Dua pertiga capaian energi bersih satu operator industri berasal dari efisiensi, bukan pembangkit baru
Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Harita Nickel melaporkan pendapatan semester I 2026 sebesar Rp17,1 triliun bersamaan dengan pembangkit waste heat recovery 50 megawatt yang ditargetkan rampung pada kuartal keempat dan PLTS 40 megawatt peak yang progres konstruksinya 99 persen, pada portofolio yang capaian energi bersihnya sekitar dua pertiga berasal dari efisiensi energi.
Sebagian besar pemberitaan dekarbonisasi industri menghitung kapasitas pembangkit baru. Serangkaian pengungkapan dari kawasan industri Pulau Obi di Halmahera Selatan, Maluku Utara, menunjuk pada sesuatu yang kurang terlihat dan, berdasarkan datanya, lebih besar. Energi yang berhenti terbuang di sebuah pabrik bisa melampaui energi yang baru dibangkitkannya.
Panas yang dulu terbuang keluar dari lokasi
Harita Nickel sedang membangun pembangkit listrik yang bekerja dengan panas buangan. Unit ini menangkap sisa panas dan uap dari proses High Pressure Acid Leach yang dioperasikan PT Halmahera Persada Lygend dan mengubahnya menjadi listrik, dengan kapasitas desain hingga 50 megawatt. Penyelesaiannya ditargetkan pada kuartal keempat 2026.
Perseroan mengungkapkan jadwal tersebut bersamaan dengan hasil semester I 2026 yang diberitakan pada 1 Agustus, yang menunjukkan pendapatan Rp17,1 triliun. Direktur Keuangan Suparsin Darmo Liwan mengaitkan capaian itu dengan optimalisasi kapasitas produksi yang mendorong penjualan di sejumlah segmen usaha, termasuk tambahan lini pirometalurgi di PT Karunia Permai Sentosa serta area tambang baru PT Gane Tambang Sentosa yang mulai beroperasi pada kuartal ketiga 2025.
Berjalan paralel adalah PLTS berkapasitas 40 megawatt peak, yang dalam pemberitaan akhir Juli disebut telah mencapai progres konstruksi 99 persen. Unsur ketiga menopang keduanya: sistem manajemen energi yang dibangun mengikuti standar ISO 50001, yang mengatur bagaimana sebuah lokasi mengukur konsumsi, menetapkan garis dasar dan menjaga perbaikan tetap bertahan setelah tercapai.
Neraca efisiensi di balik angka kapasitas
Proporsinya adalah bagian yang menarik. Pengungkapan perseroan yang dilaporkan awal tahun ini menempatkan total energi yang dihasilkan melalui langkah efisiensi dan sumber terbarukan sebesar 20.992.004 gigajoule. Dari jumlah itu, 33 persen berasal dari energi terbarukan dan 67 persen berasal dari efisiensi energi. Total emisi yang dihindarkan pada pengungkapan yang sama mencapai 1.610.582 ton setara karbon dioksida, dan waste heat recovery saja menyumbang sekitar 73 persen dari emisi yang dihindarkan untuk 2023.
Dua pertiga kontribusi energi bersih berasal dari tidak membuang energi sejak awal. Aset pembangkit, yang terlihat dan enak difoto, menyumbang porsi yang lebih kecil.
Trennya berlanjut. Pada kuartal pertama 2026 perseroan mencatat 977.278 ton setara karbon dioksida emisi yang dihindarkan, naik 37 persen dibandingkan kuartal yang sama 2025. Head of Investor Relations Lukito Gozali mengaitkan perbaikan tersebut dengan waste heat recovery, penggunaan biosolar dan penerapan teknologi gasifikasi batu bara. Direktur Health, Safety and Environment Tonny Gultom mencatat kandungan biosolar untuk pembangkitan listrik dan operasional dinaikkan dari 30 persen menjadi 35 persen, serta menyebut biaya modal PLTS sekitar USD 1 juta hingga USD 1,5 juta per megawatt peak. Perseroan bekerja dengan target nol emisi bersih pada 2060, sejalan dengan tenggat nasional.
Mengapa efisiensi mendahului pembangkitan
Sirkularium secara konsisten berpendapat bahwa efisiensi adalah langkah pertama dan termurah dalam dekarbonisasi industri, dan urutannya penting karena alasan praktis, bukan ideologis.
Efisiensi memperkecil ukuran masalah sebelum modal dikeluarkan untuk menyelesaikannya. Setiap megawatt jam yang tidak lagi dibutuhkan sebuah proses adalah megawatt jam kapasitas pembangkit yang tidak perlu dibangun, dibiayai, disambungkan dan dipelihara. Merancang PLTS atau perjanjian jual beli listrik terhadap beban yang belum diperbaiki berarti membayar pemborosan dengan harga energi bersih.
Efisiensi juga lebih cepat kembali modal. Pemulihan panas, variable speed drive pada motor dan pompa, perbaikan kinerja chiller dan cooling tower, pengelolaan udara bertekanan yang lebih baik serta kendali otomatis umumnya mengembalikan biayanya dalam hitungan bulan sampai beberapa tahun. Pengembalian itu datang dari anggaran operasional, bukan dari alokasi modal strategis, dan hal ini penting bagi perusahaan yang komite investasinya berhati hati.
Efisiensi juga berlipat. Lokasi dengan sistem manajemen energi yang berfungsi mengetahui ke mana energinya pergi, sehingga setiap keputusan berikutnya lebih terinformasi. Tanpa lapisan pengukuran tersebut, pengadaan energi terbarukan hanyalah tebakan yang dikemas sebagai strategi.
Ekonomi di balik momentumnya
Dua kondisi membuat ini saat yang tepat bagi industri Indonesia untuk bertindak dengan logika yang sama.
Pertama, panas proses. Porsi besar kebutuhan energi industri bersifat termal, bukan listrik, dan permintaan termal itulah tempat peluang pemulihan terkonsentrasi. Tanur semen, smelter, kilang, pabrik pulp dan kertas, serta pengolahan makanan dan minuman sama sama melepas panas dalam jumlah besar pada suhu yang masih berguna untuk pembangkitan listrik, pemanasan awal atau pengeringan. Panas itu sudah terlanjur dibayar.
Kedua, regulasi. Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2023 dan kerangka konservasi energi sebelumnya mewajibkan pengguna energi besar menjalankan sistem manajemen energi yang terstruktur, menunjuk manajer energi, melakukan audit energi berkala dan menindaklanjuti temuannya. Fasilitas dengan konsumsi di atas ambang batas sudah berada di dalam kewajiban ini. Memperlakukannya sebagai urusan kepatuhan menghasilkan laporan yang diarsipkan. Memperlakukannya sebagai disiplin operasional menghasilkan angka seperti yang diuraikan di atas.
Apa yang dapat diterapkan industri lain
Kasus Obi adalah lokasi terintegrasi besar dengan ketersediaan panas yang tidak lazim, dan tidak setiap pabrik memiliki 50 megawatt panas yang dapat dipulihkan dalam aliran prosesnya. Yang dapat dipindahkan adalah urutannya dan pengukurannya, bukan skalanya.
Urutannya adalah mengukur, memulihkan, lalu membangkitkan. Pasang sistem manajemen energi lebih dulu agar garis dasarnya nyata. Pulihkan panas dan hilangkan kebocoran berikutnya, karena langkah itu memperkecil beban. Tambahkan pembangkitan terbarukan paling akhir, dirancang terhadap beban yang sudah diperbaiki, bukan beban semula.
Pengukuran adalah yang membuat klaimnya kredibel. Angka seperti 20.992.004 gigajoule dan 977.278 ton setara karbon dioksida hanya bermakna bila metering, sub metering dan verifikasi di baliknya memadai. Bagi pembeli yang menerapkan persyaratan emisi rantai pasok, dan bagi bank yang menetapkan harga fasilitas terkait keberlanjutan, lapisan verifikasi makin menjadi aset tersendiri.
Pandangan Sirkularium
Bagi pemerintah dan institusi publik, tiga catatan berikut mengikuti.
Dari sisi kebijakan, pelaporan dekarbonisasi industri nasional akan lebih bermanfaat bila memisahkan capaian efisiensi dari capaian pembangkitan terbarukan. Saat ini keduanya cenderung digabung menjadi satu angka penurunan emisi. Memisahkannya akan menunjukkan di mana penurunan emisi termurah sebenarnya berada dan memungkinkan anggaran program mengikuti bukti. Pembagian 67 berbanding 33 yang diungkapkan di sini adalah jenis angka yang semestinya rutin terlihat lintas sektor, bukan dikumpulkan kasus per kasus.
Dari sisi pembiayaan, proyek waste heat recovery memiliki profil khas. Proyek ini padat modal, secara teknis sudah dipahami dengan baik, dan menghasilkan aliran penghematan pembelian energi yang dapat diperkirakan. Profil tersebut cocok untuk instrumen konsesional atau campuran, dan cocok untuk model perusahaan jasa energi, di mana pihak ketiga membiayai pekerjaan dan dibayar kembali dari penghematan terverifikasi. Pasar perusahaan jasa energi Indonesia masih kecil dibandingkan peluangnya, dan dukungan bagi pengembangannya akan memperluas jangkauan setiap rupiah pembiayaan iklim publik.
Dari sisi implementasi, kewajiban ISO 50001 adalah titik temu kebijakan dengan praktik. Sertifikasi semata mengubah sedikit. Yang mengubah hasil adalah apakah manajer energi yang ditunjuk memiliki kewenangan anggaran, apakah rekomendasi audit disertai tenggat pelaksanaan, dan apakah penghematan diverifikasi, bukan diperkirakan. Memperkuat tiga unsur itu akan menaikkan penghematan yang benar benar terealisasi di seluruh populasi yang sudah diatur, tanpa regulasi baru.
Rencana dekarbonisasi industri yang paling lugas dimulai dengan pengukuran yang akurat tentang di mana energi saat ini hilang.
Yang perlu diamati berikutnya: apakah unit waste heat recovery 50 megawatt beroperasi dalam jendela kuartal IV 2026, apakah PLTS 40 megawatt peak selesai sesuai jadwal, dan apakah proyek pemulihan panas serupa mulai muncul di subsektor semen, baja dan kimia, tempat argumen teknisnya serupa dan peluang agregatnya jauh lebih besar.
Sumber
- ANTARA News, Harita Nickel catat pendapatan Rp17,1 triliun pada semester I 2026
- RuangEnergi, pendapatan semester I dan kemajuan proyek energi bersih Harita Nickel
- Republika ESG Now, pemanfaatan energi bersih digenjot dan emisi yang dihindarkan naik 37 persen
- Detik Finance, strategi hijau menekan emisi dan menjaga daya saing energi
- SWA, efisiensi operasional diperkuat di tengah tekanan industri nikel
- Indonesian Mining Association, strategi hijau menekan emisi dan menjaga daya saing energi






