Bogor membuka kembali Galuga bagi 128 truk dua hari setelah kebakaran, sementara pendinginan berlanjut
Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Kebakaran yang bermula di lahan tetangga pada 7 September 2026 menjalar ke bagian TPAS Galuga yang tidak lagi aktif dan meluas dari 5,5 menjadi 8,4 hektare. Lokasi itu ditutup satu hari agar mobil tangki dapat bekerja, lalu dibuka kembali pada 9 September bagi 128 truk Kota Bogor dengan jadwal bergilir, dengan zona pembuangan ditempatkan jauh dari area yang masih terbakar.
Api yang datang dari luar pagar
Kebakaran di TPAS Galuga, Kabupaten Bogor, bermula sekitar pukul 17.00 pada Senin 7 September 2026. Api itu tidak bermula di tumpukan sampah.
Api bermula di lahan tetangga lalu menjalar ke dalam TPA, mencapai bagian area pembuangan lama yang tidak lagi dipakai. Angin kencang dan material yang kering membawanya dengan cepat. Area terdampak sekitar 5,5 hektare pada awalnya dan mencapai 8,4 hektare pada 8 September.
Penanganannya melibatkan unit pemadam kebakaran, kepolisian, badan penanggulangan bencana daerah dan layanan lainnya, dengan pengeboman air dari udara yang diterbangkan dari Lanud Atang Sendjaja. Pemerintah kabupaten juga membangun embung darurat di lokasi untuk memperpendek jarak pengambilan air, dan itu salah satu intervensi paling praktis ketika waktu bolak-balik mobil tangki menjadi faktor pembatasnya.
Pada 8 September kebakaran disebut telah terkendali, meski asap masih mengepul, dan bupati melaporkan titik api padam pada Selasa itu. Pendinginan berlanjut setelahnya. Pemberitaan pada 14 September menyebut sekitar 2,4 hektare masih ditangani dari 8,4 hektare yang sempat terbakar.
Penutupannya, dan keputusan membuka kembali
Pada 8 September kabupaten menutup lokasi tersebut selama sehari. Alasannya adalah akses: mobil tangki dan kendaraan pemadam membutuhkan jalannya, dan antrean truk sampah akan menghalangi mereka.
Penutupan itulah bagian yang layak dicermati, karena sebuah kota tidak dapat berhenti menghasilkan sampah selama sehari.
Pada pagi 9 September lokasi itu dibuka kembali. Rudy Mashudi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor, menggambarkan pengaturannya sebagai kesepakatan antara dinas lingkungan hidup dan dinas perhubungan di kota maupun kabupaten.
DLH serta Dishub Kota dan Kabupaten Bogor menyepakati mulai pagi ini pembuangan sampah di TPAS Galuga kembali dibuka.
Pembukaan kembali itu bukan kembali ke operasi normal, melainkan pemulihan sebagian yang dikelola. Sebanyak 128 truk kota diizinkan masuk dengan jadwal bergilir, masing-masing mengangkut sekitar tiga sampai lima ton. Arus truk sengaja dibatasi agar mobil tangki dan kendaraan pemadam dapat terus bekerja pada saat yang sama, dan zona pembuangan ditetapkan jauh dari lahan yang masih terbakar.
Rute pengangkutan reguler di seluruh Kota Bogor kembali berjalan begitu lokasi itu dibuka.
Mengapa perputaran dua hari itu berarti
Bandingkan dengan apa yang dihasilkan penutupan yang lebih lama. Ketika sebuah TPA tutup selama sepekan, sampah menumpuk di tempat penampungan sementara, lalu di jalanan, lalu di aliran air. Akibat kesehatan masyarakatnya muncul dalam hitungan hari di iklim tropis, dan kerusakan reputasi bagi sebuah program persampahan dapat menghapus berbulan-bulan kerja pada pemilahan rumah tangga.
Bogor menutup selama sehari dan membuka kembali dengan pembatasan pada hari kedua. Tiga hal memungkinkannya, dan masing-masing dapat ditiru.
Pertama, penutupannya memiliki tujuan yang dinyatakan, yaitu akses kendaraan darurat, bukan sekadar kehati-hatian umum. Penutupan yang dibenarkan kebutuhan operasional tertentu dapat dicabut segera setelah kebutuhan itu terpenuhi.
Kedua, kesepakatan bersama antara instansi kota dan kabupaten, dan khususnya antara dinas lingkungan hidup dan dinas perhubungan di kedua sisi. Galuga berada di Kabupaten Bogor dan melayani Kota Bogor, sehingga tidak satu pun pemerintah dapat membukanya sendiri. Menyertakan dinas perhubungan penting karena kendalanya adalah akses jalan, bukan kapasitas pembuangan.
Ketiga, penzonaan. Menetapkan area pembuangan jauh dari lahan yang terbakar memungkinkan pembuangan dan pemadaman berjalan bersamaan alih-alih berurutan. Hal itu menuntut lokasi dengan ruang yang cukup serta pengetahuan operasional yang cukup untuk mengetahui area mana yang aman, dan itu argumen untuk menjaga rencana tapak tetap mutakhir alih-alih menemukan tata letaknya saat kejadian berlangsung.
Pemantauan yang sebaiknya menyertai kebakaran TPA
Kementerian Lingkungan Hidup memastikan pemantauan kualitas udara di lokasi kebakaran Galuga.
Hal ini layak mendapat perhatian lebih besar daripada yang biasanya diberikan. Pembakaran sampah campur menghasilkan partikulat serta beragam produk pembakaran yang berbeda dari kebakaran vegetasi, dan penduduk yang terpapar adalah siapa pun yang berada di arah angin, biasanya masyarakat yang bertetangga dengan TPA. Merekalah warga yang selama ini sudah memikul bau dan lalu lintas lokasi tersebut.
Pemantauan saat kejadian melakukan dua hal. Pemantauan memberi tahu pemerintah daerah apakah ada imbauan atau relokasi sementara yang perlu dikeluarkan selama api menyala. Dan pemantauan menciptakan catatan, dan catatan itu berarti bagi perdebatan yang lebih panjang tentang pengelolaan lokasi, karena TPA yang berulang kali terbakar menghasilkan paparan kumulatif yang tidak tertangkap laporan satu kejadian.
Penyebabnya di sini juga membawa pelajaran. Api masuk dari lahan tetangga. Risiko kebakaran sebuah TPA tidak terbatas pada apa yang ditampungnya, dan pagar keliling dengan vegetasi yang dibersihkan adalah pengendalian murah yang belum dimiliki banyak lokasi.
Ke mana apinya menjalar sama memberi pelajaran. Api menyambar bagian area pembuangan lama yang tidak lagi dipakai, bukan muka kerja yang aktif. Sel yang sudah tidak terpakai menerima perhatian paling sedikit: tidak ada penutupan tanah harian yang diterapkan, tidak ada alat pemadatan yang bekerja di sana, dan petugas tidak memiliki alasan operasional untuk mendatanginya. Di sanalah pula penguraian berlangsung paling lama dan penumpukan gasnya paling tinggi. Dengan kata lain, bagian lokasi yang sudah ditutup sekaligus merupakan lahan yang paling mudah terbakar dan paling kurang diawasi, dan kombinasi itu layak diperhitungkan dalam perancangan.
Pandangan Sirkularium bagi pemerintah dan institusi publik
Tiga catatan.
Pertama, setiap daerah dengan satu lokasi pembuangan sebaiknya memiliki rencana keberlanjutan layanan tertulis untuk kondisi lokasi tersedia sebagian, bukan hanya untuk penutupan total. Pengaturan Bogor, berupa pembatasan jenis kendaraan, jadwal bergilir, dan zona pembuangan yang dijauhkan dari lokasi kejadian, persis seperti yang sebaiknya ditetapkan rencana semacam itu sejak awal. Bila tertulis lebih dahulu, rencana itu dapat diaktifkan dalam hitungan jam alih-alih dirundingkan saat keadaan darurat.
Kedua, ketika sebuah lokasi melayani satu yurisdiksi dan berada di yurisdiksi lain, rencana keberlanjutannya memerlukan tanda tangan keduanya dan sebaiknya menyertakan dinas perhubungan di samping dinas lingkungan hidup. Bogor menunjukkan koordinasi ini dapat dilakukan cepat, tetapi akan lebih cepat lagi bila protokolnya sudah ada.
Ketiga, soal pengelolaan pagar keliling. Kebakaran yang bermula di luar pagar lalu menjalar masuk dapat dicegah melalui sekat bakar dan pembersihan vegetasi di sepanjang batas. Kami menganjurkan daerah memeriksa batas TPA sebelum musim kemarau, dan memperlakukan penggunaan lahan yang bersebelahan sebagai bagian dari penilaian risiko lokasinya, bukan sebagai urusan pihak lain.
Yang perlu dipantau berikutnya: kepastian selesainya pendinginan di Galuga beserta luas akhir yang terbakar, penerbitan hasil pemantauan kualitas udara bagi masyarakat di sekitar lokasi, apakah embung daruratnya dipertahankan sebagai sarana pemadaman permanen, serta apakah Kota dan Kabupaten Bogor memformalkan protokol pembukaan kembali yang mereka susun mendadak di sini.
Dua hari dari munculnya api sampai truk kembali membuang adalah hasil operasional yang baik. Sirkularium akan terus mengikuti apakah hasil itu dituliskan menjadi prosedur.
Sumber
- ANTARA News, 128 truk sampah kembali masuk TPAS Galuga
- ANTARA News, kementerian memastikan pemantauan kualitas udara di lokasi
- ANTARA News, kebakaran berhasil dikendalikan meski asap masih mengepul
- Kompas Regional, api berawal dari lahan warga sebelum merembet ke tumpukan sampah
- Kompas Bandung, penutupan sehari sementara pemerintah kabupaten fokus pada pemadaman
- ANTARA News, pemerintah kabupaten membangun embung darurat untuk mempercepat penanganan






