Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Energi & Iklim

Listrik menjangkau 1.400 titik desa tambahan saat program nasional bergerak menuju peluncuran Agustus

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Panel surya dan jaringan distribusi baru yang melayani desa terpencil di Indonesia timur pada waktu senja

Menteri Bahlil Lahadalia memastikan pada 3 Agustus bahwa program listrik desa nasional akan diluncurkan resmi bulan ini, dengan lebih dari 1.400 titik yang telah rampung menunggu peresmian dan model penyaluran yang bertumpu pada perluasan jaringan, mini grid energi terbarukan, serta sistem surya rumah tangga.

Sekilas data
1.400+
Titik rampung pada 2025, menunggu peresmian
173.853
Sambungan rumah tangga baru yang ditargetkan pada 2026
Rp9,75 triliun
Usulan anggaran infrastruktur listrik desa
2029
Target tahun cakupan penuh desa dan dusun

Tanggal peluncuran mulai terlihat

Pada Senin, 3 Agustus 2026, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mendatangi Istana Merdeka di Jakarta untuk melaporkan program kerja kementerian kepada Presiden Prabowo Subianto. Akses listrik menjadi pusat pembahasan. Berbicara seusai pertemuan yang berlangsung sekitar lima belas menit, menteri memastikan bahwa program listrik desa nasional, yang dikenal dengan sebutan Lisdes, tetap berada di jalur peluncuran resmi pada Agustus. Tanggal pastinya masih dibahas. Bahlil mengindikasikan bahwa acara tersebut direncanakan berlangsung sebelum 14 Agustus, hari ketika Presiden menyampaikan pidato Nota Keuangan RAPBN 2027 di hadapan Majelis Permusyawaratan Rakyat.

Substansi di balik acara itu sudah terbangun. Lebih dari 1.400 titik yang dibiayai anggaran 2025 telah rampung dan siap dinyalakan. Ini bukan instalasi percontohan. Ini adalah jaringan distribusi yang selesai, susunan panel surya komunal, dan sambungan rumah tangga di tempat yang belum pernah memiliki pasokan bermeteran.

Bagi negara yang mencatat rasio elektrifikasi rumah tangga 99,83 persen dan rasio desa berlistrik 99,97 persen, sisa kesenjangan itu kecil dalam persentase dan besar dalam ukuran manusia. Sekitar 98,56 persen rumah tangga yang telah berlistrik dilayani langsung oleh PLN, sementara sisanya ditutup oleh pengaturan lain. Pecahan terakhir inilah tempat rekayasa tersulit berada.

Angka di balik penyaluran

Data kementerian menempatkan sisa pekerjaan pada sekitar 11.000 desa dan dusun yang belum memiliki akses listrik. Bahlil menjelaskan konsentrasi di wilayah timur secara lebih rinci, menyebut sekitar 5.700 desa dan 4.400 dusun yang masih menunggu, dengan kelompok terpadat di Sulawesi, Maluku, dan Papua. Sumber mendefinisikan satuan secara berbeda tergantung apakah yang dihitung adalah desa administratif atau titik penyaluran individual. Pada Juni 2026, Jisman P. Hutajulu, Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bidang Perencanaan Strategis, menyebut angka yang tersisa sekitar 8.000 lokasi.

Masih ada sekitar 8.000 lokasi yang belum mendapatkan akses listrik dan ini harus kita selesaikan.

Program tahunan sedang ditingkatkan. Berbanding 1.400 titik yang rampung dari alokasi 2025, kementerian menetapkan target 2026 sebesar 2.065 titik dengan potensi 173.853 calon pelanggan baru, naik menjadi 2.759 titik dan 215.108 pelanggan pada 2027. Lintasan itu, jika dipertahankan, membuat target penuntasan 2029 masuk akal secara hitungan, bukan sekadar aspirasi.

Tiga jalur penyaluran, satu target

Yang membedakan program ini dari perluasan jaringan konvensional adalah bahwa program ini tidak mengandaikan jaringan sebagai jawaban tunggal. Kementerian menetapkan tiga jalur penyaluran, disesuaikan dengan geografi permukiman.

Jalur pertama adalah perluasan jaringan langsung bagi komunitas yang berada dekat infrastruktur PLN yang ada, di mana penarikan jaringan distribusi merupakan opsi termurah dan paling awet. Jalur kedua adalah mini grid yang dibangun di atas sumber daya terbarukan setempat, melayani permukiman berkelompok yang terlalu jauh dari tulang punggung jaringan untuk membenarkan penarikan kabel, namun cukup padat untuk menopang aset pembangkit bersama. Jalur ketiga adalah sistem surya individual yang dipasangkan dengan penyimpanan baterai bagi rumah tangga yang tersebar di pulau dan dataran tinggi, di mana tidak ada jaringan bersama yang masuk akal secara ekonomi.

Ini adalah pilihan rancangan yang bermakna. Pendekatan ini memperlakukan pembangkitan terbarukan terdistribusi sebagai mekanisme penyaluran utama, bukan penambal sementara, dan menghapus asumsi tersirat bahwa setiap rumah tangga pada akhirnya harus tersambung ke kabel nasional. Bagi institusi yang merencanakan akses energi di medan kepulauan dan pegunungan, kerangka tiga jalur ini lebih berguna daripada satu angka target, karena kerangka tersebut memetakan langsung ke kategori pengadaan, model operasi dan pemeliharaan, serta kebutuhan keterampilan yang berbeda tajam satu sama lain.

Hal ini juga penting bagi efisiensi. Mini grid atau sistem surya rumah tangga memberi imbalan pada disiplin sisi permintaan dengan cara yang tidak dilakukan sambungan jaringan bersubsidi. Efisiensi peralatan, penjadwalan beban, dan penentuan ukuran penyimpanan menjadi variabel rancangan yang hidup sejak hari pertama, sehingga kebiasaan efisiensi terbangun ke dalam permintaan baru alih alih dipasang belakangan.

Pembiayaan yang sudah dikomitmenkan

Program ini sudah terdanai, bukan sekadar diusulkan. Kementerian mengalokasikan sekitar Rp9,7 triliun untuk listrik desa pada 2027, disusun melalui kontrak tahun jamak. Tri Winarno, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara sekaligus Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, menguraikan pembagiannya.

Untuk skema MYC 2026 sampai 2027 dengan target 3.054 lokasi dianggarkan sebesar Rp8,77 triliun. Kedua, untuk skema MYC 2027 sampai 2028 dengan target 101 lokasi dialokasikan sebesar Rp977,57 miliar.

Untuk 2026, alokasi yang dilaporkan berkisar Rp10,3 triliun, terdiri atas sekitar Rp994 miliar anggaran reguler dan Rp9,3 triliun anggaran tambahan. Secara terpisah, Rp520 miliar menopang program Bantuan Pasang Baru Listrik atau BPBL, yang menanggung biaya penyambungan bagi rumah tangga berpenghasilan rendah di wilayah yang sudah terjangkau jaringan. Pada akhir Juli, seusai pertemuan istana pada 28 Juli, Bahlil memastikan anggaran untuk tahapan 2026 dan 2027 aman dan program telah masuk tahap implementasi.

Pemberitaan juga mencatat usulan Rp9,75 triliun untuk pembangunan infrastruktur listrik desa, angka yang sangat berdekatan dengan alokasi 2027 dan mencerminkan amplop tahun jamak yang sama dilihat dari tahap pengusulan.

Berdampingan dengan elektrifikasi desa, pembahasan 3 Agustus turut mencakup tahap pertama program surya nasional 100 gigawatt, yang telah disetujui dan sedang disiapkan untuk peletakan batu pertama. Kedua agenda saling menguatkan. Skala manufaktur surya dalam negeri menurunkan biaya satuan dari peralatan yang justru dikonsumsi elektrifikasi luar jaringan dalam volume besar.

Yang perlu diperhatikan pemerintah dan institusi publik

Tiga hal layak mendapat perhatian pada kuartal mendatang.

Pertama, model serah terima. Titik yang telah rampung membutuhkan operator, pengaturan tarif, dan rantai suku cadang. Mini grid dan sistem surya rumah tangga jauh lebih sering gagal karena pemeliharaan daripada karena pemasangan, dan jawaban kelembagaan atas siapa yang melayani bank baterai pada tahun keempat layak diselesaikan sebelum tahun pertama berakhir.

Kedua, profil permintaan. Elektrifikasi membuka pemanfaatan produktif, dan pemanfaatan produktif adalah tempat imbal hasil pembangunan berada. Pemerintah daerah yang memadukan sambungan baru dengan penyimpanan dingin, pengolahan hasil pertanian, atau peralatan bengkel akan mengubah akses menjadi pendapatan. Yang tidak melakukannya akan melihat beban bertahan di tingkat penerangan dan pengisian daya telepon, yang membuat aset dasarnya lebih sulit dipertahankan.

Ketiga, standardisasi pengadaan. Dengan 2.065 titik pada 2026 dan 2.759 titik pada 2027, spesifikasi yang dapat diulang untuk panel, inverter, baterai, dan meteran akan menentukan apakah biaya turun seiring volume. Standardisasi juga yang membuat persediaan suku cadang nasional menjadi layak.

Pandangan Sirkularium

Indonesia sedang menutup bagian terakhir dan tersulit dari tugas elektrifikasinya, dan melakukannya dengan pembangkitan terbarukan sebagai pilihan pertama, bukan cadangan. Itu posisi yang sungguh konstruktif bagi negara dengan lebih dari tujuh belas ribu pulau, dan menempatkan armada energi terdistribusi ke dalam layanan yang akan tetap menjadi aset lama setelah target sambungan terpenuhi.

Bagi pemerintah dan institusi publik, peluang praktisnya ada pada lapisan operasional. Program belanja modal sudah terdefinisi dan terdanai hingga 2028. Yang masih terbuka adalah bagaimana aset ini dijalankan, seberapa efisien permintaan baru di belakangnya dilayani, dan seberapa cepat pemanfaatan produktif menyusul sambungan. Membangun kapabilitas manajemen energi di institusi daerah sekarang, ketika armada masih dipasang, jauh lebih murah daripada menambahkannya kemudian.

Bacaan Sirkularium adalah bahwa elektrifikasi desa dan efisiensi energi industri merupakan disiplin yang sama pada skala berbeda. Keduanya bertumpu pada pengukuran, pada penyelarasan pasokan dengan permintaan aktual alih alih permintaan yang diasumsikan, dan pada perlakuan terhadap konsumsi yang dihindari sebagai sumber daya. Yang perlu diperhatikan berikutnya adalah peresmian itu sendiri, kerangka operasi dan pemeliharaan yang diterbitkan bersamanya, serta apakah target 2.065 titik pada 2026 berjalan sesuai jadwal sepanjang tahun.

Titik program listrik desa per tahun

Values in titik

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di energi dan iklim, Sirkularium mendukung penyusunan data dasar emisi, perencanaan energi terbarukan dan penyimpanan, serta kerangka karbon dan kebijakan yang kuat di lapangan.

Artikel terkait

Para menteri mengucapkan sumpah jabatan di Istana Negara Jakarta dengan latar bendera Merah Putih
Energi & Iklim

Presiden Prabowo Subianto melantik Bahlil Lahadalia sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang pertama, sebuah jabatan baru yang menyatukan peningkatan nilai tambah industri dan pembangunan energi bersih di bawah satu payung koordinasi, sementara Bahlil tetap memimpin Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Foto lebar pabrik semen atau pupuk modern di Indonesia dengan tanur yang efisien dan panel surya atap di bawah langit biru cerah
Energi & Iklim

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza memaparkan bagaimana industri semen, pupuk, logam, dan enam subsektor lain akan memimpin dekarbonisasi industri, dengan efisiensi energi dan material sebagai pilar pertama dari enam pilar serta pelaporan emisi berkala melalui SIINas.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Foto udara panel surya yang menutupi atap pabrik besar dan sebuah kanal di dalam kawasan industri Morowali, dengan bangunan smelter dan perbukitan di latar belakang
Energi & Iklim

Para tenan di Indonesia Morowali Industrial Park kini mengoperasikan sekitar 11 MWp PLTS, dengan sistem atap 66 MWp dan pembangkit 200 MWp yang sedang dikembangkan. Langkah ini memberi pusat pengolahan nikel terbesar di Indonesia pijakan awal yang nyata pada pilar listrik rendah karbon dalam peta jalan dekarbonisasi industri nikel nasional.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Ekskavator listrik memuat bijih ke dump truck listrik di area stockpile di samping bangunan smelter, dengan stasiun pengisian daya di latar depan
Energi & Iklim

PT Virtue Dragon Nickel Industry telah berinvestasi sekitar Rp45 miliar untuk alat berat dan kendaraan material handling bertenaga listrik di Morosi, Sulawesi Tenggara, dan menargetkan pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 43.411 ton hingga akhir 2027. Langkah ini menjadi contoh nyata pilar efisiensi energi dalam peta jalan dekarbonisasi industri nikel Indonesia.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Tumpukan serbuk gergaji dan serpih kayu di hub pengumpulan biomassa di samping truk, dengan pekerja memeriksa mutu bahan bakar
Energi & Iklim

Di Electricity Connect 2026, PLN Energi Primer Indonesia memaparkan strategi bioenergi yang berangkat dari residu yang sudah tersedia di lahan pertanian, perkebunan, hutan, pabrik dan kota, lalu bergerak dari cofiring menuju biochar, syngas, biohidrogen dan compressed biogas. Perusahaan memperkirakan 10 juta ton biomassa saja dapat menopang sekitar 150.000 lapangan kerja hijau.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Deretan panel surya di atas tanah di samping kontainer baterai pada pembangkit listrik pulau kecil, dengan rumah genset diesel lama di latar belakang
Energi & Iklim

PLN Indonesia Power dan PT ACE Energy Service sepakat di Electricity Connect 2026 untuk membangun PLTS 60 MWp yang dipadukan dengan baterai 200 MWh di sepuluh lokasi terisolasi di Sulawesi Tengah. Proyek senilai Rp3,3 triliun ini memakai panel buatan dalam negeri dan berpotensi menurunkan biaya penyediaan listrik sekitar Rp1.000 per kWh.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca