Palembang membersihkan Musi, dan menegaskan bahwa membersihkan bukan jawabannya
Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pada 12 September 2026 sekitar 700 orang bergabung bersama Wali Kota Ratu Dewa di bantaran 7 Ulu dekat Jembatan Ampera untuk aksi bersih Sungai Musi. Pesan yang dibawa wali kota dan kampanyer asal Jerman yang mendampinginya sama: kota yang menghasilkan 1.260 ton sampah per hari tidak dapat membersihkan dirinya keluar dari persoalan ini.
Tujuh ratus orang di bantaran sungai
Pada Sabtu 12 September 2026, sekitar 700 orang berkumpul di bantaran Sungai Musi di 7 Ulu, Kelurahan 9/10 Ulu, Kecamatan Jakabaring, dalam jarak pandang dari Jembatan Ampera. Wali Kota Ratu Dewa memimpin aksi itu sendiri. Pesertanya adalah relawan, kelompok masyarakat, pelajar, kaum muda, warga dan aparat pemerintah.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program bernama Gerakan Menjaga Sungai Palembang, yang dijalankan pemerintah kota bersama Indonesia Creative Cities Network di Sumatera Selatan melalui inisiatif The Guardians of The River. Muhammad Hafidz Alfuqan menjadi koordinator jaringan tersebut di daerah.
Ikut bergabung Benedict Wermter, kampanyer lingkungan asal Jerman yang dikenal di Indonesia sebagai Bule Sampah. Yang terangkat dari sungai adalah plastik, sampah rumah tangga, tekstil termasuk pakaian bekas dan sarung yang tersangkut di tepian, serta lumpur.
Angka di balik sungainya
Palembang menghasilkan sekitar 1.260 ton sampah per hari, yang setara dengan lebih dari 460.000 ton per tahun.
Kota ini memiliki kapasitas pengolahan yang besar. Fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik miliknya di Keramasan dibangun untuk 1.000 ton per hari, dan kota mulai mengirimkan sampah ke sana pada awal bulan ini.
Sandingkan kedua angka itu dan aritmetikanya menjelaskan apa yang ada di bantaran. Bahkan dengan fasilitas besar yang berjalan pada kapasitas rancangan penuh, kota tersebut menghasilkan lebih banyak daripada yang dapat diterima fasilitas itu. Semua yang berada di atas garis tersebut harus dikurangi dari sumbernya, dipulihkan, atau berakhir di suatu tempat tanpa pengelolaan. Di kota yang dibangun sepanjang sungai, sebagiannya berakhir di sungai.
Ratu Dewa menyampaikan hal itu secara langsung alih-alih membiarkannya tersirat.
Pengurangan dan pemilahan sampah tetap harus dimulai dari rumah, lingkungan dan masyarakat.
Ia meminta warga tidak membuang sampah sembarangan dan memperlakukan kepedulian pada lingkungan sebagai budaya, bukan sebagai upaya sesekali.
Mengapa aksi bersih adalah kerja komunikasi
Hal paling berguna dari kegiatan ini adalah bahwa para penyelenggaranya menyatakan secara terbuka apa yang biasanya tidak dikatakan dalam acara semacam itu.
Sumbangan Wermter adalah menyatakan batas dari kegiatan yang jauh-jauh ia datangi: membersihkan itu penting, tetapi membersihkan bukanlah solusinya, dan solusinya adalah mengelola sampah dengan benar. Alfuqan menyampaikan poin pelengkap tentang konsistensi, dengan menegaskan gerakan ini tidak boleh berhenti pada satu kegiatan melainkan harus terus dijalankan.
Tujuh ratus orang yang bekerja di bantaran selama satu pagi mengangkat material dalam jumlah yang kecil dibandingkan 1.260 ton per hari. Dinilai sebagai pengelolaan sampah, aksi bersih hampir tidak berarti. Dinilai sebagai kerja komunikasi, aksi itu dapat efektif, karena menempatkan beberapa ratus warga dalam sentuhan fisik langsung dengan apa yang sebenarnya terjadi pada sampah kotanya, dan memberi seorang wali kota panggung yang kredibel untuk meminta pemilahan rumah tangga.
Risiko dari aksi bersih adalah hasil yang sebaliknya: aksi itu dapat menggantikan kebijakan, memungkinkan sebuah kota menunjukkan kegiatan yang terlihat tanpa mengubah sistem yang mengisi sungainya. Pembingkaian Palembang, dengan wali kota dan kampanyer tamu sama-sama menunjuk melampaui acaranya menuju pemilahan dari sumber, adalah pembingkaian yang menghindari jebakan tersebut.
Celah yang tidak ditutup fasilitas itu
Bagi pembaca dari kalangan pemerintah, pertanyaan operasional di Palembang adalah apa yang terjadi pada volume di atas kapasitas fasilitas Keramasan.
Fasilitas pengolahan sampah menjadi energi berkapasitas 1.000 ton per hari di kota yang menghasilkan 1.260 ton menyisakan celah yang harus dipenuhi melalui pemilahan rumah tangga, bank sampah, pengolahan organik di tingkat lingkungan, serta pemilahan arus komersial dan pasar. Itulah persis langkah-langkah yang dianjurkan wali kota di bantaran sungai.
Ada pula dimensi mutu. Pembangkit termal bekerja paling baik pada bahan baku yang konsisten dan cukup kering. Material organik yang basah menurunkan nilai kalor dan menaikkan biaya operasi. Jadi pemilahan dari sumber tidak hanya menutup celah volumenya, tetapi juga memperbaiki hitungan ekonomi fasilitas yang sudah dibayar kota tersebut. Kerja di hulu dan aset di hilir bukanlah pilihan yang saling menggantikan, melainkan saling melengkapi, dan itu argumen yang layak disampaikan dalam rapat anggaran.
Material yang terangkat dari air membawa pertandanya sendiri. Di samping plastik dan sampah rumah tangga, para relawan memulihkan tekstil, termasuk pakaian bekas dan sarung. Tekstil adalah salah satu dari lima sektor prioritas dalam peta jalan ekonomi sirkular Indonesia sekaligus salah satu yang paling sedikit dilayani sistem pengumpulan yang ada. Nyaris tidak ada kota di Indonesia yang menyediakan jalur rumah tangga bagi pakaian yang tidak lagi dipakai, sehingga pakaian itu berpindah ke arus umum atau ke aliran air. Kota yang menemukan sarung di sungainya sedang melihat celah pengumpulan, bukan semata celah perilaku, dan celah itu murah untuk ditutup melalui titik pengumpulan tekstil berkala di pasar atau rumah ibadah.
Kota sungai memikul versi tersendiri dari persoalan ini. Aliran air yang membelah permukiman padat menawarkan jalur pembuangan yang gratis, seketika dan tidak memerlukan layanan apa pun. Tidak ada sistem pengangkutan yang menyaingi kemudahannya. Itulah alasan penegakan semata jarang berhasil pada pembuangan di tepi sungai, dan alasan jawaban praktisnya adalah pengangkutan yang andal dan cukup dekat dengan rumah tangga sehingga mengalahkan sungai dalam hal kemudahan.
Pandangan Sirkularium bagi pemerintah dan institusi publik
Tiga catatan.
Pertama, soal cara memanfaatkan aksi bersih. Aksi bersih layak dijalankan bila secara tegas dibingkai sebagai perekrutan untuk program pemilahan dari sumber, dengan langkah lanjutan yang jelas dan dapat diikuti peserta. Kota sebaiknya memadukan setiap aksi bersih dengan pendaftaran: bank sampah untuk didaftari, jadwal pengangkutan lingkungan untuk diikuti, program sekolah untuk dimasuki. Tanpa itu, itikad baik satu pagi itu buyar bersama para relawannya.
Kedua, soal menakar harapan di sekitar sebuah fasilitas besar. Posisi Palembang, dengan fasilitas 1.000 ton berhadapan dengan timbulan 1.260 ton, lazim dan memberi pelajaran. Fasilitas besar mengubah apa yang dapat ditangani sebuah kota tetapi tidak dengan sendirinya menutup celahnya, dan fasilitas itu bekerja lebih baik bila diberi material terpilah. Pemerintah daerah yang memesan sebuah pabrik sebaiknya menerbitkan celah sisanya berdampingan dengan angka kapasitasnya, agar kebutuhan kerja hulu yang berkelanjutan terlihat sejak awal alih-alih datang sebagai kejutan.
Ketiga, soal pengangkutan di tepi sungai. Ketika membuang ke aliran air sudah menjadi praktik mapan, intervensi yang efektif biasanya adalah keandalan layanan, bukan sanksi. Kami menganjurkan kota di sungai besar memetakan frekuensi pengangkutan dan jarak jalan kaki di sepanjang bantaran secara khusus, dan menutup celahnya di sana lebih dahulu, karena di jalan-jalan itulah jalur pembuangan alternatif paling mudah dijangkau.
Yang perlu dipantau berikutnya: apakah gerakan menjaga sungai menghasilkan jadwal yang berulang alih-alih tetap menjadi sebuah acara, tonase yang benar-benar diterima fasilitas Keramasan kini setelah pengiriman dimulai, serta apakah Palembang menerbitkan angka partisipasi pemilahan rumah tangga yang dapat dipantau dari waktu ke waktu.
Kota itu menempatkan 700 orang di bantaran sungai dan memakai panggungnya untuk memperjuangkan sesuatu selain lebih banyak aksi bersih. Sirkularium akan terus mengikuti apa yang menyusul setelah karung-karung itu.
Sumber
- Detik Sumbagsel, wali kota memimpin aksi bersih Musi bersama kampanyer tamu
- Figur News, volume sampah harian Palembang dan kapasitas fasilitas Keramasan
- Suara Nusantara, 700 peserta di bantaran Ampera
- Sumeks, wali kota dan kampanyer mengajak warga mengelola sampah dengan bijak
- Monpera, jumlah relawan yang terlibat dalam aksi bersih sungai
- Sumsel Pers, pemerintah kota mengomandoi gerakan menjaga sungai






