertahun-tahun perbaikan efisiensi bertahap.

Perusahaan memasangkan divestasi itu dengan batas waktu tegas bagi sisa bisnis fosilnya: operasi pertambangan batu bara dijadwalkan berhenti sepenuhnya pada 2027, tiga tahun lebih cepat dari target netral karbon 2030 yang ditetapkan CTP bagi seluruh grup. TBS juga telah memperoleh keyakinan terbatas dari pihak ketiga atas pelaporan emisinya berdasarkan ISO 14064, dan menyatakan perencanaan transisinya mengikuti panduan pengungkapan iklim European Sustainability Reporting Standards E1 selain persyaratan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kombinasi yang menunjukkan pengungkapan ini dirancang untuk diperiksa pihak luar, bukan hanya untuk kalangan internal.

Dari kurang dari satu persen menjadi dua pertiga pendapatan

Bukti paling jelas bahwa ini adalah pergeseran operasional, bukan sekadar latihan pelaporan, terlihat pada komposisi pendapatan itu sendiri. Pada 2022, lini bisnis non batu bara hanya menyumbang kurang dari 1 persen dari total pendapatan TBS. Pada kuartal pertama 2024, kontribusi itu naik menjadi sekitar 65 persen, dan target yang dinyatakan perusahaan adalah aktivitas non batu bara memasok hampir 80 persen pendapatan pada 2030. Direktur Keuangan Juli Oktarina pernah menyebut porsi batu bara dalam portofolio masih sekitar separuh pada akhir 2025, angka yang harus terus turun cepat agar target penghentian tambang pada 2027 dapat tercapai tanpa menimbulkan celah pada neraca keuangan.

Dari mana pendapatan baru berasal

TBS menata pertumbuhan bisnis non batu baranya melalui tiga lini usaha. Yang terbesar dari sisi volume adalah pengelolaan sampah, dibangun melalui akuisisi AMES, ARAH, dan SembEnviro yang telah diganti mereknya menjadi CORA Environment, yang bersama-sama mengolah lebih dari 1 juta ton sampah setiap tahun. Lini kedua adalah pembangkit energi terbarukan, ditopang pembangkit listrik tenaga mikrohidro 2 kali 3 megawatt di Lampung yang mulai beroperasi Januari 2025 serta proyek PLTS terapung 46 megawatt puncak di Tembesi, Batam, yang ditargetkan rampung sekitar pertengahan 2026. Lini ketiga adalah mobilitas listrik, dijalankan melalui Electrum, usaha patungan dengan GoTo, yang telah berkembang menjadi lebih dari 7.500 sepeda motor listrik dan lebih dari 360 stasiun tukar baterai pada April 2026, dan menurut pengungkapan perusahaan sekitar Lestari Summit Juli, jumlahnya telah mencapai lebih dari 13.500 unit yang beroperasi dengan akumulasi jarak tempuh 240 juta kilometer, laju pertumbuhan armada yang melampaui sebagian besar operator kendaraan listrik roda dua di Asia Tenggara.

Direktur Utama Dicky Yordan menempatkan strategi tiga pilar ini sebagai proposisi ekonomi, bukan sekadar kepatuhan, dengan mengatakan kepada media bahwa perusahaan "memperkuat sinergi lintas unit bisnis, dan menghadirkan solusi hijau yang memberi nilai ekonomi sekaligus manfaat sosial bagi masyarakat."

Membiayai jalan keluar

Divestasi batu bara dan diversifikasi dalam skala ini membutuhkan mitra pembiayaan yang bersedia menanggung risiko transisi, dan TBS telah mendokumentasikan setidaknya dua pengaturan semacam itu di sekitar peluncuran CTP. Bank DBS Indonesia memfasilitasi pembiayaan campuran senilai 15 juta dollar AS untuk mendukung Electrum, yang dalam komunikasi perusahaan disebut sebagai pengaturan pembiayaan campuran pertama di Indonesia yang dirancang khusus untuk transportasi berkelanjutan. Secara terpisah, pemberitaan atas pengungkapan di Lestari Summit menyebut pembiayaan campuran dari Asian Development Bank yang terkait bisnis kendaraan listrik setelah verifikasi independen atas Climate Transition Plan. Sirkularium tidak dapat memastikan dari sumber yang tersedia apakah keduanya merupakan dua fasilitas yang berbeda atau rujukan yang tumpang tindih pada satu struktur pembiayaan yang sama, dan mencatat perbedaan ini alih-alih menyimpulkannya secara sepihak. Direktur Institutional Banking Group DBS, Anthonius Sehonamin, mengatakan banknya "bekerja sama aktif merumuskan peta jalan dekarbonisasi yang selaras dengan strategi bisnis TBS," sementara Oktarina menyebut CTP sebagai "komitmen nyata dan panduan strategis menuju dekarbonisasi yang kredibel."

Apa artinya bagi pemerintah dan lembaga publik

Bagi pembuat kebijakan Indonesia yang menggarap dekarbonisasi industri, kasus TBS menawarkan sesuatu yang lebih berguna daripada sekadar janji: perhitungan terdokumentasi berbasis TCFD yang menunjukkan alasan sebuah perusahaan energi swasta memilih keluar dari batu bara lebih cepat dari tekanan regulasi, dipasangkan dengan tenggat waktu yang jelas (penghentian tambang 2027, netral karbon 2030) dan mitra pembiayaan yang disebutkan namanya. Kombinasi ini memberi regulator dan lembaga keuangan negara sebuah rujukan tentang kualitas pengungkapan yang memudahkan penyusunan pembiayaan campuran dan obligasi transisi, sekaligus lebih mudah dipertanggungjawabkan di hadapan auditor dan lembaga pemberi pinjaman multilateral.

Hal yang perlu terus dipantau adalah realisasi terhadap tenggat waktu, bukan strateginya itu sendiri: apakah proyek PLTS terapung Tembesi mencapai target rampung pertengahan 2026, apakah volume produksi batu bara menurun sejalan dengan rencana penghentian pada 2027, dan apakah kontribusi pendapatan non batu bara terus naik dari 65 persen menuju target 80 persen tanpa membuka celah pembiayaan di tengah jalan. Sebuah perusahaan yang secara sukarela menghitung biaya jika tidak bertindak dalam kerangka TCFD, lalu memperkuat angka itu dengan divestasi, target bertanggal, dan pemberi pinjaman yang disebutkan namanya, adalah justru jenis sinyal sektor swasta yang dapat mendukung kerangka pembiayaan pemerintah bagi transisi energi yang lebih luas, asalkan pencapaiannya terus dipantau dan tidak sekadar diterima berdasarkan kepercayaan.

Pergeseran komposisi pendapatan TBS Energi Utama menjauh dari batu bara

Values in % pendapatan dari bisnis non batu bara

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di energi dan iklim, Sirkularium mendukung penyusunan data dasar emisi, perencanaan energi terbarukan dan penyimpanan, serta kerangka karbon dan kebijakan yang kuat di lapangan.

Artikel terkait

Hamparan sorgum di Lampung di samping unit pengolahan bioetanol skala pilot, dengan teknisi berseragam keselamatan memeriksa peralatan fermentasi dan distilasi
Energi & Iklim

Pertamina New & Renewable Energy meluncurkan Bioethanol Development Center di Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Lampung pada 14 September 2026, disertai perjanjian kerja sama dengan pemerintah provinsi dan nota kesepahaman riset internasional. Kapasitas pilot ini sengaja kecil, 60 kiloliter per tahun, karena dibangun untuk membuktikan bahan baku, proses dan rendemen sebelum modal masuk pada skala besar.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Teknisi PLN memperbaiki gardu induk dan tiang transmisi yang rusak di lanskap pedesaan Nusa Tenggara Timur tak lama setelah gempa, dengan bendera merah putih terlihat di latar belakang menjelang HUT Kemerdekaan
Energi & Iklim

Gempa berkekuatan magnitudo 7,0 hingga 7,7 mengguncang Laut Flores pada 15 Agustus 2026, memadamkan dua pembangkit gas dan merusak sebelas gardu induk di Nusa Tenggara Timur. PLN memulihkan seluruh sebelas gardu induk dalam 12 jam, lalu menjadikan provinsi yang sama sebagai posko pengawalan kelistrikan nasional untuk HUT ke-81 RI pada 17 Agustus, yang ditutup dengan cadangan daya 9 gigawatt atau 21,1 persen tanpa gangguan yang dilaporkan.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Pekerja kilang dan manajer operasi memeriksa dasbor pemantauan energi digital di layar ruang kendali sebuah kilang minyak Indonesia
Energi & Iklim

Pada 13 Agustus 2026, PT Kilang Pertamina Internasional membuka Bulan Energy & Loss 2026 secara serentak di seluruh unit kilangnya, mendorong pekerja menuju efisiensi energi dan pengurangan loss di bawah tema digitalisasi. Kampanye ini menyusul tahun 2025 yang mencatat pemangkasan lebih dari 450.000 ton setara CO2 oleh unit kilang tersebut, melampaui target 370.000 ton.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Bagian dalam pabrik semen Indonesia memperlihatkan kiln putar dan konveyor umpan bahan bakar alternatif, dengan operator berperlengkapan keselamatan memeriksa instrumentasi
Energi & Iklim

SIG melaporkan pada 13 Agustus bahwa pemanfaatan bahan bakar alternatif naik 24 persen menjadi 681 ribu ton pada 2025, menggantikan 467 ribu ton batu bara dan mengangkat thermal substitution rate ke 9,77 persen. Intensitas emisi Scope 1 kini 21 persen di bawah baseline 2010, terhadap target perusahaan sebesar 27 persen pada 2030.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pejabat provinsi dan anggota kelompok perhutanan sosial menandatangani dokumen di sebuah meja dalam ruang pertemuan di Jakarta, dengan gambar bentang hutan Indonesia pada layar di belakang mereka
Energi & Iklim

Pada 12 Agustus, Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup menandatangani perjanjian kerja sama dengan sepuluh provinsi tambahan dalam program Results-Based Payment REDD+ Green Climate Fund, sehingga cakupan provinsi menjadi 34 dari 38. Total komitmen untuk program provinsi kini mencapai Rp761,02 miliar, dan dana tersebut berpangkal pada 20,25 juta ton penurunan emisi terverifikasi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Insinyur dan pejabat menelaah rencana proyek surya di atas meja bersama laptop dalam ruang rapat terang di Jakarta, dengan susunan panel surya atap terlihat dari jendela
Energi & Iklim

Dalam media briefing di Jakarta pada 11 Agustus, Bappenas, GIZ, dan Asosiasi Energi Surya Indonesia memaparkan bagaimana ISEW 2026 akan mempertemukan proyek yang sudah siap dengan investor. Penekanannya bergeser dari angka kapasitas ke bankability, kesiapan jaringan, dan urutan pembangunan bertahap.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca