Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Energi & Iklim

Pabrik baterai kedua Indonesia beroperasi di Karawang, membuat sel untuk kendaraan dan untuk penyimpanan jaringan

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Interior lini manufaktur sel baterai modern di Jawa Barat dengan peralatan otomatis dan teknisi berpakaian ruang bersih memeriksa gulungan elektroda

PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery mulai beroperasi bertahap di Karawang pada Juli 2026, sekitar tiga belas bulan setelah peletakan batu pertama. Kapasitas tahap pertamanya 6,9 gigawatt jam per tahun, naik menjadi 15 gigawatt jam pada perluasan penuh terhadap total investasi sekitar USD 1,2 miliar, dengan keluaran terbagi antara kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi baterai.

Sekilas data
6,9 GWh
Kapasitas sel tahunan tahap pertama
15 GWh
Kapasitas pada perluasan penuh
USD 1,2 miliar
Total investasi untuk pembangunan penuh
18 MW
Surya yang direncanakan di pabrik pada 2027

PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery, yang dikenal sebagai CATIB, mulai beroperasi di Karawang, Jawa Barat pada Juli 2026. Peletakan batu pertamanya berlangsung pada 29 Juni 2025, sehingga konstruksinya kurang lebih tiga belas bulan.

Perusahaan ini merupakan usaha patungan yang mempertemukan Ningbo Contemporary Brunp Lygend, anak perusahaan produsen baterai Tiongkok CATL, bersama PT Antam Tbk dan Indonesia Battery Corporation. Ia menjadi pabrik baterai kendaraan listrik kedua yang beroperasi di negeri ini, menyusul fasilitas Hyundai LG Indonesia yang dibuka pada Juli 2024.

Kapasitas tahap pertamanya 6,9 gigawatt jam per tahun. Tahap kedua sebesar 8,1 gigawatt jam akan membawa totalnya menjadi 15 gigawatt jam, cukup menurut keterangan perusahaan untuk memasok sekitar 250.000 kendaraan listrik. Total investasi bagi pembangunan penuhnya ditempatkan sekitar USD 1,2 miliar, setara kurang lebih Rp21,19 triliun.

Ahmad Erani Yustika, Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, menggambarkan pabrik tersebut sudah mulai beroperasi meskipun masih bertahap. Peresmian resmi oleh Presiden masih menunggu penjadwalan.

Sel, bukan sekadar perakitan

Rincian yang membedakan fasilitas ini adalah letaknya dalam rantai produksi.

CATIB bukan operasi perakitan paket yang mengambil sel impor lalu memasangnya ke dalam rumah baterai. Lokasinya mencakup sel baterai, modul dan paket lengkap, dengan kurang lebih satu kilometer fasilitasnya diperuntukkan bagi produksi sel sebelum pengemasan dimulai. Manufaktur sel adalah bagian rantai yang padat modal dan menuntut secara teknis, dan itulah langkah yang kerap tidak dicapai kebanyakan ambisi baterai.

Aditya Farhan Arif, Direktur Indonesia Battery Corporation, menempatkan argumen ekonominya pada apa yang ditambahkan pengolahan. Membawa nikel sampai menjadi baterai, menurutnya, dapat melipatgandakan nilai hingga seratus kali dibandingkan mengekspor bijih mentah, sepanjang rantai pasok terpadu dan permintaan pasarnya sama sama ada. Sekitar 600 karyawan dilatih di Tiongkok menjelang pengoperasian.

Dua syarat yang melekat pada klaim itu adalah keseluruhan argumennya. Kelipatan nilai seratus kali bukanlah sifat mineralnya. Ia sifat dari rantai lengkap yang berjalan dari bijih melalui pemurnian dan produksi katoda sampai sel jadi, dengan pembeli di ujungnya. Satu mata rantai hilang dan nilainya berhenti di tempat rantai itu putus. Karena itulah pabrik sel lebih berarti daripada yang disiratkan angka kapasitasnya, dan karena itu pula permintaan penyimpanan yang dibahas di bawah bukan rincian sampingan.

Periode konstruksi tiga belas bulan itu pun layak dicatat tersendiri. Fasilitas industri serumit ini biasanya tidak diselesaikan secepat itu, dan lajunya menunjukkan penyiapan lahan, perizinan dan sambungan utilitasnya diselesaikan mendahului pembangunan, bukan sembari berjalan.

Bagian penyimpanan dari keluarannya yang penting di sini

Pemberitaan tentang pabrik baterai cenderung memperlakukannya sebagai cerita kendaraan listrik. Yang ini secara tegas bukan hanya itu.

Produksinya terbagi antara kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi baterai, yakni baterai diam yang menyimpan listrik bagi jaringan alih alih bagi mobil. Kategori kedua itu telah menjadi yang lebih langsung relevan bagi sektor kelistrikan Indonesia.

Negara yang memasang 100 gigawatt peak surya membutuhkan tempat menaruh listriknya ketika matahari tinggi dan permintaannya tidak. Manufaktur sel dalam negeri dan kebutuhan penyimpanan nasional yang tiba pada tahun yang sama adalah kebetulan yang berguna.

Besaran kebutuhan itu sudah terlihat. Komponen Bali dari program 100 gigawatt peak saja memasangkan 1.000 megawatt peak surya dengan 3.300 megawatt jam penyimpanan baterai. Rencana kelistrikan nasional 2025 sampai 2034 menempatkan energi terbarukan dan penyimpanan pada sekitar 76 persen dari 69,5 gigawatt penambahan yang direncanakan. Penyimpanan pada skala itu adalah kebutuhan masukan industri, dan sampai sekarang ia akan dipenuhi sepenuhnya oleh impor.

Perbandingan kasarnya memberi gambaran. Penyimpanan 3.300 megawatt jam untuk Bali saja setara 3,3 gigawatt jam, yakni hampir separuh kapasitas tahunan tahap pertama pabrik ini. Satu provinsi, dalam satu tahapan program, menyerap sebagian besar keluaran setahun. Itu menunjukkan bahwa persoalannya bukan apakah permintaan dalam negeri memadai untuk menopang manufaktur sel, melainkan apakah pengadaannya disusun sedemikian rupa sehingga permintaan tersebut sampai ke pabrik yang ada di dalam negeri.

Pabrik yang akan berjalan sebagian dengan suryanya sendiri

Satu rincian lain layak dicatat. Indonesia Battery Corporation berencana memasang sistem surya 18 megawatt di lokasi tersebut pada 2027.

Itu rangkaian yang berarti bagi satu fasilitas industri, dan ia menjawab pertanyaan yang mengikuti manufaktur baterai di mana pun. Produksi sel padat energi, dan emisi yang melekat pada sebuah baterai sangat bergantung pada listrik yang dipakai membuatnya. Pasar ekspor Eropa dan lainnya makin memberi harga pada karbon yang melekat itu, baik melalui penyesuaian di perbatasan maupun melalui persyaratan pelanggan. Pabrik yang membangkitkan sebagian dayanya sendiri dari surya memperbaiki biaya operasinya sekaligus posisinya di pasar yang menanyakan bagaimana selnya dibuat.

Langkah ini juga menempatkan CATIB pada pola yang sama dengan Transmart dan Danone, yakni surya atap di lokasi industri dan komersial yang sudah ada, dipasang karena ia menurunkan biaya listrik sekaligus emisi. Yang membedakan di sini adalah produknya sendiri merupakan perangkat penyimpanan energi, sehingga pabrik tersebut pada dasarnya membuat komponen yang memungkinkan surya seperti miliknya bekerja setelah matahari terbenam.

Pandangan Sirkularium bagi pemerintah dan institusi publik

Tiga pengamatan mengikuti.

Yang pertama menyangkut memasangkan kapasitas manufaktur dengan permintaan dalam negeri. Indonesia kini memiliki produksi sel dan, melalui program 100 gigawatt peak, kebutuhan penyimpanan yang sangat besar. Apakah yang kedua dipenuhi oleh yang pertama bergantung pada rancangan pengadaan, bukan pada geografi. Lelang penyimpanan yang ditulis agar sel produksi dalam negeri dapat bersaing pada ketentuan yang realistis akan menutup lingkar yang menjadi sandaran argumen hilirisasi nikel.

Yang kedua menyangkut pertanyaan karbon melekat yang menjadi persoalan komersial. Instalasi surya 18 megawatt menandakan operatornya sudah memahami hal ini. Institusi publik dapat membantu dengan memastikan pasokan terbarukan benar benar tersedia bagi kawasan industri pada skala yang akan dibutuhkan pabrik seperti ini, karena pembangkitan di lokasi saja tidak akan menutupi fasilitas berkapasitas 15 gigawatt jam.

Yang ketiga menyangkut basis keterampilan. Enam ratus karyawan yang dilatih di luar negeri adalah cara sebuah pabrik pertama dimulai. Itu bukan cara sebuah industri menopang dirinya. Pendidikan vokasi dan keinsinyuran dalam kimia sel, pengendalian proses dan keselamatan baterai, yang dikembangkan bersama operator yang kini hadir di negeri ini, adalah pembeda antara menampung sebuah pabrik dan memegang sebuah kapabilitas.

Yang perlu diamati berikutnya adalah apakah tahap kedua berjalan menuju total 15 gigawatt jam pada lini masa yang disebutkan, seberapa besar keluarannya diarahkan ke penyimpanan alih alih kendaraan, serta apakah instalasi surya 18 megawatt terwujud pada 2027. Peresmian resmi yang masih menunggu penjadwalan juga akan menjadi momen ketika angka produksi yang terverifikasi kemungkinan besar disampaikan, dan angka itulah yang akan memperlihatkan seberapa dekat operasi bertahap ini dengan kapasitas penuh tahap pertamanya.

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di energi dan iklim, Sirkularium mendukung penyusunan data dasar emisi, perencanaan energi terbarukan dan penyimpanan, serta kerangka karbon dan kebijakan yang kuat di lapangan.

Artikel terkait

Turbin angin di punggung bukit pesisir Sulawesi Selatan dengan waduk atau bendungan pembangkit listrik tenaga air terlihat di lanskap bawahnya
Energi & Iklim

Berbicara seusai rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI pada 16 September 2026, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi memaparkan alasan memasangkan energi angin dengan tenaga air, dan menyebut tawaran pembiayaan lunak melalui Just Energy Transition Partnership akan diarahkan ke pembangkit angin dan surya terapung. Logikanya bersifat musiman. Angin bertiup paling kuat justru pada bulan bulan ketika muka air waduk menurun.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Deretan panel surya menutupi atap datar yang luas dari sebuah pusat perbelanjaan besar di Indonesia, dengan teknisi memeriksa rangkaian panel dan panorama kota di belakangnya
Energi & Iklim

Trans Mall Group meresmikan instalasi PLTS atap di enam belas properti di empat belas kota pada 15 September 2026, sebuah portofolio gabungan 12,34 megawatt peak yang diperkirakan menghasilkan 16,8 gigawatt jam listrik bersih per tahun. Grup ini melaporkan efisiensi biaya listrik 8 sampai 10 persen setiap tahun, yang mengubah komitmen keberlanjutan menjadi argumen biaya operasional yang dapat diuji pemilik gedung lain.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Hamparan sorgum di Lampung di samping unit pengolahan bioetanol skala pilot, dengan teknisi berseragam keselamatan memeriksa peralatan fermentasi dan distilasi
Energi & Iklim

Pertamina New & Renewable Energy meluncurkan Bioethanol Development Center di Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Lampung pada 14 September 2026, disertai perjanjian kerja sama dengan pemerintah provinsi dan nota kesepahaman riset internasional. Kapasitas pilot ini sengaja kecil, 60 kiloliter per tahun, karena dibangun untuk membuktikan bahan baku, proses dan rendemen sebelum modal masuk pada skala besar.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Pekerja di lini perakitan modul surya sebuah pabrik Indonesia memeriksa panel fotovoltaik jadi yang ditumpuk untuk pengiriman
Energi & Iklim

Departemen Perdagangan Amerika Serikat memfinalkan keputusan Solar IV pada 11 September 2026, menetapkan margin antidumping 94,36 persen atas sel dan modul silikon kristal Indonesia serta bea imbalan antara 73,2 dan 173,7 persen. Waktunya menempatkan keputusan itu berdampingan dengan dimulainya konstruksi program surya 100 gigawatt peak Indonesia sendiri.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Panel surya dan turbin angin kecil di samping saluran irigasi yang mengairi sawah bertingkat di Jawa Tengah, dengan petani bekerja di petak sawah di belakangnya
Energi & Iklim

Program MAPAN Pertamina Patra Niaga di Kalijaran, Cilacap menjalankan irigasi pertanian dengan sistem hibrida surya dan angin berkapasitas 15.250 watt peak, yang mengalirkan sekitar 150.000 liter air per hari. Menggantikan pompa diesel menghemat sekitar Rp9 juta per dua musim tanam dan menghindarkan 2.860 kilogram setara karbon dioksida per tahun, dengan 233 orang memperoleh manfaat.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Unit hydrotreating hijau dalam tahap konstruksi di dalam kompleks kilang Indonesia, dengan tangki penyimpanan dan perpipaan proses terlihat serta cakrawala pesisir di belakangnya
Energi & Iklim

Pertamina Patra Niaga memaparkan rencana biorefinery khusus di Cilacap pada 10 September 2026 di atas lahan 17,5 hektare, dengan target 887 kiloliter bahan bakar penerbangan berkelanjutan per hari mulai 2029 dibanding 27 kiloliter saat ini. Proyek ini bernilai USD 1,1 miliar, diproyeksikan menghindarkan 600.000 ton setara karbon dioksida per tahun, dan membutuhkan 350.000 ton minyak jelantah setiap tahun.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca