Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Limbah & Polusi

Sebuah rest area di Tol Cipali mengubah sampahnya sendiri menjadi dua gaji

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pekerja di rest area tol memilah sampah organik ke dalam nampan budidaya maggot di samping kolam ikan dan tumpukan bal plastik serta kardus hasil pemulihan

Rest Area KM 164 Tol Cipali di Majalengka menangani sekitar 800 kilogram sampah per hari dan mengalirkannya melalui ekonomi sirkular kecil berupa budidaya maggot, kolam ikan dan penjualan material hasil pemulihan. Sejak Mei 2026 operasi itu menghasilkan sekitar Rp1,5 juta per pekan dan kini membiayai dua pekerjaan warga setempat dengan upah minimum kabupaten.

Sekilas data
800 kg
Sampah yang ditangani rest area pada hari biasa, naik menjadi sekitar satu ton pada akhir pekan panjang
Rp1,5 juta
Pendapatan mingguan dari material anorganik hasil pemulihan yang dijual ke pengepul
40%
Bagian dari arus sampah yang tetap menjadi residu untuk dibuang
2
Pekerjaan warga setempat dengan upah minimum Majalengka yang dibiayai operasi ini

Ekonomi sirkular mini di kilometer 164

Rest Area KM 164 di jalan tol Cikopo sampai Palimanan, di Majalengka, Jawa Barat, adalah tempat istirahat jalan tol yang biasa. Tempat itu juga, sejak pertengahan tahun ini, merupakan contoh nyata pengelolaan sampah yang membiayai dirinya sendiri.

Lokasi tersebut menangani sekitar 800 kilogram sampah pada hari biasa, naik menjadi antara 900 kilogram sampai satu ton pada akhir pekan panjang ketika lalu lintas jalur Cipali memuncak. Alih-alih menggabungkan semuanya menjadi satu muatan menuju TPA, rest area itu memisahkannya ke tiga tujuan. Material organik menjadi pakan budidaya maggot. Material anorganik dijual ke pengepul. Residu, sekitar 40 persen dari total, dibawa untuk dibuang.

Taufik Nurohman, yang mengelola lokasi tersebut, menggambarkan perubahan ini berasal dari arahan Kementerian Lingkungan Hidup untuk memperlakukan sampah sebagai sesuatu yang bernilai ekonomi, bukan sebagai muatan yang dikumpulkan lalu dibuang.

Operasinya dimulai bertahap. Penjualan material anorganik hasil pemulihan dimulai pada Mei 2026. Budidaya maggot menyusul pada Juni.

Angka di balik operasi kecil

Angkanya sederhana dan justru itulah yang membuatnya berguna, karena angka itu terjangkau oleh lokasi serupa mana pun.

Material anorganik hasil pemulihan menghasilkan sekitar Rp1,5 juta per pekan. Sisi maggot mengonsumsi 12 sampai 15 kilogram sampah organik per hari dan menghasilkan 20 sampai 30 kilogram maggot per bulan, dijual dalam cup 45 gram seharga Rp4.000, memasok empat toko pancing dan mendatangkan sekitar Rp150.000 per pekan. Lokasi itu juga menjalankan kolam lele dan nila, dengan dua kali panen sejauh ini.

Angka paling berarti bukanlah angka pendapatan. Penghasilan dari penjualan anorganik kini membiayai dua warga setempat dalam pekerjaan berbayar dengan upah minimum Kabupaten Majalengka.

Alhamdulillah bulan ini kita sudah bisa memberdayakan dua orang dari masyarakat setempat.

Kalimat itu menggambarkan keseluruhan gagasannya. Arus sampah yang sebelumnya menimbulkan biaya pembuangan kini menghasilkan dua upah. Rest area itu tidak berubah menjadi perusahaan daur ulang. Tempat itu berhenti membayar untuk menyingkirkan sesuatu yang dapat dijualnya, dan mengalihkan selisihnya menjadi lapangan kerja setempat.

Ragam produknya melebar melampaui maggot. Lokasi itu juga menghasilkan pupuk organik, kompos, eco enzyme, serta sabun cair dari fermentasi sampah buah. Pemilahan di lokasi berjalan pada lima kategori: sampah spesifik, plastik, organik, kertas, dan residu.

Apa yang dibuktikan lokasi seperti ini

Rest area adalah kasus yang tidak lazim sekaligus memberi pelajaran. Tempat itu menghasilkan arus sampah yang terpusat dan cukup dapat diperkirakan dari gerai makanan dan minuman, dengan fraksi organik yang tinggi dan porsi kemasan bersih yang dapat dipulihkan juga tinggi. Tempat itu memiliki staf di lokasi, ruang di belakang area ritel, serta satu pengelola yang dapat mengambil keputusan operasional tanpa menunggu rapat dewan.

Kombinasi itu menjadikannya mendekati lingkungan percontohan yang ideal. Yang dibuktikan di kilometer 164 bukanlah bahwa teknologinya berfungsi, karena budidaya maggot dan pengomposan skala kecil sudah mapan di Indonesia. Yang dibuktikan adalah hitungan usahanya pada skala tertentu yang biasa saja: 800 kilogram per hari, diolah di tempat, menghasilkan margin yang cukup untuk membayar dua upah.

Lokasi itu juga menunjukkan nilai dari menurunkan porsi residu dan menyatakannya secara jujur. Residu 40 persen berarti 60 persen arusnya dipulihkan atau diolah. Bagi lokasi yang sampai belum lama ini mengirim semuanya ke TPA, itu perubahan yang besar, dan menerbitkan angka residu alih-alih angka pemulihan sebagai judul membuat pekerjaan yang tersisa tetap terlihat.

Pemilahan lima kategori juga patut diperhatikan. Sebagian besar program memakai dua atau tiga arus, sedangkan memisahkan kertas dari plastik dan memisahkan sampah spesifik sebagai kategori tersendiri menaikkan harga jual setiap fraksi sekaligus menurunkan risiko kontaminasi. Pengepul membayar lebih mahal untuk material yang tidak perlu mereka pilah ulang. Pada skala 800 kilogram per hari, selisih harga itulah yang memisahkan operasi yang menutup biayanya sendiri dari operasi yang hanya mengurangi ongkos pembuangan.

Dari edukasi menuju operasi

Lokasi ini berada di dalam program yang lebih panjang. Astra Tol Cipali, pengelola konsesinya, telah menjalankan edukasi pengelolaan sampah di rest area miliknya sejak beberapa waktu, termasuk kampanye pemilahan yang ditujukan kepada pengguna jalan pada musim mudik dan kegiatan memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 2026. Kementerian Lingkungan Hidup secara terpisah mendorong rest area mendukung perjalanan minim sampah.

Perpindahan dari edukasi menuju operasi adalah bagian yang layak dicatat. Papan penanda dan kampanye yang ditujukan kepada pelancong mengubah perilaku pada batas tertentu dan sulit diukur. Operasi pengolahan di lokasi mengubah tujuan materialnya terlepas dari apakah seorang pelancong memilah dengan benar, karena pemilahannya terjadi lagi di area belakang. Kerja edukasi menaikkan mutu apa yang tiba. Operasi pengolahan menangkap nilainya.

Indonesia memiliki banyak sekali lokasi dengan profil seperti ini. Rest area tol, bandara, terminal penyeberangan, kampus, rumah sakit dan kompleks perkantoran pemerintah semuanya menghasilkan arus terpusat di bawah satu pengelolaan. Sangat sedikit di antaranya yang mengolah di tempat.

Pandangan Sirkularium bagi pemerintah dan institusi publik

Tiga catatan.

Pertama, soal di mana mencari hasil cepat. Pemerintah daerah yang berada di bawah tekanan memangkas volume TPA cenderung memusatkan perhatian pada rumah tangga, yang justru tempat paling sulit dan paling lambat untuk memulai. Lokasi komersial dan institusional yang terpusat di bawah satu pengelolaan lebih cepat, lebih murah diawasi dan menghasilkan material yang lebih bersih. Kabupaten dengan beberapa rest area tol, satu terminal bus dan satu kompleks rumah sakit memiliki beberapa ton per hari yang tersedia tanpa satu pun kampanye rumah tangga.

Kedua, soal perizinan dan dukungan yang akan membantu. Operasi jenis ini membutuhkan sangat sedikit dari pemerintah: kepastian bahwa pengolahan di lokasi diperbolehkan, jalur untuk menjual material hasil pemulihan, dan idealnya akses ke jaringan bank sampah yang sama dengan yang dipakai pengelola berbasis masyarakat. Kabupaten sebaiknya memeriksa agar peraturannya sendiri tidak tanpa sengaja mewajibkan seluruh sampah diserahkan kepada layanan kebersihan kota, karena kewajiban itu diam-diam membuat operasi seperti ini menjadi tidak patuh.

Ketiga, soal replikasi melalui perjanjian konsesi. Konsesi jalan tol, bandara dan pelabuhan diperbarui dan dirundingkan ulang secara berkala. Menyisipkan kewajiban pengolahan sampah di lokasi, dengan porsi residu yang diterbitkan, ke dalam perjanjian tersebut akan mereplikasi model ini di puluhan lokasi tanpa biaya bagi anggaran publik. Itu tuas regulasi yang berada pada otoritas nasional dan provinsi, bukan pada kabupaten.

Yang perlu dipantau berikutnya: apakah porsi residu di KM 164 turun di bawah 40 persen, apakah operasinya meluas ke rest area lain di jalur Cipali, dan apakah keluaran maggot serta pupuknya menemukan pembeli di luar empat toko pancing yang kini dipasok, karena kedalaman pasarlah yang menentukan apakah lokasi seperti ini berkembang atau berhenti mendatar.

Dua upah dari 800 kilogram per hari adalah hasil yang kecil. Hasil itu juga terdokumentasi, pada skala yang dimiliki ribuan lokasi di Indonesia. Sirkularium akan terus mengikuti ke mana model ini melangkah.

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di limbah dan polusi, Sirkularium membantu merancang sistem pengumpulan, pemilahan, dan pemulihan, menyusun kebijakan dan peta jalan, serta mengubah sampah menjadi sumber daya yang terkelola.

Artikel terkait

Para bankir dan pejabat pembiayaan proyek di sekitar meja meninjau tata letak fasilitas pengolahan sampah menjadi energi, dengan fasilitas PSEL modern yang sedang dibangun tampak di layar di belakang mereka
Limbah & Polusi

Pada 16 Oktober 2026, Danantara Investment Management dan anak usahanya di bidang pengolahan sampah menjadi energi, Denera, menetapkan 34 institusi keuangan sebagai anggota lenders panel program PSEL Indonesia, dengan minat pembiayaan indikatif lebih dari tiga kali estimasi kebutuhan utang program.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Nelayan di sebuah pelabuhan perikanan Indonesia memilah dan mengikat jaring insang nilon serta tali yang sudah usang di dermaga untuk dikumpulkan dan didaur ulang, dengan kapal ikan bersandar di belakangnya
Limbah & Polusi

Kementerian Kelautan dan Perikanan menerbitkan Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Nomor 23 Tahun 2026, pedoman nasional pengelolaan alat penangkapan ikan yang ditinggalkan, hilang, dibuang, maupun yang sudah habis masa pakainya dengan prinsip 3R. Uji coba dimulai di tiga pelabuhan perikanan, didukung mitra lapangan di Merauke, Muncar, Pengambengan dan Gresik.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Foto udara kawasan TPST Bantargebang dengan lahan yang telah dibersihkan dan diratakan untuk fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik di samping zona timbunan sampah yang ada
Limbah & Polusi

Gubernur Pramono Anung menyampaikan pada 7 Oktober bahwa persoalan penyediaan lahan yang selama ini menahan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik Jakarta di Bantargebang telah menemukan jalan keluar, dan kota berharap masuk batch ketiga program nasional agar pembangunan dapat dimulai sebelum akhir 2026.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Mahasiswa berjaket almamater membantu warga memilah sampah rumah tangga organik dan anorganik ke dalam tempat sampah berlabel di sebuah permukiman di Bandung
Limbah & Polusi

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menerjunkan 25.000 mahasiswa ke 52 kecamatan di Bandung Raya selama tiga bulan, dengan pengakuan setara 10 SKS, untuk membantu rumah tangga memilah dan mengurangi sampah dari sumber. Targetnya pengurangan 20 persen yang memperpanjang usia TPA Sarimukti hingga fasilitas Legok Nangka beroperasi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pejabat Pemerintah Kota Kendari di TPAS Puuwatu, Sulawesi Tenggara, di samping lahan yang direncanakan untuk fasilitas pengolahan sampah terpadu, dengan alat berat memadatkan sampah di sel yang ada
Limbah & Polusi

Kendari menjadi satu dari empat penerima di Sulawesi dalam Local Service Delivery Improvement Project yang didukung Bank Dunia, pada penyerahan di Makassar tanggal 6 Oktober. Kota ini berencana mengarahkan program senilai Rp107 miliar tersebut untuk fasilitas pengolahan sampah di TPAS Puuwatu dan sistem layanan yang berjalan dari pemilahan di rumah tangga hingga pemrosesan akhir.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Petugas dan ekskavator mengangkat kayu, bambu, dan sampah plastik yang hanyut dari saringan sampah di Sungai Ciliwung, Jakarta Selatan, dengan tumpukan material organik hasil pilahan di tepi sungai
Limbah & Polusi

Gubernur Pramono Anung menyampaikan pada 5 Oktober bahwa Jakarta akan mereplikasi saringan sampah terpadu TB Simatupang, yang menangkap hampir 30 persen sampah yang terbawa Sungai Ciliwung dan mengolah sebagian besarnya menjadi kompos dan woodchip, di 11 sungai lain di ibu kota.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca