Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Energi & Iklim

Indonesia membangun sel baterai lebih cepat daripada menulis aturan untuk memensiunkannya

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Modul baterai kendaraan listrik bekas ditumpuk di atas palet dalam fasilitas pemilahan Indonesia, dengan teknisi menguji sisa kapasitas di meja kerja

Dalam Indonesia Energy and Engineering Series pada 3 September 2026, Indonesia Battery Corporation menyebut regulasi daur ulang dan kewajiban uji keselamatan sebagai celah yang paling perlu ditutup industri baterai. Kementerian Lingkungan Hidup telah menyusun aturan limbah baterai kendaraan listrik sejak pertengahan tahun, dengan armada yang masih cukup muda sehingga kerangkanya dapat siap sebelum gelombang besar pertama baterai pensiun.

Sekilas data
15 GWh
Kapasitas sel yang direncanakan di pabrik Karawang
6,9 GWh
Kapasitas tahap pertama pabrik tersebut
80%
Sisa kapasitas ketika second life dimulai
5 tahun
Tambahan umur yang dapat diberikan penerapan second life

Indonesia Battery Corporation memaparkan apa yang paling dibutuhkan industri baterai negeri ini pada Indonesia Energy and Engineering Series, 3 September 2026. Niko Chandra, Head of ID Battery sekaligus Direktur Pengembangan Bisnis IBC, menyebut empat hal, dan daftarnya lebih menarik karena apa yang belum ada ketimbang apa yang sudah ada.

Yang pertama adalah visibilitas permintaan. Chandra menyatakan yang paling dibutuhkan pelaku industri adalah gambaran jelas tentang seberapa besar permintaan baterai akan tumbuh. Yang kedua adalah kewajiban uji keselamatan. Infrastruktur pengujian dan Standar Nasional Indonesia sudah ada, namun keharusan memakainya sebagian besar masih bersifat sukarela, yang menurutnya perlu diperkuat untuk membangun kepercayaan publik terhadap kendaraan listrik.

Yang ketiga adalah daur ulang. Indonesia belum memiliki aturan menyeluruh untuk itu, dan penerapan second life secara formal masih belum lengkap.

Manufakturnya tiba mendahului kerangkanya

Waktu munculnya celah itulah yang membuatnya layak diperhatikan sekarang, bukan nanti.

Manufaktur sel di Karawang dirancang untuk 6,9 gigawatt jam pada tahap pertamanya, naik menjadi 15 gigawatt jam dengan tahap kedua sebesar 8,1, melalui PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery, usaha patungan anak perusahaan CATL yaitu CBL bersama PT Antam dan IBC. Itu kapasitas industri nyata yang memproduksi sel bagi kendaraan maupun bagi penyimpanan diam.

Setiap sel tersebut pada akhirnya akan berhenti berguna pada penerapan pertamanya. Negara yang memproduksi baterai pada skala itu memperoleh kewajiban yang datang kurang lebih satu dekade kemudian, dan keputusan yang menentukan seberapa baik ia menghadapinya diambil sekarang, selagi armadanya masih muda.

Pabrik baterai adalah aliran limbah dengan penundaan sepuluh tahun. Keunggulan yang masih dipegang Indonesia adalah penundaan itu belum habis.

Chandra juga menunjuk ke mana permintaannya bergerak. Di luar kendaraan listrik dan instalasi surya, ia menyebut pusat data sebagai pasar baterai yang paling besar dan sedang tumbuh, dengan Indonesia berposisi sebagai pusat kawasan. Itu berarti pula bagi persoalan daur ulang, karena penyimpanan diam justru tempat baterai kendaraan berlabuh ketika ia tidak lagi layak di mobil.

Aturannya sedang ditulis sekarang

Kementerian Lingkungan Hidup telah menyiapkan regulasi limbah baterai kendaraan listrik setidaknya sejak pertengahan tahun. Berbicara di Jakarta pada 30 Juni 2026, Menteri Lingkungan Hidup, yang dalam pemberitaan disebut Jumhur Hidayat, menyatakan kementerian sedang menyiapkan aturan pengelolaannya, dengan perkiraan persoalannya mulai terlihat dalam dua atau tiga tahun. Ia mencatat teknologi guna ulang baterai memungkinkan pemulihan 80 sampai 90 persen sebelum ada yang benar benar dibuang, dan menempatkan limbah sebagai pendamping transisi energi yang dapat diselesaikan, bukan sebagai alasan menolaknya.

Kerangka untuk membangunnya sudah tersedia. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 dan Peraturan Menteri Nomor 6 Tahun 2021 mengatur limbah bahan berbahaya dan beracun, dan di bawah keduanya limbah baterai dari kendaraan listrik wajib didaur ulang atau dikelola secara benar. Pekerjaan sekarang terletak pada rincian pengumpulan, ambang batas dan tanggung jawab, bukan pada penetapan asasnya.

Rantai yang dimaksudkan telah digambarkan garis besarnya. Baterai dikumpulkan dari dealer dan bengkel, diteruskan ke pengepul berizin dan selanjutnya ke pusat daur ulang. Yang masih menyimpan kapasitas memadai diarahkan ke pemakaian second life. Yang tidak dapat digunakan ulang didaur ulang, dan hanya yang sama sekali tidak dapat dipulihkan yang ditimbun. Penelitian pemerintah masih menentukan ambang kapasitas yang membuat sebuah baterai layak untuk second life, dengan menimbang kinerja teknis terhadap pertimbangan kesehatan dan lingkungan.

Second life adalah tahap yang menentukan keekonomiannya

Evvy Kartini, pendiri National Battery Research Institute dan fisikawan yang bekerja pada bidang material, telah menjelaskan mengapa tahap antara itu penting.

Ketika sebuah baterai turun ke sekitar 80 persen kapasitas aslinya, ia tidak lagi memuaskan di dalam kendaraan, tempat jarak tempuh dan tenaga menjadi penting. Ia tetap sepenuhnya layak pakai bagi penyimpanan energi diam, yang kedua kendala itu tidak berlaku dengan cara yang sama. Penerapan kedua tersebut dapat menambah kurang lebih lima tahun sebelum daur ulang menjadi perlu.

Peringatannya soal waktu bersifat langsung. Pertanyaan tentang apa yang terjadi ketika kendaraan listrik hari ini mencapai usia sepuluh tahun dan baterainya harus diganti adalah pertanyaan yang direncanakan sekarang, bukan yang diangkat satu dekade lagi.

Ia juga menunjuk ketimpangan komersial yang harus dihadapi kebijakan. Baterai nikel mangan kobalt menarik untuk didaur ulang karena material yang dipulihkan membawa nilai nyata. Baterai litium besi fosfat saat ini menarik minat daur ulang yang terbatas di Indonesia, karena yang keluar darinya bernilai lebih rendah. Bila diserahkan kepada pasar, jenis pertama akan didaur ulang dan jenis kedua akan menumpuk.

Ketimpangan itu menjadi lebih berarti karena litium besi fosfat justru kimia yang banyak dipakai pada penyimpanan diam, yakni segmen yang paling cepat tumbuh di Indonesia. Pabrik Karawang memproduksi sel untuk kendaraan maupun untuk sistem penyimpanan energi baterai. Bila bagian penyimpanan dari keluarannya condong ke kimia yang paling sedikit menarik minat daur ulang, maka persoalan yang akan dihadapi Indonesia satu dekade lagi tumbuh justru pada bagian yang paling cepat membesar hari ini.

Pandangan Sirkularium bagi pemerintah dan institusi publik

Tiga pengamatan mengikuti.

Yang pertama, regulasinya sebaiknya dirampungkan selagi kepatuhannya masih murah. Tanggung jawab produsen yang diperluas, skema deposit dan kewajiban pengumpulan jauh lebih mudah dibebankan pada industri yang sedang membangun logistiknya sekarang daripada pada industri yang sudah membangunnya di atas andaian berbeda. Produsen yang kini menegakkan kehadirannya di Indonesia berada pada posisi dapat merancang pengumpulan ke dalam jaringannya bila diminta, dan biaya melakukannya pada tahap ini hanya sebagian kecil dari biaya memasangnya belakangan.

Yang kedua menyangkut kimia baterai yang tidak akan ditangani pasar dengan sendirinya. Bila sel litium besi fosfat tidak dapat didaur ulang secara menguntungkan, ia akan ditimbun atau ditelantarkan kecuali aturannya menghendaki sebaliknya. Kewajiban daur ulang yang berlaku bagi semua jenis kimia, ditopang bila perlu oleh pungutan yang dikumpulkan pada saat penjualan, adalah pemulihan yang lazim. Usulan Kartini mengenai depot pengumpulan di bawah kementerian koordinator menjawab persoalan yang sama dari sisi infrastruktur.

Yang ketiga menyangkut menyambungkan persoalan second life dengan kebutuhan penyimpanan. Indonesia merencanakan penyimpanan baterai pada skala sangat besar, termasuk 3.300 megawatt jam di Bali saja berdampingan dengan program surya nasional. Baterai kendaraan pensiunan pada kapasitas 80 persen merupakan masukan alami bagi penerapan penyimpanan bertugas lebih ringan. Aturan yang ditulis agar baterai second life dapat disertifikasi dan disambungkan, alih alih diperlakukan sebagai limbah secara otomatis, akan mengubah persoalan pembuangan menjadi pasokan penyimpanan yang murah.

Yang perlu diamati berikutnya adalah apakah regulasi kementerian lingkungan rampung dalam 2026 sebagaimana ditargetkan, apakah ekosistem pengelolaannya mulai berjalan pada 2027, serta di mana ambang kapasitas second life akhirnya ditetapkan.

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di energi dan iklim, Sirkularium mendukung penyusunan data dasar emisi, perencanaan energi terbarukan dan penyimpanan, serta kerangka karbon dan kebijakan yang kuat di lapangan.

Artikel terkait

Hamparan tanaman singkong dan sorgum di perkebunan luas di Kalimantan, dengan ahli agronomi mengambil sampel tanah di latar depan dan pabrik pengolahan di kejauhan
Energi & Iklim

BUMN perkebunan Agrinas Palma Nusantara menyampaikan pada 8 Oktober bahwa pihaknya telah memetakan satu juta hektare lahan khusus untuk jagung, sorgum, dan singkong sebagai bahan baku bioetanol, dengan potensi produksi sekitar 5 juta kiloliter per tahun untuk mendukung campuran 20 persen etanol dalam bensin. Rencana ini menggeser pembahasan E20 dari target pencampuran ke kebun, pabrik, dan perizinan yang akan memasoknya.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Kontainer berisi sel baterai litium ion dimuat ke kapal kargo di pelabuhan kawasan industri Weda Bay, Halmahera Tengah, dengan bangunan industri dan perbukitan hijau di latar belakang
Energi & Iklim

Presiden Prabowo Subianto meluncurkan ekspor perdana baterai kendaraan listrik Indonesia dan 11 proyek hilirisasi senilai US$10,2 miliar di Indonesia Weda Bay Industrial Park. Babak berikutnya bagi kawasan ini adalah memenuhi kebutuhan listrik 7,1 GW dengan lebih banyak tenaga surya dan angin.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Panel surya atap di sebuah pabrik pulp dan kertas besar di Indonesia, dengan bangunan pengolahan pabrik di latar belakang
Energi & Iklim

Grup pulp dan kertas ini berkomitmen menggunakan 100 persen listrik terbarukan di seluruh operasinya paling lambat pada 2050, berangkat dari bauran energi 2025 di mana sumber terbarukan, terutama black liquor dari pabriknya sendiri, sudah memasok 57,3 persen total penggunaan energi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Reaktor dan jaringan pipa pabrik amonia di kompleks Pupuk Kaltim, Bontang, Kalimantan Timur, pada siang hari
Energi & Iklim

Deklarasi bersama dengan pemegang lisensi teknologi asal Swiss, Casale, pada 6 Oktober menegaskan bahwa Ammonia Pabrik-2 di Bontang hasil revamping menurunkan konsumsi energi dari 39,28 menjadi 35,25 MMBTU per ton sekaligus menaikkan produksi 4,18 persen, menghemat sekitar Rp228 miliar dan 110.000 ton CO2 per tahun.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Unit pemurnian biogas dan kolam limbah tertutup di samping pabrik kelapa sawit di Sumatera Selatan, dengan jaringan pipa gas menuju stasiun meter
Energi & Iklim

PGN memastikan akan membeli dan menyalurkan biometana dari fasilitas baru di Sumatera Selatan yang dikembangkan perusahaan patungan KIS Biofuels dan Toyota Tsusho. Peletakan batu pertama dilakukan pada 5 Oktober, dengan target sekitar 150.000 MMBtu per tahun untuk Toyota Motor Manufacturing Indonesia dan industri lain mulai 2027.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Deretan panel surya terapung di permukaan waduk yang tenang di Indonesia dengan dinding bendungan dan perbukitan hijau di latar belakang
Energi & Iklim

Pada 5 Oktober, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) menemui Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno dengan 22 rekomendasi untuk RUU EBET dan usulan memanfaatkan 263 bendungan milik negara, dengan potensi PLTS terapung dan PLTA sekitar 23,9 GW, untuk mempercepat program PLTS 100 GWp.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca